The Colorful 2019

Everybody agrees that, following trend, or just knowing, is one of the crucial points in planning your business ahead. To understand the 2019’s chocolate trend, we met Tia Hariani, B2B Brand Manager PT. Gandum Mas Kencana, the holding company for brands such as Haan, Bendico, and as we all know, Colatta.



What is your future plan for Colatta in 2019?

Marketing-wise, we always plan to hold baking demo to increase our branding and we want to present it differently, in term of social media or (offline) events. Colatta has its own annual event called Trending Demo Chocotrenz.

Last year, we held it in 27 cities in Indonesia, this year, we has planned it for 25 cities. We’re always trying to bring new theme every year. In 2017, we chose “classy” theme, classic pastry application for classy and interesting presentation, meanwhile for 2018, the theme was “tropical delight”. For 2019, we can’t spoil it yet as the campaign will just start on March, but generally, the big theme is, it will be based on color.

We talked about big demos, but we also have smaller scale demos we called Colatta Creation Class that will be held in baking centers with more limited capacity, 50 people maximum. In 2018, we held them in 46 spots all over Indonesia, this year, it can be more as people are eagerly waiting for them.


Does the Chocotrenz only involve Colatta?

Actually, for this event, PT. Gandum Mas Kencana has 3 main brands: Colatta, Haan, and Bendico, also some other brands. However, Colatta is the biggest one so the other brands will follow.


Are you still the market leader for chocolate?

The data we have is different than the FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) data. Colatta has 2 main markets: retail and B2B (Business to Business), at the moment, our B2B market is still the largest. For chocolate product, we can claim that we’re still the market leader, based on our internal survey, as we haven’t got data from third party that specifically research the FMCG, meanwhile, we’re mostly into B2B. However, to make things simple, if you go to any baking ingredients shop all over Indonesia, you can see that Colatta is the most sought after chocolate brand.


Have you ever conducted a research why people love Colatta?

Yes,we did the research to our customers, however we don’t have any third party data as no one published it yet. From our internal survey, people chose Colatta because of product quality and service.

Colatta is well-known for its versatility, it can be reheated numerous times and the application will still be as good. You can also use the product in various applications and the handling is quite easy. Taste-wise, as pioneer of chocolate in Indonesia, this is the first chocolate taste Indonesian people fell in love with, so we have many loyalists. In term of service, we’re always quick response to answer customers’ needs on product supply. We’re trying so hard to supply so customers won’t stop their production. Those were our customers’ testimonies, even though price-wise, we’re quite premium, compared to competitor’s products.

Lately, big bakeries complained the declining sales because of the presence of small, online industries. How does it affect Colatta?

For us, our B2C (Business to Consumer) is the one who use our 250 gram packaging, most of them are housewives who want to try making some products for families. When they start doing online business and use 1kg products or above, we see
them as B2B market, aside from where they got it from, be it baking ingredients shop or directly from distributors. We also heard complaints on the issue, but it’s a fact you have to take as the number of this home industries is keep on growing. Like it or not, everything will be online, right?



What’s your current trending product in the market?

Whenever you hear about Colatta, people immediately think about our chocolate block. Actually, we have 2 product categories: multi function and specific function. Our compound chocolate fell to the first category as it can be used for many
applications, from making ganache, coating, glazing, or decoration. But we also have specific products such as Colatta Glaze that’s booming for the past 2 years. It’s a glazing product with many variants, from dark chocolate to mango flavor.

In the beginning, customers use Colatta Glaze as topping for donut or banana nugget, but now they’re using it to make pudding, brownies, sponge cake, martabak filling, to beverage. Our specific product becomes multi function. We also have couverture lines that’s often used in hotel industries, especially in Bali and Jakarta.


What about your export market, any countries that you’re currently focusing on?

Countries in Middle East, China, South East Asia, to Africa. But at the moment, the biggest growth is in Middle East. Before, China was our back bone for our export market, but because of its trade war with US, we tend focus more on Middle East. The growth in South East Asian countries such as Malaysia, Philippines and Singapore is also pretty good.


Tentu siapapun setuju, mengikuti tren, atau paling tidak mengetahui tren, adalah salah satu hal terpenting dalam perencanaan bisnis Anda selama beberapa periode ke depan. Untuk mengetahui tren cokelat di 2019, kami sengaja menemui Tia Hariani, B2B Brand Manager PT. Gandum Mas Kencana, yang menaungi beberapa brand seperti Haan, Bendico, dan seperti yang kita semua ketahui, Colatta.


Apa rencana ke depan Colatta di 2019?

Dari sisi marketing, kami selalu berencana untuk mengadakan baking demo demi meningkatkan branding yang kami kemas secara berbeda, baik dari sisi media sosial maupun event (offline). Colatta sendiri memiliki event tahunan bernama Trending Demo Chocotrenz.

Tahun lalu, kami mengadakannya di 27 kota-kota di Indonesia, tahun ini kami berencana mengadakan di 25 kota. Kami selalu membawa tema baru setiap tahun. Pada 2017, kami mengusung tema “classy”, aplikasi pastry klasik untuk tampilan berkelas dan menarik, sementara pada 2018, temanya adalah “tropical delight”. Untuk tahun 2019, kami belum bisa memberitahu karena kampanye ini baru akan dilaunching pada bulan Maret, tapi secara umum, tema besarnya adalah tentang warna.

