Undisputed Tea Champion 2019

Cakra Virajati berhasil menjuarai Tea Mocktail Master Competition 2019, Tea Master Cup Indonesia 2019 dan Indonesia Tea Brewing Championship 2019 . Oleh sebab itu, sepertinya kami boleh mengatakan bahwa 2019 adalah tahunnya Cakra. Setelah sekian lama mengincar pria kelahiran Bekasi ini sebagai narasumber, akhirnya kami berhasil mewawancarainya. Ia bercerita mengenai latar belakangnya, awal perkenalan teh, membuat kedai teh Dialog di Lombok yang berusia relatif singkat, hingga perjalanannya menjuarai berbagai kompetisi teh nasional paling bergengsi di Indonesia.

Bisa ceritakan sedikit mengenai perkenalan Anda dengan teh?


Sejak kecil, saya selalu dicekoki teh oleh ibu saya, Teh yang saya minum tentunya salah satu merk teh paling populer di Indonesia hingga saat ini, karena itulah yang tertanam di benak banyak orang. Lalu, pada 2008, ketika saya kuliah di Yogyakarta saya terkesima dengan angkringan, atau dalam bahasa orang Jawa Tengah, hik (hidangan istimewa kampung).Saya sangat antusias karena ternyata, setiap angkringan tersebut memiliki rasa teh yang berbeda. Biasanya mereka mencampurkan 2-4 merk teh yang berbeda untuk digabungkan untuk membuat rasa baru. Tidak heran setiap angkringan hadir dengan teh “house blend” mereka masing-masing yang berbeda tingkat kepahitan, kepekatan, hingga kadar manisnya. Namun, ketika saya bertanya mengenai campuran tehnya, mereka jarang sekali ada yang mau memberitahu.Pada 2018, saya membuka kedai teh sendiri. Akhirnya saya melakukan riset dengan membeli 50-60 merk teh lokal dan saya coba campurkan sendiri. Saya makin cinta terhadap teh. Bagaimanapun juga, teh adalah warisan budaya Indonesia sejak jaman dulu, dan sudah menjadi minuman keseharian masyarakat Indonesia hingga hari ini.


Anda lahir dan tumbuh besar di mana?


Agak panjang nih jawabannya. Jadi, ayah saya adalah seorang tentara, sehingga kami harus mengikuti kemanapun tempat tugasnya. Saya lahir di Bekasi, sementara kakak-kakak saya lahir di Biak (Papua), namun saya lama tinggal di daerah Bali, Lombok dan Nusa Tenggara. Ayah saya sendiri berasal dari Palembang dan ibu saya dari Manado, jadi jika saya ditanya “orang mana”, saya agak bingung menjawabnya hahaha!


Bhinneka Tunggal Ika sekali latar belakang Anda, mari kita sebut saja “Indonesia”!


Ya. Latar belakang pendidikan saya sendiri adalah ilmu komunikasi, saya pernah juga menjadi wartawan, lalu bekerja di bank, dan pada 2014, saya mengikuti seleksi penerimaan masuk abdi negara, dan berhasil lolos. Di 2018, saya mendapat penugasan di Mataram, Lombok sehingga saya harus terpisah dengan anak dan istri saya di Boyolali.Di Lombok, setiap hari saya ngopi di coffee shop yang sedang sangat booming saat itu. Akhirnya, daripada setiap hari saya menghabiskan waktu dan uang di sana, saya memikirkan sebuah ide untuk membuat sebuah tempat nongkrong untuk semua orang sebagai alternatif dari kopi, akhirnya saya memutuskan untuk membuka kedai teh tubruk menggunakan 40an jenis teh.


Apa definisi “teh tubruk”? Apakah sama dengan kopi tubruk?


Sederhananya, ketika air panas bertemu dengan daun teh, orang Jawa menggunakan istilahnya ditubruk atau ditabrak, sehingga terjadi proses penyeduhan. Banyak orang mengenal teh tubruk adalah istilah untuk teh wangi dari Jawa. Kedai teh saya, yang bernama Dialog, pada dasarnya adalah kedai kecil yang dibangun dekat lahan cuci mobil. Jika Anda perhatikan, di tempat cuci mobil biasa ada tempat untuk orang berteduh kan? Saya menyewa lahan di situ. Karena dari pagi saya harus bekerja, saya baru membuka kedai dari jam 17.00 hingga jam 23.00. Saya ingat, modal saya hanya Rp 4 juta di tahun 2018. Ternyata, kedai saya lumayan ramai dan akhirnya pada awal tahun 2019, saya mendapat kabar bahwa saya harus dipindahtugaskan ke Jakarta. Sedih juga sih, karena kedai yang baru saya buka sudah harus tutup. Namun karena pada bulan ke-3 setelah buka saya sudah balik modal, saya tidak merasa terlalu berat untuk meninggalkannya hahaha!


