The Center of World’s Gastronomy

Bagaimana sebuah tren tercipta? Apakah ini terjadi begitu saja, mengikuti mekanisme pasar, atau adakah sosok yang bertanggung jawab menciptakan tren? Ini pertanyaan kami sejak lama, namun setelah kedatangan kami ke San Sebastian Gastronomika yang diadakan pada 6-9 Oktober 2019, kami percaya tren digerakkan oleh sosok chef berpengaruh dari seluruh dunia.


Semuanya bermula dari email undangan ke San Sebastian Gastronomika yang diadakan di San Sebastian, Spanyol, tepatnya di Kursaal Congress Centre and Auditorium. Ini adalah sebuah kongres kuliner dimana para chef memberikan presentasi selama 30 menit mengenai teknik, pemahaman tradisi kuliner dari seluruh dunia. Bayangkan Ted Talks ditambah dengan sesi food tasting!


Di samping itu, ada juga pameran makanan seperti biasa yang berlokasi di tempat yang sama. Passion Media adalah satu-satunya media dari Indonesia yang diundang ke acara ini, bersama perwakilan dari berbagai negara lain, seperti Italia, Kolombia, Swiss, Amerika, dan beberapa negara Asia lain seperti Filipina dan China. Saya teringat ketika Chef Ragil (Nusa Gastronomy) berkata bahwa ada beberapa chef terkemuka Spanyol yang diam-diam mengunjungi kota-kota di Jawa dan Bali untuk mencari inspirasi kuliner. Undangan untuk menghadiri San Sebastian Gastronomika seolah mengukuhkan hal tersebut, karena pada 2019, Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi fokus. Ini dari diundangnya Kevin Cherkas (Cuca), Eelke Plasmeijer dan Ray Adriansyah (Locavore) sebagai perwakilan dari Indonesia.


Perjalanan ke San Sebastian memakan waktu panjang. Saya mencatat, penerbangan dari Jakarta, Istanbul, Madrid, Bilbao, yang dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan mobil ke San Sebastian memakan waktu kurang lebih 30 jam, termasuk waktu transit. Cukup lama memang, namun semuanya terbayar lunas ketika Anda tiba di kota indah yang terletak di sisi utara Spanyol ini.

Pusat Gastronomi Dunia San Sebastian adalah pusat kuliner dari Basque country (dalam bahasa Spanyol: Vasco), sebuah komunitas otonomi di Spanyol. Basque country merupakan daerah yang memiliki paling banyak Michellin star per meter persegi di seluruh dunia. Sederhananya, ini adalah pusat gastronomi terbaik dunia. Konon, Michelin star hanya diberikan pada restoran yang menggunakan bahan lokal, dan fakta bahwa bahwa daerah ini memiliki Michellin star terbanyak merupakan pengakuan tersendiri mengenai kualitas bahan makanan setempat.


San Sebastian sendiri terletak di ujung utara Spanyol yang menghadap Teluk Biscay, dan berbatasan langsung dengan Prancis di timur. Meski merupakan kota di pesisir pantai, San Sebastian tidak jauh dari daerah pegunungan yang saya lewati sepanjang perjalanan dari Bilbao. Gunung dan pantai ditambah dengan arsitektur bersejarah, cuaca yang bersahabat (17oC pada musim gugur di bulan Oktober) dalam satu kota, dulu kami berpikir Tuhan itu adil.

Sebagai daerah otonomi, Basque Country memiliki bahasanya sendiri, Basque, yang secara sejarah dan secara linguistik tidak terkait dengan bahasa mana pun di dunia. Spanyol merupakan bahasa kedua masyarakat setempat, sehingga tidak heran, Anda akan cukup kesulitan menemukan penduduk yang berbahasa Inggris di sini.


Kebiasaan dan Makanan Ada dua fakta yang cukup membuat saya kaget di sini, jam makan mereka, dan jarangnya daging ayam dan sapi. Di kota ini, matahari baru terbit sekitar jam 08.00 pagi, makan siang pada jam 14.30, dan makan malam pada sekitar 22.00 Pada jam 21.00, biasanya para tamu sudah mulai berkumpul untuk aperitivo, sebuah budaya dari Italia dimana orangorang berkumpul untuk makan makanan kecil dan minum alkohol sebelum makan malam. Bir, wine, dan Jamon Iberico ham selalu hadir di sesi aperitivo ini.

