Understanding Service Charge

“What’s so interesting about service charge?” asked Chef Rahmat Kusnedi to Passion Media. For someone who spent years in hotel & food industry, perhaps service charge is quite a boring topic for him, but, for the rest of us, we might be tempted when you know the amount.Please note that service charge is different from service tax. Service tax is government tax for the service provider, but it’s actually paid by customers. However, you might not notice it as many places have included the tax within the price of the product/service. Here’s our discussion about service charge with the President of Indonesia Pastry Alliance (IPA), from the theoretical definition to the actual practice.


What does service charge actually means?


In short, it’s a payment for a service. If Americans have the habit of tipping, let say it’s the official tip. Service charge will be accumulated and then shared to the employees. In hotels, the service charge is around 2%, however some 3 star hotels, or the ones in remote area might not charge. Restaurants usually charge higher, around 5%, because the revenue of a restaurant is relatively smaller than hotels.


Who has the right to get the service charge?


Permanent and contract employees. It’s uncommon for daily workers to get it, as it could be difficult to calculate, however, if they get it, usually it’s thanks to company’s policy. Generally, executive committees such as director won’t get any service charge. Of course, they have many other privileges, they also deserve to get annual bonus if they managed to achieve certain targets by the end of the year.


Based on your experience, give us an actual example of how this system works.


Most hotels apply the 2% service charge. So, if the average room rate for 5 star hotels is Rp 2 million, the service charge would be Rp 40.000. The revenue of one of leading 5 star hotels I know can be up to Rp 50 billion/month, which means the total service charge is Rp 1 billion. Before sharing it to the employees, usually management would take 2% of it (Rp 40 million) as loss and breakage cost. For a leading 5 star hotels, the service charge per employee can be Rp 8-12 million.


Do they share this service charge equally to all employees?


We have 3 service charge sharing systems: pro rate, point, and combination, each with their own plus and minus. Most international chain hotels apply the prorate system, where the total amount of service will be distributed equally to all employees. Lower level employees prefer this. Let say the lowest level jobs in hotel, such as gardener or toilet boy might have basic regional salary (Rp 3,7 million) but they can bring home Rp 8 million service charge.


On the other hand, point system is preferred by higher level employees. For example, a Senior Manager might have 10 points, meanwhile the lowest level employees might only have 4 points. After you get the total amount of service charge of the moment, they will determine the value of 1 point. Let say if 1 point worth Rp 200.000, it means Senior Manager will get Rp 2 million. If both system is not satisfying enough, we have the combination of this prorate and point.


What are the down sides of each system?


Lower level employees will see injustice in point system, because they think all employees share the same effort level. In prorate, it might be more democratic, however, there’s a comfort zone trap that you need to pay attention to.


Comfort zone? Please elaborate!


Big chain hotels prefer this system as it’s much more simple. In addition, in hotels with high service charge, the employee turnover can be minimized. However, the service charge they get can far exceed their basic salary, as a result, employees don’t really care much about promotion.


For example, a senior commis 1 with Rp 4 million basic salary from a hotel will move to other hotel with smaller service charge, but he will be promoted and have higher basic salary, let say, as a demi chef with Rp 5 million salary. However, if he got Rp 10 million service charge but in the new place he’ll only get Rp 5 million, he will think twice. This is what I meant as comfort zone.


In the end, those who work in hotel will face 2 options: career or money. Being in 1 position with no promotion is a dangerous thing. The prorate system doesn’t seem to educate people to grow. Smart people usually know when to move, even though they might have smaller income, but they will fight for higher salary.


====================================================================================================================================


“Apa menariknya membahas soal service charge?” tanya Chef Rahmat Kusnedi kepada Passion Media. Bagi seseorang yang telah berkecimpung puluhan tahun di industri hotel & makanan, mungkin service charge adalah hal yang cukup membosankan baginya, namun bagi mereka yang bekerja di luar bidang tersebut, bisa jadi Anda malah tergiur akan jumlahnya.


Perlu dicatat, sevice charge berbeda dengan service tax. Service tax merupakan pajak pemerintah yang dikenakan oleh penyedia layanan, tetapi ditanggung oleh pelanggan. Namun, mungkin Anda tidak menyadarinya, karena beberapa tempat sudah memasukkan pajak tersebut ke dalam harga produk/jasa mereka. Berikut ini adalah pembahasan kami soal service charge dengan Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA), mulai dari dari pembahasan secara teori, hingga prakteknya di lapangan.


Apa yang dimaksud dengan service charge?


