Wiliam wongso

The Neverending Quest to Promote Indonesian Cuisine

Passion meets William Wongso, an energetic figure who tirelessly promotes our country’s cuisine in international level for many years now. He shares the story of his endeavors and how we can make our Indonesian cuisine greater than ever.


Care to share some highlights from your recent travel in Indonesia?


I was asked to participate as a jury for this epic rendang competition held in Padang. I’m quite curious with the technicalities since it involves teams from 33 provinces all over Indonesia! Not just that, the competition also involves local students and home cooks from West Sumatra as well.


I was asked to participate as a jury for this epic rendang competition held in Padang. I’m quite curious with the technicalities since it involves teams from 33 provinces all over Indonesia! Not just that, the competition also involves local students and home cooks from West Sumatra as well.


Despite the huge potential we have, why is Indonesian cuisine struggling to be known internationally?


One of the most popular issues regarding Indonesian cuisine abroad is the availability of our restaurants. It’s in contrast when you’re comparing it with, for example, the plethora of Thai restaurants we can find in foreign countries. It takes years for them to finally be known and they’re now reaping the benefits. Thai cuisine took of internationally after the country had dedicated a lot of resources to introduce it abroad.


However in our case, it’s riskier. What most likely to happen is if we’re not investing wholeheartedly in this kind of venture, then there’s a high chance that in 6 months the restaurants will close. Quite surprisingly however, the latest international hype is Vietnamese cuisine. A question arises next, how come they’re more successful than us while the government’s not specifically doing what the Thai did back then?


How curious! What about it, Oom Will?


Indonesia is a generally a peaceful country. There was never a huge conflict here that forced its people to migrate for safety abroad. Unlike Vietnam for example, a whole village may migrated abroad and communities then established in American cities. This created a steady demand for ingredients from their original country. That’s why their culinary culture are more developed and gradually accepted by the locals.


As a comparison, we have over 130,000 Indonesians scattered in all over The States. Meanwhile, apart from other places in USA, there’s this whole 130,000 Vietnamese people currently living in San Jose alone, just an hour trip outside of San Francisco. A few years back, the city even had a Vietnamese vice mayor.


The same case might happen again in future Germany. We might witness the rise of Syrian cuisine there since many refugees have been fleeing the war-torn country. This I remember 40 years ago when I first visited Germany. I had my share of street-style doner kebabs back then when it was only to cater Turkish workers. Now, Turkish fine dining restaurants can be found in many places in Germany and even as far as Vienna, Austria.


What is the strategy you’d like to propose regarding this?


We must realize that it’s not easy to inspire Westerners to cook Indonesian food on daily basis at home. It’s the same with us, we don’t cook Western food that often as well, right? So, we need to create a nuance within their own dishes by incorporating our flavors!


For example, if we’re teaching them the recipe of soto ayam, they will think many times to actually cook it. But, how about if we teach the French to infuse soto ayam flavors into their pot-au-feu? It’s more applicable to them, right?


Quite recently, I visited Namibia. I had this rare opportunity to cook with game meats there and our team grilled it the Indonesian way - by applying kecap manis and our style of marination. The locals were all raving about it and asked me where they can buy these. Unfortunately they can’t of course, since we don’t have a trade route there for our ingredients.


Learning from these examples, we can actually create a huge economic value for our country by establishing an export route for our ingredients. This way, we can support our restaurants to creating authentic flavors and cementing our culture overseas.


Surely we can still find similiar ingredients as a substitute abroad, right?


I suspect that Thai and Vietnamese cuisines use the hybrid ingredients and the flavors taste different when compared with our authentic spices. That’s why the taste of our food affected as well. The export will help to fill this gap and also helps our restaurants to compete.


For example, Indonesian dishes usually require extensive preparations and this will cost the business a lot in terms of time, manpower, and money. By providing them with authentic, processed ingredients, they may save up to 40% of their cost!


Last question, where are you heading next for your food diplomacy events?


I will be heading to South Korea this September for a cooking competition between our migrant workers there. Next in October, I will be heading to Budapest and cook for an event. We’re adopting the strategy that I have mentioned before by creating a dish like foie gras combined with rujak Aceh - instead of using the usual sauces. We will also cook roti jala with gulai, nasi minyak Batanghari, and for desserts – kue lumpur with banana filling and cendol sauce or the serabi gulung filled with jackfruits.


Afterwards, I will be heading to Atlanta and support this event at WIN Indonesian Grill & Gastrobar, a brand new restaurant. Then, it’s Paris, Rome, South Korea again, and finally at the end of this year – a culinary tour in India.


=====================================================================================================================================


Passion berjumpa dengan William Wongso, tokoh energetik yang tak pernah lelah mempromosikan kuliner Indonesia di pentas internasional selama bertahun-tahun belakangan. Kali ini, beliau berbagi cerita mengenai kegiatannya dan bagaimana caranya agar kita bisa menjadikan masakan negeri ini lebih hebat lagi.


Boleh berbagi cerita perjalanan Oom Will baru-baru ini?


ku diminta untuk berpartisipasi sebagai juri untuk sebuah kompetisi rendang yang diadakan di Padang. Cukup penasaran tentang teknis sebuah kompetisi yang melibatkan tim masak dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, kompetisi ini juga melibatkan pelajar dan kelurahan dari provinsi Sumatra Barat.


Yang menarik bagiku adalah mengetahui cara mereka memasak rendang di Indonesia Timur. Tapi inti dari semuanya adalah, kalau kita bisa memasak rendang dan melewati berbagai tantangannya, belajar masakan Indonesia lainnya akan lebih mudah.


Meski punya banyak potensi, tapi mengapa masakan Indonesia tetap mengalami kesulitan untuk dikenal secara internasional?


