Matteo

Mencari Harapan

Harus diakui, belum ada pukulan seberat pandemi covid-19 bagi generasi kita. Ada beberapa sektor yang mendapat pukulan lebih berat dari sektor lain seperti pariwisata, penerbangan, travel, dan tentunya, F&B. Industri F&B tentu saja memiliki bidang-bidang lain, mulai dari restoran, hotel, pastry yang masing-masing terkena dampak pandemi secara berbeda. 


Jika Anda tidak mengetahui harus berbuat apa dalam situasi serba tidak pasti ini jangan khawatir, Anda tidak sendirian. Bahkan tokoh sebesar Stefu Santoso dan Adi Taroepratjeka saja hanya berani membuat rencana dari bulan ke bulan. Kami berbicara dengan beberapa tokoh F&B di bidangnya masing-masing. Selain untuk mengetahui tentang kondisi industri saat ini, kami juga mencari 1 hal yang lebih penting: harapan. Siapa tahu, pandangan dari beberapa sosok ini dapat memberikan inspirasi bagi Anda

Matteo Meacci Executive Chef Aryaduta Hotel Group


Ditengah wabah covid-19, banyak hotel yang memutuskan untuk tetap buka, namun tidak sedikit juga yang memutuskan untuk tutup sementara, seperti yang dilakukan Hotel Aryaduta Jakarta, Gambir. Kami berbicara dengan Matteo Meacci, Executive Chef Aryaduta Hotel Group yang memutuskan untuk menutup hotel pada 1 April 2020. 


 Matteo berbicara mengenai dampak covid-19 pada bisnis, dan pandangannya mengenai masa depan industri F&B ditengah situasi yang penuh ketidakpastian ini.Pengaruh pandemi covid-19 mulai dirasakan Matteo sekitar pertengahan Maret, setelah pengumuman kasus pertama oleh Jokowi. “Kami mulai mendapat pembatalan dan bisnis kami mendadak turun. Bahkan bahan-bahan biasa seperti bawang bombay harganya naik dua kali lipat.”Pertama, Hotel Aryaduta Jakarta, Gambir menutup Ambiente pada 23 Maret 2020, lalu Shima, kemudian pada 1 April, mereka menutup hotel secara keseluruhan. “Kami sampai pada keputusan ini karena cost untuk tetap beroperasi lebih besar daripada keuntungannya. Tidak ada bisnis lagi, banyak pembatalan, semuanya menjadi buruk secara tiba-tiba,” tutur Matteo.Beberapa kalangan menganggap kondisi ini akan menjadi “new normal”, apa tanggapan Matteo? “Saya tidak tahu bagaimana harus merespon pertanyaan ini. Saya tidak tahu seperti apa ‘new normal’. Kami melihat beberapa restoran kembali buka dengan kaca plexi diantara meja, bahkan kursi. Saya tidak bisa melihatnya sebagai ‘new normal’. 


Saya tidak percaya penggunaan pembatas semacam itu akan menjadi sesuatu yang normal, atau akan bertahan seterusnya.” Tentu saja, kita harus beradaptasi ulang dengan situasi, dengan jarak yang lebih lebar antar meja, penggunaan hand sanitizer, masker wajah untuk waiter. “Namun saya rasa itu tidak akan berlangsung seterusnya, untuk sementara saja,” tegas Matteo. Restoran harus lebih fokus membuat paket dan promosi delivery dan take away untuk sementara, karena untuk bisa kembali dine in, rasanya butuh waktu lebih lama. Jadi, untuk sementara, akan ada keseimbangan antara dine in, menjaga jarak, dan delivery.Beberapa kalangan menganggap tempat hangout mendapat pukulan terberat dari pandemi ini. “Tentu, mereka lebih menjual tempat, konsep, lokasi, dan suasana, daripada makanan. Restoran yang melakukan tugas mereka dengan baik dalam hal makanan, pelayanan, dan reputasi akan kualitas, akan pulih lebih cepat, sementara tempat hangout akan butuh waktu lebih lama,” jelas Matteo.


