Veganisme, Isu Kesehatan dan Sustainability

Seberapa sering Anda menemui chef yang selalu berfokus pada nutrisi di makanan yang mereka sajikan? Sepanjang Passion Media berdiri sejak 2017, satu-satunya chef pernah kami temui dan sangat peduli soal nutrisi mungkin hanya Edwin Lau. Seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat, sudah saatnya kami mulai membicarakan soal nutrisi, salah satunya melalui lifestyle vegan.Firmansyah Mastup menghabiskan 8 tahun terakhirnya untuk bekerja di Rational, salah satu produsen combi oven paling populer di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Keputusannya untuk menjadi seorang vegan 3 tahun lalu mengejutkan rekan-rekan kerjanya. 


Akhirnya pada 2020, ia memutuskan untuk resign dari Rational dan berfokus untuk membangun medianya sendiri Jakarta Vegan Guide, sambil mengkampanyekan lifestyle vegan. Simak pembicaraan kami dengan founder Jakarta Vegan Guide ini, dan temukan mengapa pilihan untuk menjadi vegan tidak hanya sebatas absen makan daging, namun juga bisa menjadi salah satu kontribusi kita untuk menyelamatkan dunia (ya, kami tidak bercanda!).

Anda memutuskan untuk menjadi vegan pada 3 tahun terakhir, apa alasannya?


Ketika Anda bekerja di Rational, tentu Anda berurusan dengan makanan setiap hari, tidak mungkin saya menghindari daging. Soal alasan menjadi vegan, saya suka makan, ketika traveling, makanan adalah hal yang selalu saya cari. Namun, pada saat itu tubuh saya mulai terasa tidak sehat, lalu saya menonton film dokumenter “Food Matters” dan saya cukup terkejut karena mendapati beberapa fakta yang tidak saya ketahui sebelumnya.Jika Anda cek di website resmi WHO, daging merah tergolong dalam group 2A (mungkin bisa menyebabkan kanker). 


Lalu ada isu emisi gas rumah kaca, dimana peternakan menyumbang 18% dari total emisi dunia, lebih banyak dari transportasi. Ada banyak alasan orang menjadi vegan, mulai dari alasan kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan hewan. Kebetulan, saat itu saya juga sedang overweight. Ketika di tengah jalan untuk pelatihan konsumen, celana saya sobek lumayan besar. Saya tidak mungkin kembali lagi ke rumah, jadi terpaksa training dilakukan sambil saya menutupi sobekan tersebut, untungnya konsumen tersebut masih teman saya, jadi saya bisa melanjutkan pekerjaan. Peristiwa ini menjadi turning point bagi saya.


Ada juga yang menjadi vegan setelah mengetahui bahwa keluarganya semua mengidap diabetes. Bagi saya, faktor keturunan memang ada, tapi persentasenya kecil sekali. Kemungkinan besar, Anda memiliki kesamaan pola makan dengan, ayah, kakek Anda. Jika Anda makan makanan yang sama dengan orang tua Anda, Anda harus bersiap-siap menerima fakta bahwa Anda memiliki kemungkinan untuk mendapatkan penyakit yang sama, karena pada dasarnya, you are what you eat. Bagi orang yang bekerja di dapur seperti saya, isu kesejahteraan hewan tidak terlalu berpengaruh, jadi alasan utama saya adalah kesehatan dan lingkungan.


Anda langsung menjadi vegan secara total, atau bertahap?


Sekitar 1-2 bulan setelah menonton Food Matters, saya mulai mencoba dulu sambil melakukan riset dan double checking. Setelah mengetahui ternyata hal tersebut benar, saya langsung menjadi vegan. Di tahun-tahun awal, tentu ada saat dimana saya harus mencicipi makanan yang ada dagingnya, itu sudah bagian dari pekerjaan. Namun, saya hanya sekadar mencicipinya. Lalu untuk masakan yang sering saya masak sebelumnya, saya tidak perlu mencicipi lagi. Saya tidak ingin orang melihat saya dan berpikir, “jadi vegan itu sulit ya?” Saya tidak menikmati (makan daging) namun saya tetap harus menghormati pekerjaan saya


Bagaimana tanggapan bos dan rekan-rekan Anda?


Tentu mereka kaget dan bingung. Pada corporate meeting, malah mereka yang pusing memikirkan makanan buat saya, terutama jika diadakan di restoran yang memang berfokus pada daging. Tentu lama-lama saya bisa mengatur diri, contohnya saja, dengan memesan nasi goreng tanpa daging dan telur, itu yang paling mudah


Apa bedanya vegan dan vegetarian?


