Startup Syndrome

Chances are, if you’re living in Jakarta, you’ve already installed one of the 2 major digital payment apps, Gopay and OVO, if not more. Judging from the ridiculous amount of promotion available, you’d be a fool not to use any one of those apps. While the apps provide platform for new startups, Chef Rahmat Kusnedi always warn us about the risk ahead.


How do you see the new startups phenomenon because of digital payment platform?


Startup is definitely a tempting business because it was supported by a very accessible facility. Thanks o the digital payment apps, to start a business, you just need to register, become a member, and then you can reach your customers. Even my children can easily order food online.


It can be both positive and negative beginning. The positive aspect, of course it encourages people to gather courage to open their own business, because one of the scariest thing is the marketing. Let say your wife is very good at making pastel, but the product is only popular within the neighborhood, and you’d be wondering where to sell the products. If you want offline store, there’s no guarantee that people will come. At the end, those with great potentials are selling the products merely by order. With digital payment apps, if you can make good products, you can register at GrabFood or Go-Food, then you can manage lot of things to accelerate your growth.


How about the negatives?


Our culture tend to accustomed toward trying new stuffs, and it becomes saturated very quickly. On the other hand, for government, it’s a loss opportunity since we haven’t make any regulations for online transaction. Imagine if you can sell 2.000 pastels per day with Rp 10 million per day, you can make Rp 300 million a month, meanwhile the other established pastel brand which was registered as corporation and give tax contribution might have less income because of the new players.


Are there any attempts from the government to regulate these online transactions?


Let alone online tax, for the tax of informal restaurants, such as warteg, hasn’t been properly regulated. If you know, a famous simple meatball joint might have more income than your average Padang restaurants.Another thing to look out for, is that the online market is filled promotions that are very spoiling for customers. As a result, we have many startups who are willing to invest much, from renting new places or making production kitchen. Without you realize it, people who did the same thing is not just 1-2, but thousands. Imagine if the industry reach its saturated point, or when the trend suddenly change, what will you do with those investments?


Or perhaps the companies will pull out the promotion, like what happened in airline industry?


Correct. Therefore, the transactions in digital payment apps haven’t been taxed. Even though in terms of cashflow they’re still bleeding, Gojek’s valuation has reached Rp 75 trillions, amazing! But you also need to know, behind all of that, how much money they burned to subsidize. For big investors, it’s as if the battle of capital, it’s an unfortunate thing for the smaller player.


After the apps become so big, they have many users, and customers have been addicted, it’s very likely they will take out the promotion, we can even have paid listing. As a result, the online price will escalate, because in the end, people need to pay tax, will the customers stay loyal? These apps are hype nowadays after last year we had the celebrity cake trend, somehow, these kinds of things don’t last long.


So, how do we anticipate it as entrepreneurs?


Don’t be too spoiled with the wonder of apps, however, you need to put conventional business into consideration. Conventional business has physical showroom, you’d better make this sort of investment to strengthen the brand, except for the service based business. We have many things to set, from regulation, law enforcement, we need to have clear rules.


Basically, all businesses that rise very quickly, will have swift downfall. We already have many examples for this. Business that’s build with proper calculation is like making staircase, one by one, so you can go up slowly. No matter what business, you will have some declines, it’s inevitable, but it can be anticipated.



====================================================================================================================================


Jika Anda tinggal di Jakarta, kemungkinan besar Anda sudah menginstal salah satu dari 2 aplikasi pembayaran digital terbesar, Gopay dan OVO, atau mungkin lebih. Dilihat dari banyaknya jumlah potongan harga yang terkadang tidak masuk akal, Anda akan merasa bodoh jika tidak menggunakan DEEP LOOKpassionmedia.co.id67aplikasi-aplikasi tersebut. Meski aplikasi semacam ini dapat memberikan platform untuk para pemain baru, Chef Rahmat Kusnedi selalu mengingatkan kita akan resiko di masa depan.


Apa pandangan Anda terhadap fenomena startup yang muncul berkat platform pembayaran digital?


Startup ini bisnis yang menggiurkan karena ditunjang oleh fasilitas yang memudahkan. Berkat timbulnya aplikasi pembayaran digital, untuk berjualan, Anda cukup registrasi, menjadi member, lalu Anda bisa dijangkau semua orang. Bahkan, anak saya saja bisa dengan mudah memesan makanan secara online.


