Sharing Happiness Through Pastry

Since its inception in 2014, Nomz Kitchen & Pastry has set a new standard for restaurants in Jakarta. Some part of the buzz was the fact that it was owned by Chef Arnold Poernomo, a young handsome chef who also happens to be one of MasterChef Indonesia’s judge. However, we also believe that the pastry division contributed an important role to Nomz’s success. Back then, we were quite surprised to know that the pastry kitchen was headed by a young, talented woman, Kim Pangestu. Finally, we had the chance to interview Nomz’s Pastry Chef to know more about her background, her dreams, and her role as a woman in the kitchen of a restaurant.


How did you get introduced into the world of pastry?

I have a mother who really loves to cook. One night, she baked a cake and I was so excited to see the process. I saw her mixing the flour, sugar, egg, and other ingredients, then put it into oven, and suddenly when it was out, it gave a very nice, pleasant aroma. When I ate it, it was warm, soft, very delicious, I was ecstatic! It brought comfort to me. I decided that I want to bake and make desserts for other people so they will feel the same happiness feeling I felt like that night.


As a Le Cordon Bleu Sydney graduate, what’s the most important lesson you got there?

In Le Cordon Bleu, I learned a lot about European pastry. I learned how to make cakes form various countries, and it really broadened my horizon. The teachers in Le Cordon Bleu came from various countries, I learned many techniques from them. To me, formal education is crucial as it will be a guide when we start out career as a chef. Perhaps not all of the techniques will be applied, but at least you understand the basics of pastry making.


What’s your dream as a Pastry Chef?

I want to expand my dessert catering business, and in the future I want to have my own pastry school. I want to share my knowledge to future pastry chefs in Indonesia.


How do you describe your pastry style?

My background is mostly resolved around very fine plated desserts, but I also really love chocolate and cakes. My style is about innovation, always try to make something unique and new.


I heard you opened you own business Kimmy Patisserie, would you share a bit about that?

When I returned to Jakarta, I have no idea how start my career in Indonesia. I turned my room into small kitchen. In the beginning, I sold eclairs online while learning about the Indonesian style and market. I worked alone and start everything from zero.


Then, how did you join Nomz?

Because Kimmy Patisserie, my name was started to be recognized and I got the offer to open Nomz along with Chef Arnold Poernomo and some other owners. The concept is about making comfort desserts. I was given the freedom to create anything I’d like, something innovative and creative.


I heard you were an assistant to chocolatier Kirsten Tibballs, how do you compare the chocolate business here with Australia?

In Australia, we mostly use couverture chocolate. In Indonesia, I see that mostly people use compound. For pastry products such as mousse, most of the times I use couverture, but for decoration I use compound. The use of couverture will give a more pronounced chocolate flavor, but I deliberately chose compound for decoration because of our rather hot and humid climate, compound is more resilient in that situation.


How did you see the role of woman in F&B kitchen? What’s the biggest advantage and disadvantage of being a woman in the industry?

To me, being a female chef is very interesting. I know that the  job is quite tiresome and we have to do some heavy lifting. However, if becoming a chef is our passion, I guess they’re all worth it. We just need to be smart in managing time.

I really love to be in a team with men. I never see it as competition, nor a problem, because both male and female chefs have their own strengths and weaknesses. As long as we can communicate properly, we can complement each other in the kitchen and become a very strong team.

As women, one of our advantages is that we can grow strong both mentally and physically, and we’re more organized. However, the disadvantage is that sometimes we need to work long hours and we have to sacrifice our time with family and loved ones. Sometimes the job is also very physically demanding because of the heavy workload.


Among numerous tasks in the kitchen, which one is your most favorites? And what’s the one you don’t enjoy?

I love creating new recipes the most, that’s what I’m always looking forward to whenever I’m in the kitchen. I like to express the ideas in my head. I don’t really enjoy making promotion, perhaps because I’m not a marketing person, I’m more to the creative person. I prefer if I have a team that works on the promotion.


If tomorrow is the apocalypse, and you have a chance to dine in any restuarants in the world, where would it be?

I’ll take (Jimbocho) Den, Tokyo.

==============================================================================================================================================================================


Sejak berdiri pada 2014, Nomz Kitchen & Pastry seolah menjadi standar baru untuk restoran di Jakarta. Beberapa kalangan menganggap sensasi Nomz diciptakan oleh fakta bahwa resto ini dimiliki oleh Chef Arnold Poernomo, chef muda dan tampan yang juga menjadi salah satu juri MasterChef Indonesia. Namun, kami juga percaya bahwa divisi pastry sangat berkontribusi pada kesuksesan Nomz. Dulu, kami cukup terkejut setelah mengetahui bahwa dapur pastry Nomz dikepalai oleh chef wanita muda berbakat, Kim Pangestu. Akhirnya, kami mendapat kesempatan untuk melakukan interview dengan Pastry Chef Nomz untuk mengetahui lebih dalam mengenai latar belakang, cita-citanya, hingga perannya sebagai wanita di dapur sebuah restoran.


Bagaimana cerita Anda berkenalan dengan dunia pastry?

