Meticulous Young Talent

Cerdas dan berbakat, Darwin Leonar membawa segenap pengalaman berharga dari karirnya di Negara Kangguru, Australia untuk mengkreasi hidangan segar nan lezat di FIKA Bali. Bersama Passion, pemuda asal Medan ini mengisahkan perjalanan profesinya sebagai chef dan juga sejumlah hal lain yang menarik; mulai dari definisi chef professional menurut dia, hingga peralatan memasak yang paling digemarinya.

Ceritakan perjalanan karir kamu hingga saat ini. Pengalaman apa yang paling berkesan selama kamu berkarir sebagai chef?

Pada tahun 2012, saya mengenyam pendidikan kuliner di LCB Sydney. Saya mengawali karir dengan bekerja di restoran Paddington Arms, di bawah bimbingan chef Colin Fassnidge, kemudian saya pindah ke 4 In Hand dan menapaki jenjang profesi hingga menjadi seorang Sous Chef. Setelah restoran 4 In Hand tutup, saya ditawarkan posisi di Cutler & Co Melbourne sebagai Chef de Partie. Selang satu tahun kemudian, Colin Fassnidge kembali menghubungi saya untuk menjalankan restoran 414 nya sebagai Head Chef. Selama 1,5 tahun di sana, saya dan tim berhasilmeraih penghargaan 1 Hat Award. 


Kemudian saya pindah ke Banksia Bistro (yang juga di kelola oleh Colin Fassnidge), sebelum saya memutuskan untuk ke Bali dan bekerja di restoran milik 8 Degree Project, FIKA. Pengalaman paling berkesan saya adalah ketika (selebriti) Chef Marco Pierre White datang untuk bersantap di 414 dan saya memasak untuknya.


Menurut kamu, apa definisi dari seorang ‘profesional chef’?

Seorang chef yang bisa bekerja di bawah tekanan, bisa bekerja sama dalam tim, tidak mundur atau menyerah di saat keadaan sulit, dan bisa menerima kritik.

Siapa sosok chef yang paling menginspirasi kamu, dan masakan apa yang akan kamu buatkan jika berkesempatan untuk bertemu dengannya?

Saya pikir semua chef memiliki talenta dan skill masing-masing yang senantiasa bisa kita pelajari. Tapi bagi saya, satu yang selalu menginspirasi saya adalah mama saya, karena dia bekerja sangat keras di restoran keluarga kami. Satu masakan yang akan saya buatkan untuk mama adalah Crispy Pork Belly, karena hidangan tersebut merupakan kesukaan beliau.

“Semua chef memiliki talenta dan skill masing-masing yang senantiasa bisa kita pelajari. Tapi bagi saya, satu yang selalu menginspirasi saya adalah mama saya, karena dia bekerja sangat keras di restoran keluarga kami.”

Jelaskan konsep masakan kamu di FIka Bali, dan apa gaya memasak khas (signature) kamu?

Di FIKA, kebanyakan produk kami dibuat sendiri (homemade), dan kami focus kepada kesederhanaan dan bahan-bahan segar. Jika tidak berkarir sebagai chef, profesi apa yang akan kamu pilih Mungkin saya akan berkarir di bidang IT (Informasi Teknologi) karena saya gemar programming semasa bersekolah. Tapi sekarang saya sudah lupa semua tentang hal itu (tertawa)

Apa hidangan Bali tradisional terakhir yang kamu cicipi dan paling berkesan bagi kamu? 


Sate lilit dan babi guling, karena komplektisitas bahan dan citarasanya dalam satu hidangan 


Jelaskan secara singkat tentang peralatan masak favorit kamu

• Microplane, karena ini merupakan alat yang serba guna. Anda bisa menggunakannya untuk memarut dan membuat bumbu beragam jenis hidangan.

• Hibachi Grill, karena bisa memberikan citarasa asap (smoked) yang nikmat di setiap masakan yang anda buat dengannya.

0 0
Feed