Namun, Matteo berpendapat dalam sekitar setahun ke depan, semuanya akan kembali ke situasi normal. “Orang harus berpikir ke depan dan kembali mengkonsumsi apa yang mereka suka dan meninggalkan ancaman pandemi ini di belakang. Kita cenderung untuk lupa dengan cepat. Meski banyak restoran akan tutup, namun akan ada restoran dan baru yang muncul dengan konsep dan ide baru.”


Ketika ditanya mengenai soal hal positif dari pandemi, Matteo menjawab, “saya bukan orang yang optimis. Ini adalah pukulan sangat berat bagi bisnis kami, dan juga semua bisnis hiburan, travel, hotel, dan restoran. Akan ada banyak perusahaan yang tidak bisa pulih dari pandemi ini. Beberapa industri seperti travel, hotel, maskapai penerbangan akan tutup, atau mereka akan terlilit hutang dalam jumlah besar yang butuh waktu lama untuk melunasinya.


”Satu hal yang saya rasa menarik, yang mungkin berarti positif, adalah kemunculan perusahaan, ide, pemain baru yang mungkin membawa angin segar bagi industri. “Saya rasa, waktu terbaik untuk membuka restoran baru adalah tepat di akhir krisis ini, ketika kita bersiap untuk kembali ke kondisi ‘normal’, ketika banyak restoran lama yang tutup, atau berjuang untuk kembali buka dengan konsep lama yang tidak bisa diadaptasi ke situasi baru. Akan ada banyak kesempatan baru, banyak pekerja ahli yang mencari pekerjaan baru, kembali pulihnya bisnis, dan banyak pemain baru yang akan mengambil keuntungan dari momen tersebut.”


Nina BerthaPastry Chef & Baking Instructor


Kami agak kesulitan untuk menjelaskan posisi Nina Bertha. Ia adalah seorang mantan model catwalk yang beralih profesi menjadi pastry chef sekaligus instruktur baking di beberapa tempat ternama. Meski menjadi model dan pastry chef mungkin terdengar sangat feminin, Nina juga adalah pecinta olahraga lari, Muaythai & Brazilian Jiu Jitsu. Dan jujur saja, ketika melihat beberapa Instagram story Nina, kami agak kebingungan, “orang ini pastry chef, atlit lari atau jiu jitsu?”


 “Double kill!” begitu Nina menjelaskan pengaruh covid-19 pada pekerjaan dan hobinya. Bagi Nina, pengaruh pandemi covid-19 ini cukup besar dalamerjadi penundaan dan pembatalan baik acara maupun kelas baking secara merata,” jelas Nina. Lebih jauh lagi, ia menjelaskan bahwa pandemi ini mempengaruhi bisnisnya dari sisi teknis pelaksanaan. “Yang biasanya bisa bertatap wajah dengan puluhan atau ratusan peserta, perlahan namun pasti semua harus terbiasa menggunakan dan harus semakin melek teknologi agar dapat mengikuti perubahan jaman,” tambah Nina.


Meski demikian, ia tetap mencoba bersikap positif dan jeli melihat peluang di masa pandemi ini, contohnya dengan banyak melakukan kegiatan baking online yang semakin marak serta membangun platform online yang digarap serius sebagai media utama.Nina melihat, setidaknya hingga 2 tahun ke depan, platform online akan menjadi andalan bagi para pelaku F&B untuk dapat bertahan dalam situasi pandemi. “Namun, ini tidak serta merta berarti masa depan F&B seolah-olah akan terus-menerus berbasis online. Pada mempengaruhi pekerjaannya. “Cukup meresahkan karena akhirnya, para pelanggan pasti akan tetap ingin menikmati makan atau minum tanpa harus terpaksa delivery atau take away. Hanya saja, kita memang harus bersabar dahulu dan dinamis mengikuti perubahan demi kesejahteraan banyak orang,” kata Nina.