Bisa jelaskan sedikit mengenai konsep Dialog? Mulai dari menu hingga kisaran harga jualnya?


Saya menyediakan sekitar 40an koleksi teh dari seluruh Indonesia. Anda pernah dengar Teh Naga dari Malang? Lalu ada Teh Bali, Teh Prendjak, Teh 99, Teh Gunung Satria, banyak sekali. Saya menyasar segmen orang Jawa, karena di Mataram, ada banyak pekerja rantau dari Jawa yang tumbuh besar dengan minum teh tubruk. Yang saya jual adalah kenangan, nostalgia kampung halaman, dan tentunya beberapa kudapan seperti pisang goreng dan singkong goreng. Konsep semacam ini belum ada di Lombok. Salah satu tantangan saya adalah mencari teh-teh tersebut, untungnya ada marketplace online. Pada akhirnya, kedai Dialog menjadi tempat berkumpul tidak hanya orang Jawa, namun juga para penduduk lokal yang mau mengenal teh Jawa. Saya menjual dengan harga Rp 5.000 untuk teh panas, jika ingin tambah es, ada tambahan Rp 1.000.Selebihnya, saya juga menjual minuman teh mocktail menggunakan bahan-bahan yang ada, seperti buah dan sirup. Saya memiliki minuman signature yang sangat digemari pelanggan, Sunset Gili Trawangan yang menggunakan teh telang dan buah mangga dan jeruk. 


Belakangan, saya baru mengetahui tentang teknik penyeduhan modern yang menggunakan teapot kaca dengan penyaring, serta teknik tradisional Cina, Gong Fu Cha. Secara garis besar, teknik penyeduhan teh dan kopi tidak jauh berbeda, ada rasio air, waktu penyeduhan, suhu, kualitas daun teh itu sendiri, hingga alat seduh. Kelima faktor inilah yang menentukan kualitas seduhan, sama seperti kopi. Namun tentu saja, kita tidak bisa memaksakan selera kita. Anda akan menemukan cara seduh yang paling pas untuk selera Anda sendiri. Pada awalnya memang terjadi klaim soal teknik seduh mana yang paling benar, namun sekarang kita mulai memahami bahwa kita memiliki selera masing-masing.


Lalu, bagaimana kelanjutan perjalanan Anda di Jakarta?


Saya pindah ke Jakarta dengan tujuan untuk bekerja tentunya, sekaligus mendalami lebih dalam tentang teh. Saya mengikuti kelas teh yang diadakan oleh Ratna Somantri di Senayan City pada April 2019. Saat itu pesertanya hanya 6 orang, dan kelas mengenai teh belum sebanyak saat ini. Selain itu, saya juga mengikuti kelas tea blending, sampai akhirnya saya menemukan passion Anda di bidang tea mixology, mencampurkan teh dengan bahan-bahan lain. 


Pada sekitar bulan Juni-Juli, saya mengikuti kompetisi Tea Mocktail Master Competition 2019 di Bandung yang diselenggarakan oleh sebuah brand, dengan mendatangkan juri dari Korea Selatan. Saat itu, lomba diikuti oleh sekitar 20 orang, dan saya takjub, “ternyata ada loh kompetisi teh, saya baru tahu!” Akhirnya saya nekad saya untuk ke Bandung naik kereta api, ternyata tempatnya jauh juga, di Jalan Sersan Bajuri.Boleh dibilang, ini adalah kompetisi paling seru. Cuaca di Bandung saja sudah dingin, sementara lombanya di daerah Sersan Bajuri lebih dingin lagi, dan saya mendapat giliran tampil pada malam hari. Saya berhasil menjadi juara, dan 2 minggu setelah itu, saya juga mengikuti lomba Tea Master Cup Indonesia 2019 yang diselenggarakan di event Food Hotel Indonesia. Lalu terakhir, acara Indonesia Tea Brewing Championship 2019 di event SIAL Interfood 2019.


Bisa jelaskan sedikit mengenai segi teknis dari kompetisi teh?


