The Many Talents of Santhi Serad

So, I heard you have quite a colorful background story in the food industry. Care to tell us a bit about how you started it?


What I wanted most since the beginning was to study food science technology, however it was not well-known back then here. The closest thing that I can get was to enroll as a student of Animal Husbandry at Universitas Diponegoro, concentrating in animal nutritions. That was surprising, right?


It was later when I finally got the chance to study food science technology for my master degree at Curtin University, Australia. My thesis was about tempeh and much to my surprise, they have a complete collection of literatures about it. My lecturer even motivated me to pursue the topic. Now as we can all see, tempeh is the food of future and vegans are really into it!


What happens after you graduated?


Believe it or not, I was working for the confectionery giant Yupi. With over 3,000 employees that time, they’re exporting to as far as Japan and Brazil. I was part of their R&D and QA team. I did researches about flavors and the textures of confectionaries, and even experimenting new creations. I thought to myself after eight years working there, it would be nice to start my own business and taking it easy a bit. Finally I resigned, but not long, I found myself even busier than before! [laughing].


Why don’t you tell us about Bumi Herbal?


So one day, together with my business partner, Ilham Habibie, we had this vision to build a conservatory of herbs and spices from Sabang to Merauke. As we all know, Indonesia’s biodiversity is among the richest, only second after Brazil. Bumi Herbal was then founded on the highlands of Bandung. 


We wanted it to be a place of learning, where younger generations could relate and understand the very essence that makes their country special – its spices and herbs. Of course, food is automatically related to these aspects. Other than that, we also supply our ingredients for restaurants.


How curious! Surely there’s a root for all of these, right?


So when I was little, my mother and my grandma were the ones who introduced me about jamu (Indonesian herbal potions), tea time, and many other things. My father, on the other hand, he’s an accomplished chemist who used to work at Institut Teknologi Bandung. What they do in life was so inspirational and piqued my interest on food.Also, my parents always took the whole family to try out traditional food during our travels. My mom used to take me to wet markets and I was amazed by the whole dynamic there, especially when we visited the butchers. My dad even make his own tempeh. At home, I try to always help them in the kitchen. While I may not be a chef, seems that I have always been a foodie all my life.


Tell us a bit also about your latest venture, Ramurasa.


Ramurasa is a cooking studio for everyone who wants to learn about Indonesian cuisine in particular. Here, I try to be comprehensive with my teaching methods. Firstly, I show the students what to know about the ingredients and present the completed dish. With that in mind, we’re then showing the cooking process from A-Z. In the closing session, we will run a test to ensure that they have understood the whole process. They are to select their own ingredients, measure them, and cook the dish using their own pots and pans.


But it’s not just about cooking, Ramurasa has its own food writing and food illustration classes. In the food writing class for example, we are taking out everyone to visit a wet market and once back here, they are tasked to write about the experience.


By the way, congratulations for your book. What an accomplishment!


Leaf It to Tea was originally intended as a gift for my parents anniversary. Afterhours, the publisher, saw its potential and challenged me to finish it before Frankfurt Book Fair. I accepted the challenge even though I didn’t have any background as a writer at all. I immediately enrolled myself at Balai Pustaka School of Writing and finally I was able to finish the book. Imagine how happy I was when my book got the second place in the tea category of Gourmand Awards 2019!


Lastly, tell us about your other contributions for Indonesian food.


Six years ago, us culinary enthusiasts with William Wongso started ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia). It quickly became a melting pot to explore more about Indonesian food. We have put a lot of interest as well to support SMK’s students (Sekolah Menengah Kejuruan/vocational high school) to pursue their passion in food. For example one time, we brought the students for Indonesian food promotions in Doha, Qatar. It’s good to see them cooking firsthand at a full-fledged kitchen there.


Recently, as part of the government’s program, I was asked to tutor SMK teachers from all over the country next year. During which, I will be traveling to identify their needs first and create an appropriate curriculum. This is a huge undertaking, but I’m very excited to do this. It brings me such joy to introduce and teach about Indonesian food to everyone that I meet.



====================================================================================================================================


Tidak mudah untuk mendefinisikan peranan yang dimainkan seorang Santhi Serad dalam kontribusi besarnya untuk masakan Indonesia. Karena bakatnya yang begitu beragam, Passion memutuskan untuk mewawancarainya. Berikut adalah ceritanya!


Saya dengar Anda memiliki latar belakang yang begitu berwarna di dunia kuliner. Bagaimanakah asal mulanya?


Awalnya saya sangat ingin belajar mengenai teknologi pangan, namun saat itu jurusan ini belum populer di Indonesia. Akhirnya saya memutuskan saja untuk mengambil jurusan peternakan di Universitas Diponegoro, Semarang. Pilihan konsentrasinya adalah nutrisi pakan ternak. Mengejutkan, bukan?


Namun di kemudian hari, saya berkesempatan untuk kuliah S2 teknologi pangan di Curtin University, Australia. Tesis saya membahas mengenai tempe dan rupanya literatur mereka lengkap mengenai ini. Dosen saya bahkan meminta untuk terus melanjutkan topik ini hingga tuntas. Ternyata tempe kini menjadi makanan masa depan dan para penganut vegan begitu menyukainya!


