The Wine Library

Almost all of French, Italian, and other hi-end restaurants have wine collection, but not many claim themselves as a true wine house like Vin+. Even though they have other alcoholic drinks such as whisky, beer, and sake, from its name, we can tell that wine is Vin+’s raison d’etre.

In 2003, Vin+ was established in Kemang with wine retail concept, and then they set up the restaurant and café. In 2009, Vin+ opened its new outlet in Arcadia, Senayan specifically with dinein concept, or can we call it wine-in? Because they have many guests come just to enjoy the wine. Of course, Vin+ is not a nightclub with loud music that can distract you from appreciating their wines. Live Music and DJ are there give you music to support the atmosphere to enjoy the night.

Vin+ offers wide array of wine selections, from entry-level wine to vintage wine. One of the reason is  because Vin+ is in the same company group with PT. Jaddi Internasional as the wine distributor. “Around 80% of the wines here are imported by us,” said Joko Budi Manaf, Vin+ Arcadia’s Sommelier.

Wine Collections 

With so many brands, choosing a wine can be a confusing experience for most people. Therefore, we recommend you to ask the sommelier about their wine collection that suit your taste preference. “Wine is personal taste, however, as sommelier, we have to be able to provide wine to the customers based on their taste preference. Usually, we ask few questions: do you want full-body, medium, or light? What sort of notes do they after? Fruity, chocolate, or oak barrel? Knowledge is important, because we also need to be able to explain the history of the wine,” he added.

What happen the most is, customers don’t know what they want, so we’ll give you some tips. Before knowing various brands, you need to understand the most common grape varieties. For the masculine full-bodied red wine, Cabernet Sauvignon and Shiraz are the most common choices. These are the best grapes to pair with red meat. People said Cabernet Sauvignon and steak are soulmate, however, in many occasions, the dry and peppery Shiraz was a better pairing. You’d better try both to know what we really mean.

The lighter body red wine is considered as “feminine”, some of the most common grape varieties in this category are Merlot and Pinot Noir. “Pinot Noir is a unique and sexy grape, usually the notes don’t stray far from red fruit such as cherry or strawberry. Many people are asking for it, but they don’t necessarily like it,” Joko explained. And then, for white wine, the choices usually end up with the lighter Sauvignon Blanc, or the bolder Chardonnay, both are often paired with chicken or seafood dishes.

Old World VS New World

The next thing you should pay attention for is the classic issue of Old World VS New World. Old World refers to wines from European countries such as France, Italy, or Spain. The Old World wines are bound by strict rules to keep the consistency, as opposed to the New World who’s more adventurous in taste and grape varieties combination. Simply said, all of the wines produced outside Europe are New World, such as Australia, Chile, New Zealand, America, and Argentine.

Generally, Old World wines have lighter body, more complex character, and of course, higher price. However, Joko admitted that Old World is not always better than New World. “For Old World’s Pinot Noir, it’s more to mineral notes, meanwhile the New World’s counterpart has the sensation of tropical fruit, especially the one that’s produced in New Zealand. Personally, I prefer New World’s Pinor Noir.”

In addition, when he was asked his favorite wine, Joko didn’t opt for the Old World wine. “I love American wines, especially from Napa Valley. They’re dominant in Cabernet Sauvignon that’s full–body, elegant, and very perfume-like. In the Rp 1 million range, you can have great quality Napa Valley wines.”

The last one is about the price. Vin+ offers wide range of wines from the easy to drink entry level wines, medium, to the vintage ones. The price is ranging from Rp 500.000 for entry level wines, Rp 800.000 for medium level, to Rp 170.000.000 for vintage wine. “Our most expensive wine here is the 1995’s Romanee-Conti, it’s a Burgundy wine, of course it’s 100% Pinot Noir. Even though it wasn’t opened in the outlet, our customer bought it as a gift,” Joko said. We can only wonder who’s that lucky guy to have the wine.

Another popular vintage wine here is the 1982 Chateau Petrus that’s worth Rp 120.000.000. “It’s one of customers’ favorites, not all winehouse has it in store,” he added. Some of the highlights here are 2010’s Colgin Napa Valley, 2000’s Pio Cesare Barolo Alba – Italia, 2012’s Tua Rita Redigaffi, 1994’s Chateau Mouton Rothschild, 2006’s Chateau Angelus, 1999’s Chateau Margaux Grand Vin, and 2008’s Le Pavillon Ermitage.

