Studying Abroad

Dari beberapa perjalanannya ke luar negeri, Chef Rahmat Kusnedi, Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA), mendapati sebuah fakta menarik: di beberapa kampus pariwisata, jumlah mahasiswa Indonesia merupakan jumlah kedua terbesar setelah mahasiswa lokal. Untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam dan luar negeri, berikut penuturan dari CRK

Mengapa banyak mahasiswa Indonesia lebih suka belajar ke luar negeri?


Saya melihat fenomena ini mirip dengan apa yang terjadi di industri hotel, banyak orang Indonesia menganggap di luar lebih menjanjikan. Padahal, jika kita bicara fakta secara ekonomi, justru Asia saat ini lebih menjanjikan daripada Eropa.Tidak bisa dipungkiri, orang Indonesia yang mampu kuliah di luar negeri, terutama di Eropa, hanyalah segelintir orang kaya. Yang terjadi adalah, brand-brand sekolah kuliner di Eropa saat ini justru sedang mengalami kesulitan karena mereka kurang memperhitungkan satu hal. Banyak brand-brand tersebut yang membuka cabang di beberapa negara Asia, sehingga orang Indonesia merasa, untuk apa jauh-jauh kuliah ke Eropa, jika bisa ke sekolah dengan brand yang sama, katakanlah, di Malaysia?Harus diakui, biaya pendidikan di Prancis itu mahal sekali, bahkan orang Eropa pun merasa demikian. Tidak hanya orang Indonesia, orang Eropa ini juga akhirnya memilih untuk bersekolah di negara Asia karena biaya hidup yang lebih murah. Sebagai contoh, jika Anda harus menghabiskan Rp 400 juta untuk bersekolah di Prancis, mungkin di sekolah yang sama di Asia, Anda hanya butuh sekitar Rp 200 juta. Pada akhirnya, banyak sekolah di Eropa yang pelajarnya berkurang, hingga mengalami kesulitan ekonomi. 


Lalu, ada masalah apa dengan sekolah-sekolah di dalam negeri?


Di Indonesia, sayangnya biaya kampus yang bagus juga tidak murah. Jika harganya mendekati sekolah di luar, banyak yang lebih suka untuk mengambil opsi tersebut. Tentu saja, harga bukan satu-satunya faktor penentu, ada faktor lain yang menjadi pertimbangan, yaitu kurikulum dan pengajar.Persyaratan akademis seringkali menghambat seorang praktisioner kuliner untuk menjadi pengajar di Indonesia, sementara banyak sekolah di luar yang tidak terlalu fokus pada hal tersebut. Sebagai contoh, berapa banyak chef yang memiliki latar belakang pendidikan hingga S2, atau S1 sajalah? Rata-rata hanya sebatas diploma, sementara untuk mengajar di jenjang akademisi (S1), minimal pendidikan yang dibutuhkan adalah S2. Sebetulnya ini adalah tugas pemerintah untuk menyatukan visi yang berbeda ini.Namun, belakangan ini, semua kampus baru selalu memiliki fakultas pariwisata. Coba saja Anda perhatikan, mulai dari Universitas Bunda Mulia, Podomoro, Pelita Harapan, hingga Swiss German University. Dulu fakultas pariwisata mungkin hanya tersedia di beberapa kampus, seperti Trisakit, Sahid, atau Unas. Artinya? Pariwisata merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, apalagi Presiden Jokowi berencana mengembangkan 10 “Bali baru”.


Seberapa penting sekolah di kampus “mahal” bagi karir seseorang?


Saya pernah bertanya ke salah satu universitas terkemuka di Malaysia soal biaya kuliah. Dalam setahun, kira-kira biaya yang dihabiskan adalah Rp 200 juta. Jika Anda kuliah selama 4 tahun, ditambah biaya hidup, kira-kira Anda butuh Rp 1 Miliar, biayanya gila-gilaan! Bagi saya, biaya tersebut cukup membuat para orang tua untuk mengencangkan ikat pinggang. Sementara, gaji seorang fresh graduate di Indonesia hanya sekitar Rp 4-5 juta. Pada akhirnya, saya melihat banyak orang lebih menganggap sekolah di luar dari sisi pridenya saja, bukan kualitas.Jika bicara kualitas, saya percaya bahwa banyak universitas lokal juga mulai memiliki standar yang baik. Tentu saja, untuk mencegah orang Indonesia kuliah ke luar negeri, universitas dalam negeri harus bisa menyediakan fasilitas yang kurang lebih sama. Namun kembali lagi, saya percaya fakultas pariwisata adalah salah satu bidang yang paling menjanjikan saat ini. Selama Anda memiliki skill yang dibutuhkan, ada banyak pekerjaan, baik di hotel, restoran, hingga bisnis online.

0 0
Feed