Tentang Indonesia Spice Up The World dan Latar Belakang

Kitchen Aid dining experience, Astha Mall menjadi tuan rumah VIP Diner bersama Maestro Kuliner Indonesia William Wongso dan Indonesia Gastronomy Network dalam mensosiaIisasikan Gerakan Indonesia Spice Up The World yang adalah sebuah gerakan nasional yang sedang diusung pemerintah untuk tujuan meningkatkan nilai ekonomi di pariwisata, perdagangan dan investasi melalui industri gastronomi. Gerakan nasional yang saat ini dikordinasikan  oleh Kementerian Kordinasi Maritim dan Investasi sudah digodok sejak Bulan Juni 2020 dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari unsur pentahelix (Akademisi, Bisnis, Komunitas, Asosiasi, Pemerintah dan Media). Rencana akan diluncurkan di Budai World Expo Oktober mendatang.

Pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan adalah untuk sama sama menggaungkan gerakan ini, khususnya bagi produsen bumbu harus mampu dan berkomitmen menyediakan stok dalam dan luar negeri. Menjadi raja dinegeri sendiri dan agresif  membumbui dunia.

Seri pertama ini adalah hasil kolaborasi dari Indonesia Gastronomi Network, William Wongso Kuliner dan Kitchen Aid; didukung oleh Munik, Bamboe, Sania, Fitra Food (Ikan dan Seafood), Global Pratama (Daging); Lodge, Pawon Om Will and Organiser oleh Iluma Kreasi.

 

Untuk mendukung gerakan ini maka Maestro Culinary William Wongso, Praktisi dan Gastronomy Tourism Expert Vita Datau, serta Robert Manan – Tokoh Diaspora dan Restoran Owner mendukung dan mengawal gerakan Indonesia Spice Up The World sejak awal.

 

Santap makan malam ini merupakan rangkaian acara kuliner untuk menggandeng banyak pihak dalam mensosialisasikan Gerakan Indonesia Spice Up The World. Diseri perdana ini turut mengundang pimpinan pimpinan media terpilih. Direncanakan akan ada 3 seri di tahun ini; dan beberapa roadshow mancanegara dan training serta coaching bagi para pelaku diharapkan dapat dilaksanakan di tahun 2022 jika pandemi berlalu.

 

Passion mendapat kesempatan untuk mencicipi menu sang Maestro kuliner William Wongso Acara dimulai pada pukul 17.30 dengan menghadirkan 12 sajian dari hidangan pembuka hingga penutup. Acara dibuka oleh Ibu Vita Datau dari Indonesia Gastronomy Network dan selanjutnya dipimpin secara langsung oleh Sang Maestro Kuliner Indonesia, Chef William juga memperkenalkan program ‘Indonesia Spice Up the World’ yang bertujuan mempromosikan Kuliner Indonesia di pasar internasional dengan Bumbu Paste (Bumbu Siap pakai).

 

Makanan pembuka yang akan dihidangkan pada jamuan makan malam ini dihasilkan dari perpaduan bumbu bumbu paste siap pakai; bagaikan seorang pelukis yang berkreasi dengan aneka warna cat untuk menghasilkan karya indah . Diawali dengan menu Amuse Bouche, diikuti dengan hidangan utama yaitu Aneka Ratna Mutu Manikam, Flavors of Indonesia Archipelago. Menu Ratna Mutu Manikam ini mewakili beragam hidangan Indonesia. Sekali penyajian dapat dicicipi beragam makanan,' jelas Chef William. Selanjutnya dihidangkan Soup Seafood Arsik, Gulai Ikan Kerapu Bintang Roti Jala dan sajian unik Rawon Expresso yang disajikan di cangkir kecil kopi layaknya expresso, Barulah Chef William Wongso  menjelaskan: bahwa itu bukan kopi. Warnanya memang hitam karena bumbunya: ‘kluwek’. Untuk makanan penutup yaitu Tenderloin Nusantara yang cukup unik karena disajikan ala lidah masyarakat Indonesia yaitu Nasi kuning dari beras selingkuh, terong, sambal dan keripik. Untuk desert sekaligus penutup sajian malam itu, lidah kembali dimanjakan dengan kenikmatan Mochi Dua Rasa.

