New Standard

Chinese food lover in Jakarta must have been familiar with Shangri-La Hotel’s Shang Palace. However, the hotel decided to change its concept and name of the restaurant into Jia in January 2017. As opposed to the more classic, all red interior Shang Palace, Jia was designed to appeal more to the younger generation. Thanks to the Tokyo- based firm Bond taking over its design duties. Now, Jia features contemporary Chinese-inspired interior, an update rather than a departure from tradition.


In Chinese, Jia (read: Chia) means “first”, number one. Much to the delight of diners, Jia serves as home to a line- up of delectable dim sums, Peking Duck, sumptuous roasted fare and well-loved celebrated Chinese dishes. The blend of classic Chinese cuisine and stylish presentation gives each dish a little twist, yet preserves its original recipe. Jia serves 70% Canton and 30% Szechuan cuisine.


“In general, Canton cuisine is more to dim sum, BBQ selection such as roast THE CITY pork, char siu, Peking Duck, meanwhile Szechuan is all about spicy, dried chili, and of course, Szechuan pepper corn. They have different taste profile,” explained Christopher Chai, Jia’s Executive Chinese Chef.


“As we know that Chinese cooking is all about balance: balance of flavors, ingredients, and cooking techniques that go into an authentic Chinese meal. Unlike western cuisine, Chinese food involves a lot of meat marination, and the use of more ingredients: especially the spices and herbs,” added Chai.


The Chef isn’t afraid to put some western and Japanese influences into its traditional Chinese cuisine to create a new exciting experience. “For example, our E-fu noodle is using western’s black truffle and truffle oil, simply because the regular seafood or mushroom E-fu noodle is too common. We also incorporate a some Japanese influence by serving our scallop with miso mayonnaise and tobiko as topping,” he said.


Along with the food quality and the interior, perhaps the next best thing about Jia is its affordability, especially if you compare it to other Chinese restaurant in 5 star hotel. For such quality, the price point in Jia starts from Rp 29.000. It‘s plain to see why Jia has become an instant favorite among Chinese food connoisseurs.


Highlight Menus

If we can only have one menu to recommend, it’s definitely their Signature Peking Duck, available in whole or half option. However, please note that preorder is required as the menu needs around 45 minutes to prepare. In addition of the classic Peking-Style Roasted Duck that‘s served with pancake and special homemade sauce, you can also have second way of enjoying the menu. For the duck meat, Jia offers some options: Wok Fried with Ginger and Spring Onion, Stir Fried E-fu Noodle with Mushroom and Bean Sprout, Wrapped in Lettuce, and Wok-Fried with Black Pepper Sauce. Meanwhile, the duck bones are too good to be wasted, you can have it served with Preserved Vegetables and Bean Curd Soup, Deep-Fried Duck Bones with Salt and Pepper (we believe it’s the Indonesian’s favorite), and Duck Bone Congee.


The second way is available thanks to the duck’s generous size. “Our weight standard for the Peking Duck is 2,8 kg, if you have something bigger than that, the meat will start to taste dry and less tender,” said Christopher.


You don’t need us to give any recommendations for the dim sum because you can never go wrong with the classic dim sums such as Siew Mai, Har Gow, and Chicken Feet. However, if you’re feeling a bit adventurous, their Xiao Long Bao is a wise choice. Baked Scallop Stuffed with Shrimp Paste and Homemade Bean Curd in Miso Mayo Sauce is the aforementioned menu to understand how well a traditional Chinese dishes go with some Japanese influence. For the dessert, their Chilled Durian Pancakes is unrivaled.


Of course, running a Chinese restaurant has its own challenges. “Some of the ingredients are hard to find in Jakarta, so we need extra effort to import the ingredients and it takes times to have it. In addition, there are so many good Chinese restaurants in Indonesia, specifically in Jakarta, that’s the biggest challenge for us. However, we take it as a motivation to keep inventing, moving forward and gathering all of the information in the culinary world and creating new ideas for the menu,” said Christopher.


Despite of all the challenges, Christopher is looking forward to prepare for Jia’s future. “We’ve been trying to make it as the number one Chinese Restaurant in Jakarta. In 2019, we will have some updated menus, special promotions, and the most important thing is that we will maintain the quality of the foods.”


==================================================================================================================================================


Pecinta masakan Chinese Jakarta tentu sudah familiar dengan Shang Palace yang berlokasi di Hotel Shangri-La Jakarta. Namun, mereka memutuskan untuk mengubah konsep dan nama menjadi Jia pada Januari 2017. Jika dibandingkan the Shang Palace dengan interior klasik yang serba merah, Jia didesain untuk menarik perhatian generasi muda. Semuanya berkat Bond, perusahaan desain Tokyo yang bertugas mengambil alih tanggung jawab soal desain. Sekarang, Jia memiliki interior kontemporer bernuansa China yang lebih mirip sebuah update daripada sebuah usaha untuk meninggalkan tradisi.


