Suwe ora Jamu

The Past and Future of Jamu

In the past, jamu was part of people’s life. From the tradition of consulting about your own health to mbok jamu before she made you the jamu mix, or just to maintain health. Now, the jobs were pretty much replaced by modern medicine that’s more heavily marketed. However, Suwe Ora Jamu reminds us of our ancestor’s cultural heritage, along with the new and exciting modern format.


Suwe Ora Jamu was established by Nova Dewi Setiabudi and Uwi Mathovani in 2013. “In 2011, I moved to Jakarta from Surabaya, and actually I was in graphic design business. At the time, I was having a hard time finding jamu. I wondered, why do Jakartans don’t drink jamu? There are many reasons, from those who see jamu as medicine, the taste is awful, afraid of its negative side effects,” Nova recalled.


As someone who was born in Solo and attached to the jamu tradition, her longing for jamu took shape as Suwe Ora Jamu, the first modern jamu cafe in Jakarta. “In the beginning we called it Jamu Café and Coffee. We want to introduce jamu as healthy lifestyle drink, of course you need extra effort and time to change people’s mindset about jamu. It’s tough if we should solely claimed it as jamu coffee, because it was proven that many people started to get interested in jamu through our spice coffee,” explained Nova.


Initially, Suwe Ora Jamu introduced 5 jamu variants: kunyit asam (turmeric tamarind), (rice kaempferia galangal), wedang jahe (ginger water), rosella, and reeds. “We deliberately served lighter tasting, sweet jamu so it can be enjoyed more easily, but along the way, we introduced its original taste that’s not too sweet. Sometimes we even make out mocktail jamu using many vegetables and fruits that don’t reduce the health benefits,” said Nova.


Even though it’s closely associated with health benefits, Nova Dewi doesn’t see jamu as medicine. “To me drinking jamu is prevention, meanwhile you take medicine when you’re already sick. Therefore, in my family, jamu means jagalah dirimu (take care of yourself), even though the word came from ancient Java language that means jampi usodo (prayer for health),” said Nova. We don’t have any medical record on jamu’s health benefits, but for Nova, her family that rarely got sick is a living proof of jamu’s health benefits. 


One of Suwe Ora Jamu’s main concerns is about the ingredients, and they try to serve the most natural ones as possible. They sourced the ingredients from Cihaur Village, Sukabumi that employs no pesticide.


Now, Suwe Ora Jamu’s products have grown into many variants, from bottled traditional jamu, to the house blend tisane jamu with unique names. Let say Seduh Tentrem (fennel, cinnamon root, cardamom, kemangi, clove) that can rebalance organ’s function and as antioxidant, Seduh Anubhawa (lime leaf, white ginger, cardamom, kemangi, lemon peel, lemongrass) that can add stamina and spirit, to other variants such as Seduh Asmara, Seduh Sukma, Seduh Prana, Seduh Anigmaya, Seduh Tiyasa, and Seduh Jelita.


For the first time visitors, Sapta Sari is the best choice. 7 jamu variants is served in shot glasses consist of beras kencur, kunyit asam, wedang jahe, sari jamu sehat, reeds, rosella & green tamarind. Suwe Ora Jamu also serves local favorites such as Bubur Kacang Hijau, Bubur Ketan Hitam, Tahu Sumedang Isi Sayuran, Singkong Goreng, Tempe Mendoan, Pisang Goreng, Mie Goreng Tek Tek, Nasi Nusantara, and many other traditional foods.


With interior and ornament that reminds us of our childhood, Suwe Ora Jamu presents the nostalgia, also the future of the jamu sale’s format in modern era. If we always see coffee and tea and lifestyle drink, why don’t you give our ancestor’s legacy a shot here? With lighter taste and many modern renditions, we guess millennials won’t have a hard time adapting with the taste of jamu here.


The good news is, even though Suwe Ora Jamu’s outlets were located Petogogan, Warung Jati, Alun-Alun Indonesia, and Salihara, their products are also available in modern retail markets such as Ranch Market, Gelael, some restaurants in Jabodetabek, Surabaya, and Bali, to the modern apps like Go Food. It seems that you need to visit Suwe Ora Jamu’s Instagram (@suweorajamu28) for further information, along with some jamu workshops for those who want to know jamu better.

=================================================================================================


Pada jaman dahulu, jamu merupakan bagian dari hidup masyarakat. Mulai dari tradisi berkonsultasi soal kondisi kesehatan di mbok jamu sebelum dibuatkan ramuan jamu, atau sekadar tradisi untuk menjaga kesehatan. Peran-peran tersebut banyak tergantikan oleh obat modern yang lebih gencar disosialisasikan. Namun. Suwe Ora Jamu mengingatkan kita akan warisan kebudayaan leluhur ini, tentunya melalui format modern yang lebih menyenangkan.


Suwe Ora Jamu didirikan oleh Nova Dewi Setiabudi and Uwi Mathovani pada 2013. “Pada 2011 saya pindah ke Jakarta dari Surabaya, dan saya bergerak di bidang desain grafis. Saat itu merasa kesulitan menemukan jamu. Saya penasaran mengapa orang Jakarta tidak minum jamu? Alasannya bermacam-macam, ada yang memandang jamu sebagai obat, rasanya tidak enak, takut akan efek sampingnya yang negatif,” kenang Nova.


