The Evolution

On our previous coffee issue, Toni Wahid, author of, once praised Koultoura’s approach in expanding its business. If a coffee shop brands are having success, most of the times they can’t wait to open new outlets using the copy paste approach for the whole concept to the new place. Koultoura did the opposite, they don’t rush things. They even adjust their concept (also the name) to their new place in Central Jakarta.

One of the most noticeable things is the presence of coffee roaster in front of KLTR’s outlet. “Since Koultoura’s inception in 2013, we knew one day we will have our own roastery, we just don’t know exactly when. In 2017, when we had the opportunity and a new place, we’d go for it immediately,” said Joe Sentoso, one of KLTR’s owners.

Koultoura VS KLTR

Joe understands location determines the customers’ characteristics, therefore, he made some conceptual adjustments. From Koultoura’s bright, colorful concept with some cartoon characters, into KLTR which features the very masculine Brooklyn, New York 1920’s style. “To complement our coffee shop that operates from morning to afternoon, we also have a bar that serves cocktail, whisky and draft beer in the night. There are other market segments we’d like to cover here because the opportunity is great, we just need consistency and time to educate the market,” Joe added.

“Koultoura already has strong image for family, neighborhood, and student segments. Our philosophy is to adapt with the surrounding. When we had a new place, we noticed that the people around here are young executives, expatriates that are surrounded by office buildings, we wanted something new,” he explained.

So, why the name change, isn’t consistency crucial for a brand? “It’s fun, it’s always exciting for an establishment to have something new. People identify name with things or expectations, with different name, we want people to have different expectations. We removed the vowels in Koultoura and it left us with KLTR.”

The next significant change is in the coffee and food. Since its inception, Koultoura was specifically designed to give consistent coffee flavor, every week, every month. “In KLTR, we offer various choices, it’s more adventurous. We switch the coffee bean every 2 weeks, and it’s always single origin as we have so many choices of bean from our roastery,” explained Joe. KLTR offered 2-3 bean choices for espresso-based coffee and 4-5 single origins for filter coffee, both of them are rotated periodically.

If Koultoura offers comfort foods such as pasta and rice bowl, KLTR gives the more fusion and classic menus, such as Cheese Burger and Tiramisu.They claim their tiramisu is the best homemade tiramisu in Jakarta, and apart from whether you agree or not, we’re hard pressed to find better tiramisu anywhere else. KLTR also offers some healthy menus like the refreshing Shirataki Beef Salad (lettuce, carrot, zucchini, shirataki, sliced beef, sweet tangy sauce).

Long Term Business

In the beginning, we assume KLTR focused on serving imported beans because of their wide array of imported bean like from Tanzania to Ethiopia, but apparently, KLTR put special attention to source the local bean directly from the farmers.

“Our imported bean act as complement to what we have. Another reason is that sourcing imported bean is relatively easier and more consistent with some help of coffee traders. For local bean, we prefer to source directly to farmers. We go to their farms, live there for 2-3 days, if we had an agreement, we’d propose a contract. Of course, it will be more difficult, but we want long-term relationship,” Joe explained.

So far, KLTR managed to do long term business with some prominent coffee farms in Indonesia, from the farm in Takengon, Aceh to the farm in Simalungun, North Sumatera, to the Java Frinsa Estate in Weninggalih, West Java. “We understand that the business is a long-term project, even though our culture is all about short-term. We’d like to say that this business is not sprint, it’s marathon,” he added.

In the future, Joe said that KLTR’s business expansion will focus on green bean sourcing directly to the farmer instead of opening new outlets. “If the past 2 years we have invested in 3 farms in West Indonesia, for this year and the next one, we will go to East Indonesia to regions such as Papua, Toraja, and Flores,’ he said.

In the middle of the rising number of new coffee shops with unique concepts, Joe has a rather simple principle to retain his customers, “under promise, over deliver! We didn’t exaggerate things, such as Instagrammable place or delicious food.  We want to invite people with low expectations, and let us show you the whole package experience that exceeds their expectations. We’re sure people will return. We prefer to grow slowly while steadily educating the market instead of going crazy in the beginning but running out of steam in the next 3-6 months,” Joe said.

KLTR shows that coffee shop is a flexible business that has to adapt to its surroundings. They won’t hesitate to change their concept and name to give different expectation to the customers. So, a coffee shop slash roastery in the morning and then
whisky and cocktail bar at night, why not?


Pada edisi kopi kami yang lalu, Toni Wahid, penulis pernah memuji soal pendekatan Koultoura dalam hal berekspansi. Jika sebuah brand coffee shop baru meraih sukses, biasanya mereka tidak sabar untuk segera membuka cabang baru dengan pendekatan copy paste keseluruhan konsep ke tempat baru. Koultoura melakukan hal sebaliknya, mereka tidak terburu-buru untuk membuka cabang baru. Bahkan, mereka menyesuaikan konsep (sekaligus nama) mereka dengan tempat baru di Jakarta Pusat.

Salah satu hal yang paling terlihat adalah adanya mesin roaster di bagian depan outlet KLTR. “Sejak awal buka Koultoura di 2013, kami sudah tahu bahwa kami  juga akan memiliki roastery sendiri, hanya saja kami tidak tahu kapan. Pada 2017, ketika kami mendapatkan kesempatan dan tempat baru, kami langsung menjalaninya,” kata Joe Sentoso, salah satu pemilik KLTR.