Since 2009 until today, Vin+ is the answer for the growing obsession from the people on wine. You really need to resist the urge to have more wines as the dine-in venue here is also the display place for the wines, categorized based on the country. If you come to Vin+ in the mood of wine exploration, Joko recommended you to come in 5 people, it’s the ideal number to enjoy a bottle of wine.

As opposed to previous years’ assumption, drinking wine is no longer an intimidating experience. In fact, it has become part of lifestyle and necessity for many people living in Jakarta, be it beginner or true connoisseur. With wide range of choices, Vin+ is the place to go if you want to learn and enjoy the wine to the next step.


Hampir semua restoran Prancis, Italia, dan restoran hi-end memiliki koleksi wine, namun tidak banyak yang berani memposisikan diri sebagai wine house sejati seperti Vin+. Meski memiliki berbagai minuman lain mulai dari whisky, bir, dan sake, dari namanya saja kita mengetahui bahwa wine adalah alasan keberadaan Vin+.

Pada 2003, Vin+ berdiri di Kemang dengan konsep penjualan wine retail, lalu melengkapi dirinya menjadi restoran sekaligus café. Kemudian pada 2009, Vin+ membuka cabang di Arcadia, Senayan dengan konsep dine-in, atau bisa kita sebut wine-in? Karena ada banyak pelanggan yang datang hanya untuk menikmati wine di sini. Tentu saja, Vin+ bukanlah sebuah night club dengan musik bising yang akan mengganggu konsentrasi Anda dalam mengapresiasi wine. Live Music dan DJ malah akan memberikan musik yang mendukung Anda menikmati malam.

Vin+ memiliki banyak jenis wine mulai dari wine entry-level, hingga wine vintage. Salah satu alasannya adalah, Vin+ masih dalam grup perusahaan yang sama dengan PT. Jaddi Internasional selaku distributor wine. “Sekitar 80% dari wine di sini kami impor sendiri,” jelas Joko Budi Manaf, Sommelier Vin+ Arcadia.

Koleksi Wine Dengan begitu banyaknya pilihan, memilih wine bisa jadi memusingkan bagi kebanyakan orang. Oleh sebab itu, kami sarankan Anda untuk bertanya ke sommelier mengenai wine yang mereka miliki dan yang sesuai dengan  selera Anda. “Wine merupakan personal taste, namun sebagai sommelier, kami harus bisa menyediakan wine dengan karakter yang pelanggan inginkan. Biasanya kami menanyakan beberapa hal: apakah Anda ingin wine yang full-body, medium, atau light? Notes seperti apa yang diinginkan? Fruity, chocolate, oak barrel? Pengetahuan sangat penting, karena kita juga harus bisa menjelaskan sejarah dari wine tersebut” kata Joko.

Yang sering terjadi adalah, pelanggan tidak tahu apa yang mereka inginkan, jadi kami akan memberikan sedikit panduan untuk Anda. Sebelum mengenal begitu banyak merk wine, sebaiknya Anda mengenal dulu jenis anggur yang paling umum dijumpai. Untuk red wine full-body dengan karakter maskulin, anggur Cabernet Sauvignon dan Shiraz merupakan pilihan paling umum. Anggur ini merupakan pasangan terbaik untuk daging merah. Ada yang bilang bahwa Cabernet Sauvignon adalah jodohnya steak, namun pada banyak kesempatan, Shiraz yang lebih dry dan peppery merupakan pairing yang lebih baik. Anda harus mencoba keduanya untuk mengetahui apa yang kami maksud.

Red wine dengan body yang lebih light dianggap lebih “feminin”, anggur yang paling umum pada kategori ini adalah Merlot dan Pinot Noir. “Pinot Noir merupakan anggur yang unik dan seksi, biasanya notesnya tidak jauh dari seputar rasa buah merah seperti cherry atau strawberry. Banyak orang mencari Pinot Noir, namun belum tentu mereka bisa menyukainya,” jelas Joko. Lalu untuk white wine, biasanya pilihan Anda mengerucut pada 2 jenis anggur: Sauvignon Blanc yang lebih ringan, atau Chardonnay yang lebih berani, keduanya sering dijadikan pairing bagi masakan ayam dan seafood.

