The Fruit, The Pride, The Harvest

Since his arrival in Indonesia circa 2009, Pablo Gonzales has been working to establish Plaga; one of the most recognizable wine brands in the country back in 2011. Now, the Argentinaborn lad, along with his Spanish Catalan assistant in-charge, Jordi Sanvicens Moreno tirelessly put their best effort in making quality wine products for their consumers around the island and beyond. We get the chance to meet them both and discuss the wine-related matters while enjoying a bottle of their brandnew, delightfully refreshing Frizzante.


What is your winemaking style? 


It’s a very interesting question, because Jordi comes from Spain and Pablo comes from Argentina, each of us brings our own distinctive style. But we combine our concept together; from Europe and  South America to make international style-not something specific from some area, especially not copying style. For example our Frizzante, which originally comes from Italy, but we are not doing traditional Italian Frizzante. We’re doing the Frizzante that people would love in Bali and in Indonesia. Our style is international, because when we are choosing our grapes; from Italia, Spain, or Argentina for example, we also controlling all the process in there. We are talking with the winemakers in various countries and we learn some cultural exchanges to make our product.


In the world of wine, who do you admire the most, and why? 


It’s like when you say ‘who is your favorite singer’; it’s hard, because you can’t only take one particular name. As in music,  there are different aspect in wine, there are talented winemakers who make amazing creations from nowhere, and there are also winemakers who inspire you because they are hard workers in winery that are not much popular where you can learn important concept in wine making. There are lots of people that can inspire you in this field. There is no superstar in the world of wine.


What kind of grape you prefer to use for wine-making?  Is it hard to make a good wine from locally grown Indonesian/ Balinese grape?


Commercially, for red wine, we would say Merlot. Many people said it’s just a poor brother of Cabernet variant, but for the common people, who don’t really get into the complexity of taste, Merlot is a perfect grape to make a fine red wine. You don’t need to understand deeply about wine to enjoy it, but in the same time, Merlot will never going to disappoint you. For white wine, Sauvignon Blanc is so interesting. It is a variety that gives many different expressions around the world. We think people will enjoy more of a Sauvignon Blanc; something fresh, easy to drink, not pretentious, and don’t need anyone to be a wine expert to enjoy it.


The second part of the question is easy to answer: very difficult. We really don’t produce with local grapes. It’s possible, but we’re not too satisfied with the result. It is our decision to make our wine with imported grape. But we do really appreciate the wine making in other companies in Indonesia that use locally grown ingredients.


What goals in winemaking that you’re still working to achieve? 


First of all, you always want to make a better wine. So we continuously improving our products. Second, we always like to have more products, but we need to do something that we’re going to like and the market going to approve. We’d like to target very well our drinkers / consumers so we can give the best taste for them. One of our biggest goals also understands who is drinking our wine and how we can satisfy them better, especially to identify which variety of grape from specific region in a specific country that works well for the wine consumer in Indonesia. The wine we make is not for us, but for others to enjoy.


Is there any connection between the rise of U$ dollar rate to wine-making and selling in general? What is the implication?


We’re wine makers; not economist (laugh) so we don’t think there is any correlation between the rise in U$ dollar and our wine-making process. Simply put, the macro-economic situation in the world, related to currency value doesn’t affect us directly. But for example, two years ago, when the global economic problem didn’t occur like nowadays yet, the weather in some area of the world is very bad for harvest. So the price of the ingredients increased significantly. Most quality of wine comes from the grapes, and most of the price of our wine also comes from the grapes, so when we are buying the grape in higher rate than usual that will affect our production cost.


What do you find to be the hardest part of harvest? 


We are controlling the harvest in their origin countries. So for example, we just arrived a week ago from Italy, and we’re working with wineries there, so of course the hardest part of this process is to identify what’s the best region, grape, best moment for harvest. While we were there we were taking samples, we analyze. Since we’re working with third parties, the challenge is to coordinate a lot of things properly, so to make them understand what we want and trying to find the right aspects to get our ingredients.


What is one of the most rewarding things about your job? 


