Yudhizt

The Everflowing Flair

A fun personality with brilliant talent and imposing appearance to match, Yudhistira a.k.a Yudhizt already gained excellent reputation on national and international bartending scene with his attention to details and penchant of using Indonesian traditional influence in his cocktail creation. With PASSION, the Cocktail Ambassador of Romeos restaurant, Ossotel Legian spills some of his thoughts and stories; from music, piercing, to the last thing that makes him cry.


Cool piercings! Could you tell us which one is the most memorable? Is there any fascinating backstory behind it?


Aside from being a bartender, I’m also a body piercer. I run a tattoo and piercing company. One of the most memorable piercing for me is on my backside; I done body suspension before. Another one is the third from the left side of my lower lip, because it was my first ever piercing. Basically, I was scared with needles so it needs more time for me to do this first piercing than the rest. But after that, I become addicted to it (laugh). I have a total of 50 piercings in my entire body.


We heard that you are also an avid metalhead. Could you name us one each of your most favorite bands from Indonesian and abroad

Basically I grew up in a rock music scene back in Java. Since I was a child, my family and friends has been listening to rock, metal and any kinds of hard music. One of my favourite band from Indonesia is Deadsquad, because they are technical death metal. From abroad, I love Lamb of God and Suicide Silence. I love any kinds of metal (music)! I also play in a band as guitarist. My band, ‘Angker’, plays Gothic Orchestra genre.


Tell us a bit about the beginning of your career. When did it start; and how did you usually find inspiration for your cocktail creation?


Maybe I’ll start by explaining how I become a bartender. So, at first, I always dream to become a chef, but then I met some friends who are flair bartenders and started doing it myself as a hobby. Every time we gather, we would show each other juggling and mixing skills, and participating in competitions together. Then I become more interested in doing it as a profession. At first, I become so cocky and think I was the best bartender in the world just because I can do juggling and flair very well, then after entering the real industry, I realized that I was really nothing, not even a zero! From that moment, I started to study deeper and gain more understanding to become a true professional bartender.


My inspiration right now often comes from food; especially Indonesian dishes, which I twist accordingly into my own cocktail creation. I made drinks, not food in forms of liquid. For example, if I make a ‘Nasi Tumpeng’ cocktail, that doesn’t mean I only blends the whole ingredients of nasi tumpeng into a juice, but I played with the mix and ratio so the drink contains the said food elements, but still logically enjoyable.


Tell us about your signature drink menu at Romeos, and can you explain more about the ‘bar chef’ phenomenom?

The drinks of Romeos are inspired by the daily life around this area, including Indonesian traditional food. Secondly, we are observing our target market. Personally, I threw away all my idealism and willing to adjust with our guest, making a specialty drinks just for them. ‘Bar Chef’ means that we, as a bartender, applying the ingredients and cooking method from the chef in our creation. For example, the most popular cooking method used in cocktail is ‘soufflé’ method, we use it to make new flavor in several spirits and also liquor syrups. When a chef makes a food creation, we as the bartender can make a good pairing for that said dishes, using the collaboration between kitchen and bar ingredients. Through this, we are making an eye-catching gimmick to appeal our guest more.


If you’re not being a bartender, which profession would you choose?

Musician. First, because I live in musical environment; my dad, mom, siblings and wife are musicians as well. Being a musician is my lifelong passion, but in industry, I am a professional bartender.


What was the last thing that makes you cry?

The last time I cried was at junior high, when I was circumcised…Oh wait, there’s another moment that makes me tearyeyed, is when my first child was born and I chant ‘adzan’ prayer in his ear. That was unforgettable.


What is the difference between ‘bartender’ and ‘mixologist’, and which of these two that you would use to define your profession?


Theoretically, Mixologist is a bartender which emphasis more on the ingredients and product; and there’s also Flair Bartender, which focused more on juggling and entertaining skill. But for me personally, it all started as ‘bartender’; someone who works behind a (drinking) bar. So a true bartender must be able to do both. It’s not about right or wrong, but just for me, a bartender has to be able to entertain guest and make them a good drink, even if it’s not 100% on both area.


Name us one of your most favorite bartender figures, and what cocktail would you like to make for him/her?


