New Wave Jamu

The place offered brewing method options, from the most intense Rok Presso, French Press, to the mildest one, V60. They even have espresso machine Rancilio, Mahlkonig grinder, and Gene Coffee Roaster. Everything sounds common (and expensive, of course), but when you know they sell jamu, it’s a whole different story. 


Acaraki was started when Jony Yuwono, the owner, felt that jamu is moving away from its root in this modern day, as medicine. Acaraki is actually a term used to call a person who prepares jamu, similar to barista in coffee industry. Since established in 2018, Acaraki introduced jamu as lifestyle drink, akin to coffee and tea, along with its derivative business models. Adopting the third wave coffee shop concept, Acaraki claim itself as Jamu New Wave. “I want people not just hanging out at coffee shop, but to kedai jamu as well,” said Jony.


Jony was inspired to build Acaraki when he was hanging out in some coffee shops. “I often conducted small surveys while having cups of coffee. People know jamu is healthy, but most of them admitted they don’t drink it. 70% said jamu is bitter, 20% is not drinking because for them, the ingredients are unclear, the rest 10% is having difficulty in finding it. To me, the 70% majority is interesting, because if you say jamu is bitter, so does coffee, how come coffee is trending?”


As opposed to coffee industry that has fixed standards and regulations (which you can always break, of course), for example making espresso, jamu doesn’t have any rules. Every factory, even individual “mbok jamu” can make their own version of kunyit asam without involving themselves in endless debate with a bunch of jamu fanatics (if there’s any?). Setting its own standard, that’s what exactly Acaraki is doing.


Third Wave Coffee’s Approach


As opposed to other kedai jamu which offers many variants of jamu, Acaraki’s exploration is focused on 2 of the most popular ones: beras kencur (rice & kaempferia galanga) and kunyit asam (turmeric & tamarind), but they’re available in various brewing methods. “Some might say we have too few jamu variants, but when you come to a coffee shop and see many menus such as americano, latte, affogato, or cappuccino, they’re basically just variants of one product, coffee. Meanwhile we have 2 products,” said Jony.


Acaraki believes every region produces rice, kaempferia galangal, turmeric, and tamarind with certain notes, exactly like single origin coffee. “We’re not promising any health benefits, what we can guarantee is the integrity and honesty of ingredients from production process to the brewing method. What are the ingredients in jamu beras kencur? Rice and kaempferia galangal. Kunyit asam? Turmeric and tamarind. The method? Just boil it. For so long, jamu has been very open about its ingredients. But what are the ingredients of X (naming one of the most popular modern jamu)? How do they produce it? They’ll say, it’s secret,” stated Jony.


Along 3 manual brewing methods, Acaraki doesn’t limit itself in its creative process. They also have other “modern” creation, such as Saranti (beras kencur, creamer, milk, and sugar), Dutch Jamu (cold drip method for 8 hours), Golden Sparkling (kunyit asam, sugar, soda) and Rigalize (beras kencur, sugar, soda).


Ingredients from each region are dried using the fluid bed dryer method, and then, to add flavor, Acaraki also roasts them. When they have order, the roasted ingredients will be ground using coffee grinder, and then brewed using many methods. “We adopt coffee brewing methods, but it doesn’t mean without any further research. In the beginning, we try to brew using espresso machine, the extraction took very long time. We hope we can give inspiration to others, who knows we’ll have other kedai jamu that serves bajigur, bandrek, wedang uwuh, and many other regional drinks,” Jony explained.


Saranti is our favorite. This Beras kencur brewed using espresso machine and then they add milk, creamer, and sugar doesn’t taste like jamu, at all. Thanks to the roasting process that gives it nutty aroma that reminds us of hazelnut. If you add bobba, the milennials won’t even recognize they’re actually drinkin a glass of jamu! Then when we tried kunyit asam V60, we swore we smell the aroma of mustard. Suddenly it reminded us of burgers that exploits lots of mustard.