Tadi kita bicara soal demo besar, sementara untuk demo yang lebih kecil yang kami namakan Colatta Creation Class biasa kami adakan di baking center dengan jumlah peserta yang lebih terbatas, biasanya maksimum 50 orang. Pada tahun 2018, kami mengadakannya di 46 titik di seluruh Indonesia, untuk tahun ini mungkin bisa lebih banyak karena pelanggan sangat menantikan.


Apakah Chocotrenz hanya melibatkan Colatta?

Sebetulnya pada event ini, PT. Gandum Mas Kencana memiliki 3 brand utama: Colatta, Haan, dan Bendico, serta beberapabrand lain. Namun, Colatta adalah brand yang terbesar sehingga tentu brand lain akan mengikuti.


Apakah Colatta masih menjadi market leader untuk produk cokelat?

Data yang kami miliki tentu berbeda dengan data FMCG (Fast-Moving Consumer Goods). Colatta hadir di pasar retail dan B2B (Business to Business), saat ini pasar B2B kami masih yang paling besar. Untuk produk cokelat sendiri, kami bisa klaim sebagai market leader jika dilihat dari survey internal kami, karena data di luar sana belum ada yang meneliti murni soal FMCG, sementara pasar kami lebih banyak di B2B. Namun, mudahnya saja, jika Anda ke toko bahan kue di daerah mana pun di Indonesia, Anda bisa lihat bahwa Colatta merupakan produk cokelat yang paling banyak dicari.


Apakah kalian pernah melakukan riset mengapa orang menyukai Colatta?

Ya, kami pernah melakukan riset pada pelanggan kami, namun untuk survey dari pihak third party memang belum ada yang mempublikasikannya. Dari survey internal, orang memilih Colatta karena kualitas produk dan service.

Produk Colatta terkenal akan “kebandelan” produknya, bisa dipanaskan berulang-ulang namun aplikasinya masih tetap bagus. Colatta juga bisa digunakan di berbagai aplikasi produk dan penanganannya terhitung mudah. Sementara dari sisi rasa, sebagai pionir cokelat di Indonesia, inilah rasa cokelat pertama yang disukai masyarakat Indonesia, sehingga kami memiliki banyak loyalis. Soal service, kami selalu quick response untuk menjawab kebutuhan pelanggan soal ketersediaan produk. Kami selalu mengupayakan supaya jangan sampai pelanggan kami terhenti produksinya. Itulah testimoni pelanggan kami, padahal jika dari segi harga, kami lumayan premium jika dibandingkan dengan produk kompetitor.


Belakangan ini banyak bakery besar yang mengeluhkan penurunan penjualan akibat tergerus oleh industri online rumahan. Apa pengaruhnya hal ini bagi Colatta?

Bagi kami, pasar B2C (Business to Consumer) adalah pengguna produk kemasan 250 gram, biasanya ibu rumah tangga yang ingin mencoba membuat produk untuk keluarga. Begitu mereka mulai berbisnis online dan menggunakan produk kemasan 1 kg ke atas, kami menganggapnya sebagai pasar B2B, terlepas dari dari mana mereka membelinya, baik di toko bahan kue mau pun langsung dari distributor. Kami mendengar banyak bakery yang mengeluhkan hal ini, namun ini adalah kenyataan yang harus diterima karena jumlah pengusaha rumahan ini semakin banyak. Suka atau tidak suka, semuanya akan beralih ke online kan?


Produk apa yang sedang trending di pasar saat ini?

Ketika mendengar Colatta, orang akan berpikir soal cokelat blok. Sebetulnya, kami memiliki 2 kategori produk, yang multi fungsi dan memiliki fungsi spesifik. Produk cokelat compound kami masuk dalam kategori multi fungsi karena bisa digunakan untuk banyak aplikasi, mulai dari membuat ganache, coating, glazing, atau dekorasi. Namun, kami juga memiliki produk spesifik seperti Colatta Glaze yang menjadi primadona selama 2 tahun belakangan. Ini merupakan produk glazing yang memiliki banyak varian, mulai dari dark chocolate hingga mangga.

Pada awalnya, pelanggan menggunakan Colatta Glaze sebagai topping donat atau pisang nugget, namun sekarang banyak yang menggunakannya untuk membuat pudding, brownies, sponge cake, isian martabak, hingga minuman. Produk spesifik kami malah menjadi multi fungsi. Kami juga memiliki lini cokelat couverture yang penggunaannya lebih banyak di industri hotel, terutama untuk daerah Bali dan Jakarta.


Bagaimana dengan ekspor Colatta, negara mana yang menjadi fokus?

Negara-negara di Timur Tengah, China, Asia Tenggara, hingga Afrika. Namun saat ini pertumbuhan paling pesat terjadi di Timur Tengah. Sebelumnya China menjadi tulang punggung untuk ekspor kami, namun karena pengaruh perang dagang dengan Amerika, kami lebih fokus ke Timur Tengah. Pertumbuhan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina dan Singapura juga cukup menggembirakan.


0 0
Feed