mike halim

Untangling the Beauty of Simplicity

Kendati usianya masih terbilang muda, perjalanan karir Mike Halim di dunia kuliner tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemuda kelahiran Jakarta ini sudah sempat melanglang buana hingga Singapura dan Karibia sebelum memutuskan untuk menetap di Bali dan bekerja di sejumlah restoran bertaraf internasional. Kini, ia menerapkan filosofi ‘simple’ dalam mengelola rumah makannya sendiri; Xiahouse, yang mulai dikenal luas sebagai tempat menyantap mie homemade ala Asia yang sangat lezat dan ‘rumahan’. PASSION menyambangi Xiahouse di bilangan Canggu yang asri dan berbincang hangat dengan Chef Mike sembari menikmati semangkuk beef noodle soupnya yang nikmat.


Ceritakan sedikit perjalanan karir sejauh ini; apa yang menginspirasi untuk membuka Xiahouse?


Awal (minat memasak) saya dimulai setelah saya lulus sekolah dan mulai kuliah sambil bekerja di Singapura. Saya sempat bekerja di beberapa hotel sebelum pindah ke kepulauan Karibia untuk bekerja di Hotel Hyatt. Setelah dua setengah tahun, saya sempat ke London sebentar untuk internship (magang), dan akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Bali pada tahun 2014 untuk berkarir di Mozaic kemudian Locavore. Pada tahun 2017, saya memutuskan untuk membuka restoran sendiri, Xiahouse. Pada awalnya, saya tidak berencana membuka sebuah Noodle House; nama ‘Xiahouse’ sen dipilih karena marga keluarga kami, ‘Xia’. Pada awal mulanya hanya ada satu menu mi di Xiahouse, namun karena banyak feedback positif, akhirnya kami menambahkan nasi dan menu-menu lainnya hingga fokus ke Asian flavor saat ini.


Jika tidak menjadi seorang chef, profesi apa yang akan kamu pilih, dan apa alasannya?


Jujur saja saya sempat tidak tahu akan melanjutkan karir apa setelah sekolah. Sempat satu tahun saya menganggur hingga orang tua saya bertanya ‘mau melanjutkan kuliah di bidang apa’. Waktu itu saya jawab, lebih baik tidak usah membayar uang kuliah karena saya sepertinya tidak akan tahan empat tahun mengikuti pelajaran. Lalu suatu hari kakak saya melihat sebuah iklan sekolah memasak di Singapura, saya mendaftar dan akhirnya terpilih. Jadi, jujur, saya tidak tahu akan berkarir di bidang apa bila tidak memasak. Sesungguhnya saya juga pernah terpikir untuk berprofesi tukang kayu; membuat pahatan, mebel dan perabotan sejenis, tapi tidak terbayang juga untuk berkarir di sana ya (tertawa)


Bisa jelaskan konsep hidangan anda di Xiahouse? Dan darimana biasanya mendapatkan inspirasi?


Konsepnya sebenarnya simple; Home-cook, atau masakan rumahan. Tipe masakan yang dimakan orang pada saat berlibur. Straight forward, to the point, comfort food yang bisa dinikmati semua orang. Kemudian dari sisi inspirasi, banyak! Bahkan terkadang melihat sesuatu yang tidak jelas saja bisa menjadi ilham bagi saya untuk mengkreasi sebuah masakan; contohnya kemarin saya sempat melihat foto caviar dan bellini di Instagram, yang kemudian menginspirasi saya untuk membuat potato pancake dan smoked mackerel. Cara kerja otak saya untuk hal inspirasi memang tidak tentu! Terkadang tidak bisa dipaksakan atau di prediksi kapan datangnya. Saya sering juga membaca buku-buku dari chef ternama untuk memancing inspirasi saya.


Apa tantangan terbesar dalam mengelola restoran sendiri sejauh ini?


Tantangan terbesar bagi saya adalah membuat menu yang disukai orang-orang dan juga kita sendiri; menemukan balance antara self-satisfying dan trend-following. Karena kebanyakan restoran yang ada sekarang biasanya Cuma mengikuti tren semata. Jadi tantangan utama bagi saya adalah membuat makanan yang bisa memuaskan diri sendiri tapi juga diterima banyak orang.


Sebutkan satu selebriti wanita yang kamu nilai sempurna (10/10) dan apa yang akan kamu masak untuknya?


Sepertinya Scarlet Johansson (tertawa), mungkin saya akan memasak makanan berbahan pork (babi) untuknya. Yang pasti slow-cooked, pakai nasi dan mungkin juga sedikit kimchi. Makanan yang tidak terlalu mewah namun pastinya enak. Bisa jadi saya akan masak slow-roasted pork belly untuknya.


Dimana kamu akan melihat dirimu lima tahun dari sekarang? Dan bagaimana kamu ingin dikenang?


Saya ingin melihat Xiahouse lebih berkembang, kalau bisa memiliki penginapan juga (di samping restoran). Mudah-mudahan bisa terwujud! Tidak perlu besar-besaran dengan penghasilan sampai miliaran (tertawa), saya memang orangnya tidak terlalu ambisius. Saya tidak mau restoran ini sampai memiliki HRD, akunting, hal-hal semacam itu, yang simple saja. Sesungguhnya, Xiahouse meskipun terlihat seperti restoran, masih dijalankan dengan gaya ‘warung’, saya menghindari hal-hal yang berbau terlalu ambisius. Kemudian saya ingin Xiahouse bisa dikenang sebagai tempat dimana orang bukan hanya bisa makan enak, tapi juga makan dengan puas. Saya juga ingin restoran saya bisa disukai oleh sesame tukang masak / chef. Hal itu sepertinya akan lebih memuaskan ketimbang mendapat lima bintang dari kritikus makanan atau (food)blogger.


Sebutkan tiga kata yang paling mendeskripsikan seorang Chef Mike


Santai, tidak ribet dan spontan.

0 0
Feed