Sisi positifnya, bagi sebagian besar orang, tentu saja mereka memiliki lebih banyak waktu bersama dengan keluarga, semakin peduli akan kebersihan dan kesehatan. “Dalam segi bisnis banyak sekali orang yang ‘dipaksa’ bergerak mengeluarkan ide kreatif dan menggali potensi mereka dengan memiliki kemampuan baru. Contoh sederhananya, banyak orang yang jadi bisa memasak, lalu berjualan, dsb,” jelas Nina.Nina yakin akan segera muncul bisnis model baru sebagai bentuk adaptasi agar roda perekonomian tetap berjalan dengan baik. “Sebuah model yang tidak berfokus pada masalah, namun pada solusi. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas udara yang membaik akibat berkurangnya polusi.”


Aston AdiwijayaPastry Chef & Pemilik Arturo Bakehouse, Bakebros, dan Roti PagiSehat


Bagi Aston Adiwijaya, pemilik Arturo Bakehouse, pandemi covid-19 cukup menghambat perkembangan bisnisnya. Sejak pertemuan terakhir kami dengan Aston, kini ia telah memiliki 2 unit usaha baru: Bakebros dan Roti PagiSehat.Aston menuturkan pengaruh pademi pada bisnisnya.“Penjualan pasti menurun, sama seperti usaha-usaha lainnya. Mayoritas konsumen saya adalah pelaku usaha F&B, dan mereka terpaksa harus tutup toko di masa pandemi ini. Selain itu juga keterbatasan ekpedisi yg mengirim produk makanan ke luar daerah juga menjadi kendala,” kata Aston.Hanya saja, untungnya Aston langsung bergerak cepat kontak kenalan yg punya koneksi ke rumah sakit untuk menggalang donasi berbentuk roti, dan ini terbukti cukup efektif. 


Selama beberapa minggu belakangan, ia memproduksi donasi roti ke rumah sakit dengan brand Bakebros Awalnya, Aston dan 2 orang partnernya membuat Bakebros tujuan komersil. Mereka telah membuka outlet dengan konsep gerobak yang menjual croissant dan bomboloni di Pasar Mayestik seminggu sebelum pandemi. “Kami mendapat respon pasar yang lumayan bagus. Ketika pandemi, kami juga sempat membuka 2 outlet lagi, di Cinere dengan konsep toko, dan Pasar Bintaro sektor 7 dengan konsep gerobak. 


Namun karena pandemi, kami memutuskan untuk menghentikan semuanya dan fokus berjualan untuk donasi rumah sakit via online melalui sistem PO,” jelas Aston.Bagaimana dengan Roti PagiSehat? “Roti PagiSehat konsepnya adalah menjual roti manis enak, lembut, sehat, dan terjangkau. Target kami adalah buka di pasar tradisional, serta keliling perumahan, dan hanya di pagi hari jualannya. Bedanya, roti manis kami menggunakan wheat bran dan wholemeal sebagai pilihan yang lebih sehat. Karena konsepnya jauh melenceng dari konsep artisan Arturo Bakehouse, maka saya memutuskan untuk membuat merk baru,” kata Aston.Ada beberapa langkah yang dilakukan Aston untuk mengantisipasi pandemi ini. 


“Kami melakukan sistem rolling karyawan agar dapur tidak terlalu penuh sekaligus meminimalisir biaya operasional. Kami juga menyimpan stok bahan baku seperlunya, lalu mencari celah untuk menggalang donasi berbentuk roti ke rumah sakit, yayasan yatim piatu, dan mereka yang membutuhkan,” jelasnya.Aston mengakui peran dunia digital pada kemajuan industri F&B, terutama dalam hal pemasaran. “Namun hal ini belum tentu dapat dijadikan sebuah perpindahan cara berbisnis F&B secara digital (digitalisasi bisnis), karena menurut pandangan dan pengalaman saya, bisnis F&B bukan hanya tentang produk, tetapi juga pengalaman si konsumen dalam menikmati produk tersebut. Dan hal ini hanya akan didapat di toko atau restoran.


