Slowing Down Market

Most of F&B practioners complained about the slowing down of economy for the past few years. On the other hand, some optimists see this kind of pessimism happens all the time. Instead of choosing between optimism or pessimism, we choose to be a realist. We met Chef Rahmat Kusnedi to understand what’s actually happening in the market, from the cause, current situation, to how to deal with it.


The weakened purchasing power is merely pessimism of industry’s practioners, or is it the fact?


It’s a fact. Especially in the middle of fluctuating currency like we have nowadays. Imagine, 2 years ago, butter was priced around Rp 1.900.000 – Rp 2.300.00 per carton (25 kg), now it can reach up to Rp2.900.000. If bakeries could sell a piece of bread for Rp 8.000, now it’s Rp 11.000. If you have to eat 2 pieces of bread, I guess most people will opt for nasi Padang. People think foods are getting more expensive, if they eat out 3 times a week in restaurants, probably now they just do it once a week.

It all began from the scarcity of ingredients that was caused by government’s policy. I understand, government has good will, to protect local farmers, but the problem is, the policy was applied before the farmers were ready to produce. For example, we restrict imported pineapple, the local ones are given incentives, tax free, but actually, our local producers weren’t ready yet, as a result, the price escalated.

How does it affect F&B industry?

Decreasing buying power, but I guess it’s not because we don’t have money, I see it more as distribution. If people used to buy cakes in cake shops, now we have online home industries coming up, they disrupt the big companies. Many of these home industries specifically produce 1 type of product so they have higher cost efficiency, let say they only produce donut or cupcakes, then they work together with companies such as GoFood and GrabFood. It also happens in retail and electronic industries. If the big players used to monopolize the market, now the market is more distributed.

Of course, we have some parties that benefit from the current phenomenon. Most home industries wouldn’t order directly to distributors due to their small demand, therefore, they prefer to buy ingredients from the local baking stores. Of course, the owners of these baking stores would say, “who says the business is declining? We are continuously growing.”

So, the slowing down that was felt by practitioners isn’t caused buy the economy, because, if you look at our inflation rate, it’s stable. It’s just our currency is fluctuating, and it affects industries which rely heavily on imported ingredients, such as packaging and F&B.

So, how should we deal with it?

You have to keep customer’s trust, don’t disappoint them, and engage with them. Most of practitioners are faced with 2 options: looking for cheaper substitute ingredients, or downsize the product, both have their own risks.

If you go with substitution, it has to make sense. If you’re used to using grade 8 wagyu, don’t replace it with local beef, instead, use grade 4. If you do downsizing with the same price, customers will think you’re cheating. Downsizing hurts customers more, because humans tend to rely more visually, meanwhile if you substitute some ingredients, not everyone will notice.

There are some things you can do: launching new products and work together with banks to create sales promotion. If you don’t want to risk for the sake of consistency, launch new products with new theme. For example, if you’re selling chocolate donuts, make some hazelnut or mocha donuts, anything with lower cost. For second opetion, at the moment banks are loaded with cash, but no one wants to borrow from them due to economy’s slowing down. As a result, they often create credit card promotion. You can take advantage of this situation.

Last one, you need to maintain your relationship with customers to retain their loyalty. Don’t see them merely as your money maker, treat them like family, talk to them, give them understanding of the current situation. In the end, your engagement with customers will be a strong support in your business. At the time, the most important thing is to keep the customers in the right direction and keep their trust in us.

According to you, how long the slowing down will last?

No matter what, business is closely related to the current political situation. Don’t forget, 2019 is a political year. It might not be true, but some investors I knew said that President Jokowi tends to side to most commoners by giving many incentives, meanwhile the private sectors were suffering from the continuously rising minimum wage. Not to mention the trade war between America and China, when 2 giants collide, other countries will also suffer.

I guess the 2019’s presidential election is a defining moment. If it goes well, the economy will be fine, vice versa. However, don’t let these things stop you from starting. We have to keep the optimism, it’s just we have to be more extra careful and prepare for alternatives for anticipation because business is not determined by assumptions.

==================================================================================================================================================


Sebagian besar pelaku industri F&B mengeluhkan perlambatan ekonomi yang tengah terjadi beberapa tahun belakangan ini. Di sisi lain, beberapa orang yang optimis menganggap pesimisme semacam ini selalu terjadi dari dulu. Daripada terjebak antara optimisme dan pesimisme, kami memilih untuk menjadi realistis. Kami menemui Chef Rahmat Kusnedi untuk mengetahui realita yang terjadi di lapangan, mulai dari penyebab, situasi pasar, hingga caramenyiasati kondisi saat ini.



Penurunan daya beli ini merupakan pesimisme pelaku semata atau memang fakta di lapangan?

Ini fakta. Terutama dengan nilai tukar rupiah terhadap rupiah yang fluktuatif seperti saat ini. Bayangkan saja, 2 tahun lalu harga butter sekitar Rp 1.900.000 – Rp 2.300.00 per karton (25 kg), sekarang harganya bisa mencapai Rp 2.900.000. Jika dulu bakery bisa menjual sepotong roti dengan harga Rp 8.000, sekarang bisa menjad RP 11.000. Jika harus makan 2 potong, kebanyakan orang mungkin akan lebih memilih makan nasi Padang. Orang berpikir makanan menjadi serba mahal, sehingga jika dulu mereka bisa makan di resto 3 kali seminggu, sekarang mungkin hanya sekali.

