The Explorer of Textures

Charins Chang’s passion for science and baking brought her to Indonesia after many years living abroad. In no time, she has captured the hearts of many through her well-crafted cakes and desserts. What are her hopes and struggles living the dream in Jakarta? Here, Charins shared the story for everyone. 


What got you into baking in the first place?


I started baking since high school and that’s because Betty Crocker’s brownie mix. I was amazed even with the process of just mixing the powder with water and then it becomes a cake. But the reason why I love baking is because it is so closely related with science and all about the chemical reactions! You don’t really see it with your eyes but it’s happening.


Did you study at a cooking school after that?

Interestingly, I went to Australia not to learn more about baking, but I was studying Biotechnology for five years there. After graduation, I moved back to Singapore and started working in the petroleum bioengineering industry. However, I never lose my love for baking. I did it almost every night and shared the cakes with my friends, to the point that my family became so sick of my baking! (she laughs)

That’s why I started my cake business online on charins.com and then after a year, I finally decided to study more properly about pastry. I did a bit of school in France and an internship with a champion pastry chef there. I was immersing myself with the language and the countryside, steering away from Paris. After that, it’s time to move to Jakarta.

What made you move to Jakarta instead of Singapore?


My parents have always been very supportive with my plans and when I told them that I want to move back here, everyone came along! We all still visit Singapore from time to time though.

Why Jakarta? I think it’s because the people are more chilled and fun here. There’s also something charming about the city, despite of course – the traffic. I saw also a high demand for quality desserts and pastries in Jakarta, but you could only find a handful of good pastry shops here a few years ago when I came. That’s the opportunity that I had been looking for.


What happens next?

Originally, the reason why I moved back was to open my own dessert shop here. After a few years though, it’s easier said than done. I don’t want to just jump in recklessly and struggling unnecessarily just because I needed more experience in the industry. So, I decided to just take my time exploring the city and looking for opportunities. I keep my Instagram active and the online cake shop helps me get by.

From there, turns out that I received a lot of opportunities for consulting, creating menu, and for supplying. There’s even this café from Myanmar which was asking to collaborate. Benedict and Heavenly Sweet found me also on Instagram.


Care to share us a bit about your dessert creations?


When I first joined Benedict, I revamped the whole dessert menu. That time, there was this hype for the Thai mango desserts, and I decided to jump in by creating my own interpretations. Surprisingly, the Mango Sticky Rice Tart was a huge success and people started posting about it.

I also created a sister dessert for it called Tart Ketan Item – with coconut and black sticky rice. It’s basically a twist of our traditional dessert of bubur ketan hitam. There’s also Marie Regal Cake because yes, everyone loves Marie Regal!

I also started making bite-sized desserts like bonbons since people are not always wanting to eat a whole cake. In each bonbon, I created a whole dessert that can consists of elements found in cakes, crunch, cookies, and ganache. I put also many things like potato chips, wajik, nastaar, and talam. For my creations, I just love doing my own formulations instead of copying recipes.


Why bonbons by the way?

I’m more interested in chocolate because it’s very science-y and no one’s making bonbons seriously yet as far as I know. I suppose it’s because the high level of difficulty to mass produce it. Bonbons must be made carefully because it won’t be good otherwise. You need to temper chocolate to a certain degree, or the fat crystals won’t crystallize properly so it won’t get the good snap. It’ll be pasty, thick, and won’t have good texture.

But I think the challenge is that most people may find it hard to understand why it costs the same as buying a whole chocolate bar instead. That’s why I’m trying to find the middle ground here to still maintain the quality but also creating time efficiency.

Lastly, what are you plans next?

Opening my own shop, that’s for sure! But for now, I enjoy teaching at Heavenly Sweet every month. I have own classes and I also create my own syllabus based on science! We do one-on-one series about sponge cake, butter cake, pound cake, or only egg whites. We explore why each recipe is made different, why adding this and that yield different results, or how to decrease the sugar content without compromising texture. It’s not about the usual recipe sharing class and for you to bake at home. It’s about how to make the student think more about the process and how to remake recipe in their own version.

Other than that, I am also sharing my expertise about baking with less fortunate kids. We are creating these baking classes for them and showing that everyone can bake. We want to let them know that they have options in this industry for their future.



==============================================================================================================================================================================


Kecintaan seorang Charins Chang pada sains dan baking membawanya ke Indonesia setelah sekian tahun tinggal di mancanegara. Hanya dalam sekejap, banyak hati yang luluh dengan berbagai kreasi makanan penutupnya yang cemerlang. Namun apakah cita-cita danperjuangan Charins setelah sekarang tinggal di Jakarta? Berikut adalah ceritanya.


Bagaimana awalnya kamu tertarik dengan dunia baking?

Saya memulainya sejak SMA dan itu dikarenakan produk brownies dari Betty Crocker. Saya begitu tertarik ketika melihat bubuk kue yang dicampur dengan air saja dapat berubah menjadi brownies yang enak! Tapi alasan utama saya menyukai baking adalah karena prosesnya begitu berkaitan dengan unsur sains dan segala reaksi kimianya. Mungkin mata kita tidak melihatnya, namun itulah yang sebenarnya terjadi.


Apakah kamu mengambil kuliah jurusan memasak sesudah tamat SMA?