Ini berlaku di hampir semua wilayah di Spanyol, dan hal ini mungkin akan menyulitkan mereka yang terbiasa makan tepat waktu. Kedua, makanan di sini kebanyakan adalah seafood dan daging babi. Selama perjalanan, saya hanya sekali makan daging sapi, dan saya tidak makan daging ayam, sama sekali! Harga rata-rata untuk sekali makan di San Sebastian adalah ¤10 (Rp 150.000), baik di restoran biasa, atau pun fast food chain seperti Burger King atau McDonald’s. Cukup mahal memang, namun jangan samakan porsi kedua fast food tersebut dengan porsi di Indonesia, burger dan minuman yang Anda dapatkan di sini jauh lebih besar. Tentu saja, ada beberapa barang yang lebih murah di sini, seperti  roti dan wine. Dengan ¤1.80 (Rp 27.000), Anda bisa mendapatkan roti yang tidak habis sekali makan, sementara dengan tidak sampai ¤3 (Rp 45.000) Anda bisa mendapatkan sebotol wine!

Bagaimana dengan kopi? Kami menikmati 3 jenis kopi yang berbeda. Pertama, kopi instan Nescafe, lalu paket latte & croissant di sebuah café/bakery seharga ¤2.70 (Rp 40.500) dan secangkir latte di coffee shop/roaster seharga ¤3 (Rp 45.000). Dari ketiga kopi tersebut, saya mendapati bahwa orang Spanyol tidak suka kopi pahit, notes yang paling menonjol adalah nutty dengan sedikit acidity. Tentu saja 3 tempat tersebut mungkin tidak mewakili keseluruhan kopi di San Sebastian, namun saya rasa untuk urusan kopi, dalam banyak hal rasanya Jakarta masih lebih baik. Di San Sebastian, tentu saja Anda wajib mencoba makanan khas Basque: pintxo (baca: pincho) yang tersedia di bar. Mirip seperti bakery, pintxo tersaji di meja display, Anda tidak perlu repot memesan lagi. Untuk 4 buah pintxo, saya menghabiskan sekitar ¤15 (Rp 225.000), belum termasuk minum. Sekilas, pintxo terlihat mirip dengan tapas, namun bisa dibilang tapas adalah istilah penduduk Spanyol selatan, sementara pinxto adalah nama yang digunakan penduduk Spanyol Utara. Uniknya, setelah makan, Anda boleh membuang tusuk gigi pintxo ke lantai begitu saja. Konon, kualitas sebuah pinxto bar bisa dilihat dari semakin banyaknya sampah yang ada di atas lantai. Sejauh ini, mungkin saya membuat San Sebastian seperti kota impian pecinta kuliner. Agar adil, sepertinya saya harus membahas kekurangan kota ini: selain penduduknya kurang fasih berbahasa Inggris, mereka kurang ramah pada wisatawan. Contohnya ketika saya mengunjungi La Vina yang terkenal dengan cheesecakenya. Saya tidak terbiasa dengan jam makan di kota ini, sehingga ketika saya datang pada jam 16.10, saya tidak dilayani karena tempat ini tutup sementara dari jam 16.30.


Oke, “tidak dilayani” merupakan majas eufimisme, lebih tepatnya, saya diusir dari tempat tersebut setelah berusaha bernegosiasi dengan penjaga restoran karena bagi saya, masih ada waktu 20 menit. Setelah saya diusir, ia langsung menutup pintu restoran dengan tombol otomatisnya. Saya hanya membayangkan, jika peristiwa ini terjadi di Jakarta, dan menimpa seorang influencer, saya pastikan hal ini akan menjadi trending topic di media sosial


Secara keseluruhan, kunjungan ke San Sebastian merupakan perjalanan yang menyenangkan. Untuk edisi depan, kami akan membahas mengenai dinner kolaborasi Chef Spanyol terbaik seperti Angel Leon, Joan Roca, Jordi Cruz, Eneko Atxa, Juan Mari dan Elena Arzak, Pedro Subijana, sekaligus kunjungan ke restoran Eme Be Garotte milik Martin Berasategui sebagai rangkaian dari acara San Sebastian Gastronomika 2019.



0 0
Feed