Sebagai seorang yang lahir di Solo dan lekat dengan budaya jamu, kerinduannya akan jamu diwujudkan menjadi Suwe Ora Jamu, sebuah kedai jamu modern pertama di Jakarta. “Awalnya, kami menyebutnya Kedai Jamu dan Kopi. Kami bertujuan untuk memperkenalkan jamu sebagai minuman lifestyle yang sehat, namun tentu butuh waktu untuk mengubah mindset orang mengenai jamu. Sulit rasanya jika harus mengklaim diri hanya sebagai kedai jamu, karena terbukti banyak orang yang tertarik mengenal jamu melalui kopi rempah-rempah,” jelas Nova.


Pada awalnya, Suwe Ora Jamu menyajikan 5 varian jamu: kunyit asam, beras kencur, wedang jahe, rosella, dan alang-alang. “Kami memang sengaja membuat jamu yang lebih ringan dan manis agar lebih mudah dinikmati, namun seiring berjalannya waktu, kami mulai memperkenalkan rasa aslinya yang tidak terlalu manis. Terkadang kami juga membuat jamu mocktail dengan menggunakan berbagai sayur dan buah-buahan yang tidak mengurangi khasiat jamu itu sendiri,” kata Nova.


Meski sering dikaitkan dengan khasiatnya untuk kesehatan, Nova Dewi tidak melihat jamu sebagai obat. “Bagi saya minum jamu adalah upaya pencegahan, sementara obat justru dikonsumsi setelah kita sakit. Oleh sebab itu, di keluarga saya, jamu itu artinya jagalah dirimu, meski aslinya jamu berasal dari bahasa Jawa kuno jampi usodo (doa kesehatan),” kata Nova. Belum ada riset medis soal khasiat jamu, bagi Nova, keluarganya yang jarang sekali sakit merupakan bukti hidup manfaat jamu.


Salah satu yang menjadi perhatian utama Suwe Ora Jamu adalah soal bahan-bahan jamu yang diusahakan sealami mungkin. Mereka mendapatkan bahan-bahan dari Desa Cihaur di Sukabumi yang tidak tersentuh pestisida.


Saat ini, varian produk Suwe Ora Jamu telah berkembang menjadi berbagai varian, mulai dari jamu tradisional dalam kemasan botol, hingga jamu tisane racikan sendiri dengan nama unik. Sebut saja Seduh Tentrem (adas, akar kayu manis, kapulaga, kemangi, pala) yang bermanfaat untuk menyeimbangkan kembali fungsi organ tubuh dan antioksidan, Seduh Anubhawa (daun jeruk, jahe putih, kapulaga, kemangi, kulit lemon, sereh) yang dapat menambah tenaga dan semangat, hingga berbagai varian lain seperti Seduh Asmara, Seduh Sukma, Seduh Prana, Seduh Anigmaya, Seduh Tiyasa, dan Seduh Jelita.


Bagi mereka yang pertama kali mengunjungi Suwe Ora Jamu, Sapta Sari merupakan pilihan terbaik. 7 rasa jamu yang disajikan dengan gelas sloki terdiri dari jamu beras kencur, kunyit asam, wedang jahe, sari jamu sehat, alang-alang, rosella & green tamarind. Selain itu, Suwe Ora Jamu juga menyajikan hidangan khas Indonesia yang tentu sudah kita kenal seperti Bubur Kacang Hijau, Bubur Ketan Hitam, Tahu Sumedang Isi Sayuran, Singkong Goreng, Tempe Mendoan, Pisang Goreng, Mie Goreng Tek Tek, Nasi Nusantara, dan masih banyak menu tradisional lain.


Dengan interior dan ornament khas yang mengingatkan kita akan masa kecil, Suwe Ora Jamu menghadirkan nostalgia sekaligus masa depan mengenai format menjual jamu di era modern. Jika selama ini kita menganggap kopi dan teh sebagai minuman masa kini, mengapa tidak sesekali mencoba resep jamu warisan leluhur di sini? Dengan rasa lebih ringan dan berbagai varian modern, rasanya para milenial tidak akan mengalami kesulitan untuk menyesuaikan selera jamu di sini.


Kabar baiknya, meski outlet Suwe Ora Jamu berdiri di Petogogan, Warung Jati, Alun-Alun Indonesia dan Salihara, produk jamu mereka sudah tersedia di berbagai tempat retail modern, seperti Ranch Market, Gelael, berbagai restoran di Jabodetabek, Surabaya, dan Bali, hingga aplikasi seperti Go Food. Sepertinya Anda harus mengunjungi Instagram Suwe Ora Jamu (@suweorajamu28) untuk info lebih lengkap, termasuk untuk beberapa workshop mengenai jamu bagi mereka yang ingin mengenal jamu lebih jauh.


SUWE ORA JAMU

Jalan Petogogan I No. 28B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Phone: +6221 7279 0590, www.suweorajamu28.com

0 0
Feed