Darryl Loandy

The Meticulous Barista

Suburnya bisnis per-kopi-an di Pulau Bali membuka jalan bagi hadirnya sederet sosok muda berbakat seperti Darryl Loandy. Bukan hanya jago meracik kopi, barista andalan Bare Bottle Kuta tersebut juga mengeksplorasi khasanah bidangnya lebih jauh dan kini telah menciptakan brand jug (wadah tuang susu untuk latte art) nya sendiri. PASSION mendapat kesempatan untuk berbincang hangat sang pemuda sembari menikmati Iced Capuccino nikmat racikannya.

Bisa ceritakan sedikit latar belakang karir kamu; apa yang menginspirasi kamu untuk terjun di dunia kopi?


Saya berasal dari Makassar, dan merantau ke Bali ketika hendak kuliah, sekitar tahun 2017. Pada awalnya, saya belum memiliki banyak teman di Bali, kemudian ada seorang rekan sekampus yang bekerja part-time di sebuah coffee shop di bilangan Jimbaran. Karena cukup intens bertemu, ia kemudian mengajak saya untuk mengunjungi tempat kerjanya untuk hangout dan ‘sekalian belajar kopi’ katanya. Saya pun mengiyakan ajakannya karena saya pikir bisa untuk mengisi waktu luang. Singkat cerita, saya kemudian tertarik pada dunia kopi, karena menurut saya bisa ‘connecting people’. Berkat kopi, saya bisa bertemu teman saya tersebut, kemudian disusul oleh teman-teman baru lainnya.


Selain barista, kamu juga dikenal dengan kreasi jug susu yang apik. Apa yang menjadi inspirasi kamu untuk membuat produk tersebut?


Sedikit latar belakang saja, brand jug susu saya bernama ‘SEIDO’, yang diambil dari bahasa Jepang berarti ‘presisi’. Ketika saya baru belajar kopi dua tahun lalu, saya belum terjun ke dunia latte art dan lebih fokus untuk mendalami teknik pembuatannya; bagaimana cara menyeduh, menyajikan espresso, dan semacamnya. Kemudian barulah sekitar enam bulan belakangan saya mulai menekuni latte art. Dalam prosesnya, saya memperhatikan jug susu yang dipakai dan mulai berpikir; kenapa bentuknya seperti ini, atau kenapa ada yang mahal dan yang murah. Hal tersebut membawa saya melakukan riset terhadap detil rancangan sebuah jug, mulai dari handle (gagang) hingga spout (ujung untuk menuang)nya. Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya lalu mencari bentuk jug yang cocok dengan diri saya sendiri dan juga orang lain. Saya memperhatikan banyak barista memiliki postur yang tegap dan besar, sehingga kemudian saya pikir, gagang jug nya harus besar juga, agar grip (genggaman) nya lebih dapat. Antara handle dan spout pun saya buat simetris agar lebih mudah bagi barista untuk mengontrol susu yang mereka tuang. Dari sinilah ide nama SEIDO muncul. Secara pribadi saya juga menyukai segala yang berbau Jepang, simple namun tetap estetik.


Selain berlatih, adakah persiapan khusus yang biasa kamu lakukan sebelum mengikuti suatu kompetisi? Dan bagaimana cara kamu biasanya menemukan ide / inspirasi?


Pertama-tama, saya mempersiapkan gambar-gambar latte art yang hendak dibuat dalam suatu kompetisi, kemudian dari waktu pendaftaran hingga kompetisi berlangsung, saya menggunakan kesempatan di tempat kerja untuk membuat gambar tersebut. Untuk melatih kesiapan mental, saya juga biasanya mengadakan perlombaan internal dengan rekan barista di tempat kerja saya. Meski judulnya ‘friendly battle’, hal tersebut sangat berguna untuk meminimalisir rasa gugup kala ditonton orang banyak pada saat kompetisi. Biasanya dalam babak penyisihan, gambar latte art sudah ditentukan oleh kompetisi, namun di partai final, kami diharuskan membuat gambar orisinil. Untuk mencari inspirasi, saya biasa melihat dari Instagram barista lain. Jika menemukan yang cocok, maka saya akan memodifikasi gambar tersebut sesuai gaya saya sendiri.


