Mandif

The Marvelous Instigator

After a successful attempt to introduce his original take of high-end culinary venue in the island of Bali through Teatro Gastroteque Seminyak, Mandif Warokka immediately expanded his wings by establishing his second standalone restaurant, Blanco par Mandif in rural Ubud. Now, aside from running two prestigious eateries, the Biak-born chef / entrepreneur is ready to impart his comprehensive knowledge to young, enthusiast cooks and help them fulfill their potential. Here’s some of his delightful story..


Tell us about your childhood. Could you recall the first-ever dish that you cooked by yourself?


I spent most of my childhood in Manado, North Sulawesi. As we all (Indonesian) know, Manado people loves two things: eat and shopping. I am amongst those who love to eat. Ever since I was a child, my mum always cooks at home, and I’m helping her out in the kitchen. In our family tradition, there has to be a lot of dishes on the table when its dinner time. The first ever dish that I cooked was Bubur Manado, because it is so easy; just mix the entire ingredient together!


In-between your bustling career, you are known to successfully mentor several young talented chef for international championship; any memorable moment that you can share with our readers?


Training the staff from zero until they become champion is something that both unforgettable and priceless. I trained them until they cry sometimes. There were also moments when we have to stay up all night long to get the best result. These kinds of things are really memorable for me.


Tell us one thing that you wish you knew before starting a career as professional chef.


At first, I thought being a chef is something simple; even easier than office work. But then after I plunged into the field, being the chef is complex. We are obliged to use all of our senses and really adept in the art of cooking; not to mention the management aspect.


What’s the main difference between Teatro Gastroteque and Blanco par Mandif? What do you wish to convey through your culinary creations in latter establishment?


The difference is apparent in those restaurants’ concept. Teatro tend to serve French dishes with Japanese touch; meanwhile Blanco par Mandif serves modern Indonesian cuisine.


As local-born people, of course we understand more about Indonesia dishes than those who comes from abroad. Indonesian cooking is so vibrant with unique flavor which comes from many indigenous spices used as the ingredients. I really hope that Indonesian food can be the master in its own country and famous all over the world through modern style. Through Blanco par Mandif, I introduce Indonesian food with modern and unique way.


As a successful professional chef, what is your vision for Indonesia’s F&B scene in general? Have you ever planning to become a full-fledge educator after you done your career in the kitchen?


Indonesia culinary has to move towards a better form, like some other countries such as Thailand, Hong Kong or New Zealand. Nowadays, these countries have become the center of spotlight in international food scene.


As for the plan to teach full-time, I am moving towards there; bot formally, but rather just sharing my knowledge and experience in culinary world through modern media; such as Youtube, or also speak on campuses. I am also preparing a culinary book aimed especially towards young trainee chefs who are still learning.


Share with us a bit about ‘Ruang Tamu’. What inspires you to establish the artisan bar? And what’s your most favorite kind of cocktails? Share at least two


 I made Ruang Tamu with a concept of basic guest rooms on regular house. In Blanco par Mandif, before the guest arrived at the dining venue, they will walk pass the Ruang Tamu bar first. My favorite types of cocktail in Ruang Tamu are White Negroni and Mandif Gin Fizz.


What is the most recent food trend that catches your attention; and which one that you would avoid?


Food trend nowadays are not only selling the product, but the value and reason as well; such as ‘locally produced’ or ‘healthy food’ for example. I tend to avoid trend where foods are made without any message whatsoever.


Last, handy piece of advice for enthusiast young chef out there?


For all young chefs out there, or those who wish to have a career as chef, never stop learning!

====================================================================================================================================


Setelah upaya yang sukses untuk memperkenalkan tempat bersantap kelas atas di pulau Bali lewat Teatro Gastroteque Seminyak, Mandif Warokka langsung melebarkan sayapnya dengan mendirikan restoran keduanya, Blanco par Mandif di daerah Ubud nan asli. Kini, di samping menjalankan dua tempat makan bergengsi, chef sekaligus pengusaha kelahiran Biak tersebut siap untuk membagikan pengetahuan menyeluruhnta kepada para koki muda antusias dan membantu mereka menemukan potensi masing-masing. Berikut beberapa kisah menarik chef Mandif, seperti dituturkan pada PASSION...


Bagikan sedikit kisah tentang masa kecil anda. Apakah anda ingat masakan pertama yang bisa anda buat sendiri?