Semua bermula dari kesulitan bahan baku yang bermuara dari kebijakan pemerintah. Saya mengerti, pemerintah memiliki tujuan baik, untuk membentengi petani lokal, tapi masalahnya kebijakan proteksi ini diterapkan sebelum para petani siap memproduksi. Contohnya saja nanas dilarang impor, produk lokal bahkan diberikan stimulus, tidak dikenakan pajak, namun ternyata produsen lokal kita belum siap, akibatnya harga melonjak.

Apa dampak langsungnya pada industri F&B?

Daya beli berkurang, namun saya melihatnya ini bukan karena kita tidak punya uang, saya lebih melihatnya sebagai pemerataan. Jika dulu orang beli kue ke toko kue, sekarang banyak usaha online rumahan berjamuran, ini yang mengikis perusahaan-perusahaan besar. Banyak pengusaha UMKM ini yang spesifik memproduksi 1 produk saja sehingga biayanya lebih efisien, contohnya saja donat atau cupcake, lalu mereka bekerja sama dengan perusahaan seperti GoFood dan GrabFood. Ini juga terjadi di industri retail dan elektronik. Jika dulu ada beberapa pemain besar yang memonopoli pasar, sekarang pasar lebih terdistribusi.

Tentu saja, ada beberapa pihak yang diuntungkan dari fenomena ini. Pengusaha rumahan kebanyakan tidak memesan langsung ke distributor karena jumlah pemesanannya lebih sedikit, sehingga mereka lebih memilih beli di toko bahan kue. Tentu saja pemilik-pemilik toko bahan kue berkata, “siapa bilang bisnis sedang turun? Buktinya kami semakin ramai.”

Jadi, kelesuan yang dikeluhkan banyak pelaku ini belum tentu disebabkan karena ekonomi kita yang melemah, karena jika Anda perhatikan, tingkat inflasi kita masih stabil. Hanya saja nilai tukar rupiah kita memang tidak stabil, sehingga industri yang bergantung pada produk impor seperti packaging dan F&B terkena dampaknya.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini?

Anda harus menjaga kepercayaan pelanggan, jangan mengecewakan pelanggan, dan menjaga relasi dengan mereka. Pelaku industri memiliki 2 pilihan: mencari bahan substitusi yang lebih murah untuk menurunkan cost, atau melakukan downsize, keduanya memiliki resiko masing-masing.

Jika Anda mau melakukan substitusi, penggantinya harus masuk akal. Jika biasanya Anda menggunakan daging wagyu grade 8, jangan menggantinya dengan daging lokal, mungkin wagyu grade 4 lebih bijak. Jika Anda melakukan downsize sementara harganya tetap sama, pelanggan berpikir Anda curang. Downsize lebih menyakitkan bagi pelanggan karena manusia lebih cepat bereaksi pada visual, sementara jika Anda melakukan substitusi, tidak semua pelanggan bisa merasakannya.

Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan yaitu meluncurkan produk baru dan bekerja sama dengan bank untuk membuat promosi. Jika Anda tidak mau mengambil resiko demi menjaga konsistensi produk, luncurkanlah produk baru dengan tema yang berbeda. Misalnya, jika selama ini Anda menjual donat cokelat, buatlah donat hazelnut atau moka yang costnya lebih rendah. Lalu untuk opsi kedua, saat ini bank sedang memiliki banyak uang, namun tidak ada yang mau pinjam uang akibat perlambatan ekonomi. Akhirnya, mereka sering mengadakan promo kartu kredit. Anda bisa memanfaatkan hal ini.

Terakhir, Anda juga harus pandai menjaga relasi dengan pelanggan untuk menjaga kesetiaan mereka. Jangan hanya menganggap mereka sebagai lumbung pendapatan Anda, jadikan mereka seperti keluarga, ajak mereka bicara, beri mereka pengertian mengenai kondisi yang terjadi. Kedekatan Anda dengan pelangganlah yang akan menopang Anda dengan kuat dalam berbisnis. Saat ini yang terpenting adalah menjaga supaya pelanggan tetap berada di jalur yang benar dan tetap mempercayai kita.

Menurut Anda, perlambatan ini akan berlangsung sampai kapan?

Bagaimanapun juga bisnis ini sedikit banyak terkait dengan suhu politik. Jangan lupa, 2019 adalah tahun politik. Ini belum tentu benar, namun beberapa investor yang saya tahu berpendapat bahwa Presiden Jokowi cenderung lebih berpihak pada rakyat kecil dengan memberikan banyak stimulus, sementara sektor swasta agak dirugikan dengan UMR yang selalu meningkat. Belum lagi jika kita bicara dengan perang dagang antara Amerika dan Cina, ketika 2 raksasa dunia berseteru, tentu negara-negara lain akan terkena imbasnya.

Menurut saya, pemilihan pilpres 2019 adalah penentuan. Jika berjalan mulus, ekonomi akan berjalan baik, begitu pula sebaliknya. Namun, jangan biarkan hal ini menghentikan Anda untuk memulai usaha. Kita harus tetap optimis, hanya saja harus lebih berhati-hati dan menyiapkan alternatif untuk antisipasi karena bisnis tidak bisa ditentukan dengan asumsi.



0 0
Feed