Retirement Planning

In some occasions, Chef Rahmat Kusnedi  (CRK), the President of Indonesia  Pastry Alliance (IPA), always stress the  limited working time of the professionals  in the kitchen. For most chefs, retiring  is a nightmare as the big incom they  always get each month vanish into thin  air, meanwhile the living cost is escalating.  Judging from his peers’ experience,  CRK recommends all chefs to prepare activities outside their working place that  can support them when they have retired.


How many years do the chefs actually have in the industry?


The retirement age for women is 50,  meanwhile it’s 55 for men. At most, the  contract can be extended for 5 years, but  it’s based on contract, not permanent, it’s  also for very specific position and people.  If we assume a vocational school graduate  who finished his training start his career in 20, actually we only have 30-35 years,  it’s relatively short. Actually, if I were still  working in hotel, I only have 5 years left. Evertything has its own times. Our  productivity is the highest i 20-30, it’s  time to get knowledge and income as  much as possible. Meanwhile, in 30-40,  we start to be in comfort zone, but we have to good in finding opportunities. I  can say that you may eat anything as you  wish in 20-30, but when you’re in 30-40,  you have to be more selective, perhaps  you have high uric acid, high cholesterol  level or high blood pressure.


Why do the kitchen professionals have to start planning activities outside the workplace?

Don’t assume that everyone in the kitchen will retire as Executive Chef. The same with military, some retire as general, some as corporal, sergeant, lieutenant, colonel. For the mid level position, mathematically speaking, they will have hard time when they retire.

I’ll give you the illustration, an Executive Chef in 5 star hotel, may get Rp 500 million pension money, at most. Meanwhile, for supervisors it can be Rp 160 – 300 million. Many people that’s quite large sum of money, however, if we assume the minimum monthly living cost is Rp 5 million, with Rp 300 million, he can merely lives for 5 years.


When should we start thinking about the issue?

I’ve been thinking about it since 35, I planned to retire in 40, if possible. Therefore, I started to look for other activities, I started to give lecture in 36, I built networking and my dream to make association. I already knew what will I do when I retire.

Of course, as an ex Executive Pastry Chef, you can spare times, how about those whose positions below you?


You can, absolutely. The point is, everything is manageable, in a sense that, any position can do it, if you have the willingness. I understand, one of the biggest challenge in the kitchen is the time management, but I’ve been a chef in various 5 star hotels, and I always managed to spare some vacant times.

Everyone has the same 2 days off in a week. The hardest challenge in moving on actually comes from ourselves. That’s why, I always encourage every chef I know to pursue highereducation, or having another activities outside workplace, not just to find more opportunities, it’s more to perfecting our personal character.

What are the opportunities for retired kitchen professionals?


In general, there are 3: starting your own business, becoming consultant, or teaching. For starting a business, don’t force it to be ideal, choose the one that’s make sense and within your capacity. Actually, there are many unthinkable opportunities, but they are very prospective, even if it’s beyond your scope of work. You have to bear it in your mind.


Once, I had a colleague in laundry division who built a soto ayam restaurant because his wife is very good in making the menu. After bringing some sample, it’s actually quite something, I recommend him to focus on selling soto ayam and some fried foods, that’s it. The sales grew from 50 portion a day, up to hundreds.

Your business doesn’t have to be about F&B. Another colleague of mine was a steward, a dish washer, but he’s quite smart. He collected the hotel’s service charge to buy some land near train station. Initially, he wanted to build a boarding house, but he realized an opportunity to build parking spot for motorcycle and car for commuters who work in Jakarta. Finally, his income from his business far exceeds his main job. He has no problem of working as dish washer in hotel with Rp 4 million salary/month, but from his parking business, he earned Rp 2 million/day.

For other professions such as consultant and lecturer, you need time. For consultant, you should at least start 10 years prior to retiring. Perhaps it’s just by helping a friend to build a restaurant, you might not get anything from it, but after keep doing it for years and making some success stories, he can start to set proper fee for his reputation.
 

