[ID] - The Trending Celebrities’ Cake Phenomenon

Segala sesuatu yang mempercepat laju perekonomian merupakan hal yang baik, namun, CRK mengingatkan kita akan bahaya melaju terlalu cepat. Selebritis yang memiliki bisnis sampingan bukanlah hal baru. Namun tren cake selebriti ini tentu akan menjadi perhatian semua orang ketika para mereka melakukannya secara kolektif, dan terutama setelah mengetahui bahwa omset bisnis ini dalam sehari dapat menyamai penjualan satu outlet lain selama sebulan. Chef Rahmat Kusnedi (CRK), Presiden Indonesia Pastry Alliance (IPA) menjelaskan tentang sejarah kehadiran cake selebriti, berikut dampak positif dan negatif dari tren yang berlangsung secara nasional ini.


Siapa yang memulai tren cake selebriti ini?

Saya mengikutinya ada 2 sumber besar: Medan Napoleon oleh artis Irwansyah dan Malang Strudel oleh Teuku Wisnu (keduanya merupakan saudara ipar). Menurut saya ini lebih ke arah revolusi marketing karena berkaitan dengan pola bisnis.
Oleh-oleh sudah ada sejak dulu, hanya saja memang dikelola secara konvensional. Sementara sekarang ini pengaruh media sosial begitu kuat dan artis memiliki banyak waktu luang. Mungkin perfilman sedang lesu dan pembajakkan yang terjadi di industri rekaman, namun mereka merasa ketenaran yang mereka memiliki seharusnya memiliki dampak positif karena mereka memiliki banyak follower di media sosial. 


Apakah ini merupakan fenomena pertama?
Sebetulnya Harvest telah menjalani ini di tahun 2000an dengan artisnya Ari Wibowo. Setelah saya dalami, harga kontrak ini cukup mahal, bisa mencapai milyaran, bagi para pemain baru, ini angka yang cukup memberatkan. Yang terjadi adalah, para artis tersebut kemudian dijadikan ikon dan diberikan saham.

Masalahnya adalah produk-produk ini bukanlah oleh-oleh khas daerah tersebut.
Memang bukan, mereka juga tidak mengklaim seperti itu. Setelah kedua produk tadi, sukses terbesar mereka adalah Bandung Makuta yang mengendorse Laudya Cynthia Bella. Ini yang sukses membuat antrian gila-gilaan. Dalam sehari mereka sanggup menjual ribuan box cake seharga Rp 54.000 – Rp 80.000. Ini sudah berjalan lebih dari 6 bulan dan trennya masih terus naik.
Sedikit banyak, tentu saja fenomena ini mengganggu pangsa pasar dari pemain lama seperti Kartika Sari dan Prima Rasa. Ini harus diantisipasi sehingga tidak terjadi gesekan seperti yang terjadi pada fenomena transportasi online VS transportasi konvensional. Kehadiran fenomena ini mengubah peta kekuatan food service karena artis-artis ini menjadi incaran distributor karena untuk satu bahan baku, pemesanan mereka hitungannya sudah per container.

Sebetulnya apa yang diharapkan pelanggan dari produk ini?
Pertama tentu saja pelanggan melihat figurnya. Ketika Gigieat milik Nagita Slavina melakukan opening, Nagita menjadi kasir dan melayani sendiri pelanggan selama 1-2 hari pertama. Bahkan sebelum jam buka, antrian sudah panjang karena orang ingin sekaligus berfoto dengan Nagita.
Kedua baru kualitas produknya. Ini juga menjadi pro kontra, dengan konsep take away, seseorang bisa saja mencicipi produk di outlet yang masih hangat dan crispy sehingga ia bilang enak. Sementara sesampainya di rumah, produknya sudah dingin dan menjadi soggy lalu orang lain mengatakan tidak enak. Hal semacam ini sudah sangat biasa di produk jenis lain.
Kembali lagi, ini bukan soal enak atau tidak, ini soal perputaran uang yang luar biasa. Ibaratnya, bisnis ini bisa BEP (Break Even Point) hanya dalam setahun, sehingga tidak terlalu masalah jika tahun berikutnya akan turun.

Saya ingat fenomena semacam ini pernah terjadi di tahun 1998 melalui tren café tenda artis.
Ya. Bisa dibilang ini seperti bisnis kagetan. Bayangkan, di Bandung itu sehari mereka bisa menghasilkan ratusan juta rupiah dalam sehari, sementara jumlah itu bisa jadi merupakan omset satu outlet biasa selama sebulan. Namun tentu saja nanti akan ada serangan balik dari pemain lama. Bagaimanapun juga, pemain lama memiliki mental yang sudah teruji, mereka mengetahui peta kekuatan, keadaan pasar, apa kendalanya, di mana bottlenecknya, solusinya seperti apa. Meski pemain lama mungkin agak telat dalam merespon fenomena ini, mereka cenderung akan lebih stabil dan sustain.

Bagaimana soal penggunaan nama kota, apakah ada regulasinya?
Untuk soal nama kan sudah ada HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual), sejauh belum ada yang menggunakan dan mempatenkan, seharusnya tidak masalah, asalkan mereka tidak mengklaim sebagai sesuatu yang otentik. Katakanlah pada kasus Malang Strudel, mengapa menggunakan nama Malang? Karena Malang identik dengan apel yang menjadi isian produk tersebut, jadi memang masih ada korelasi dengan daerah asalnya.

Dampak negatif semacam apa yang mungkin terjadi?
Yang harus diwaspadai adalah soal bajak membajak karyawan dari hotel berbintang dan grup-grup besar. Jika suatu saat trennya berhenti, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya? Buat saya ini cukup berat, bahkan bisa berdampak secara nasional karena artis lain mulai mengikuti tren ini di kota-kota lainnya. Ini kita sedang bicara bicara karyawan yang jumlahnya ribuan, tidak sedikit.
Kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi adalah pasar yang jenuh. Dari kasus industri rekaman kita bisa waspada soal pembajakkan. Bandung Makuta telah memiliki imitator yang menjual dengan harga lebih murah dengan packaging yang mirip. Ketika para artis itu menuntut, apakah mereka sendiri sudah mengurus segala perijinannya dengan benar? Ketika ada Gigieat, saya bisa saja membuat brand Gigiout, beda kan?
Bagaimana solusinya?
Harus ada yang mengatur soal ini. Usaha artis ini harus memiliki SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan), PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), bahkan untuk sertifikat halal saja, proses pengajuannya bisa memakan waktu paling cepat 4-5 bulan. Saya paham mereka bisa kehilangan momen jika harus mengurus semuanya terlebih dahulu. Sebaiknya usaha dan pengurusan ijin ini berjalan secara paralel dari awal. Yang terjadi adalah, banyak yang mengabaikan hal ini. Bagaimana jika terjadi sidak (inspeksi mendadak)? Ini akan menjadi masalah berdasarkan laporan pajak.
Namun tentu saja, sisi positifnya adalah bisnis ini dapat memutar roda perekonomian dengan cepat. Jika mereka jeli, sebetulnya bisnis ini sejalan dengan target pemerintah untuk menciptakan terobosan oleh-oleh khas daerah di destinasi wisata baru. Contohnya, Danau Toba identik dengan buah markisa , produk apa yang bisa dibuat? Mungkin pudding, bolu, atau keripik markisa? Pak Jokowi sedang menggalakkan terobosan semacam itu untuk mengaktifkan ekonomi riil dari hulu.

0 0
Feed