My favorite bartender—he’s actually more a mixologist, is an Indonesian who has make his name abroad and become inspiration for young bartenders all across the country, his name is Agung Prabowo. Coming from Jakarta, he currently owns a bar named ‘The Old Man’. Why did I look up to him that much, because he is one of few Indonesian bartenders who have influence in international scene. If I met him, I would like him to try one of my creations, Lux Luxury. For me, Agung Prabowo represents luxury itself, and also because the drink was inspired by Indonesian (Balinese) sweet treats, laklak. Other reason why I choose this drink because I have a dream that one day, my cocktail will be displayed in the menu of bars worldwide. If I can collaborate with Mr. Agung and see my cocktail served on one of his bar in Hongkong; that would be awesome!


==================================================================================================================================================



Pribadi yang menyenangkan dengan bakat brilian dan penampilan mengesankan, Yudhistira atau Yudhizt telah meraih reputasi luar biasa di skena bartending nasional dan internasional dengan perhatiannya kepada detil dan penggunaan pengaruh Indonesia tradisional dalam kreasi cocktailnya. Dengan Passion, Duta Besar Cocktail restoran Romeos milik Ossotel Legian tersebut membagikan sejumlah pemikiran serta kisah hidupnya; mulai dari musik, tindikan (piercing), hingga hal terakhir yang membuatnya menangis.


Piercingnya keren! Bisakah anda ceritakan tindikan mana yang paling berkesan? Adakah kisah menarik di baliknya?

Selain menjadi bartender, saya juga merupakan seorang body piercer (tukang tindik), saya menjalankan sebuah perusahaan tato dan piercing. Salah satu tindikan paling berkesan bagi saya adalah di bagian punggung, ketika saya masih rutin melakukan suspensi tubuh (seni menggantung tubuh dengan menggunakan kait besi). Kemudian satu lagi adalah tindikan ketiga dari kiri di bagian bibir bawah saya, karena itu adalah tindikan pertama saya. Sesungguhnya, saya takut dengan jarum, jadi saya butuh lebih banyak waktu berpikir untuk melakukan tindikan tersebut, namun setelahnya, saya jadi ketagihan (tertawa). Saya total memiliki 50 tindikan di seluruh tubuh saya.


Kami dengar anda juga merupakan seorang ‘metalhead’. Bisakah anda bagikan masingmasing satu band metal favorit anda dari Indonesia dan luar negeri?


Ketika masih tinggal di Jawa, saya tinggal di lingkungan musik rock. Sejak kecil, keluarga dan teman saya telah mendengarkan musik rock, metal dan segala jenis musik keras. Salah satu band favorit saya dari Indonesia adalah Deadsquad, karena mereka mengusung Technical Death Metal. Dari luar negeri, saya menyukai Lamb Of God dan Suicide Silence. Saya menggemari semua macam (musik) metal. Saya juga bermain gitar di sebuah band bernama ‘Angker’; dimana kami mengusung genre Gothic Orchestra.


Ceritakan sedikit tentang awal karir anda. Kapan hal itu bermula; dan darimana biasanya anda memperoleh inspirasi terhadap kreasi cocktail anda?


Mungkin saya akan mengawali dengan penjelasan bagaimana saya bisa menjadi seorang bartender. Pada mulanya, saya selalu bermimpi untuk menjadi seorang chef, namun kemudian saya bertemu dengan beberapa orang teman yang berprofesi sebagai ‘flair bartender’ hingga saya mulai ikut melakukan hal tersebut sebagai hobi. Setiap kali kami berkumpul, kami akan menunjukkan kebolehan kami dalam juggling (melempar botol) dan mixing (membuat minuman), serta mengikuti berbagai kompetisi bersamasama. Kemudian saya mulai tertarik untuk melakukannya sebagai profesi. Pada awalnya, saya menjadi sombong dan berpikir bahwa saya adalah bartender terbaik di dunia hanya karena saya bisa melakukan juggling atau flair dengan sangat baik, namun ketika betul-betul terjun ke industri, saya menyadari bahwa saya bukanlah apa-apa, bahkan tidak mencapai nilai nol sekalipun! Dari saat itulah saya mulai belajar lebih dalam dan mendapat pengertian lebih tentang bagaimana menjadi seorang bartender profesional


Inspirasi saya saat ini sering berasal dari makanan; terutama hidangan Indonesia, yang saya racik sedemikian rupa ke dalam kreasi cocktail saya. Saya membuat minuman, bukan makanan yang diminum. Contohnya ketika saya membuat cocktail ‘Nasi Tumpeng’, bukan berarti saya hanya mencampur semua bahan pembuatan nasi tumpeng dan membuatnya dalam bentuk jus, tapi saya bermain dengan perpaduan dan juga rasio / perbandingan; sehingga minuman tersebut mengandung unsur makanan, namun masih bisa dinikmati secara logis.