Old World VS New World 

Hal selanjutnya yang harus diperhatikan soal cerita klasik soal Old World VS New World. Old World merupakan wine yang berasal dari kebanyakan negara Eropa seperti Prancis, Italia, dan Spanyol. Wine-wine Old World terpaku pada banyak aturan baku demi menjaga konsistensi produk, berbeda dengan wine New World yang cenderung lebih berani dalam mengeksplorasi rasa dan kombinasi jenis anggur. Bisa dibilang, wine yang diproduksi di luar Eropa dikategorikan sebagai New World, contohnya adalah Australia, Chile, New Zealand, Amerika, dan Argentina.

Pada umumnya, wine Old World memiliki body yang lebih light, karakter lebih kompleks, dan harga jual lebih tinggi. Namun meski demikian, Joko mengakui bahwa wine Old World tidak mutlak lebih baik dari New World. “Untuk anggur jenis Pinot Noir Old World, karakternya lebih ke mineral, sementara New World memiliki sensasi tropical fruit, terutama yang diproduksi New Zealand. Saya pribadi lebih menyukai Pinot Noir New World.”

Bahkan, jika ditanya wine favoritnya, Joko ternyata malah tidak memilih wine Old World. “Saya suka wine Amerika, terutama wine Napa Valley. Mereka dominan menggunakan Cabernet Sauvignon dengan karakter full body, elegant, dan sangat perfume. Untuk range harga Rp 1 jutaan saja, wine Napa Valley sudah sangat baik.”

Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah soal harga. Vin+ menyediakan wine mulai dari entry level yang easy to drink, medium, hingga vintage. Kisaran harga wine di sini mulai dari Rp 500.000 untuk wine entry level, Rp 800.000 untuk medium, hingga Rp 170.000.000 untuk wine vintage. “Wine termahal kami di sini adalah Romanee-Conti, wine Burgundy, Prancis, tentunya dengan anggur Pinot Noir tahun 1995. Meski tidak dibuka di sini, pelanggan kami membelinya sebagai hadiah,” jelas Joko. Kami hanya dapat membayangkan siapa orang beruntung yang mendapatkan wine tersebut.

Wine vintage yang juga populer di Vin+ adalah Chateau Petrus tahun 1982 yang dijual seharga Rp 120.000.000. “Ini merupakan salah satu favorit pelanggan, karena tidak semua winehouse memilikinya,” tambah Joko. Beberapa wine lain yang menjadi highlight di sini adalah Colgin 2010 Napa Valley, Pio Cesare Barolo 2000 Alba – Italia, Tua Rita Redigaffi 2012, Chateau Mouton Rothschild 1994, Chateau Angelus 2006, Chateau Margaux Grand Vin 1999, dan Le Pavillon Ermitage 2008.

Sejak 2009 hingga sekarang, Vin+ merupakan jawaban atas rasa ingin tahu penduduk Jakarta yang semakin besar soal wine. Anda harus benar-benar tahan godaan untuk mencoba berbagai wine karena tempat dine-in di sini menyatu dengan display wine yang dikelompokkan berdasarkan negara produsennya. Jika Anda datang ke Vin+ sedang dalam mood untuk mengeksplorasi wine, datanglah berlima, karena inilah jumlah yang disarankan Joko untuk menikmati sebotol wine.

Berbeda dengan anggapan beberapa tahun lalu, minum wine tidak lagi menjadi sebuah pengalaman yang mengintimidasi. Bahkan, wine telah menjadi lifestyle dan kebutuhan bagi banyak penduduk Jakarta, baik bagi peminum wine pemula hingga penikmat kelas berat. Dengan jumlah pilihan wine yang begitu banyak, Vin+ bisa Anda jadikan pilihan utama Anda untuk mempelajari dan menikmati wine lebih jauh lagi.


Jl. New Delhi Pintu I, Senayan Gelora, Tanah Abang,Jakarta 10270 

Phone: +6221 5790 1477,