 

Pengalaman bersantap Maestro Kuliner Indonesia William Wongso dan Indonesia Gastronomy Network di Kitchen Aid ini tentunya dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang sedang berlaku dan melaksanakan tes antigen sebelum acara berlangsung.

 

Dalam jamuan malam, Sang Maestro Kuliner William Wongso berbagi pengalaman dan menjelaskan mengapa gerakan ‘Indonesia Spice Up the World’ ini menjadi penting dilakukan secara serentak dan bersama sama karena usaha Indonesia selama dalam mempopulerkan makanannya ke mancanegara mengalami banyak tantangan antara lain :

 

1. Jumlah Masyarakat Indonesia yang tinggal di Luar Negri (Diaspora Indonesia) yang tidak merata disetiap negara, dengan lokasi tinggal terpisah-pisah, menjadikan  komunitas fanatik tidak terbentuk kuat seperti Vietnam dan Thailand yang setia mendukung makanan dan produk lokalnya.

2. “The Problem of to many” menjadikan Indonesia sulit fokus untuk memilih makanan jagoan yang akan dipromosikan. Serta tidak konsistennya pasokan bumbu dan bahan untuk membuat makanan dari Indonesia.

3. Metode memasak yang panjang dan memakai banyak macam bahan terutama bumbu, menjadikan kesulitan sendiri bagi diaspora, restaurant Indonesia di Luar Negeri serta orang asing untuk belajar masak dengan cara tradisional dan mendapatkan rasa yang otentik.

 

Khusus hal ketiga menyebabkan  restoran Indonesia sulit berkembang dan bertahan. Karena diperlukan waktu panjang untuk mempersiapkan bumbu dari beberapa menu yang disajikan di restoran. Ketersediaan SDM menjadi tantangan lain dimana bila chef atau juru masak berhenti maka rasa masakan akan berubah dan pemilik perlu mendidik tenaga baru. Melihat tantangan tersebut maka banyak generasi penerus yang memilih bekerja secara profesional  dikantor daripada meneruskan usaha restoran milik orang tua.

 

Belajar dari masalah-masalah yang ada, dan menilik “best practice” di Asia antara lain China, Thailand, Vietnam maka kunci sukses mereka salah satunya adalah penggunaan Bumbu Paste (Bumbu Siap pakai)  antara lain China  Sezchuan hot pot Paste, duck black sauce,  Chili oil; lalu Thailand dengan Tom Yum Gong  Paste, Pa Thai, Green kari,  serta Vietnam dengan Kaldu Pho paste serta varian lain.

Di Indonesia sendiri metode ini sangat bisa digunakan karena produk yang sudah tersedia dipasar dan diekspor keberapa negara. Masakan Indonesia  sebagian besar menggunakan bumbu dasar Merah, Putih, Kuning. Bahkan ketersediaan  bumbu bumbu seperti Rendang, Sate, Gado-gado, Soto, Ayam Goreng, Nasi Kuning dan lainnya dapat mempermudah proses memasak. Hanya perlu mengubah cara pikir dan mau mempelajari pemakaian yang benar dan mengembangkan kreasi.

 

Keuntungan dari mendorong penggunaan Bumbu Paste adalah mendorong ekosistem gastronomi dari hulu hingga hilir yang artinya Pertanian, pengolahan bumbu, hingga distributornya semua teraktifasi untuk meningkatkan ekonomi negara.