Koultoura VS KLTR

Joe memahami bahwa lokasi sangat menentukan karakteristik pelanggan, oleh sebab itu ia membuat banyak perubahan konsep. Dari konsep Koultoura yang terang dengan warna warni karakter kartun, menjadi KLTR dengan konsep Brooklyn, New York tahun 1920an yang sangat maskulin. “Untuk melengkapi konsep coffee shop kami pada pagi hingga sore, kami juga menghadirkan bar yang menyediakan cocktail, whisky dan draft beer. Ada market lain yang ingin kami jangkau (di sini) karena kesempatannya memang masih banyak, kami hanya butuh konsistensi dan waktu untuk mengedukasi pasar,” tambah Joe.

“Koultoura sudah memiliki brand image yang cukup kuat untuk kalangan keluarga, neighborhood, pelajar. Filosofi kami adalah mau beradaptasi dengan lingkungan. Ketika mendapat tempat baru, kami melihat pelanggan di sini adalah dari kalangan eksekutif muda, ekspatriat yang dikelilingi oleh gedung perkantoran, kami ingin sesuatu yang baru,” jelas Joe.

Lalu mengapa melakukan perubahan nama, bukankah konsistensi menjadi bagian penting dari sebuah brand? “It’s fun, seru saja untuk sebuah establishment untuk memiliki sesuatu yang baru. Biasanya orang mengidentifikasi nama dengan benda atau ekspektasi, dengan nama yang berbeda, kami berharap orang juga memiliki ekspektasi yang berbeda. Yang kami lakukan adalah membuang semua huruf vokal di Koultoura menjadi KLTR.”

Perbedaan signifikan berikutnya adalah soal kopi dan makanan. Koultoura sejak awal didesain untuk memberikan rasa kopi yang konsisten, yang sama setiap minggu, setiap bulan. “Di KLTR, kami memberikan pilihan yang berbeda, lebih adventurous. Kami mengganti pilihan biji kopi setiap 2 minggu sekali, dan selalu single origin karena kita memiliki banyak pilihan biji kopi dari roastery,” jelas Joe. KLTR menyediakan 2-3 pilihan biji kopi untuk kopi espresso-based, sementara untuk kopi filter pilihannya lebih banyak, sekitar 4-5 single origin, keduanya akan dirotasi setiap periode.

Jika Koultoura menyajikan comfort food seperti menu pasta dan nasi, KLTR menawarkan konsep fusion yang mengarah ke klasik melalui menu-menu seperti Cheese Burger dan Tiramisu. Mereka mengklaim tiramisu mereka sebagai tiramisu homemade terbaik di Jakarta, terlepas dari soal setuju atau tidak, kami kesulitan untuk menemukan tiramisu yang lebih baik di tempat lain. KLTR juga menyediakan menu sehat seperti Shirataki Beef Salad (selada, wortel, zucchini, shirataki, sliced beef, sweet tangy sauce) yang menyegarkan.

Bisnis Jangka Panjang

Pada awalnya, kami mengira KLTR berfokus untuk menyediakan biji kopi dari luar negeri karena banyaknya pilihan single origin dari Tanzania hingga Etiopia, namun ternyata KLTR memiliki perhatian khusus untuk melakukan sourcing kopi lokal secara langsung dari petani.

“Biji kopi dari luar kami pakai untuk melengkapi apa yang kami miliki. Alasan lain adalah karena sourcing biji dari luar cenderung lebih mudah dan konsisten karena kehadiran trader kopi. Untuk biji lokal, kami lebih memilih untuk direct source ke petani. Kami pergi ke perkebunan mereka, tinggal di sana selama 2-3 hari, jika cocok, kami akan langsung mengajukan kontrak kerjasama. Tentu ini lebih sulit, namun kami menginginkan sistem relasi jangka panjang,” jelas Joe.

Sejauh ini, KLTR telah menjalin kerjasama dengan perkebunan kopi di Indonesia, mulai dari perkebunan di Takengon, Aceh, kemudian di daerah Simalungun, Sumatera Utara, dan Java Frinsa Estate di Weninggalih, Jawa Barat. “Kami mengerti bahwa ini (bisnis kopi) adalah proyek jangka panjang, meski kultur di sini semua serba jangka pendek. Kami ingin mengatakan bahwa bisnis ini bukanlah sprint, ini marathon,” tambah Joe.

Untuk ke depan, Joe mengatakan bahwa ekspansi bisnis KLTR lebih mengarah ke sourcing green bean melalui kerjasama dengan petani daripada membuka cabang baru. “Jika 2 tahun belakangan ini kami sudah berinvestasi ke 3 kebun di daerah Indonesia Barat, untuk tahun ini dan tahun depan, kami akan pergi ke Indonesia Timur seperti Papua, Toraja, dan Flores,” katanya.

Ditengah banyaknya coffee shop yang menawarkan konsep unik, Joe memiliki prinsip sederhana untuk mempertahankan pelanggan, “under promise, over deliver! Kami tidak menjanjikan yang muluk-muluk, mulai dari tempat yang Instagrammable atau makanan yang enak. Kami justru ingin mengundang orang untuk datang dengan ekspektasi rendah dan biarkan kami memberikan pengalaman the whole package yang melebihi ekspektasi. Kami yakin orang akan kembali lagi. Kami lebih suka tumbuh pelan-pelan sambil mengedukasi pasar daripada gencar di awal namun sepi pada 3-6 bulan berikutnya,” katanya.

KLTR menunjukkan bahwa bisnis coffee shop merupakan bisnis fleksibel yang harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mereka tidak segan untuk mengubah konsep dan nama demi memberikan ekspektasi berbeda bagi pelanggan. Jadi, sebuah coffee shop sekaligus roastery pada pagi lalu whisky dan cocktail bar pada malam hari, mengapa tidak?

KLTR Coffee Roasters
Jl. KH Mas Mansyur Kav. 24, Apartment Pavilion Retail Arcade, Karet Tengsin, Jakarta 10220, 

Phone: +6221 2902 3340