The Burden of Privilege

Seperti anak orang terkenal lainnya, Xena Sawitri tentu mendapatkan berbagai macam privilege yang belum tentu bisa didapatkan semua orang. Namun, tentu ada sisi negatif dari privilege semacam ini, ia selalu berada di bawah bayang-bayang Ibunya, Chef Ucu Sawitri. Simak pembicaraan kami dengan Xena soal caranya menangani hal tersebut, cita-citanya, hingga alasan kepergian Wakil Presiden YCCI ini ke Bali.


Bagaimana rasanya berkarir di bidang yang sama dengan orang tua Anda?

Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan privilege seperti networking sehingga bisa mengenal banyak orang. Ibu saya tentu sangat berpengaruh pada karir saya. Meski kemanapun saya pergi, orang selalu menanyakan Ibu, namun saya tidak mau terus dibawah bayang-bayangnya. Saya ingin memiliki branding sendiri. 


Menurut Anda, apa pengaruh terbesar dari Ibu Anda?

Mengenalkan saya ke orang-orang di industri ini, sehingga saya tahu apa saja yang mereka kerjakan. Saya jadi memahami dunia pastry tidak hanya sebatas hotel, cake shop, atau mengerjakan pesanan hingga ribuan pax. Namun, jika Ibu saya lebih fokus pada pastry art dan showpiece, saya lebih suka membuat produk pastry yang bisa dimakan.


Apakah Anda sejak kecil dibimbing untuk mendalami dunia pastry oleh Ibu Anda?


Dari kecil saya sering membantu Ibu di dapur. Setelah lulus SMP, sebetulnya saya ingin menjadi seorang dokter hewan, tidak terpikir sama sekali untuk bekerja di dapur. Namun ketika melihat workshop Ibu, saya mulai berpikir, “barang-barang ini mau ditaruh mana jika ia sudah tua nanti?” Dari situ saya memutuskan untuk meneruskan ke SMK jurusan Pastry, selain karena prospek ke depannya cukup baik, saya juga senang melakukannya, Ibu saya tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti jejaknya.


Apa cita-cita Anda di industri ini?

Saya ingin memiliki sebuah café kecil yang ukuran dapurnya 2 kali lebih besar dari venuenya. Saya ingin menjual 1 jenis produk yang sangat enak sehingga orang rela antri, contohnya seperti Pia Legong
mungkin? 


Mengapa Anda akhirnya memilih untuk training di Room 4 Dessert, Bali? 


Selain ingin memiliki branding sendiri, saya pernah training di berbagai tempat lain seperti Amuz, Ixora, dan beberapa tempat lain, namun dari semua itu saya paling banyak mendapatkan pelajaran di Room 4 Dessert. Banyak hal yang diajarkan di sana yang tidak saya dapatkan di tempat lain.Sebagai contoh, mereka suka membuat segala sesuatu from scratch, bahkan untuk sesuatu yang sederhana seperti lemon juice. Daripada beli, mereka lebih suka untuk memeras sendiri lemonnya. Dan yang membuat saya kagum adalah cara mereka untuk memanfaatkan waste, mereka sangat concern soal itu. Di Room 4 Dessert, kulit lemon bisa dimanfaatkan untuk membuat bitter. Mereka juga banyak menggunakan bahan-bahan lokal, saya ingin mempelajari pendekatan dan attention to detail semacam itu.



Dari sekian banyak bidang pastry, mana yang paling Anda sukai?

Petit four. Ketika masih kuliah di STP Bandung, Chef Stefu mengajak saya untuk mengikuti kompetisi Petit Four di FHA 2016 (Singapura). Untuk persiapan, saya dikirim magang ke Room 4 Dessert, inilah awal mula saya mengenal Will Goldfarb (Pastry Chef). Sebetulnya Will tidak membuat petit four, namun banyak dari produk di sana yang bisa saya adaptasi menjadi petit four. Saya harus membuat 6 jenis petit four, masing-masing sebanyak 7 buah dengan berat 10-12 gram. Ternyata saya sangat menikmatinya, saya suka membuat detail-detail kecil handmade, karena di kompetisi, kami dilarang menggunakan cetakan. Rumit, namun seru! Dan yang paling penting, petit four bisa dimakan!

0 0
Feed