The Art of Grilling

Exploring the flavour of authentic Japanese Teppanyaki buffet at Edogin is a treat that one must not miss at The Mulia, Nusa Dua, Bali.


Teppanyaki cooking has an interesting background history. It began in Japan in the 1900s with meals being prepared on a small grill within family households until a teppanyaki style restaurant named Misono opened its first branch on 1945. However, the skilled manoeuvres received lukewarm response from the locals and instead, found popularity with the GIs who were stationed in Japan. They took it excitedly back to the States and the ostentatious teppanyaki cooking style reminds popular until today despite being a far cry from its authentic Japanese beginning.


When we arrive at Edogin, two chefs are quietly manning the two hot iron griddles in the middle of the room. On a counter around them, a smorgasbord of premium Wagyu beef cuts and seafood bounties are displayed neatly. In between the juicy pink shrimps and pudgy scallops, there are fine selection of cooked Japanese delights such as unagi kamameshi, miso soup, and baked Hokkaido oysters. While on the far corner of the room, a dedicated appetizer counter is topped with vegetables, beautiful sashimi cuts, and sushi. Next to it, there is a self-service soba station and crispy selection of kushiage or deep fried skewers and vegetable. At the dessert station, a Japanese chef is skilfully rolling teppanyaki ice cream for excited little children. 


The fragrant aroma of seared beef and the teppanyaki knife actions always excites me. True to its authentic Japanese root and contrary to what everyone thinks of the fiery action packed teppanyaki experience, Edogin’s way of grilling is calm and assured. Here, the chefs work effectively and skilfully, dicing the meat without too much flair, nor drama. After filling my plate with the marbled tenderloin and ask the chef to cook them medium rare, I go back to my table and order a hot sake to keep me and my dining partner company. 


The earthy colours of the interior and low lighting create intimacy. Despite the large number of diners on every Thursday to Saturday when the buffet is served, everything is done in a hushed and gentle manner. Elegantly attired waiters in gold kimono inspired uniform is offering me another options of freshly prepared dishes from the kitchen. “We have various skewers, tempura, ramen, udon, soba, and donburi,” explains the waiter. Then, two plates of grilled beef, mushroom, vegetable, scallop, and shrimps arrive at our table. Each and every piece is cooked to perfection. That is the thing I appreciate the most about Japanese cuisine. It is deceptively simple but the precise technique and the use of ingredients that it takes before a dish is served is nothing but perfection.


Menelusuri cita rasa otentik masakan buffet Teppanyaki Jepang di Edogin adalah kemewahan yang tidak boleh dilewatkan di The Mulia, Nusa Dua, Bali.

Masakan teppanyaki memiliki latar belakang sejarah yang menarik. Pertama kali dikenal di Jepang pada tahun 1900an saat makanan diolah di atas panggangan rumahan, teknik teppanyaki lantas dikembangkan oleh restoran bernama Misono pada tahun 1945. Namun, teknik memasak penuh manuver itu menerima sambutan yang dingin dari masyarakat lokal meskipun para tentara Amerika Serikat yang ditugaskan di Jepang menerimanya dengan antusias. Mereka membawa teknik masak itu ke negaranya hingga melahirkan gaya memasak teppanyaki yang penuh gaya seperti yang dikenal luas sekarang meski gaya tersebut jauh berbeda dari cara memasak di Jepang pada mulanya. 


Saat kami tiba di Edogin, dua orang chef tengah mempersiapkan dua pemanggang besi panas untuk memasak di dalam ruangan. Pada meja di sekitar mereka, terdapat beragam hidangan daging sapi Wagyu premium serta hasil tangkapan laut yang disajikan dengan rapi. Udang kemerahan serta scallop sintal disajikan dengan selingan masakan khas Jepang seperti unagi kamameshi, sup miso, dan kerang Hokkaido panggang. Sementara di sisi lain ruangan, sebuah meja didekasikan khusus untuk makanan pembuka yang dipenuhi oleh berbagai sayuran, potongan sashimi yang sempurna, serta sushi. Di sebelahnya, terdapat sajian mi soba serta beragam kushiage atau gorengan sate dan sayuran. Pada meja makanan penutup, seorang chef asal Jepang dengan ahli menggulung es krim teppanyaki untuk anak-anak yang menanti dengan gembira.


Wangi aroma daging sapi panggang serta suara pisau mengadu selalu menarik perhatian saya. Setia dengan otensitas seni kuliner Jepang dan berbeda dengan pemahaman khalayak tentang aksi memasak teppanyaki yang membara, cara memanggang di Edogin sungguh tenang dan meyakinkan. Di sini, para chef bekerja dengan efektif dan piawai, memotong daging tanpa gaya berlebih ataupun drama. Setelah memenuhi piring saya dengan potongan daging sapi bergurat sempurna untuk dipanggang oleh para chef secara medium rare, saya kembali ke meja saya dan memesan sake panas untuk menemani saya dan rekan makan malam saya.


Warna-warna tanah yang mendominasi interior serta pencahayaan yang agak gelap memberikan suasana intim. Bahkan dengan jumlah tamu yang cukup banyak setiap hari Kamis hingga Sabtu saat buffet diadakan, keadaan tetap tenang dan terkendali. Pelayan yang berseragam kimono berwarna emas menawarkan pilihan sajian yang dimasak langsung dari dapur kepada saya. “Ada berbagai sate, tempura, ramen, udon, soba, dan donburi untuk dicoba,” katanya. Tidak lama, dua piring penuh dengan daging sapi panggang, jamur, sayur, scallop dan udang dihidangkan di meja kami. Tiap dan seluruh bagiannya dimasak dengan sempurna. Itulah yang saya apresiasi dari masakan Jepang. Sungguh terlihat mudah namun teknik yang digunakan dan bahan yang digunakan haruslah tepat sebelum sebuah hidangan layak untuk disajikan dengan sempurna.





Edogin

Jl. Nusa Dua, Benoa,

Kuta Sel., Kabupaten Badung,

Bali - 80361

https://themulia.com/edogin-bali/

0 0
Feed