The New Wave Jamu is opening many possibilities in the future. The business can be built vertically by aiming certain target markets, from bubble tea format, the trending es kopi susu, and café format like the tea brand from Singapore. “We can also develop it horizontally, by introducing more jamu variants. There’s so many potentials, why not?” asked Jony.


With third wave coffee approach, Acaraki uses the true and tried business model, along with its equipments, in the coffee industry for jamu products. Even though they only have one outlet, Acaraki is currently preparing to open its second outlet in Kemang, around mid July 2019.


Lately, we’re kind of concerned about the growth of ice coffee milk trend that start to become saturated. Even though they exploit cute name for the brands and products, basically they’re selling the same product, also in similar price range. When these players are having the natural selection process, perhaps going for this New Wave Jamu direction is a rational choice, at least, they already had similar equipments. In addition to Indonesian’s burning nationalism spirit in culinary industry, we’re waiting for an era where kedai jamu can stand head to head to coffee shop.

=================================================================================================


Tempat ini menawarkan berbagai metode seduh, mulai dari rasa yang paling pekat menggunakan Rok Presso, French Press, hingga yang paling ringan, V60. Mereka bahkan memiliki mesin espresso Rancilio, grinder Mahlkonig, dan Gene Coffee Roaster. Semuanya terdengar biasa saja bagi sebuah coffee shop (dan tentu saja, mahal), namun lain cerita begitu Anda tahu bahwa yang mereka jual adalah jamu.


Acaraki dimulai ketika Jony Yuwono, sang owner, merasa bahwa pertumbuhan jamu di jaman modern ini berkembang ke arah yang tidak seharusnya, yaitu sebagai obat. Nama Acaraki, sendiri diambil dari istilah orang yang membuat jamu, sama seperti barista pada industri kopi. Sejak berdiri pada 2018, Acaraki memperkenalkan jamu sebagai minuman lifestyle, layaknya kopi dan teh dengan berbagai turunan model bisnisnya yang bervariasi. Mengadopsi konsep coffee shop third wave, Acaraki menyebutnya sebagai Jamu New Wave. “Saya ingin orang tidak hanya hangout di coffee shop, tapi ke kedai jamu,” kata Jony.


Jony mengaku terinspirasi membuat Acaraki ketika ia hangout di beberapa coffee shop. “Saya sering melakukan survey kecil sambil ngopi. Orang tahu jamu itu sehat, namun kebanyakan dari mereka mengaku tidak minum jamu. 70% mengatakan karena jamu rasanya pahit, 20% tidak minum karena menurut mereka bahannya tidak jelas, lalu 10% mengaku sulit menemukan jamu. Bagi saya yang 70% ini yang menarik, karena jika Anda bilang jamu pahit, kopi juga pahit, mengapa kopi bisa ngetren?”


Berbeda dengan industri kopi yang memiliki standar dan aturan baku (yang bisa Anda langgar, tentunya), contohnya proses pembuatan espresso, jamu tidak memiliki aturan. Setiap pabrik, atau bahkan mbok jamu bisa membuat kunyit asam versi mereka, tanpa perlu terlibat argumen dengan para penggemar fanatik jamu (yang tampaknya belom ada). Membuat standar sendiri, itulah yang dilakukan Acaraki.


Pendekatan Third Wave Coffee


Berbeda dengan kedai jamu lain yang menawarkan berbagai jenis jamu, eksplorasi yang dilakukan Acaraki lebih berfokus pada 2 jenis jamu yang paling populer: beras kencur dan kunyit asam, namun tersedia dalam berbagai metode seduh. “Beberapa orang mungkin berkata bahwa varian jamu kami terlalu sedikit, namun ketika Anda datang ke coffee shop dan melihat berbagai jenis menu seperti americano, latte, affogato, atau cappuccino, itu semua hanyalah varian dari 1 jenis produk, kopi. Sementara kami punya 2 produk,” kata Jony.