When you go around and people are drinking your wine, enjoying your wine, and they said ‘ah, you’re in Plaga? It’s very good wine, thanks for that, we’re really enjoyed it!’ This is the most rewarding things. Because all the time we’re doing international wines, thinking about international market, but we’re just started with Frizzante, and now all the locals who didn’t like the international style, who like something more sweet and more low alcohol, they come and said ‘now I love wine, because Frizzante is what I like to drink’. People like wine because they enjoy it, and when they do, it’s what makes us really happy.


===================================================================================================================


Sejak kedatangannya di Indonesia tahun 2009 silam, Pablo Gonzales telah bekerja keras untuk mendirikan Plaga; salah satu brand wine paling ternama di senatero negara saat ini pada tahun 2011. Kini, pria kelahiran Argentina tersebut, bersama asistennya asal Catalan, jordi Moreno Sanvicens, tanpa kenal lelah memberikan upaya terbaik mereka dalam menciptakan wine berkualitas pada konsumen mereka di Bali dan wilayah-wilayah lainnya. Kami mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dengan mereka berdua dan membahas perihal wine sembari menikmati sebotol produk baru mereka yang luar biasa segar, Frizzante.


Apakah gaya pembuatan wine yang anda usung? 


Ini adalah pertanyaan yang sangat menarik, karena Jordi berasal dari Spanyol dan Pablo dari Argentina, kami berdua membawa gaya pembuatan wine yang berbeda. Namun di Plaga kami menggabungkan konsep bersamasama; dari Eropa dan Amerika Selatan, untuk membuat sebuah gaya internasionalnamun bukan sesuatu yang sangat spesifik dari suatu daerah, dan terutama tentunya bukan menjiplak gaya. Contohnya Frizzante kami, yang berasal dari Italia, namun kami tidak membuat Frizante tradisional Italia. Gaya kami adalah internasional, karena saat kami memilih anggur sebagai bahan baku kami; dari Spanyol, Italia, atau Argentina contohnya, kami juga mengontrol proses yang ada di (kilang anggur) negara tersebut. Kami berbincang dengan pembuat wine di berbagai negara dan mempelajari pertukaran budara untuk membuat produk kami.


Di dunia wine, siapa yang paling anda kagumi, dan apa alasannya? 


Ini seperti saat anda bertanya ‘siapa penyanyi favorit anda?; ini sulit karena anda tidak bisa hanya mengambil satu nama tertentu. Seperti halnya di musik, ada aspek yang berbedabeda dalam wine, ada pembuat wine yang membuat kreasi luar biasa , dan ada pula pembuat wine yang menginspirasi anda karena mereka adalah pekerja keras di kilang anggur yang tidak terlalu populer, dimana anda bisa mempelajari konsep penting dalam pembuatan anggur. Ada banyak sekali orang yang bisa menginspirasi anda di bidang ini. Tidak ada superstar di dunia wine.


Apa jenis anggur yang anda pilih untuk membuat wine? Apakah sulit untuk membuat wine dari bahan baku anggur lokal Bali / Indonesia?


Secara komersil, untuk wine merah, kami suka jenis anggur Merlot. Banyak orang yang mengatakan bahwa itu hanyalah saudara ‘miskin’ dari varian Cabernet, namun untuk orang-orang biasa yang tidak terlalu fokus pada kompleksitas rasa, Merlot adalah anggur yang sempurna untuk membuat wine merah. Anda tidak perlu memahami secara mendalam tentang wine untuk menikmatinya, tapi di saat yang sama, Merlot tidak akan pernah mengecewakan anda. Untuk wine putih, Sauvignon Blanc sangatlah menarik; ini adalah varian yang memberikan beragam ekspresi di seluruh ber=lahan dunia. Kami pikir orang-orang akan lebih menikmati Sauvignon Blanc; sesuatu yang segar, mudah diminum, tidak pretensius dan seseorang tidak perlu menjadi ahli wine untuk menikmatinya.