Ini merupakan permulaan yang bisa menjadi positif atau negatif. Positifnya, tentu saja ini mendorong orang untuk berani memulai usaha, karena salah satu hal yang paling ditakuti para pemula adalah marketing. Misalkan istri Anda bisa membuat pastel yang sangat enak, namun hanya dikenal sebatas lingkungan RT, tentu Anda akan bingung harus menjual produk ke mana. Jika Anda mau buka secara tempat sendiri, belum tentu ada yang datang. Akhirnya mereka yang memiliki potensi hanya berjualan sekadar melalui menerima pesanan saja. Dengan aplikasi pembayaran digital, jika Anda bisa membuat produk yang enak, Anda bisa daftar di GrabFood atau Go-Food, kemudian Anda bisa mengolah banyak hal yang bisa mendorong percepatan usaha Anda.


Lalu negatifnya?


Budaya masyarakat kita ini kebanyakan hanya ingin mencoba saja, sehingga cepat merasa jenuh. Di sisi lain, bagi pemerintah, tentu pemasukkan mereka akan berkurang karena belum ada regulasi untuk transaksi online. Bayangkan saja jika Anda bisa menjual pastel sehari sebanyak 2.000 pcs dengan omset Rp 10 juta sehari, sebulan Anda bisa mendapat Rp 300 juta, sementara pastel lain yang sudah terdaftar sebagai PT yang memberi kontribusi pajak mungkin akan berkurang pendapatannya karena banyak pemain online baru.


Apakah belum ada usaha pemerintah untuk mengatur pajak transaksi online ini?


Jangankan mengurus pajak online, untuk pajak warteg dan warung informal saja belum selesai. Padahal jika Anda tahu, sebuah brand warung bakso yang terkenal mungkin omsetnya bisa melebihi restoran Padang.


Lalu hal lain yang juga harus diwaspadai, situasi online market yang dipenuhi dengan diskon dapat membuat orang terlena. Akhirnya, banyak startup yang berani langsung berinvestasi, mulai dari sewa tempat atau membuat dapur produksi. Tanpa disadari, yang melakukan hal tersebut bukan hanya 1-2 orang, tetapi ribuan. Bayangkan jika industri ini mencapai titik jenuh atau ketika tren berubah, apa yang akan Anda lakukan dengan investasi tersebut?


Atau mungkin suatu saat nanti potongan harga akan dicabut, seperti yang terjadi pada industri penerbangan?


Betul. Oleh sebab itu, sekarang aplikasi pembayaran digital ini belum terbeban pajak. Meski secara cashflow masih bleeding, valuasi Gojek saja sudah mencapai Rp 75 triliun, luar biasa! Namun Anda juga harus tahu, dibalik semua itu, berapa banyak dana yang sudah mereka keluarkan untuk subsidi. Bagi investor besar, mereka seolah adu kuat modal, sementara kasihan pemain kecil yang tumbang.


Setelah aplikasi tersebut besar, pengguna sudah banyak dan pelanggan sudah kecanduan, besar kemungkinan subsidi promo akan dicabut, atau listing di aplikasi akan menjadi berbayar. Akibatnya harga jual online akan menjadi tinggi karena suatu saat nanti mereka juga harus membayar pajak, apakah pelanggan masih akan setia? Aplikasi semacam ini sedang hype, setelah tahun lalu kita mengenal yang namanya cake selebriti, namun hal-hal semacam ini biasanya tidak lama.


Apa langkah antisipasi yang harus dilakukan pengusaha?


Jangan terlalu terbuai ama indahnya aplikasi, bagaimanapun juga, konvensional harus diperhitungkan. Bisnis konvensional memiliki showroom fisik, sebaiknya Anda melakukan investasi semacam itu untuk memperkuat brand, kecuali bisnis yang sifatnya jasa. Ada banyak hal yang harus ditata, mulai dari regulasi, payung hukum, harus diatur dengan jelas.Pada prinsipnya, semua bisnis yang naiknya terlalu cepat, turunnya akan juga akan menukik. Ada banyak contoh soal kasus ini. Bisnis yang menggunakan perhitungan cermat seperti membuat anak tangga sehingga naiknya bertahap. Usaha apa pun pasti akan mengalami penurunan, ini tidak bisa dihindari, namun hal ini bisa diantisipasi.

0 0
Feed