Sederhananya vegan adalah orang yang tidak makan daging dan produk turunannya sama sekali. Sementara vegetarian ada kategorinya lagi, lacto vegetarian tidak makan daging, namun masih minum susu, lalu ada ovo vegetarian yang masih makan telur, dan ada gabungan keduanya, ovo lacto vegetarian.


Bagaimana dengan bawang putih?


Itu beda kasus. Selain 3 alasan yang saya sebutkan tadi, ada juga yang menjadi vegan karena budaya atau agama. Yang tidak makan bawang putih itu lebih karena masalah agama, karena secara definisi, vegan diijinkan makan bawang putih


Bagaimana kisah awal Anda menjadi vegetarian, seberapa sulit?


Lumayan. 3 tahun lalu, saya merasa jumlah makanan vegan tidak terlalu banyak jumlahnya, saya belum menemukan tempat yang rasanya enak sekali, dan dari segi harga, ternyata harganya tidak seterjangkau itu. Namun setelah sekian lama, Anda akan sadar bahwa Indonesia itu sangat vegan friendly. Kita memiliki banyak tempe, tahu, kacang, sayur, dan buah yang selalu tersedia sepanjang tahun. Ide untuk tidak makan daging sama sekali kadang memang membuat orang bingung. Namun jika Anda ke pasar, lihat saja, lebih banyak yang menjual daging atau sayur dan buah? Ada anggapan bahwa untuk mendapatkan protein, harus dari daging, itu salah sekali. Karbohidrat, protein, dan lemak, semuanya bisa didapatkan di tumbuh-tumbuhan.


Pengetahuan soal nutrisi kita memang terus berubah. Anda ingat piramida makanan? Dimana karbohidrat jumlahnya harus yang paling banyak dikonsumsi? Sekarang sepertinya hal tersebut sudah berubah. Di dunia vegan, apakah terjadi hal yang sama?


Ada banyak miskonsepsi, 4 sehat 5 sempurna sudah mulai ditinggalkan sejak 10-15 tahun lalu. Sekarang, orang lebih fokus untuk makan makanan yang seimbang, sekali lagi, semuanya bisa didapatkan di diet berbasis tumbuhan. Di Indonesia ada anggapan bahwa diet itu berarti tidak boleh makan nasi. Ada benarnya sih, karena kandungan nutrisi nasi putih memang paling rendah, tapi bukan berarti Anda tidak boleh makan sama sekali.Selama ini banyak jenis diet yang tidak sustainable, karena pada dasarnya, diet terbaik adalah diet yang bisa Anda jalankan terus. Banyak juga vegan yang tidak sehat. Pada intinya, kita harus fokus pada whole food yang mengalami sedikit proses tambahan. 


Contohnya nasi putih yang sudah banyak kehilangan nutrisi seperti serat, kalsium. Mereka yang sudah menjadi vegan biasanya akan lebih memilih nasi merah.Masalahnya adalah, protein itu tidak datang sendiri. Maksud saya, selain mengandung protein, daging sapi juga memiliki kandungan lain yang belum tentu baik bagi tubuh. Anda pernah terpikir bagaimana peternakan modern bisa menghasilkan sapi secepat itu? Jika Anda tidak tahu asal-usulnya, bisa jadi sapi yang Anda makan mengandung hormon-hormon yang berbahaya.


Saya melihat, orang yang baru menjalani sebuah diet mirip dengan orang yang baru belajar agama. Mereka cenderung jadi agak berlebihan, menjadi “snob”, Anda mengalami fase itu?


Justru saya lebih merasa insecure, karena orang yang tidak pernah peduli mendadak jadi memperhatikan nutrisi saya, contohnya pertanyaan seperti, “Anda mendapat protein dari mana?” Hal tersebut memaksa saya untuk mencari tahu lebih banyak lagi. Saya bekerja di dapur, namun ternyata tidak banyak yang mengetahui soal nutrisi.


Satu-satunya chef yang sangat peduli soal nutrisi yang pernah saya temui, mungkin hanya Edwin Lau.


Budaya kita di dapur memang bertujuan untuk menyajikan makanan enak, bukan yang bernutrisi, padahal kita butuh yang seimbang. Ada beberapa fakta yang mengkhawatirkan, Indonesia adalah salah satu produsen buah dan sayuran yang cukup besar, namun di kawasan Asia Tenggara, konsumsi kita justru paling rendah. Semua orang pusing soal protein, namun sebetulnya,


hampir semua orang Indonesia, bahkan penduduk dunia, malah kekurangan serat.Biasanya, orang yang cenderung snob itu datang dari perasaan frustrasi atas hal yang baru mereka ketahui. 