Acaraki percaya bahwa setiap daerah menghasilkan beras, kencur, kunyit dan asam dengan karakter tertentu, persis seperti biji kopi single origin. “Kami tidak menjanjikan khasiat jamu, yang bisa kami jamin adalah integritas bahan dan keterbukaan soal proses produksi hingga penyeduhan. Apa saja isi dari jamu beras kencur? Beras dan kencur. Kunyit asam? Kunyit dan asam. Metodenya? Godok saja. Sejak dulu jamu menjunjung tinggi keterbukaan bahan. Lalu, apa bahan dari X (menyebut salah satu nama jamu modern), apa saja bahannya? Bagaimana cara membuatnya? Mereka akan jawab, rahasia, tegas Jony. 


Selain 3 metode seduh manual tadi, Acaraki juga tidak membatasi diri dalam berkreasi. Mereka memiliki kreasi “modern” seperti Saranti (beras kencur, krimer, susu, dan gula), Dutch Jamu (metode cold drip yang dilakukan selama 8 jam), Golden Sparkling (kunyit asam, gula, dan soda) dan Rigalize (beras kencur, gula, soda).


Bahan baku dari berbagai daerah ini dikeringkan dengan metode fluid bed dryer, lalu untuk menambah rasa, Acaraki juga melakukan proses roasting. Ketika ada pesanan, bahan-bahan kering tersebut akan digerus menggunakan grinder kopi, untuk kemudian diseduh dengan berbagai metode. “Kami mengadopsi prosedur seduh kopi, namun bukan berarti tanpa riset. Pada awal kami mencoba menyeduh menggunakan mesin espresso, ekstraksinya lama sekali. Kami berharap dapat memberikan inspirasi bagi orang lain, siapa tahu nanti kita melihat kedai jamu yang khusus menyajikan bajigur, bandrek, wedang uwuh, dan banyak minuman daerah lainnya,” jelas Jony.


Saranti merupakan favorit kami. Beras kencur diseduh menggunakan mesin espresso yang kemudian dicampur dengan susu, krimer, dan gula ini tidak terasa seperti jamu. Proses roasting menghasilkan aroma nutty yang mengingatkan kami akan hazelnut. Jika Anda menambahkan bobba, para milenial tidak akan menyadari bahwa mereka sedang minum jamu! Lalu ketika kami mencoba kunyit asam V60, kami mendapatkan aroma yang mirip sekali dengan aroma mustard. Seketika itu kami teringat pada burger yang banyak menggunakan saus mustard.


Konsep Jamu New Wave seolah membuka banyak kemungkinan di masa depan. Bisnis ini bisa dikembangkan secara vertikal dengan mempertimbangkan target market mana yang ingin disasar, mulai dari format bubble tea, es kopi susu yang sedang tren, atau format seperti salah satu café teh yang berasal dari Singapura. “Kami juga bisa mengembangkan secara horizontal, yaitu dengan memperkenalkan lebih banyak varian jamu. Ada begitu banyak potensi, kenapa tidak?” kata Jony.


Dengan menggunakan pendekatan third wave coffee, Acaraki memanfaatkan model bisnis dan peralatan yang sudah teruji di industri kopi pada produk jamu. Meski baru berdiri di satu lokasi yaitu Kota Tua, Acaraki sedang mempersiapkan kedai keduanya yang akan buka pada Juli 2019 di daerah Kemang. 


Belakangan ini kami agak khawatir melihat perkembangan tren es kopi susu yang mulai terasa jenuh. Meski menggunakan berbagai nama brand dan produk yang “lucu”, pada dasarnya mereka menjual produk yang kurang lebih sama, dan di range harga yang serupa. Ketika para pemain es kopi susu ini mengalami seleksi alam, mungkin beralih ke bisnis model Jamu New Wave ini merupakan pilihan yang masuk akal, paling tidak, mereka telah memiliki peralatan serupa. Ditambah lagi dengan semangat nasionalisme orang Indonesia di bidang kuliner yang sedang menggebu-gebu, kami sangat menantikan saat dimana kedai jamu bisa disejajarkan dengan coffee shop.


ACARAKI 

Gedung Kerta Niaga 3, Kota Tua, Jl. Pintu Besar Utara No.11, Jakarta 11110

Phone: +6221 2269 3354, www.acaraki.com

 




0 0
Feed