Ceritakan pada kami tentang minuman khas anda di Romeos, dan bisakah anda jelaskan lebih lanjut tentang fenomena ‘bar chef ’?

Minuman di Romeos terinspirasi dari kehidupan sehari-hari di sekitar area (Legian) ini, termasuk makanan traditional Indonesia. Kedua, kami juga mengamati target pasar kami. Secara pribadi, saya membuang semua idealisme saya dan bersedia untuk menyesuaikan dengan para pelanggan, membuat minuman khusus untuk mereka. Kemudian ‘Bar Chef ’ adalah kita, sebagai bartender, menerapkan bahan-bahan serta metode memasak chef di dalam kreasi kami. Contoh metode memasak paling populer yang digunakan dalam cocktail belakangan ini adalah metode ‘sousvide’. Kami menggunakannya untuk menambahkan rasa di beberapa (minuman) spirit dan juga sirup. Ketika seorang chef membuat kreasi masakan, kami sebagai bartender bisa membuat pasangan yang sepadan untuk hidangan tersebut, menggunakan kolaborasi antara bahan dapur dan bahan dari bar. Melalui hal ini, kami bisa membuat ‘gimmick’ yang seru untuk menarik perhatian para tamu lebih lagi.


Jika anda tidak menjadi seorang bartender, profesi apa yang akan anda pilih?

Musisi. Karena saya hidup di lingkungan musikal. Ayah, ibu, saudara, bahkan istri saya semua bergelut di bidang musik. Dalam hidup, saya ingin menjadi musisi, namun di industri, saya adalah bartender profesional.


Apa hal terakhir yang membuat anda menangis?


Terakhir kali saya menangis adalah semasa SMP, kala saya disunat....Tunggu, ada momen lain yang juga membuat saya berkaca-kaca, yakni ketika anak pertama saya lahir dan saya mengumandangkan adzan di telinganya. Itu pengalaman yang sangat tak terlupakan bagi saya.


Apa perbedaan antara ‘bartender’ dan ‘mixologis’, dan mana dari dua istilah tersebut yang akan anda gunakan untuk menjabarkan profesi anda?

Secara teori, Mixologis adalah bartender yang lebih menitikberatkan pada bahan-bahan dan produk, kemudian ada juga ‘Flair Bartender’, yang lebih fokus pada kemampuan juggling dan juga menghibur. Namun bagi saya secara pribadi, semua hal tersebut berawal dari ‘bartender’; seseorang yang bekerja di balik bar (minuman). Jadi, seorang bartender sejati harus bisa melakukan keduanya. Ini bukan tentang benar atau salah, namun bagi saya, seorang bartender harus bisa menghibur tamu sekaligus membuatkan minuman yang enak bagi mereka, meskipun tidak 100% di kedua ranah tersebut.


Bisakah anda sebutkan satu figur bartender favorit anda, dan cocktail apa yang hendak anda buatkan untuknya?

Bartender favorit saya--sesungguhnya dia lebih condong sebagai seorang mixologis, adalah orang Indonesia yang telah angkat nama di luar negeri dan menjadi inspirasi bagi para bartender muda di seantero negeri, namanya Agung Prabowo. Berasal dari Jakarta, dia kini memiliki sebuah bar bernama ‘The Old Man’. Kenapa saya betulbetul terkesan dengannya, karena dia adalah satu dari segelintir bartender di Indonesia yang memiliki pengaruh dengan skena internasional. Jika saya bertemu dengannya, saya ingin ia mencoba kreasi saya, Lux Luxury. (Karena) bagi saya, Agung Prabowo merepresentasikan ‘kemewahan’ itu senditi, dan juga karena minuman itu terinspirasi dari jajanan manis tradisional Indonesia (Bali), yakni laklak. Alasan lain yang membuat saya memilih (untuk menyuguhkan) minuman ini

adalah karena saya memiliki mimpi bahwa suatu hari kelak, cocktail saya akan disajikan sebagai menu di bar seluruh penjuru dunia. Jika saya bisa berkolaborasi dengan Agung dan melihat cocktail saya menjadi menu salah satu bar nya di Hongkong, itu rasanya luar biasa!


ROMEOS BALI
Jalan Padma Utara Legian 80361 Bali Indonesia
Phone: +62 361 755225, romeosbali.com

0 0
Feed