Of Flavor & Memories

Kenangan indah di masa kecil mampu membentuk seseorang menjadi pribadi yang baik, dan itulah yang terjadi pada Will Lim. Chef muda jebolan sekolah kuliner Australia ini mampu mengejawantahkan makanan favoritnya sewaktu belia menjadi hidangan berkelas dengan memadukan ilmu memasak Eropa dengan kegemarannya pada hidangan ala Indonesia.


Mengawali karir di sejumlah restauran fine dining serta hotel berbintang mancanegara rupanya belum membuat Will Lim puas dalam menyalurkan bakat memasaknya. Kini, lewat restoran miliknya yang mungil dan elegan di bilangan Canggu, Sensorium, Will mampu dengan leluasa berkreasi serta membagikan citarasa masakan Indonesia favoritnya dalam presentasi memukau dan ide-ide yang cemerlang. PASSION mendapat kesempatan untuk berbincang langsung dan menyelami pemikiran pemuda brilian asal Medan tersebut pada edisi ini. Mari kita simak bersama!

Jelaskan tentang signature style memasak kamu!


Sejujurnya saya tidak memiliki signature style tersendiri, tapi saya banyak terpengaruh dari my childhood memories (kenangan masa kecil). Menurut saya, memasak adalah tentang ‘kenangan’, dan saya ingin membagikan kenangan itu pada semua orang yang datang. Ketika saya membagikan memori tersebut, saya merasa bisa membuat orang lain bahagia. Dulu sebenarnya saya tidak terlalu dekat dengan orang tua, tapi saya percaya bahwa makanan bisa membawa semua orang dalam kebersamaan. Jadi bisa dibilang ‘signature’ saya itu adalah semua yang suka saya santap, dan itu kebanyakan berasal dari ibu saya. Beliau sangat jago dalam masak memasak, jadi bisa dikatakan juga mama adalah inspirasi saya.


Apa yang mau kamu sampaikan ke pelanggan lewat Sensorium?


Saya hanya ingin orang-orang tahu bahwa makanan yang enak bisa datang dari mana saja, dan tidak harus mahal. Saya pikir menu saya (di Sensorium) tidak terlalu mahal, seperti standar bintang Michelin tapi dengan harga terjangkau. Saya ingin pelanggan saya datang untuk menikmati makanan enak serta menghargainya.


Sebutkan satu keahlian (skill) yang diam-diam ingin kamu kuasai diluar memasak


Main gitar (tertawa). Karena saya suka musik. Menurut saya music memiliki kekuatan yang sama seperti masakan. Ketika saya mendengarkan musik yang saya sukai, saya merasa tenang dan juga termotivasi. Alasan lain saya ingin bisa main gitar sebenarnya cukup pribadi : suatu saat kalau saya sudah menikah saya ingin bermain gitar dan bernyanyi untuk istri saya.



Apa foto terakhir yang kamu ambil lewat kamera ponsel kamu?


Ada cerita di baliknya?Foto banner (spanduk). Saya sedang berencana membuat spanduk untuk Sensorium, jadi saya berkeliling untuk mencari referensi. Kemudian saya juga sebenarnya sedang...dekat dengan seseorang (tertawa), dan dia membantu saya mencari spanduk tersebut. Jadi foto-foto terakhir yang ada di ponsel saya adalah banner / spanduk.


Apa masakan tersulit yang pernah kamu buat sejauh ini?


Sebenarnya untuk saya semua masakan memiliki kesulitan dan tekniknya masing-masing, tapi kalau anda menuangkan seluruh hati dan gairah anda, tidak ada yang mustahil. Saya adalah tipe orang yang pantang menyerah, jadi saya akan terus coba dan coba lagi hingga saya berhasil. Contohnya, memasak telur saja menurut saya memiliki banyak sekali tantangan dalam pembuatannya, ada penyesuaian dengan alat, kematangan, dan masih banyak lagi.


Dari mana mendapatkan inspirasi untuk masakan di Sensorium?


Setiap hidangan di Sensorium itu seakan menceritakan sebuah kisah. Kebanyakan memang datang dari kenangan masa kecil, termasuk apa yang pernah saya santap ketika masih tinggal di Sydney dan Melbourne juga. Kemudian saya coba menggabungkan semuanya dan menciptakan sebuah menu dengan kombinasi rasa yang saya pikir akan berhasil. Saya memahami perpaduan rasa apa yang kira-kira akan cocok, jadi saya coba gabungkan dan menciptakan sebuah cerita lewat masakan saya, juga untuk menantang para pelanggan saya merasakan suatu pengalaman bersantap yang lezat secara berbeda.


Seperti menu Jagung Bakar?


Ya! Jadi itu inspirasinya waktu saya pertama kali pindah ke Bali. Sebelum membuka restoran ini saya sering mencari ilham dengan berjalan-jalan di pinggir pantai. Kemudian saya melihat seorang penjual jagung bakar gerobak dan saya coba jajanan itu, dan rasanya enak! Tapi saya pikir, ini Cuma mentega dan garam, kemudian saya coba memotivasi diri saya dan mengkreasi sesuatu yang luar biasa, jadi saya buat saus homemade spicy mayo, kemudian keju dan jeruk nipis untuk kreasi Jagung Bakar saya, untuk meningkatkan cita rasanya namun tetap tidak menghilangkan asal usulnya yang sederhana.


Apa impian tergila yang ingin kamu capai?


Mendapatkan Bintang Michelin (Michelin Star; penghargaan internasional paling prestisius di dunia kuliner). Menurut saya penghargaan itu menunjukkan seberapa tinggi pencapaian seorang chef, dan saya rasa semua chef akan memiliki impian mendapatkan Bintang Michelin. Tapi untuk meraihnya, anda harus memiliki banyak pengalaman, kerja keras dan pengorbanan, tapi saya siap untuk melakukannya demi gelar tersebut. Namun jika tidak mendapatkannya pun, saya ingin agar orang-orang bisa bahagia dengan menyantap masakan saya.

0 0
Feed