What’s Next for Indonesia’s Coffee Industry?

Cikopi Coffee Journey, sebuah talkshow yang diadakan untuk merayakan kopi Indonesia di 5758 Coffee Lab, Bandung pada 11 Juli 2019 ini mencoba menjawab sebuah pertanyaan sederhana, “apa yang akan terjadi di industri kopi Indonesia ke depan?” Untuk menjawabnya, talkshow ini menghadirkan Adi Taroepratjeka (5758 Coffee Lab), Aga Muhammad (Indonesia Barista Champion 2018), Daroe Handojo (Juragan Pabrik Kopi Upnormal), Ucok Silitonga (Dailyroutine Coffee), Ronald Prasanto sebagai moderator dan tentu saja, Toni Wahid, sebagai penulis cikopi.com.


Talkshow ini membahas berbagai fenomena menarik yang terjadi di industri kopi belakangan ini, mulai dari euphoria berlebihan soal kopi, tren es kopi susu, komunitas kopi, hingga fenomena “pendekar kopi”. Salah satu yang menjadi fokus pembahasan ini adalah tentang konsumsi kopi per orang Indonesia, per, sekitar 1,2 kg. Angka ini relatif rendah jika dibandingkan dengan orang Finlandia yang bisa mencapai 11,4 kg, padahal Indonesia adalah negara produsen kopi. Salah satu alasannya adalah kopi di Indonesia masih dianggap sebagai lifestyle, bukan kebutuhan.

“Sebetulnya kita sudah memiliki kebutuhan, namun karena lifestyle kebutuhan ini sering dianggap sebagai sesuatu yang nista. Jujur saja, dulu ketika kita menyeduh kopi di rumah, kopi apa yang Anda konsumsi? Kopi sachet kan? Sekarang kopi sachet dianggap tidak bagus, sementara jika Anda bicara konsumsi kopi orang Finlandia per tahun sebesar 11,4 kg, memangnya mereka selalu minum kopi di coffee shop? Tidak juga,” kata Adi.


Bagi Adi, salah satu biang keladi stagnannya tingkat konsumsi kopi di Indonesia adalah harga jual yang dianggapnya terlalu tinggi. “Jika kita selalu mengandalkan warung kopi modern sebagai tempat konsumsi kopi yang harga jualnya terlalu tinggi, konsumsi kita tidak akan pernah naik. Bahkan, akan semakin menurun ketika kita menganggap minum kopi sachet sebagai dosa.”


“Kita seakan-akan berada dalam fase mabuk kopi, dimana minum kopi itu sangat keren, dan kita ingin mensejahterakan semua orang yang terlibat di dalamnya, padahal tidak mungkin semuanya menjadi kaya. Apakah seorang tukang becak mampu minum kopi di coffee shop? Kita saja yang pegawai kantoran ketika beli kopi selalu menanyakan kartu kredit mana yang memberikan diskon, atau cashback dari aplikasi online?” tambahnya.


Ucok juga memiliki pendapat serupa, ia menganggap tingkat konsumsi yang rendah tersebut belum sebanding dengan euforia soal kopi yang luar biasa di sosial media dan ruang eksklusif. “Kita sering menganggap pekerjaan kita (di industri kopi) memiliki pencapaian fantastis, saya merasa miris dengan euphoria semacam ini. Dasarnya apa? Produksi kita tahun kemarin malah turun, konsumsi juga tidak,” jelas Ucok.


Lalu Ucok juga tidak segan mengkritik para pelaku industri kopi yang kerap memberi julukan negatif pada coffee snob sebagai “pendekar kopi”. “Kita selalu mengambil tren sebatas dalam tahap kemasan tanpa sadar ada tanggung jawab dibelakangnya, contohnya mengajak ngobrol para tamu. Apa tujuan kita sering mengadakan public cupping dan berbagai event gratis? Agar orang membicarakan kopi kan? Lalu ketika tujuan itu tercapai kita malah menggerutu sendiri. Anda harus terima konsekuensinya,” jelas Ucok.


Tentu saja, ada banyak sekali poin menarik yang dibahas pada talkshow kali ini, terutama bagi pelaku industri kopi. Jika Anda melewatkannya, jangan khawatir karena event ini merupakan rangkaian dari sebuah tur yang akan diadakan di kota lain seperti Yogyakarta, Semarang, Bali, dan Jakarta.

0 0
Feed