Pada intinya service charge adalah imbalan atas pelayanan. Jika orang Amerika memiliki kebiasaan memberi tip, bisa dibilang ini adalah tip yang resmi. Service charge akan diakumulasikan lalu akan dibagikan kepada karyawan. Di hotel, biasanya jumlah service chargenya adalah 2%, namun beberapa hotel bintang 3 dan hotel-hotel di daerah tidak memberlakukannya. Untuk restoran, biasanya service chargenya lebih besar, yaitu sekitar 5%, karena jumlah revenue sebuah restoran relatif lebih kecil jika dibandingkan hotel.


Siapa saja yang berhak atas service charge?


Karyawan tetap dan kontrak. Untuk daily worker rasanya agak sulit menghitungnya, jikapun ada, biasanya hanya berupa kebijakan dari perusahaan saja. Namun pada umumnya, executive committee seperti direktur, tidak berhak atas service charge. Namun tentu saja, mereka memiliki banyak privilege lain, mereka juga berhak mendapatkan bonus tahunan jika berhasil mencapai target di akhir tahun.


Coba ceritakan sedikit mengenai praktek aplikasi service charge ini berdasarkan pengalaman Anda


.Kebanyakan hotel memberlakukan 2% service charge. Jadi, jika rata-rata room rate sebuah hotel bintang 5 adalah Rp 2 juta, maka service chargenya adalah Rp 40.000. Salah satu hotel bintang 5 yang saya tahu revenuenya bisa mencapai 50 Milyar sebulan, sehingga akumulasi service chargenya 1 Milyar. Sebelum dibagikan ke karyawan, biasanya dari jumlah tersebut akan dikurangi 2%, yaitu sekitar Rp 40 juta untuk kehilangan dan kerusakan. Untuk hotel bintang 5 ternama, service charge yang diterima seorang karyawan bisa mencapai Rp 8-12 juta.


Apakah jumlah service charge dibagikan secara rata ke semua karyawan?


Terdapat 3 sistem pembagian service charge ini: prorate, point dan campuran, masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya. Kebanyakan hotel chain internasional menerapkan sistem prorate, dimana jumlah service charge dibagikan secara rata ke semua karyawan. Sistem ini sangat disukai oleh karyawan level bawah. Katakanlah pekerjaan dengan gaji terendah di hotel seperti gardener atau toilet boy, gajinya mungkin hanya UMR (Rp 3,7 juta), namun mereka bisa membawa pulang service charge Rp 8 juta.


Di sisi lain, sistem point lebih disukai oleh mereka yang memiliki jabatan lebih tinggi. Sebagai contoh, biasanya posisi Senior Manager memiliki poin 10, sementara level paling bawah poinnya 4. Setelah mendapatkan nilai total service charge dalam sebulan, nanti akan ditentukan nilai 1 poin. Katakanlah, jika 1 poin bernilai Rp 200.000, berarti Senior Manager berhak atas service charge senilai Rp 2 juta. Jika kedua sistem ini dirasa tidak bisa memuaskan semua, perusahaan biasa memberlakukan sistem campuran, gabungan antara prorate dan point.


Apa kekurangan dari masing-masing sistem ini?


Sistem point dirasa tidak adil bagi karyawan level bawah, karena bagi mereka, semua pekerja tentu merasakan kelelahan yang sama, Untuk sistem prorate, mungkin terasa lebih adil, namun ada jebakan comfort zone yang harus Anda waspadai.


Comfort zone? Maksudnya?


Chain hotel besar menyukai sistem ini karena sistem pembagiannya lebih sederhana. Selain itu, pada hotel dengan service charge yang besar, turnover karyawan relatif lebih minim. Namun terkadang besarnya service charge yang melebihi gaji pokok, sehingga karyawan tidak terlalu memikirkan soal kenaikan jabatan.


Sebagai contoh, seorang senior commis 1 dengan gaji Rp 4 juta dari sebuah hotel akan pindah ke hotel lain yang service chargenya lebih kecil, namun jabatan dan gajinya lebih tinggi, katakanlah demi chef dengan gaji Rp 5 juta. Namun jika di hotel sebelumnya ia mendapat service charge Rp 10 juta sementara di hotel baru ia hanya mendapat Rp 5 juta, belum tentu ia mau pindah. Ini yang saya maksud zona nyaman.


Pada akhirnya mereka yang bekerja di hotel akan dihadapkan pada 2 pilihan: karir atau uang. Berada di 1 posisi yang sama tanpa promosi merupakan hal yang berbahaya. Sistem prorate cenderung tidak mendidik orang untuk berkembang. Orang yang cerdas biasanya tahu kapan waktunya pindah, meski total pendapatannya turun, namun mereka akan memperjuangkan kenaikkan gaji pokoknya.

0 0
Feed