Dalam bahasa China, Jia (baca: Chia) berarti “pertama”, nomor satu. Sesuai keinginan pelanggan, Jia menyajikan berbagai menu dim sum, Bebek Peking, dan banyak sekali masakan Chinese favorit. Campuran antara unsur China klasik dan presentasi modern memberikan sedikit twist sambil berpegang teguh pada resep asli. Jia menyajikan 70% masakan Kanton dan 30% pengaruh Sichuan.


“Secara garis besar, masakan Kanton lebih kepada dim sum, pilihan BBQ seperti babi panggang, cha siu, Bebek Peking, sementara Sichuan lebih mengarah ke rasa pedas, penggunaan cabai kering, dan tentu saja, biji lada Sichuan yang dikenal di Indonesia dengan nama Andaliman. Keduanya memiliki rasa yang berbeda,” jelas Christopher Chai, Executive Chinese Chef Jia.


“Seperti yang kita ketahui, masakan Chinese adalah mengenai keseimbangan: baik keseimbangan rasa, bahan, dan teknik masak yang biasa ada pada makanan China otentik. Berbeda dengan masakan western, makanan China melibatkan banyak marinasi daging, dan penggunaan bahan yang lebih banyak: terutama rempah-rempah dan bumbu,” tambah Chai.


Christopher juga tidak takut untuk melibatkan pengaruh western dan Jepang kedalam masakan China tradisionalnya untuk menciptakan pengalaman baru yang menarik. “Contohnya I-fu mie kami yang menggunakan truffle hitam dan minyak truffle khas western karena I-Fu mie seafood atau jamur sudah terlalu umum. Kami juga memberikan sentuhan Jepang dengan menyajikan scallop kami dengan miso mayonnaise dan tobiko sebagai topping,” katanya.


Selain kualitas makanan dan interior, mungkin hal terbaik berikutnya mengenai Jia adalah harganya yang terjangkau, terutama jika Anda membandingkannya dengan restoran Chinese lain di hotel bintang 5. Untuk kualitas yang diberikan, harga makanan di Jia dimulai dari Rp 29.000. Tidak sulit untuk melihat mengapa Jia langsung menjadi favorit di kalangan pecinta Chinese food.


Menu Andalan


Jika hanya boleh memberikan satu rekomendasi, pasti itu adalah Signature Peking Duck, yang tersedia dalam pilihan satu atau setengah ekor. Namun, harap diingat bahwa menu ini harus dipesan beberapa waktu sebelumnya, Bebek Peking ini membutuhkan waktu persiapan selama 45 menit. Sebagai tambahan Bebek Peking Panggang yang disajikan dengan pancake dan saus special homemade, Anda juga mendapatkan hidangan bebek kedua. Untuk daging bebek, terdapat beberapa pilihan seperti Wok Fried with Ginger and Spring Onion, Stir Fried E-fu Noodle with Mushroom and Bean Sprout, Wrapped in Lettuce, dan Wok-Fried with Black Pepper Sauce. Sementara, daging bebek terlalu enak untuk dibuang begitu saja, Anda bisa menikmatinya sebagai Preserved Vegetables and Bean Curd Soup, Deep-Fried Duck Bones with Salt and Pepper (kami percaya ini favorit masyarakat Indonesia pada umumnya), dan Duck Bone Congee.


Penyajian menu kedua ini bisa terjadi karena ukuran bebek yang cukup besar. “Berat standar untuk Bebek Peking adalah 2,8 kg, jika lebih dari itu, maka daging akan terasa lebih kering dan lebih a lot,” kata Christopher.


Anda tidak butuh rekomendasi kami untuk dim sum karena tidak mungkin salah jika memesan menu dim sum klasik seperti siomay, hakau, dan ceker ayam. Namun, jika Anda ingin sedikit berpetualang, Xiao Long Bao merupakan pilihan bijak. Baked Scallop Stuffed with Shrimp Paste and Homemade Bean Curd in Miso Mayo Sauce adalah menu yang tadi disebutkan jika Anda ingin sedikit pengaruh Jepang. Untuk dessert, sulit mencari lawan seimbang untuk Chilled Durian Pancake mereka.


Tentu saja, menjalankan restoran Chinese memiliki tantangan tersendiri. “Beberapa bahan baku sulit ditemukan di Jakarta, jadi kami butuh usaha ekstra untuk mengimpornya dan butuh waktu lebih lama hingga tiba di sini. Sebagai tambahan, ada begitu banyak resto Chinese yang enak di Indonesia, terutama di Jakarta, itulah tantangan terbesar kami. Namun, kami menganggapnya sebagai motivasi untuk terus berinovasi, melangkah maju dan mengumpulkan informasi di dunia kuliner dan menciptakan ide baru untuk menu,” kata Christopher.


Ditengah segala tantangan, Christopher sangat mengharapkan masa depan Jia. “Kami selalu berusaha untuk menjadi resto Chinese nomor satu di Jakarta. Di 2019, kami akan melakukan update menu, promosi khusus, dan yang paling penting adalah, kami selalu menjaga kualitas makanan kami.”



JIA
Shangri-La Hotel Jakarta, JL. Jend. Sudirman Kav. 1, Jakarta, 10220
Phone: +6221 2922 9999, www.shangri-la.com/jakarta/shangrila/dining/restau...

0 0
Feed