Saya punya seorang ibu yg hobi memasak. Suatu malam dia memanggang kue dan saya sangat excited melihat prosesnya. Saya lihat dia mencampur tepung, gula, telur dan bahan lain-lain, lalu memasukannya ke dalam oven dan tiba-tiba kuenya matang, menimbulkan aroma yang sangat harum. Waktu saya makan, kuenya hangat, lembut dan sangat enak, saya senang sekali! It brought comfort to me. Saya memutuskan bahwa saya ingin membuat dessert agar orang lain dapat merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan malam itu.


Sebagai seorang lulusan Le Cordon Bleu Sidney, apa pelajaran paling berharga yang Anda dapat dari sana?

Di Le Cordon Bleu saya belajar banyak tentang European pastry. Saya belajar kue-kue dari negara lain dan itu yg membuat pengetahuan saya jadi sangat luas. Guru-guru di Le Cordon Bleu berasal dari beragam negara, saya mempelajari teknik yang sangat banyak dari mereka. Bagi saya, pendidikan formal sangat penting karena itu akan jadi pegangan sewaktu kita memulai karir sebagai chef. Mungkin tidak semua teknik akan terpakai, tetapi kita jadi mengerti soal bahan dan cara-cara dasar membuat kue.


Apa cita-cita Anda sebagai seorang Pastry Chef?

Saya ingin mengembangkan bisnis dessert catering saya, dan kedepannya saya juga ingin memiliki sekolah pastry. Saya ingin bisa membagikan ilmu-ilmu saya kepada pastry chef masa depan di Indonesia.


Bagaimana Anda menjelaskan style pastry Anda?

Background saya kebanyakan very fine plated desserts, tetapi saya juga suka sekali cokelat dan cakes. Style saya ada inovasi, selalu berkarya dan mencoba sesuatu yang unik dan baru.


Saya dengar Anda pernah membuka Kimmy Patisserie, bisa diceritakan sedikit soal latar belakangnya?

Sewaktu saya pulang ke Jakarta, saya masih bingung bagaimana memulai karir di Indonesia. Saya mengubah salah satu kamar saya menjadikannya dapur kecil-kecilan. Awalnya, saya menjual eclairs online sambil mempelajari style dan market orang Indonesia. Saya bekerja sendirian dan memulai segalanya dari nol.


Lalu, bagaimana Anda bisa bergabung dengan Nomz?

Karena Kimmy Patisserie, nama saya mulai dikenal dan saya mendapat tawaran untuk membuka Nomz bersama Chef Arnold Poernomo dan beberapa owner lainnya. Konsepnya adalah membuat comfort desserts. Saya diberi kebebasan untuk membuat apa aja yg saya inginkan, sesuatu yang inovatif dan kreatif .


Saya dengar Anda sempat menjadi asisten chocolatier Kirsten Tibballs, bagaimana Anda membandingkan bisnis cokelat di sini dengan di Australia?

Di Australia kami banyak memakai cokelat couverture. Untuk di Indonesia, saya lihat kebanyakan masih menggunakan compound. Untuk produk pastry seperti mousse, saya kebanyakan menggunakan couverture, tetapi untuk hiasan saya memakai compound. Penggunaan couverture akan membuat rasa cokelat lebih dominan, namun saya sengaja memilih compound untuk dekorasi di atas kue karena iklim di Indonesia yang cenderung panas dan lembab, cokelat compound tidak gampang meleleh di situasi tersebut.


Bagaimana Anda melihat peran wanita di dapur F&B? Apa keuntungan dan kerugian terbesar sebagai seorang wanita di industri ini?

Menurut saya menjadi seorang chef wanita di dapur sangat menarik. Memang terkadang pekerjaan ini sangat melelehkan dan kita harus mengangkat barang-barang berat. Tetapi, jika menjadi chef adalah passion kita, menurut saya semuanya itu worth it. Kita juga harus pandai membagi waktu saja.

Saya suka sekali beekerja satu tim dengan pria. Saya tidak memandang hal tersebut sebagai kompetisi atau masalah, karena baik chef wanita atau pria memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Asalkan kita mampu berkomunikasi dengan benar, kita bisa saling melengkapi satu sama lain di dapur dan menjadi tim yang sangat kuat.

Sebagai wanita, salah satu keuntungan kami adalah dapat menjadi kuat baik secara mental maupun fisik, dan lebih teratur. Kerugiannya, kadang kami harus bekerja long hours sehingga kami harus mengorbankan waktu bersama keluarga dan orang-orang yang kita cintai. Terkadang juga pekerjaan ini sangat melelahkan karena beban kerja yang sangat berat.


Dari sekian banyak tugas di dapur, mana yang paling menjadi favorit Anda? Lalu apa yang paling Anda tidak sukai?

Saya paling suka membuat resep baru, itu yang saya selalu nantikan setiap kali saya berada di dapur. Saya ingin mengekspresikan ide-ide yang ada di kepala saya. Saya paling tidak suka membuat promosi, mungkin karena saya bukan orang marketing, saya lebih ke bagian kreatif. Saya lebih suka jika saya mempunyai tim yang mengerjakan bagian promosinya.


Jika besok kiamat dan Anda memiliki kesempatan untuk dinner di resto manapun di dunia ini, Anda akan memilih dinner di mana?

Saya akan memilih (Jimbocho) Den, Tokyo.



NOMZ KITCHEN & PASTRY
Grand Indonesia East Mall Ground floor 06-07, Jln. MH.Thamrin No.1, Jakarta 10310
Phone: +6221 2358 1211, www.nomzjakarta.com

0 0
Feed