Apa definisi ‘a good coffee’ menurut kamu? Dan proses membuat kopi manakah yang paling kamu sukai?


Di era sekarang ini, semua brand bisa dikatakan sebagai ‘good coffee’, meski ada yang dibilang tidak enak, bagi saya itu tetap merupakan ‘good coffee’, karena tiap brand memiliki marketnya sendiri. Namun menurut saya pribadi, ‘good coffee’ adalah kopi yang tetap bisa dinikmati dari pertama disajikan sampai habis, dan kita sebagai peminum bisa enjoy dengan kopi tersebut. ‘Good coffee’ bagi barista belum tentu cocok bagi peminumnya. Sementara dari segi proses, saya paling menikmati manual brew; baik itu V60 atau Rokpresso, karena dari situ kita benar-benar bisa menuangkan jiwa dan ekspresi kita ke dalam secangkir kopi


Pernahkan kamu mendengar tentang fenomena ‘Pendekar Kopi’? Dan pernahkah kamu memiliki pengalaman pribadi dengan hal tersebut?


Pernah! (Tertawa) Jujur, pada awalnya saya juga termasuk kategori ‘pendekar kopi’! Menurut saya, semua yang berkecimpung di dunia kopi pasti pernah jadi seorang ‘pendekar’, karena itu adalah bagian dari proses belajar kita untuk kritis. Jadi sampai mengajak debat barista lain? Ya. Sebetulnya kenapa ada stigma negative terhadap ‘pendekar kopi’, karena hal itu bersinggungan dengan idealisme seseorang; teknik yang kita pelajari berbeda dengan orang lain . Dari situlah muncul pertanyaan-pertanyaan. Tapi selama hasil kopinya enak, why not, kan? Yang terpenting kita bisa belajar dari orang lain untuk memperkaya ilmu kita sendiri.


Menurut kamu, kemampuan apa yang paling penting untuk dimiliki seorang barista? Jelaskan sedikit mengenai jawaban kamu


Sudah pasti communication skill (kemampuan berkomunikasi), karena menurut saya seorang barista bukan hanya menciptakan produk, tapi juga harus bisa menjelaskan kisah dibalik produk tersebut. Sama seperti halnya fine-dining. Orang tertarik untuk pergi bersantap di restoran fine-dining karena bahan baku dan presentasi mereka memiliki cerita masing-masing dibaliknya. Di dunia barista pun demikian. Kita sudah memiliki ceritanya, tapi bagaimana cara kita mengisahkan hal tersebut pada pelanggan yang menikmati kopi racikan kita.


Jelaskan mengenai kopi ‘signature’ (khas) di Bare Bottle. Jenis bean apa yang kalian gunakan secara umum, dan mengapa?


Di Bare Bottle, ada dua macam signature; white (dengan susu) dan black (tanpa susu). Untuk white, kami memiliki menu bernama ‘Cocopresso’ yang memiliki perpaduan santan dan espresso. Sementara yang black bernama ‘Zesty Honey’. Bertolak belakang dengan ‘Cocopresso’, kopi jenis ini memiliki citarasa lebih ringan, sangat cocok untuk dinikmati sembari bersantap. Untuk Zesty Honey, kami menggunakan espresso, limau, jeruk segar serta madu berkualitas. Untuk varian bean, kami menggunakan houseblend kami sendiri yang bernama ‘Bareblend’, terdiri dari tiga macam beans; West Java Frinsa, Kolombia dan Kerinci, untuk mengambil citarasa fruity (buah), chocolate (coklat) dan peanut (kacang) nya.


Apa ambisi karir kamu ke depan?


Untuk jangka pendek, mungkin satu atau dua tahun ke depan, saya ingin mengikuti kompetisi tingkat nasional, dan syukur-syukur bila bisa tembus ke tahap internasional. Kemudian untuk jangka panjang, saya ingin membuka coffee shop saya sendiri

0 0
Feed