 Pelaku usaha semakin kreatif dalam menampilkan outlet beserta pelayanannya, sehingga kedua hal inilah yg menciptakan pengalaman tersendiri sehingga konsumen kembali lagi,” kata Aston.Selain lebih peduli kebersihan diri sendiri, lebih peduli terhadap sesama, Aston melihat pandemi ini membuat orang lebih sadar akan metode penjualan digital dan usaha UMKM yang dikelola secara digital, sesuatu yang belum banyak berkembang di masyarakat. Kami melakukan sistem rolling karyawan agar dapur tidak terlalu penuh sekaligus meminimalisir biaya operasional. Kami juga menyimpan stok bahan baku seperlunya, lalu mencari celah untuk menggalang donasi berbentuk roti ke rumah sakit, yayasan yatim piatu, dan mereka yang membutuhkan



Jose Pelo JrD’Lanier Artisan Chocolate


Jose Pelo Jr dari D’Lanier Artisan Chocolate menjelaskan dampak dari pandemi ini pada bisnisnya dan mengajak kita untuk mengubah pola pikir. “Kami memiliki 4 outlet yang berlokasi di mal. 3 dari mal diharuskan tutup selama masa PSBB, sementara yang 1 sangat sepi karena rendahnya kepercayaan masyarakat ketika harus bepergian ke luar, karena alasan keamanan. Kami tidak memiliki pilihan lain selain menutup semua outlet yang beroperasi. Meski demikian, kami sold out di beberapa supermarket high end di Bandung dan Jakarta, termasuk di market place digital seperti Shopee dan Tokopedia.


”Ketidakpastian ini akan berlanjut di 1-2 bulan kedepan, mungkin setelah itu secara perlahan kondisi baru akan pulih. “Oleh sebab itu, saya berpikir semua orang akan berada dalam kondisi ini untuk 3-4 bulan ke depan.”Daripada tenggelam dalam pesimisme, Joy lebih suka untuk melakukan hal sebaliknya. “Situasi semacam ini mengharuskan Anda untuk berpikir kreatif dan optimis dalam segala hal yang Anda lakukan, atau Anda akan dipengaruhi oleh banyak hal negatif di sekeliling Anda. Anda harus menemukan kesempatan ditengah krisis, dan sebetulnya, ada banyak,” tambahnya.


Ketika banyak komoditas lain yang mengalami penurunan harga seperti cabai dan daging ayam, Joy menolak untuk memberikan prediksi mengenai harga kakao. “Pasar kakao saat ini sangat tidak bisa diprediksi, kita akan lihat kenyataannya dalam 3 bulan ke depan. Saya tidak ingin berspekulasi karena bahkan para ahli pun kesulitan untuk memprediksi dan memahami situasi saat ini,” jelas Joy.Tentu saja, selalu ada sisi positif dari setiap situasi buruk, termasuk pada saat pandemi ini. “Lihat saja ke langit yang lebih cerah, udara yang lebih segar, lalu lintas yang lebih lengang. Lalu Anda juga memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu dengan keluarga, atau menemukan kedamainan pribadi, yang bagi saya merupakan hal terpenting,” kata Joy. 


Pada saat bersamaan, Joy dan timnya juga memiliki waktu lebih banyak untuk menyiapkan produk baru yang akan segera diluncurkan sekaligus memikirkan langkah selanjutnya, baik selama pandemi, dan setelahnya. “Kita akan menghadapi dan selamat dari pandemi dan krisis ekonomi ini. Dan ketika tantangan ini sudah terlewati, kita akan menjadi lebih kuat, lebih baik,” tutupnya.



0 0
Feed