Menariknya, saya berangkat ke Australia untuk kuliah bioteknologi selama 5 tahun. Setelah lulus, saya kembali ke Singapura untuk bekerja di bidang bioteknologi perminyakan. Meskipun begitu, saya tidak pernah lepas dari dunia baking.
Saya membuat kue setiap hari dan berbagi dengan teman-teman, sampai-sampai keluarga saya bosan melihatnya!

Akhirnya saya memutuskan untuk memulai bisnis kue online melalui charins.com dan setelah setahun bekerja, saya berangkat ke Prancis untuk serius belajar pastry. Selain bersekolah di sana, saya juga bergabung sebagai intern untuk seorang jawara pastry di sana. Saya juga mempelajari Bahasa Prancis dan menikmati kehidupan di luar kota Paris. Setelahnya, saya pun kembali ke Jakarta.


Apa yang membuatmu kembali ke Jakarta ketimbang Singapura?

Orang tua saya selalu mendukung dengan segala rencana saya, jadi ketika saya bilang ingin kembali ke Indonesia maka mereka semua ikut ke sini! Tapi saya dan keluarga masih sesekali berkunjung ke Singapura.

Mengapa Jakarta? Soalnya orang-orang di sini lebih seru. Ada sesuatu yang menarik juga soal Jakarta meskipun kita semua tahu kalau kota ini terkenal karena macetnya. Saya juga melihat adanya permintaan tinggi terhadap dessert berkualitas, tapi baru ada beberapa toko dessert modern saja yang sudah buka ketika saya tiba di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Inilah kesempatan yang sebetulnya saya bidik.


Bagaimana ceritanya sejauh ini di Jakarta?

Awalnya keinginan saya adalah kembali ke Jakarta adalah untuk membuka toko dessert sendiri. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan! Saya khawatir akan menjadi beban besar bila sembarangan melakukannya tanpa pengalaman yang cukup. Itulah sebabnya saya memilih untuk mencari kesempatan-kesempatan lainnya sembari menjaga Instagram tetap aktif dan bisnis online saya tetap berjalan.

Ternyata dari situ saya menerima banyak tawaran untuk menjadi konsultan, membuat menu, hingga menjadi supplier. Bahkan ada satu café dari Myanmar yang ingin berkolaborasi dengan saya. Uniknya, Benedict dan Heavenly Sweet menemukan saya dari Instagram.


Boleh berbagi cerita tentang dessert apa saja yang sudah kamu buat?


Ketika pertama bergabung dengan Benedict, saya langsung merubah isi menu makanan penutupnya. Itu bertepatan dengan masa-masa ketika minuman olahan mangga khas Thailand sedang tenar-tenarnya dan saya memutuskan ingin mencoba membuat sesuatu dari inspirasi ini. Hasilnya Mango Sticky Rice Tart saya sukses besar dan orang-orang mulai membagikannya di media sosial.

Selanjutnya saya juga membuat Tart Ketan Item yang merupakan twist dari dessert tradisional kita yaitu bubur ketan hitam. Selain itu ada juga Marie Regal Cake karena pada dasarnya semua orang menyukai biskuit Marie Regal, bukan?

Selain itu, saya juga membuat dessert berukuran kecil seperti bonbons karena semua orang tidak selalul ingin makan kue terlalu banyak. Dalam setiap bonbon, saya rancang mirip seperti dessert yang utuh sehingga memiliki banyak tekstur. Selain itu saya masukkan juga keripik kentang, wajik, nastar, hingga talam. Umumnya apa-apa yang saya buat berdasarkan formulasi saya sendiri ketimbang mengambil dariresep lama.


Mengapa bonbon?

Saya sangat tertarik pada cokelat karena sisi sains-nya dan saat ini belum banyak yang membuat bonbon secara serius. Mungkin ini dikarenakan tingkat kesulitannya dalam memproduksinya secara massal. Bonbon harus dibuat dengan teliti agar hasilnya baik. Misalnya kita perlu mengolah cokelat hingga temperatur yang tepat agar kristalisasi lemak berlangsung sempurna. Kalau tidak, maka cokelat tidak akan memiliki tekstur yang baik.

Namun tantangan lainnya juga adalah meyakinkan konsumen untuk membeli bonbon berukuran sekali makan yang harganya bisa mencapai sebatang cokelat pada umumnya. Inilah mengapa saya harus menemukan titik tengah tanpa mengurangi kualitas namun juga meningkatkan efisiensinya.


Terakhir, apa rencana kamu setelah ini?


Tentunya membuka toko saya sendiri! Tapi sementara ini saya masih menikmati mengajar di Heavenly Sweet setiap bulannya. Saya membuat silabus khusus yang didasarkan pada sains. Ada seri mengajar privat mengenai berbagai macam kue dan bahkan khusus soal putih telur saja. Kita menjelajahi alasan kenapa resep dibuat berbeda-beda, mengapa menambahkan ini dan itu bisa merubah hasilnya, ataupun cara agar mempertahankan tekstur meskipun jumlah gula dikurangi. Kelas ini bukan sekadar berbagi resep untuk nanti dicoba di rumah, tapi agar kita dilatih berpikir soal prosesnya dan bagaimana agar bisa membuat resep versi pribadi kita.

Selain itu, saya juga berbagi keahlian saya dengan anak-anak yang kurang beruntung. Kami membuat kelas-kelas masak yang bisa mereka ikuti dan menunjukkan bahwa mereka juga punya masa depan di dunia
kuliner.



CHARINS
Email: contact@charins.com, www.charins.com

0 0
Feed