The last one,teaching is a good one. In addition to giving knowledge that can be blessing for other, teaching actually trains your motoric nerve, that’s why, generally most lecturers and teachers live longer. For lecturer, the retirement age is 70, meanwhile, if you’re a professor, you may teach as long as you can.

What are your plans to overcome the chefs’ fear of retirement?


One day, I’d like to make a post retirement training, that’s my dream. I want to teach how to build a business from A to Z, because business requires management, system, and feasibility study, not just relying on your gut feeling. Most F&B business fails because of mismanagement, not because the food is bad. Also business doesn’t have to be too complicated, let say you want to start donut business. Simply focus on making the best possible donut, don’t mind other products, and then focus on conquering a region, let say Tangerang.

==============================================================================================================================================================================


Dalam beberapa kesempatan, Chef Rahmat Kusnedi (CRK), Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA), selalu mengingatkan akan singkatnya masa kerja para profesional di dapur. Bagi kebanyakan chef, pensiun merupakan mimpi buruk karena mereka penghasilan besar yang mereka dapatkan setiap bulan, mendadak hilang, sementara kebutuhan hidup semakin meningkat. Berkaca dari pengalaman teman-temannya, CRK menyarankan bagi semua chef untuk mempersiapkan kegiatan lain di luar tempat kerja yang bisa dijadikan pijakan ketika mereka sudah pensiun.

Berapa tahun waktu yang dimiliki seorang chef untuk berkarya di industri ini?

Usia pensiun untuk wanita di usia 50 tahun,sementara pria di 55 tahun. Paling banyak, kontrak bisa diperpanjang 5 tahun, dengan catatan menggunakan kontrak, bukan permanen, itupun hanya untuk posisi dan orang tertentu. Jika kita asumsikan seorang lulusan SMK yang telah melalui masa pelatihan mulai berkarir di umur 20 tahun, sebetulnya kami hanya memiliki masa kerja 30-35 tahun, ini relatif singkat. Jika masih tetap berada di hotel, masa kerja saya tinggal 5 tahun lagi.

Semua ada masanya. Produktivitas kita sangat tinggi di usia 20-30 tahun, inilah saatnya mencari ilmu dan uang sebanyak-banyaknya. Sementara di usia 30-40 tahun, kita mulai berada di zona nyaman, namun kita harus pandai memanfaatkan situasi. Jika diibaratkan, kita bisa makan apa saja sepuasnya di usia 20-30, namun ketika menginjak usia 30, kita harus mulai selektif, mungkin karena ada asam urat, kolesterol, atau darah tinggi.

Mengapa para profesional di dapur harus mulai merencakan mengenai kegiatan lain di luar tempat kerja?


Jangan bayangkan semua yang bekerja di dapur akan pensiun sebagai seorang Executive Chef. Sama seperti di militer, ada yang pensiun sebagai jendral, ada yang kopral, sersan, letnan, kolonel. Untuk kalangan perwira menengah, secara hitung-hitungan matematis, mereka akan kesulitan di masa pensiun. 


Saya beri gambaran, untuk seorang Executive Chef hotel bintang 5, uang pensiunnya paling besar dapat mencapai Rp 500 juta. Sementara untuk posisi supervisor bisa mencapai Rp 160 – 300 juta. Banyak chef yang merasa itu adalah jumlah yang cukup besar, padahal, jika kita asumsikan kebutuhan hidup minimum dalam sebulan mencapai Rp 5 juta, dengan uang pensiun Rp 300 juta, ia hanya bisa bertahan selama 5 tahun saja.

Kapan sebaiknya kita mulai memikirkan soal isu pensiun ini?

Saya mulai memikirkannya sejak usia 35 tahun, saya berencana untuk berhenti kerja pada usia 40 tahun, jika memungkinkan. Oleh sebab itu, saya mulai mencari kegiatan lain, saya mulai jadi dosen di usia 36, saya juga membangun networking serta mewujudkan cita-cita membuat asosiasi. Saya sudah tahu apa yang mau saya lakukan setelah berhenti bekerja.