Isu paling populernya adalah ketersediaan restoran Indonesia di luar negeri. Ini kontras dengan masakan Thai yang sangat mudah dijumpai. Memang butuh bertahun-tahun untuk Thailand agar bisa melakukannya dan akhirnya kini mereka menikmati hasilnya. Masakan Thai bisa melejit popularitasnya karena negaranya berinvestasi secara serius agar bisa dikenal di luar negeri.


Untuk kasus masakan Indonesia, justru lebih beresiko. Kemungkinan besar restoran akan tutup setelah beroperasi enam bulan kalau kita tidak punya rencana investasi yang serius. Namun uniknya, yang kini tengah populer di luar negeri adalah masakan Vietnam! Padahal pendekatannya berbeda dengan masakan Thai. Pertanyaannya, apa yang menjadikan mereka sukses?


Menarik! Bagaimana ceritanya, Oom Will?


Indonesia adalah negara aman. Belum pernah ada konflik besar yang memaksa rakyatnya untuk bermigrasi ke mancanegara. Berbeda dengan Vietnam, terjadi migrasi bedol desa ke Amerika Serikat dan di sana mereka mendirikan berbagai komunitas. Ini menyebabkan terjadinya permintaan tinggi untuk bahan makanan asli dari negerinya sendiri. Inilah juga sebabnya kultur kuliner mereka lebih berkembang dan disukai oleh warga setempat.


Sebagai perbandingan, saat ini kita punya 130,000 warga Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah Amerika Serikat. Bandingkan dengan misalnya di kota San Jose saja – satu jam perjalanan dari San Francisco, dimana terdapat 130,000 warga Vietnam yang tinggal di sana. Maka tidak heran kalau beberapa tahun lalu, wakil walikota San Jose adalah seorang keturunan Vietnam.


Kasus yang sama bisa saja terjadi di masa depan Jerman. Kita akan menyaksikan berkembangnya kuliner Suriah di sana karena banyak pengungsi perang yang kini tinggal di Jerman. Ini bisa dibilang mirip dengan saat pertama kali saya ke Jerman 40 tahun yang lalu. Dahulu doner kebab biasa dijumpai di pinggir jalan sebagai makanan untuk para arbeiter atau pekerja keturunan Turki. Kini, masakan fine dining Turki sudah banyak ditemukan di sana, bahkan hingga sejauh Vienna di Austria.


Apa strategi yang tepat kalau begitu?


Kita harus sadar bahwa tidak mudah untuk menginspirasi orang bule untuk memasak masakan Indonesia setiap harinya. Begitupun dengan kita, tentu kita juga tidak memasak masakan Barat setiap hari, bukan? Maka dari itu, kita perlu menciptakan cara agar masakan tradisional mereka bisa diolah supaya memiliki citarasa Indonesia.


Misalnya saja kalau kita mengajarkan mereka resep soto ayam, tentu mereka akan berpikir berulang kali untuk memasaknya. Tapi, bagaimana kalau kita memasukkan rasa soto ayam pada masakan tradisional pot-au-feu untuk orang Perancis? Tentunya ini lebih masuk akal untuk mereka.


Baru-baru ini saya berkunjung ke Namibia dan berkesempatan untuk memasak berbagai daging buruan di sana. Kita putuskan saja untuk membuat satai, dengan kecap manis dan bumbu-bumbu khas kita. Orang-orang keturunan Jerman yang tinggal di sana begitu penasaran dengan masakan kita dan bertanya dimana bisa membelinya. Sayangnya kita tidak punya akses untuk menyediakan bumbu-bumbu kita untuk mereka.


Nah, dari contoh-contoh ini, sebetulnya kita bisa menggerakan roda ekonomi dengan membuat jalur ekspor bumbu-bumbu kita ke mancanegara. Dengan cara ini, kita bisa mendukung restoran-restoran kita di luar negeri agar rasa masakannya otentik.


Apakah kita bisa menggunakan bumbu-bumbu serupa yang sudah tersedia di luar negeri?


Sepertinya bumbu-bumbu yang digunakan masakan Thai dan Vietnam adalah jenis hibrida dan citarasanya tidak sekuat bumbu asli kita. Inilah mengapa rasa masakan Indonesia di luar terasa berbeda Pengembangan ekspor bahan makanan inilah yang akan menjawab permasalahan tersebut dan membantu restoran-restoran kita untuk bersaing.


Masakan Indonesia membutuhkan persiapan panjang dalam mengolah bahannya. Ini menyebabkan biayanya tinggi, belum juga kalau kita bicara sumber daya manusia dan waktu. Dengan menjawab kebutuhan ini dan menyediakan bumbu jadi, para pebisnis restoran Indonesia bisa memotong pengeluran hingga 40%!


Pertanyaan terakhir, kemana saja tujuan Oom berikutnya untuk kegiatan diplomasi kuliner?


September ini aku akan berangkat menuju Korea Selatan untuk kompetisi masak antar TKI di sana. Selanjutnya di bulan Oktober menuju Budapest untuk sebuah event. Kita akan mengadopsi cara yang tadi disebutkan dengan membuat masakan seperti foie gras yang dipadukan dengan rujak Aceh, ketimbang saus pada umumnya. Kita juga akan memasak roti jala dengan gulai, nasi minyak Batanghari, dan untuk makanan penutup – kue lumpur isi pisang dan saus cendol, serta serabi gulung isi nangka.


Berikutnya menuju Atlanta untuk sebuah event di WIN Indonesian Grill & Gastrobar, sebuah restoran baru. Selanjutnya adalah Paris, Roma, Korea Selatan lagi, dan di penghujung tahun – tur kuliner ke India.

0 0
Feed