Partnership Issues

The story of closed-down business because of the disputes among the owners are classic stories that has happened, and will always happen. However, for seasoned businessmen, there are things you can do to prevent, to minimizing the impact of this dispute. Here are some tips to build healthy partnership from Chef Rahmat Kusnedi, The President of Indonesia Pastry Alliance (IPA).

What are the things we need to consider before making a partnership agreement?

Since the beginning, you need to understand your own character and your future partner’, and then look for complementary figure. Let say you’re an aggressive, dominant person, you’d better find calmer partner. If you’re fire, look for the water, vice versa.

In addition, everyone should understand business consequences. It’s a bit difficult for those with worker attitude. Let say, a 5 star hotel chef who demands certain brand of expensive butter, or 3 sous chefs, might need to compromise when he builds his own business.

What’s commonly happening is, investor without F&B background persuades a great chef to open a new restaurant together and expect BEP within short time. We need to do some feasibility study beforehand, estimates the business calculation for the first year, second, and so on.

Most people only think about proft, but they weren’t prepared to deal with loss. Those who work in the F&B business for years will know that it’s not an instant business, you can’t suddenly change taste preference. Business is built with blood, sweat and tears. If you see new brand with sudden, rapid growth, they’ll be bleeding for quite a while.

So, big number of outlets doesn’t mean big profit?


Not necessarily. I know exactly because I had some similar experience. One thing for sure, the bigger the investment, the bigger the expense, and the BEP will be longer. For F&B, usually BEP is reached in 5 years, having one in 2 years is a rare case. Especially for chain brands, they think long term. Investor without F& background will be surprised with the actual BEP length, moreover, for those who are used to trading stocks.

Most partnerships come from friendship, then, how important is the legal agreement?

Crucial, I’d say, it’s the main thing. When it comes to business, there’s a saying “business is business”. Don’t let money ruin your relationship. In the beginning, you need a clear agreement about the share of each investor, along with his job descriptions. If someone in charge with the operational, perhaps the other will be responsible in the back area, such as finance or HRD.

Please note, the amount of share you have not only affect your profit share, but also you responsibility when you lose money. And then, I suggest you appoint 1 major shareholder to avoid deadlock. It’s even better if you use the service of the public notary for the agreement letter, for the sake of your own legal standing.

Sometimes, it’s a bit awkward to talk about formal contract, especially with close people…

Don’t be. Let alone friends, without formal agreement, even husband and wife will have issues in the future, believe me. Of course we have some people who make partnership without legal agreement and they’re being true to their own responsibilities, but it doesn’t happen very often. When you have disputes, you’d wish to have legal standing.

Let say husband and wife has a business partnership, and then because of some reasons, they divorce, even though the business is growing. What will happen next? In legal agreement, you’ll have consequence in the face of dispute. You shouldn’t feel awkward to initiate a legal agreement, on the other hand, if your partner refuse to sign the contract, you need to be careful.

What are the most common causes for disputes?


The most common ones are impatient investors, too much bleeding, or unclear chain of command. Therefore, for business partnership, it’s best to appoint a person to be in charge for the operational, the other can supervise as commissioner. In the operational level, too much command will create confusion for staffs.

When the most influential figure leaves the partnership, usually the brand will lose its soul. Similar to a music band, when a band member dies, will it break? If it’s the vocalist who gives so much character to the music, it’s not easy tofind a replacement.

Cerita mengenai sebuah restoran yang bubar jalan karena pertikaian antar pemilik adalah kisah klasik yang telah dan akan terus terjadi. Namun, bagi pebisnis berpengalaman, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah, hingga meminimalisir kerusakan dari pertikaian ini. Simak tips-tips untuk membangun sebuah kerjasama bisnis yang sehat dari Chef Rahmat Kusnedi, Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA).

Hal apa yang harus diperhatikan sebelum kita membuat sebuah kerjasama bisnis?

Sejak awal, sebaiknya kita mengetahui karakter diri sendiri dan calon partner Anda, lalu cari orang dengan karakter yang saling melengkapi. Katakanlah Anda seorang yang cenderung agresif dan dominan, sebaiknya Anda mencari partner yang lebih tenang. Jika Anda adalah api, sebaiknya Anda mencari air, begitu pula sebaliknya.