Pada dasarnya, kompetisi teh sama dengan kopi. Anda harus menjelaskan asal-usul dari teh yang Anda gunakan, ditanam di mana, pada ketinggian berapa. Lalu, jika Anda menyeduh white tea dengan suhu tertentu, perkiraan rasa macam apa yang akan keluar? Floral? Bunga apa spesifiknya? Lalu pada black tea, mungkin akan ada notes madu, atau kacang-kacangan. Prediksi rasa itu yang akan digunakan sebagai kriteria bagi juri untuk penilaian. Selain itu, ada beberapa hal lain yang menjadi faktor penilaian seperti tingkat percaya diri dan kebersihan. Kemampuan story telling adalah hal penting dalam kompetisi, dan boleh dibilang, saya berhasil memenangkan kompetisi berkat kemampuan saya bercerita. 


Anda ingat teh apa yang Anda gunakan?


Saya selalu menggunakan teh Indonesia di ketiga kompetisi tersebut. Di Tea Mocktail Master Competition 2019 (Bandung), saya menggunakan green tea dari Jawa Barat yang memang disediakan oleh penyelenggara. Pada Tea Master Cup Indonesia 2019 saya menggunakan white tea dari Yogyakarta, lengkap dengan cara seduh dan penyajian ala Kraton Yogyakarta yang dikenal dengan nama Patehan. Di Indonesia Tea Brewing Championship 2019, saya menggunakan green tea yang saya dapatkan langsung dari sebuah perkebunan di Pekalongan. Saya menjadi sadar, meski ada 1 brand yang menjadi top of mind di benak konsumen, ternyata teh Indonesia itu sebetulnya banyak sekali. Anda sendiri suka teh apa?


Saya pribadi suka dengan profil rasa white tea. 


Itu adalah teh yang harganya cukup mahal karena harus dipetik tangan langsung, dan hanya bisa dipetik sesudah subuh hingga jam 06.00 pagi. Saya butuh bantuan Anda untuk mengedukasi bahwa teh Indonesia itu ada banyak dan rasanya enak. Masyarakat jangan hanya mengkonsumsi teh dalam negeri yang dikemas ulang oleh brand teh luar negeri. Indonesia sempat menjadi produsen teh terbesar ketiga dunia, namun sekarang, karena permasalahan alih fungsi lahan, kita menduduki peringkat ke-7. Ini yang harus kita bangkitkan kembali. Jika ada yang mendengar dan membaca pesan saya, semoga kalian mau menjadikan teh sebagai minuman konsumsi harian, baik di café atau di rumah.


Teh-teh specialty Indonesia ini bisa kita dapatkan di mana saja?


Google saja “teh Indonesia”, nanti akan keluar nama-nama seperti Pasar Teh, Teh Nusantara, Havilla, Haveltea, Tealosofi, ada banyak brand teh baru yang terus tumbuh. Selain di marketplace online, Anda juga bisa beli ke petani langsung.


Lalu, bagaimana dengan kelanjutan kompetisi? Biasanya pemenang kompetisi nasional akan mewakili Indonesia untuk berkompetisi di kancah internasional?


Sebetulnya, Maret 2020 kemarin seharusnya saya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Cina, namun sepertinya Allah berkehendak lain, jadi rencana tersebut ditunda dulu.


Saya penasaran, bisa jelaskan salah satu teh yang Anda buat saat kompetisi?


Pada kompetisi Indonesia Tea Brewing Championship 2019, saya mendapatkan penghargaan best signature drink melalui kreasi saya “Teh Sambal Kemangi”, Anda bisa bayangkan rasanya?


Saya bisa bayangkan kombinasi teh dan kemangi, tapi sambal sepertinya agak sulit.


Saya terinspirasi dari cocktail favorit saya, Bloody Mary. Saya menggunakan teh sencha dari Jawa Barat yang memiliki karakter rasa gurih (umami), untuk memperkaya rasa gurih tersebut, saya menambahkan tomat. Kemudian saya mencampurkan sirup jahe, sirup kemangi, lada hitam, garam, dan untuk kesan wow, saya menambahkan Tabasco, jadi selain menyegarkan, minuman ini memiliki efek kejut. Jika Anda memesan ayam geprek, Anda bisa memilih level kepedasannya, mungkin suatu saat teh juga bisa memiliki hal yang sama.


Sepertinya Anda suka dengan hal-hal menantang yang beresiko tinggi ya?


Memang, kita harus berani untuk eksplorasi rasa. Yang lucu adalah, ada anggapan bahwa minum teh akan membantu melangsingkan tubuh, namun jika Anda bertemu saya, tubuh saya sekarang malah melebar, karena kebanyakan bereksperimen dengan sirup! Karena memang saya lebih berminat mendalami tea mixology, namun jangan panggil saya dengan sebutan mixologist, nanti saya dimarahi teman-teman bartender hahaha! Sebut saja saya peracik teh. Konsep tea mixology semacam ini saya prediksi akan menjadi tren di masa depan.

0 0
Feed