Contohnya saja, saya punya keluarga, tentu saya mau keluarga saya sehat. Tentu saya khawatir jika saya melihat mereka makan yang tidak sehat, namun memang cara saya memberi tahu bisa positif, atau malah menyebalkan. Semua orang yang memutuskan menjadi vegan punya perjalanannya masing-masing.Makanan sehat memiliki beberapa stereotype negatif: tidak enak, mahal, membosankan. Mungkin itu ada benarnya, dulu, sekarang sudah tidak seperti itu. Ada beberapa orang yang meremehkan vegan tanpa tahu apa itu vegan. Saat ini orang di seluruh dunia sedang menghadapi isu sustainability. Pada dasarnya, dengan populasi dan sistem pangan seperti saat ini, kita butuh 4 bumi lagi agar bisa sustainable, dan itu tidak mungkin terjadi. Salah satu cara makan yang lebih sustainable dan sehat, adalah dengan menjadi vegan. 


Oke, lalu bagaimana Anda bisa datang dengan ide membuat Jakarta Vegan Guide?


Ketika memutuskan menjadi vegan, salah satu kesulitan saya adalah mencari makanan vegan di Jakarta. Sepertinya, media sosial, mainstream media, bahkan influencer pun tidak terlalu membahas ini, lalu terciptalah ide Jakarta Vegan Guide. Awalnya saya hanya bermodal handphone yang saya miliki, aplikasi Instagram, dan melakukan repost. Setelah 1,5 tahun berjalan, animo masyarakat semakin tinggi dan saya semakin sering membuat review tempat vegan. Akun kami bahkan diikuti oleh beberapa selebriti, mulai dari yang tertarik menjadi vegan, hingga mereka yang sudah menjalaninya. Saya yakin lifestyle ini lebih sustainable, dan akan semakin banyak pengikutnya. Pada tahun lalu, kami sempat bertemu dengan venture capital yang berminat untuk investasi. Akhirnya, kami memutuskan untuk kerjasama dan saya memutuskan untuk resign dari Rational per Maret 2020 untuk fokus di Jakarta Vegan Guide, persis sebelum PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).


Apa saja aktivitas Jakarta Vegan Guide?


Anggap saja kami sama dengan Passion Media, kami sudah memiliki website, podcast, channel Youtube, tapi yang paling mudah dijangkau tentu Instagram. Jika Anda mengikuti akun kami, Anda akan melihat posting tentang tempat makan vegan, nutrisi, produk vegan, semuanya seputar lifestyle vegan


Lalu, mengapa nama Anda seperti membatasi diri pada Jakarta saja?Konon di Bali lifestyle vegan lebih populer? 


Pertama, karena saya tinggal di Jakarta, jadi lebih mudah saja aksesnya. Awalnya kami memang tidak berniat untuk menjadi sebesar itu, awalnya kami lebih fokus mengkurasi content di Jakarta saja. Kami memahami bahwa Indonesia itu besar, dan Bali lebih siap soal vegan. Pada akhirnya, jangkauan kami bukan hanya Jakarta, mulai dari Bandung, Bali, hingga traveling ke luar negeri. Lalu mengapa menggunakan bahasa Inggris, kami ingin agar orang-orang tahu bahwa Indonesia itu sangat vegan friendly.


Bagaimana dengan kegiatan offline?


Kami memiliki event regular, seperti workshop, seminar, talkshow yang selalu kita umumkan (di media sosial). Karena pandemi, kami mulai fokus pada kegiatan yang sifatnya online. Contohnya, kami akan mengadakan workshop dan kami akan mengirim bahan makanan di rumah kalian, sehingga kita bisa masak bareng via zoom, tidak hanya nonton.


Bagaimana popularitas lifestyle vegan di kalangan chef? Saya jarang sekali menemui chef yang mengaku vegan.


Mungkin 1 dari 100 ya, saya juga jarang menemui. Jika Anda ke resto atau hotel saja, banyak yang tidak tahu bedanya vegan dan vegetarian, sejauh ini memang masih jarang sekali, namun saya yakin ke depan, hal ini akan berubah. Saya baru saja saling mengirim DM via Instragram dengan chef salah satu restoran India paling populer di Jakarta yang baru saja meluncurkan menu vegan, menarik sekali! Ada harapan besar bahwa restoran akan lebih menyadari soal vegan. 