Selain itu, semua pihak harus memaklumi konsekuensi berbisnis. Ini agak sulit bagi mereka yang masih memiliki mental pekerja. Seorang chef di hotel bintang 5 yang menuntut harus menggunakan butter mahal merk tertentu, atau harus memiliki 3 orang sous chef, mungkin harus sedikit berkompromi ketika membangun bisnisnya sendiri.

Yang banyak terjadi adalah, investor yang bukan dari bisnis F&B mencoba untuk mengajak seorang chef hebat untuk membuka restoran bersama-sama, dan mengharapkan untuk balik modal dalam waktu singkat. Seharusnya kita melakukan feasibility study terlebih dahulu, estimasikan hitungan bisnis pada tahun pertama, kedua, dan seterusnya.

Kebanyakan orang juga hanya berpikir soal keuntungan, namun tidak siap jika terjadi kerugian. Orang yang lama di bidang F&B tentu tahu, ini bukan bisnis instan karena selera makan tidak bisa dibentuk seketika. Bisnis dibangun dengan susah payah. Jika Anda melihat brand baru yang langsung memiliki banyak cabang, mereka pasti mengalami bleeding terlebih dahulu.

Jadi, banyak cabang belum tentu profit semakin besar?

Belum tentu. Saya tahu persis karena saya memiliki pengalaman serupa. Yang jelas, semakin besar investasi, maka cost akan semakin besar, dan BEP akan semakin lama. Untuk bisnis F&B, biasanya BEP terjadi dalam 5 tahun, jarang sekali yang 2 tahun. Terutama untuk brand yang sifatnya chain, mereka akan berpikir jangka panjang. Investor yang latar belakangnya bukan dari F&B mungkin akan kaget akan lamanya BEP bisnis ini, apalagi bagi mereka yang terbiasa jual beli saham.

Kebanyakan kerjasama berasal dari pertemanan, lalu, seberapa penting hitam di atas putih?

Sangat penting, boleh dibilang, itu yang utama. Jika bicara soal bisnis, ada pepatah, “business is business”. Jangan sampai relasi rusak karena uang. Di awal, harus ada kesepakatan yang jelas soal berapa persen modal masing-masing pemilik dan pembagian tugasnya. Jika ada yang bertanggung jawab atas operasional, mungkin yang lainnya bisa bertugas di back area, seperti bidang finance atau HRD.

Yang perlu diingat, persentase modal yang disetor tidak hanya berlaku untuk pembagian keuntungan saja, namun juga berlaku ketika terjadi kerugian. Lalu, sebaiknya ada 1 pemegang saham mayoritas untuk menghindari deadlock. Akan lebih baik lagi jika perjanjian kerjasama ini menggunakan jasa notaris agar memiliki legal standing yang kuat.

Terkadang, kita agak sungkan untuk bicara soal hitam di atas putih, terutama jika partner kita adalah orang dekat…

Tidak bisa begitu. Jangankan teman, tanpa adanya kontrak yang jelas, suami istri saja akan mengalami kesulitan di kemudian hari, percayalah. Tentu ada saja orang yang melakukan kerjasama tanpa kontrak tertulis dan mereka masing-masing konsekuen dengan tanggung jawabnya, tapi ini jarang terjadi. Ketika terjadi sesuatu, Anda berharap Anda memiliki legal standing.

Katakanlah suami istri berbisnis bersama, lalu karena suatu hal, terjadi perceraian, padahal bisnisnya sedang naik daun. Apa yang akan terjadi? Pada kontrak kerjasama, tertulis konsekuensi jika terjadi pertikaian. Anda jangan merasa tidak enak untuk mengajukan kontrak hitam di atas putih, justru jika partner Anda tidak bersedia tanda tangan, Anda harus waspada.

Apa saja penyebab pertikaian yang paling umum?

Ada beberapa hal, mulai dari investor yang kurang sabar, bleeding yang terlalu banyak, hingga terlalu banyak komando. Oleh sebab itu, untuk kerjasama bisnis F&B, sebaiknya tunjuk 1 orang yang bertanggung jawab atas bagian operasional, yang lain mungkin bisa memantau sebagai komisaris. Pada level operasional, terlalu banyak komando akan menciptakan kebingungan bagi karyawan.

Ketika sosok yang berpengaruh memutuskan keluar dari bisnis, biasanya roh dari brand tersebut ikut hilang. Mirip seperti sebuah grup band, jika ada personel band yang meninggal, apakah band tersebut akan bubar? Jika yang meninggal adalah vokalis yang memberi ciri khas pada
musik, tidak mudah untuk mencari penggantinya.

0 0
Feed