Apa yang terjadi setelah Anda lulus?


Percaya atau tidak, saya bekerja untuk Yupi, pabrikan permen dengan 3000 karyawan yang mengekspor produknya hingga ke Jepang dan Brazil. Saya bekerja di bagian R&D dan QA. Riset sehari-hari saya adalah mengenai tekstur, rasa, dan bahkan saya membuat begitu banyak permen. Namun setelah delapan tahun, ingin rasanya saya berdiri sendiri dan sedikit beristirahat. Setelah mengundurkan diri, yang ada malah semakin banyak tuntutan. [tertawa]


Bisa ceritakan sedikit mengenai Bumi Herbal?


Satu waktu, saya bersama rekan Ilham Habibie, punya visi untuk membangun konservasi herbal dan rempah dari Sabang hingga Merauke. Seperti yang kita ketahui, Indonesia miliki biodiversitas terkaya kedua setelah Brazil. Maka dari itu, Bumi Herbal kami dirikan di Bandung.


Kami ingin agar Bumi Herbal menjadi sebuah tempat belajar untuk generasi muda agar memahami rempah dan herbal yang menjadikan negeri ini istimewa. Tentunya ada benang merah juga dengan bidang kuliner. Bahkan kami juga menyuplai bahan-bahan untuk bisnis restoran.


Sungguh menarik! Tentunya ada asal mula dari semuanya, bukan?


Ketika saya masih kecil, mama dan nenek saya mengenalkan soal jamu, teh, dan banyak hal lainnya. Sementara papa adalah seorang pakar kimia dan bekerja untuk ITB. Apa yang mereka lakukan sehari-harinya begitu inspirasional dan menjadikan saya mencintai dunia kuliner.


Orang tua saya juga selalu mengajak sekeluarga untuk menikmati masakan tradisional ketika bepergian. Mama khususnya sering mengajak saya ke pasar dan bagian favorit saya adalah los daging. Papa bahkan suka membuat tempe sendiri dan saya sering membantu mereka di dapur. Saya mungkin bukan seorang chef, tapi sepertinya saya sudah menjadi seorang foodie seumur hidup.


Sekarang, bagaimana cerita dari Ramurasa?


Ramurasa adalah sebuah studio masak untuk siapa saja yang ingin mendalami masakan Indonesia khususnya. Di sini saya mencoba untuk membuat kurikulum mengajar yang komprehensif. Misalnya pertama-tama saya menunjukkan dahulu berbagai rempah dan masakan jadinya. Kemudian peserta akan mencontoh cara memasak yang kami lakukan. Di sesi terakhir, kami mengadakan ujian agar peserta benar-benar memahami apa yang telah mereka pelajari. Dimulai dari memilih sendiri bahan-bahannya, menimbangnya, hingga memasak menggunakan panci mereka sendiri.


Namun tidak melulu soal memasak saja. Ramurasa juga mengadakan kelas menulis dan ilustrasi. Misalnya di kelas menulis, kita mengajak peserta untuk mengunjungi pasar dan mereka kemudian diminta untuk menulis pengalamannya di sana.


Selamat atas penghargaan untuk bukunya. Sungguh pencapaian yang hebat!


Leaf It to Tea awalnya dimaksudkan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan orang tua saya. Penerbit Afterhours melihat potensi dari buku saya dan meminta untuk diselesaikan sebelum Frankfurt Book Fair. Saya menerima tantangannya meskipun tidak punya latar belakang sebagai penulis sama sekali. Langsung saja saya menyempatkan belajar menulis di Balai Pustaka School of Writing dan akhirnya berhasil menyelesaikan buku itu. Bayangkan betapa bahagianya saya ketika mendengar bahwa buku saya mendapat peringkat kedua untuk kategori teh di Gourmand Awards 2019!


Terakhir, bisakah menceritakan kontribusi lainnya dari Anda untuk masakan Indonesia?


Enam tahun yang lalu, kami dan Oom William Wongso mendirikan ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia) dan menjadi wadah bagi yang ingin bereksplorasi lebih jauh mengenai kuliner Indonesia. Kami khususnya menaruh perhatian pada anak-anak SMK tata boga. Satu waktu kami pernah mengajak mereka ke Doha, Qatar untuk promosi masakan Indonesia. Di sana mereka berkesempatan untuk memasak di sebuah dapur profesional yang besar untuk pertama kalinya.


Kemudian baru-baru ini, saya diminta untuk mengajar guru-guru SMK dari seluruh Indonesia tahun depan. Saya akan berkeliling terlebih dahulu untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka yang tentunya berbeda-beda. Setelah itu saya akan merancang sebuah kurikulum yang sesuai. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang besar dan saya sangat bersemangat karenanya. Ada kebahagiaan tersendiri saat berbagi dan mengajar mengenai masakan Indonesia kepada siapapun yang saya temui.



0 0
Feed