Bagian kedua dari pertanyaan anda mudah untuk dijawab: sangat sulit. Kami tidak memproduksi wine dengan bahan baku lokal. Hal itu mungkin dilakukan, tapi kami pribadi tidak terlalu puas dengan hasilnya. Ini merupakan keputusan kami  untuk membuat wine dengan anggur impor, tapi kami betul-betul menghargai pembuatan wine di perusahaan Indonesia lain yang menggunakan bahan baku lokal.


Apa tujuan dalam pembuatan wine yang masih ingin anda capai?


Pertama-tama, anda selalu ingin membuat wine yang lebih baik. Jadi kami terus mengembangkan produk kami. Kedua, kami senantiasa ingin memiliki lebih banyak produk, tapi kami perlu melakukan sesuatu yang kami juga suka, tapi bisa diterima oleh pasar. Kami ingin membidik para konsumen kami dengan baik sehingga kami bisa memberikan rasa terbaik bagi mereka. Salah satu tujuan terbesar kami juga adalah mengetahui siapa yang menikmati wine kami dan bagaimana kami bisa memuaskan mereka lebih baik lagi, terutama dalam hal mengidentifikasi varian anggur mana dari satu daerah tertentu di satu negara yang bisa diterima oleh penikmat wine di Indonesia. Pada akhirnya, wine yang kami buat bukanlah untuk kami, tapi bagi orang lain agar bisa menikmatinya.


Apakah ada hubungan antara kenaikan mata uang dolar AS dengan pembuatan dan penjualan wine secara umum? Apakah dampak utamanya?


Kami adalah pembuat wine, bukan ahli ekonomi (tertawa), tapi kami pikir tidak ada korelasi antara kenaikan dolar AS dengan proses pembuatan wine kami. Sederhanyanya begini; situasi makro-ekonomi dunia yang terkait dengan nilai mata uang tidak mempengaruhi kami secara langsung, namun sebagai contoh, dua tahun yang lalu, saat keadaan ekonomi global belum seperti saat ini, cuaca di beberapa daerah di dunia sangat buruk untuk melakukan panen, jadi harga terhadap bahan baku meningkat secara signifikan. Sebagian besar kualitas wine datang dari anggur, begitu pula sebagian besar harga wine kami juga datang dari anggur, jadi saat kami membeli anggur dengan harga lebih mahal, itu akan mempengaruhi ongkos produksi kami.


Menurut anda, apa bagian tersulit dari sebuah panen? 


Kami mengendalikan panen (anggur) di daerah asal mereka. Jadi sebagai contoh, kami baru saja tiba minggu lalu dari Italia setelah kami bekerja sama dengan kilang anggur di sana, jadi tentunya hal tersulit dari proses tersebut adalah mengidentifikasi daerah mana yang terbaik, jenis anggur, waktu terbaik untuk melakukan panen. Saat kami berada di sana, kami mengambil sampel, menganalisa. Karena kami bekerja sama dengan pihak ketiga, tantangannya adalah mengkoordinasikan banyak hal dengan baik, untuk membuat mereka memahami apa yang kami inginkan dan mencoba menemukan aspek terbaik untuk mendapat bahan baku kami.


Apa hal yang paling memuaskan dari pekerjaan anda? 


Saat anda berkeliling dan melihat orangorang meminum wine anda, menikmati wine anda dan mereka bilang ‘ahh, anda dari Plaga? Ini adalah wine yang sangat baik, terima kasih untuk itu, kami benar-benar menikmatinya!’. Ini adalah hal yang paling memuaskan. Karena selama ini kami membuat wine bergaya internasional, memikirkan tentang pasar internasional, tapi saat kami mulai membuat Frizzante dan orang lokal yang tidak suka gaya internasional, yang lebih suka sesuatu yang manis dengan kadar alkohol rendah, mereka datang dan berkata ‘kini saya suka anggur, karena suka minum Frizzante’. Orang menyukai anggur karena mereka menikmatinya, dan saat mereka demikian, itu membuat kami merasa sangat bahagia.


PLAGA WINE

Jl. Sunset Road No.166, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361 

Phone: +62 361 756 781, www.plagawine.com

0 0
Feed