Invitation to Provence

Experiencing the rustic charm of French and Mediterranean cuisine at Kebun Bistro.


The long and busy street of Hanoman is renowned for being the location of several impressive eateries. Kebun Bistro is one of them. Since opening its door five years ago, the casual restaurant continues to flourish and expand. The space gets wider, accommodating its growing and loyal customers’ needs. As we arrive at the bistro, the sun was just recently set and Ubud is getting slowly back to being the village it once was. Visiting Kebun Bistro requires an empty schedule because the ambience will seduces its visitors to sit back and linger. No visit here should ever be rushed. 


There are the green potted plants and hanging vines, earth coloured walls and curvaceous iron lattice on the window. The feeling of being in an open-air veranda of somebody’s house in a small town of France is made even more real with the mismatched chairs made of wood and rattan as well as the square white marble table tops. 


The menu is taking its inspiration from Provençal cuisine which relies heavily on the use of olive oil, fresh herbs, sun-kissed vegetables, and influenced by the light Mediterranean cuisine. I am glad to report that its wine cellar is stocked with fine wine collections from France, South America, Australia, and beyond. My starter arrives right after I finished my first glass of a fruity Shiraz. A bowlful of escargot submerged in a luxurious bath of butter, oil and the fragrant chopped parsley is a morsel of good life. The snails are plump and juicy while the accompanying baguette is crusty. In no time at all, what remains on the plate is just crumbs. 


Sharing the grilled sesame tuna salad with my friend turns out to be a good idea since the portion is quite generous. The tuna is medium rare and goes very well with the citrus dressing, sun-kissed tomatoes, avocado, black olives, rucola, and asparagus. It makes a nice change after the flavourful escargot.


As the quintessential French dish, the duck confit also meets my expectation. It is meltingly tender and can be easily pulled from the bone as a result of slowly being cooked in the oven for three hours. The accompanying green peppercorn sauce adds a depth and soft heat into the dish. 


We close the meal with the mille-feuille. The sweet vanilla custard cream and layers of crispy pastry is served with a slightly sour strawberry coulis. All in all, it was a balanced and beautifully presented dessert. A romantic French chanson is playing in the background and we finally agree on another glass of Chilean Chardonnay before slowly making our way home. An evening well spent is one with good wine and good food. Fortunately, tonight we have both.


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Jalan Hanoman yang panjang dan sibuk dikenal sebagai lokasi beberapa tempat makan yang mengesankan. Salah satunya adalah Kebun Bistro. Sejak buka lima tahun yang lalu, restauran informal ini terus berkembang dan meluaskan usahanya. Luas ruangannya bertambah untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggannya yang bertambah banyak dan selalu setia. Saat kami tiba di bistro, matahari baru saja terbenam dan Ubud tengah kembali mewujud ke desa yang sesungguhnya. Mengunjungi Kebun Bistro membutuhkan jadwal yang kosong karena suasananya akan merayu pengunjungnya untuk betah berlama-lama. Jangan pernah mengunjungi tempat ini dengan terburu-buru. 


Terdapat pot-pot tanaman serta tumbuhan rambat yang menggantung, tembok-tembok berwarna tanah dan jeruji besi berlekuk di jendela. Rasa tengah berada di beranda terbuka pada rumah seseorang di sebuah kota kecil di Prancis makin kuat dengan penggunaan bermacam-macam kursi dari kayu maupun rotan serta meja berpermukaan marmer putih.


Menunya mengambil inspirasi dari masakan khas Provençal yang cenderung menggunakan banyak minyak zaitun, rempah segar, sayur mayur yang tumbuh di bawah terik matahari, dan dipengaruhi oleh masakan Mediterranean yang ringan. Dengan senang saya bisa melaporkan bahwa gudang anggurnya dipenuhi oleh koleksi anggur yang baik dari Prancis, Amerika Selatan, Australia dan beberapa negara lain. Makanan pembuka saya tiba setelah saya menghabiskan segelas anggur Shiraz pertama saya. Semangkok escargot yang tenggelam di dalam rendaman mewah butter, minyak dan parsley yang wangi adalah sedikit rasa dari hidup yang menyenangkan. Siputnya ranum dan berair sementara roti baguette yang menemaninya sungguh renyah. Tanpa terasa, apa yang tersisa di atas piring hanyalah remahan roti belaka.


Keputusan untuk berbagi salad tuna wijen panggang ternyata adalah ide yang baik karena porsi sajiannya cukup besar. Ikan tuna dimasak medium rare and berpadu apik dengan citrus dressing, tomat segar, avocado, buah zaitun hitam, rucola serta asparagus. Sungguh sebuah padanan yang lezat setelah menghabiskan seporsi esacargot yang gurih.


Sebagai salah satu contoh khas masakan Prancis, sajian duck confit juga sesuai dengan harapan saya. Dagingnya sungguh empuk dan dengan mudah dapat disobek dari tulangnya sebagai hasil dari proses memasak yang memakan waktu hingga tiga jam di oven. Saus peppercorn hijau yang melumurinya juga turut memperkaya rasa serta menyumbangkan sensasi hangat di hidangan itu.


Kami menutup makan malam kami dengan mille-feuille. Paduan manis vanilla custard cream dengan lapisan garing tipis disajikan bersama strawberry coulis yang sedikit asam. Sungguh, sebuah makanan penutup yang berpenampilan cantik dan seimbang. Musik chanson khas Prancis mengalun merdu dan kami bersepakat untuk menutup malam dengan segelas anggur Chardonnay dari Chile sebelum beranjak pulang. Malam yang sempurna adalah malam yang dihabiskan dengan makanan lezat dan anggur yang nikmat. Beruntunglah, malam ini kami merasakan keduanya.

0 0
Feed