Paramount of Process

Hidup adalah tentang proses, bukan hanya hasil, dan Reinaldo Christian paham betul tentang hal tersebut. Berawal dari menonton acara masak memasak di televisi, ia kemudian tertarik untuk meneruskan studi di bidang kuliner. Beragam tantangan pun dilalui dengan semangat tak kenal lelah hingga tak terasa ia sudah pernah berkarya di tiga negara berbeda. Kini, pria asli Bandung yang menjabat sebagai Head R&D Development Pison Coffee Bali ini telah mantap menjalani karir sebagai chef professional, dan ia membagikan secuplik pemikiran cemerlang serta latar belakangnya kepada para pembaca setia Passion dalam rubric Y&D edisi kali ini. Check them out!


Ceritakan sedikit tentang latar belakang kamu; apa yang menginspirasi kamu untuk meniti karir di dunia memasak?


Waktu kecil saya suka nonton acara memasak di TV; Rudi Choirudin, Sisca Soewitomo, dan kelihatannya memasak koq menyenangkan. Lalu waktu SMP saya mulai mencoba memasak, dan ketika SMA saya diberi pilihan untuk melanjutkan ke sekolah memasak di Singapura. Pertama kali disana, saya jadi benar-benar tidak suka memasak, karena tidak menyangka bahwa waktu saya akan habis hanya untuk belajar setiap harinya. Saya tidak memiliki waktu lagi untuk mencari relasi dan kenalan baru, di samping proses belajarnya yang memang sangat high pressure. Namun akhirnya saya bisa lulus dan pulang ke Bandung.


Di tahun 2012, saya melamar dan diterima di Mozaic Ubud. Di sana saya banyak berkenalan dengan para perantau seperti saya, dan mereka benar-benar memiliki passion di dunia memasak; membaca buku dan semacamnya. Hal ini kemudian memantik semangat lagi dalam diri saya hingga akhirnya saya kembali ke Singapura dan bekerja di Andre; sebuah restoran dengan dua Bintang Michelin dan sempat masuk ke 50 restoran terbaik di Asia. Dari sana, saya semakin mendalami dunia memasak dan mendapat banyak ilmu serta dorongan dari chefnya hingga memutuskan untuk terjun sepenuhnya ke dunia kuliner hingga saat ini.


Sebagai kepala pengembangan (R&D) divisi kuliner Pison, inovasi semacam apa yang hendak kamu buat untuk menu restoran ini?


Selama ini saya melihat Pison sangat relevan dengan pasar lokal maupun asing. Mulai dari remaja yang gemar memfoto makanan, karyawan kantoran, hingga ibu-ibu yang membawa anak mereka, semua cocok dengan rasa masakan yang kami tawarkan, jadi untuk berikutnya saya ingin mengembangkan makanan kami ke arah ‘comfort food’; dimana orang bisa datang empat hingga lima kali seminggu kemari dan tidak bosan menyantapnya. Karena saya pernah merasakan posisi dimana saya hanya mengkreasi makanan yang berbentuk cantik, tapi orang belum tentu mau kembali untuk menyantapnya lagi, jadi saya ingin membuat sesuatu yang juga relevan untuk menarik para pelanggan untuk kembali.


Kalau kamu hanya bisa memilih tiga bahan untuk membuat satu makanan, bahan apa yang akan kamu pilih, dan masakan apa yang akan kamu buat dari masakan tersebut?


Saya akan memilih bawang merah, daging dan salah satu bumbu seperti cabai. Saya akan membuat seporsi steak dari bahan tersebut. Ini adalah masakan sederhana, namun orang akan bisa menikmati rasa yang kuat dari perpaduan ketiga bahan itu. Jika boleh menambah satu bahan lagi, mungkin saya akan membubuhkan kecap untuk menambah citarasa saja.


Sebutkan 3 tantangan terbesar yang sudah kamu lewatin selama berkarir


Yang pertama; bekerja di restoran dengan bintang Michelin (Andre, Singapura), meski kemudian saya tidak bisa melanjutkan karena terkendala visa kerja; kemudian menangani pastry yang saya tidak pernah lakukan sebelumnya, di negara orang pula. Jadi waktu saya bekerja di Sidney, Australia, saya diminta menangani divisi pastry padahal saya tidak pernah punya pengalaman di bidang tersebut. Tekanannya lumayan besar waktu itu. Kemudian di Ambrogio Bandung, saya menangani 400 pax sekaligus secara rutin, hampir setiap weekend, di dua lantai yang berbeda dengan konsep penyajian yang berbeda; a la carte dan buffet.


Sebutkan satu selebriti wanita yang kamu nilai sempurna (10/10), dan apa yang akan kamu masak baginya jika ada kesempatan.


Elizabeth Chase Olsen (pemeran Scarlet Witch di seri Avengers), dia itu cantik banget. I think I will make a dessert for her. Fudge brownies dengan cokelat dan es krim hazelnut yang meleleh, saya pikir itu akan jadi hidangan yang cocok untuknya.


Ceritakan pengalaman kamu di Ambrogio Pattiserie, dan bagaimana itu telah membentuk karir kamu saat ini


It shaped me a lot, terutama dalam hal idealisme. Di sana kita dituntut untuk idealis, namun tetap relevan. Terlalu idealis kadang membuat kita tidak relevan; apa yang menurut kita sudah bagus, terserah orang lain bisa menerima atau tidak, tapi di Ambrogio, kita harus bersedia untuk kompromi dengan keinginan orang lain. Salah satu owner Ambrogio, ibu Theresia, memiliki lidah yang luar biasa, dan dari dia juga saya banyak belajar untuk menyeimbangkan citarasa masakan, mereka sangat mendukung kami dengan bahan masakan dan peralatan yang berkualitas. Saya juga belum pernah merasakan pengalaman meng-handle tamu sebanyak di sana. Ada 90 staf dapur, dan kami harus menangani sekitar 400 pax per hari di dua periode; breakfast dan dinner, jadi perputarannya sangat kencang dan intens. Saya sangat respect karena pihak Ambrogio juga sabar dan memperlakukan saya dengan baik, sehingga kami tidak merasa grogi meskipun kerap kewalahan.

Apa impian terbesar yang ingin kamu capai?


My biggest dream, memiliki restoran sendiri adalah salah satunya, namun yang terutama saya ingin menjadi seorang one-stop consultant di bidang kuliner. Saya ingin membantu mereka yang benar-benar blank dengan industry kuliner dalam berbagai aspek, mulai dari konsep menu, interior hingga sosial medianya. Saya ingin men-support sistemnya sendiri. Menurut saya pribadi, jika kita ingin memiliki restoran, kita harus memiliki first income, sehingga jika restorannya sedang kesulitan dari segi finansial, kita memiliki sumber pendapatan lain yang bisa mendukungnya. Jadi main income saya adalah dari menjadi konsultan, sementara restoran pribadi adalah ‘buah’nya.


Definisikan diri kamu dalam satu kalimat


‘Someone that really like processes’

0 0
Feed