Saya menghabiskan sebagian besar masa kecil di Manado, Sulawesi Utara. Seperti yang kita semua tahu, orang Manado gemar makan dan shopping. Nah, saya termasuk salah satu yang senang makan. Dari kecil ibu saya selalu memasak di rumah dan saya selalu membantu beliau. Di tradisi kami, harus tersedia banyak lauk pauk di meja yang tersedia pada saat kami makan. Masakan yang pertama kali saya masak waktu kecil adalah bubur Manado, karena sangat mudah; masukan saja semua bahan jadi satu.


Di sela kesibukan karir, anda juga diketahui sukses menjadi mentor sejumlah chef muda bertalenta untuk kejuaraan internasional. Apakah ada momen berkesan yang bisa anda bagikan kepada pembaca kami?


Melatih staf dari nol sampai akhirnya mereka menjadi juara merupakan suatu hal yang tidak terlupakan dan tak ternilai. Pada saat saya melatih dengan tegas, tak jarang mereka sampai menangis, dan ada juga saat di mana kami harus begadang untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Itu semua sesuatu yang sangat berkesan bagi saya.


Beritahu kami satu hal yang anda berharap bisa ketahui sebelum mengawali karir sebagai chef profesional


Pada awalnya saya kira menjadi seorang Chef adalah hal yang mudah bahkan lebih mudah dari pekerjaan kantoran. Ternyata setelah saya terjun langsung ke dalamnya, menjadi seorang Chef sangatlah kompleks. Seorang Chef dituntut untuk bisa menggunakan semua panca indera serta piawai dalam seni memasak; belum lagi dalam hal manajemen.


Apakah perbedaan pokok antara Teatro Gastroteque dengan Blanco par Mandif? Apakah yang hendak anda bagikan lewat kreasi kuliner anda di Blanco par Mandif?


Perbedaannya tentu jelas sangat terlihat pada konsep kedua restoran tersebut. Teatro lebih cenderung menyajikan makanan Perancis dengan sedikit sentuhan Jepang sedangkan Blanco adalah modern Indonesia Cuisine.


Sebagai anak bangsa kita tentu lebih memahami perihal makanan Indonesia dibandingkan dengan mereka yg berasal dari luar negeri. Makanan Indonesia sangat beragam dengan cita rasa yang unik karena kita menggunakan banyak rempah yang berasal dari dalam negeri. Saya berharap makanan Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri dan terkenal sampai ke mancanegara dengan cara yang modern. Melalui Blanco par Mandif, saya memperkenalkan makanan Indonesia dengan cara yang modern dan unik.


Sebagai chef profesional yang sukses, apakah visi anda untuk dunia F&B Indonesia secara umum? Apakah anda pernah berencana menjadi pendidik penuh-waktu selepas berkarir di dapur kelak?


Kuliner Indonesia harus berjalan ke arah yang lebih maju seperti di sejumlah negara lain; Thailand, HK, New Zealand. Mereka kini telah menjadi sorotan di skena makanan internasional.


Untuk rencana mengajar penuh-waktu, saya sedang menuju ke arah sana; bukan sebagai pengajar formal, namun lebih untuk membagikan ilmu dan pengalaman saya di dunia kuliner lewat media yang lebih modern; seperti YouTube misalnya, atau menjadi pembicara di universitas. Saya juga sedang mempersiapkan buku kuliner yang ditujukan khusus untuk calon Chef muda yang masih belajar.


Bagikan sedikit perihal ‘Ruang Tamu’. Apakah yang menginspirasi anda untuk mendirikan bar artisan tersebut, dan apakah jenis cocktail favorit anda di sana? Bagikan setidaknya dua macam


Konsep Ruang Tamu saya buat seperti pada umumnya ruang tamu di rumah; sebelum tamu tiba di restoran (Blanco par Mandif ), mereka akan melewati bar Ruang Tamu tersebut. Jenis cocktail yang saya gemari di Ruang Tamu adalah White Negroni dan Mandif Gin Fizz


Apa trend makanan baru-baru ini yang mencuri perhatian anda? Dan apakah yang anda hindari?


Trend makanan saat ini tidak hanya menjual produk saja, melainkan harus ada value dan juga alasannya; seperti diproduksi lokal (local produce), sehat (healthy food) atau semacamnya. Saya menghindari trend dimana makanan dibuat tanpa ada pesan apapun di dalamnya.


Saran anda untuk chef muda antusias di luar sana?


Untuk para Chef muda diluar sana atau mereka yang bercita cita menjadi seorang Chef; jangan pernah berhenti belajar.



www.mandifwarokka.com

0 0
Feed