 

Ini lah yang dilakukan oleh Thailand menggunakan slogan “Thai kitchen For the World” dan kemudian ditingkatkan mensertifikasi produk makanan dan Restoran terkurasi dalam Thai Select. Goal Gastronomi Diplomasi Thailand adalah memajukan industri pertaniannya dimana produk produk pertanian ditargetkan untuk merajai dunia. Dalam halnya strategi Thailand adalah menjadikan gastronomi sebagai media yang menghubungkan Pertanian dan Pariwisata. Restoran dikembangkan untuk menjadi outlet channel bagi produk pertanian Thailand seperti  bumbu, sambal, santan dan buah.  Keberhasilan yang dicapai membuat Thailand menjadi yang terbaik sampai saat ini dengan jumlah restoran yang mencapai puluhan ribu diseluruh dunia.

 

Thailand dinilai serius dalam melaksanakan program Diplomasi Gastronomi, dimana almarhum Raja Bhumibol menjadi komando tertinggi; sehingga pergantian Perdana Menteri tidak akan mempengaruhi pelaksanaan strategi ini.

 

Mengevaluasi usaha yang telah dilakukan selama ini maka  Indonesia perlu membuat  sebuah Roadmap dan strategi  yang tepat dan memberikan impact besar bagi ekonomi, membuka lapangan kerja sekaligus memperkenalkan destinasi wisata kuliner hingga  gastronomi. Roadmap yang dihasilkan harus melibatkan seluruh Kementerian dan Lembaga terkait dan unsur-unsur dipemangku kepentingan agar tidak lagi kerja sendiri sendiri.

 

Salah satu contoh yang dilakukan kemenpar di tahun 2018 adalah melakukan  Co Branding   Wonderful Indonesia 100 Restoran Indonesia Diaspora dibantu oleh Kementerian Luar Negeri. Hasilnya para pemilik restoran merasa senang karena  pemerintah hadir;  sampai saat ini restoran-restoran diaspora menjadi komunitas penting dalam ekosistem. Hubungan antar pemilik dilintas negara terpelihara dengan baik; bahkan Sydney telah memiliki asosiasi yaitu Indonesia Restaurant Association (IRA) yang mendapat dukungan penuh Konjen Sydney, kemudian menjadi mitra KJRI untuk gastronomi diplomasi dan promosi makanan Indonesia. Sayangnya keberadaan networking Wonderful Indonesia Restoran  yang sudah dibangun belum dimanfaatkan secara optimal oleh Kementerian  dan lembaga lainnya.

 

Indonesia Spice Up The World merupakan strategi yang tepat untuk percepatan pelestarian,  penyebaran luasan dan pengembangan dan promosi Kuliner Indonesia. Sekaligus menggerakan Industrinya dari hulu hingga hilir. Dalam hal ini nilai ekspor diharapkan bukan hanya dari komiditi rempah kering melainkan dari produk olahan berupa  bumbu siap pakai.

Bumbu Indonesia pasti dari Indonesia, diolah dari bahan bahan pilihan Indonesia; selain rasanya juga otentik. implementasinya juga mudah dan cepat.

Implementasi strategi akan masif dimulai dengan negara tujuan Australia yang memang lokasinya sangat dekat dengan Indonesia, komunitas Indonesia dan Restoran Indonesia terbanyak. Juga merupakan top 3 pasar wisatawan mancanegara. Lalu Afrika dengan alasan cara masak mereka bisa kita infuse dengan bumbu-bumbu Indonesia, dan mudah memperkenalkan cita rasa kita, karena rempah tidak asing bagi mereka. Konsumsi rumah tangga Afrika diprediksi akan mencapai 2,5 triliun dollar pada 2030. Hal ini menjadi peluang yang besar bagi industri, khususnya makan-minum untuk masuk ke pasar tersebut.

Sebagai kesimpulan gerakan ‘Indonesia Spice Up the World’ ini akan mempercepat globalisasi kuliner Indonesia, menghasilkan rasa standar yang otentik, memudahkan pengembangan restoran Indonesia di luar negeri, membuka peluang ekspor yang menarik ekosistem gastronomi bergerak dari hulu hingga hilir.

0
Feed