Jika bicara bisnis, restoran tentu ingin melayani kebutuhan semua orang, jika permintaan (akan produk vegan) semakin banyak, mau tidak mau industri tentu akan mengikuti.Kebetulan, saya ada latar belakang di dunia F&B sehingga saya bisa menjadi penghubung antara chef, komunitas, bahkan ke supplier. Biasanya kami mempromosikan lifestyle vegan di media sosial secara inklusif, maksudnya, kami tidak akan posting foto orang sedang memotong sapi, bukan begitu cara kami. Kami ingin veganism untuk semua orang, tidak menjadi vegan pun tidak masalah, bisa jadi dengan cara lebih banyak mengkonsumsi makanan nabati, karena ini yang paling sustainable sekaligus sehat


Setelah menjalani hidup sebagai vegan, perubahan apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda?


Yang paling terlihat mungkin dari berat badan. Kita jarang bertemu kan? Namun selama 5 tahun terakhir, ada masa dimana saya rajin ke gym, kemudian berhenti. Berat badan saya mudah naik turun. Ada beberapa foto lama saya di Instagram dimana saya terlihat chubby-chubbynya, saya tidak masalah dengan hal tersebut. Namun sejak menjadi vegan, berat badan saya lebih stabil. 


Sayangnya, saya belum sempat cek darah. Berdasarkan pengakuan teman dekat saya, setelah menjalani hidup sebagai vegan dan melakukan tes darah, ia dikira atlit. Hasil tes darahnya sangat optimal, seperti atlit, padahal kegiatannya seperti orang kebanyakan saja. Selain itu, selama 2 tahun terakhir, boleh dibilang saya tidak pernah sakit sama sekali. Dulu, saya mudah sekali terkena pilek atau demam. Itu yang terdeteksi dari luar, namun secara pribadi, saya merasa tubuh saya lebih ringan, dan kulit saya terlihat lebih bersih.


Tadi Anda bilang Anda optimis akan pertumbuhan lifestyle vegan, apa dasarnya?


Di media sosial, saya terus memperhatikan insight kami dalam 2 tahun terakhir. Kami mulai dari nol, dan follower kami berkembang dengan cepat (hingga saat ini, follower Jakarta Vegan Club mendekati 20.000). Beberapa artis mulai membicarakan lifestyle, hingga menjadi vegan seperti Daniel Mananta, atau Nino Fernandez yang pernah kami undang di podcast kami.Di sisi lain, banyak sekali bermunculan bisnis kecil baru yang menjual produk vegan dan memberikan direct message ke kami. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan 3 tahun terakhir. Beberapa restoran juga mulai memberikan pilihan menu vegan. Sebuah lifestyle biasa memiliki 3 fase, dari kaget, mulai menerima, dan menjadi dianggap normal. Saya rasa vegan akan menjadi normal di masa depan.


Oke, jika ada yang mau menjadi vegan, apa tips terbaik dari Anda?


Ikuti kelas, seminar, banyak membaca buka, saya tahu orang Indonesia sangat malas membaca, namun jika Anda peduli dengan apa yang Anda masukkan ke dalam tubuh, lakukan riset Anda sendiri. Jangan percaya begitu saja pada orang lain, bahkan, jangan percaya apa yang saya baru bilang, risetlah berdasarkan kesadaran Anda sendiri. Media sosial memudahkan Anda untuk mendapatkan info, namun juga mudah sekali mendapatkan info yang salah. Cara yang paling mudah, tentu saja follow IG kami, kami sering mengadakan kelas soal nutrisi yang menghadirkan pembicara yang kompeten, sehingga Anda tidak mendapatkan informasi yang salah.


Anda merekomendasikan orang untuk menjadi vegan secara gradual, atau langsung full 100% vegan?


Sebelum melakukan itu, Anda harus menemukan alasan Anda sendiri yang jelas. Apapun pilihannya, gradual atau overnight, Anda butuh alasan yang bukan temporer. Apa alasan Anda? Masalah lingkungan, kesehatan? Yang salah adalah menjadi vegan karena ikut-ikutan. Begitu Anda tahu alasan Anda, setelah itu proses selanjutnya akan menjadi mudah. Secara tidak sadar, setelah Anda menemukan alasan Anda, pikiran Anda akan bekerja sendiri untuk mencari caranya.

0 0
Feed