Anda bisa meluangkan waktu karena sebelumnya Anda adalah seorang Executive Pastry Chef, bagaimana dengan yang posisinya di bawah Anda?

Bisa, tentu bisa. Intinya semua itu bisa diatur, dalam arti, semua posisi bisa melakukannya, asal ada kemauan. Saya mengerti, salah satu tantangan terbesar dalam bekerja di dapur adalah soal waktu luang, namun saya pernah menjadi chef di berbagai hotel bintang 5, dan saya selalu bisa meluangkan waktu.

Semua orang mendapatkan libur 2 hari dalam seminggu. Tantangan terberat dalam melangkah sebetulnya berasal dari niat kita sendiri. Oleh sebab itu, chef-chef yang saya kenal selalu saya semangati untuk kuliah lagi, atau memiliki kegiatan lain di luar kerja, bukan sekedar untuk mencari peluang, ini lebih ke penyempurnaan karakter pribadi.

Apa saja peluang usaha bagi para chef yang sudah pensiun?

Secara garis besar ada 3: memulai bisnis sendiri, menjadi konsultan, atau mengajar. Untuk bisnis tidak usah memaksakan untuk ideal, yang masuk akal saja dan sesuai kemampuan. Banyak peluang yang tidak dipikirkan orang, namun di sana ada peluang besar, meski tidak sesuai bidang Anda. Hal ini yang harus ditanamkan di benak teman-teman.

Dulu, rekan kerja saya di divisi laundry membuat warung soto ayam karena istrinya sangat ahli membuat soto. Setelah membawakan sampel sotonya, ternyata memang enak, saya menyarankannya untuk fokus menjual soto ayam dan gorengan, itu saja. Penjualannya terus berkembang dari 50 porsi sehari hingga ratusan porsi.
 

Bisnis juga tidak harus selalu di bidang F&B. Saya juga pernah punya staf steward, seorang tukang cuci, namun ia cerdas. Ia mengumpulkan uang servis dari hotel untuk membeli tanah di sekitar stasiun. Awalnya ia berniat membangun kos-kosan, namun ia melihat peluang di bisnis tempat parkir motor dan mobil bagi pekerja yang ingin naik kereta ke Jakarta. Akhirnya pendapatannya dari bisnis tersebut jauh lebih besar daripada di hotel. Tidak masalah ia menjadi tukang cuci di hotel dengan gaji Rp 4 juta/bulan, namun dari bisnis parkirnya, ia bisa mendapat Rp 2 juta sehari.

Untuk profesi lain seperti konsultan dan pengajar tentu butuh waktu. Untuk konsultan, sebaiknya seseorang mulai paling tidak 10 tahun sebelum pensiun. Mungkin awalnya hanya membantu teman membangun restoran, tidak dibayar, namun tentu setelah menjalani bertahun-tahun dan memiliki kisah sukses, ia mulai bisa pasang tarif karena sudah memiliki nama. 


Terakhir, mengajar juga merupakan pilihan baik. Selain bisa memberikan ilmu sehingga menjadi berkah bagi orang lain, mengajar juga terus melatih saraf motorik sehingga biasanya dosen dan guru memiliki usia hidup yang lebih panjang. Untuk dosen, usia pensiunnya adalah di 70 tahun, sementara untuk profesor tidak ada batasan usia, sepanjang yang ia mampu.

Apa rencana Anda untuk mengatasi ketakutan para chef akan pensiun ini?

Suatu saat saya ingin membuat pelatihan purna kerja, itu cita-cita saya. Saya ingin mengajarkan cara bisnis, dari A hingga Z, karena bisnis harus ada manajemen, sistem, dan feasibility study, tidak sekedar mengandalkan keberanian saja. Kebanyakan bisnis F&B gagal karena kesalahan manajemen, bukan karena rasanya tidak enak. Dan bisnis tidak harus rumit, katakanlah Anda ingin memulai menjual donat. Fokus saja membuat donat yang paling enak, tidak usah pikirkan produk lainnya, lalu fokus untuk menguasai satu daerah saja, contohnya Tangerang,

0 0
Feed