[ID] - The Great Dairy Deliverer

Sebagai sosok pendiri Bali-Alm Company, Christoph Kaffanke paham betul bagaimana cara menciptakan produk dairy berkualitas dari nol, karena itulah yang telah ia lakukan melalui pabrik rumahannya selama ini.


Perusahaan penghasil produk dairy di Bali jumlahnya bisa dihitung dengan jari, namun dari angka yang sedikit itu, seluruhnya benar-benar mengerahkan seluruh upaya mereka untuk menciptakan produk yangbaik sekaligus senantiasa berusaha untuk mempertahankan kualitas mereka. Di edisi ini, kami berbincang dengan Cristoph Kaffanke, pria di belakang Bali-Alm Company, untuk mendapatkan sudut pandang orang-dalam tentang bagaimana caranya menghadapi kenaikan permintaan dari bahan makanan ala Barat ini di Bali dengan memaksimalkan pengetahuan Eropa nya dengan sumber daya lokal yang ada.



Ceritakan sedikit kepada kami tentang Bali-Alm. Bagaimana semua ini bermula?

Bali-Alm bermula di sekitar tahun 2012. Kami memulai pertama kali dengan mencoba beberapa varian yogurt dan keju berbahan dasar lokal. Karena kebutuhan hidup keluarga dan juga pembangunan pabrik tenaga-air yang tengah saya lakukan di Lombok, saya mendapatkan ide untuk membuat sesuatu seperti keju dan yogurt karena saya sadar pada saat itu bahwa hanya sedikit pabrik serupa yang ada di Indonesia. Camembert adalah tipe keju pertama yang kami ciptakan, dan juga beberapa jenis yogurt.




Apa produk utama dari Bali-Alm dan kemana anda mendistribusikannya?

Produk utama kami saat ini dibagi ke dalam dua macam; pertama adalah yogurt. Saya bisa bilang bahwa yogurt kami adalah yang terbaik di Indonesia. Kami tidak membuatnya dengan penyeimbang atau pewarna kimia, melainkan hanya dengan susu dan bubuk susu. Yang kedua adalah produk keju Camembert dan Brie. Perbedaan dari dua jenis keju ini sesungguhnya hanya terletak pada namanya, yang diambil dari nama daerah di Prancis yang membuat keju dengan metode tersendiri, dan juga ukurannya; satunya besar (Camembert) dan satu kecil (Brie).

95% dari produk kami didistribusikan ke hotel bintang lima. Yogurt kami bukanlah yang termurah yang bisa anda temukan di pasaran, tapi saya bisa menjamin kualitasnya. Saya pernah kedatangan beberapa perwakilan dari pabrik yogurt terbesar di Jerman yang mengatakan bahwa biaya produksi yogurt saya terlalu mahal, tapi kualitas saya tinggi. Bahkan bisa lolos standar Jerman. Saya hanya mencoba membuat produk sebaik mungkin. Banyak hotel berbintang di Bali yang menggunakan yogurt kami, dan sekarang kami juga memiliki dua toko kecil untuk melayani pelanggan pribadi, tapi saat ini kami fokus kepada pasar perhotelan.



Bagaimana metode untuk membuat produk Bali-Alm secara umum? Apa yang membedakannya dari pabrik serupa lainnya?

Bagaimana cara membuat keju atau yogurt secara umum, pertama-tama adalah dengan mendapatkan susu berkualitas langsung dari peternakan – di Bali-Alm, kami datangkan dari Pulau Jawa. Ada dua macam susu yang bisa anda gunakan; mentah atau terpasteurisasi. Bagi kami, saya hanya menggunakan yang terakhir. Saya lebih memilih citarasa produk saya sedikit lebih rendah tapi tidak aka nada yang jatuh sakit karena mengkonsumsinya.



Jadi anda bisa meminimalisir resiko yang ada dengan menggunakan susu pasteurisasi?

Betul. Setidaknya anda bisa mengendalikan resiko dengan lebih baik. Susu adalah bahan beresiko tinggi, terutama di negara dengan iklim tropis seperti Indonesia. Ini adalah masalah yang dihadapi oleh seluruh perusahaan dairy, bahkan yang berteknologi tinggi seperti di Jerman. Hal apapun bisa saja terjadi.

Apa yang membedakan saya dari yang lain; well, saya tidak pernah mendengar atau membaca kompetitor atau pabrik lain manapun yang menggunakan bubuk susu full-krim. Di sini, kami hanya menggunakan yang full-krim, kadar lemak (di produk) saya lebih tinggi dari semua produk kompetitor lainnya. Lemak adalah perantara rasa terbaik untuk seluruh jenis makanan.



Menurut anda, bagaimanakah prospek untuk memiliki sebuah peternakan sapi untuk produk dairy di Bali? Apakah ada kemungkinan untuk hal itu di masa mendatang?

Saya pikir di daerah pegunungan hal itu mungkin, seperti Bedugul atau Kintamani. Tapi yang pernah saya dengar adalah di Bali sendiri, beternak sapi seperti yang dilakukan di Barat atau pulau Jawa tidak diperbolehkan, karena kepercayaan lokal menyebut bahwa anda tidak diperbolehkan untuk memerah susu sapu. Tapi, ya, secara teknis, peternakan sapi adalah hal yang bisa dilakukan di Bali.



Mengapa anda memilih daerah ini untuk mendirikan pabrik? Ada alasan tertentu?

Well, sekolah anak-anaksaya dekat dari sini (tertawa). Ini adalah tanah dengan harga termurah yang bisa saya temukan..


Itu adalah alasan praktis! Tapi maksud kamu lebih kepada sudut pandang teknis; apakah iklimnya mempengaruhi proses produksi atau semacamnya?

Setiap macam iklim memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Saat saya membeli lahan ini dan pindah kesini, saya tidak terlalu peduli tentang membuat keju, hal pertama yang saya pikirkan adalah memberikan rumah tinggal bagi keluarga saya. Saya juga tidak menyadari bahwa bisnis ini akan terus tumbuh berkembang dengan pesat. Keluarga adalah yang terutama bagi saya, kemudian baru keju, jika sebaliknya, maka saya sepertinya akan memilih untuk tinggal sedikit lebih ke Utara pulau Bali, namun saat itu keputusannya adalah seperti yang saya singgung sebelumnya. Keunggulan lain dari lokasi kami sekarang adalah kami bisa lebih cepat mencapai para pelanggan kami; yang terdiri dari hotel di wilayah Jimbaran, Nusa Dua,
Kuta dan Legian.



Saat ini dunia tengah mengarah kembali kepada ‘kesadaran hidup sehat’, bagaimana kiat anda untuk menyesuaikan produk dairy anda dengan tren / pergerakan tersebut?

Sejak awal, kami tidak pernah menggunakan bahan kimia apapun untuk membuat produk kami. Untuk yogurt, saya menggunakan buah lokal, kecuali beri hitam yang harus kami datangkan dari Bandung. Kebanyakan competitor tidak melakukan hal ini karena memakan terlalu banyak biaya. Kami membuat sekitar 10-15 rasa berbeda  tergantung musim (buah) nya, dan semua saya racik sendiri. Dalam membuat perisa yogurt, tidak ada bahan lain kecuali buah, gula dan lemon- seperti apa yang
anda gunakan untuk membuat pasta selai pada umumnya. Saya pikir kami sudah membuat produk sehat sejauh ini. Saya bisa katakan bahwa produk kami dibuat sedekat mungkin dengan alam, tapi saya tidak menyebut mereka ‘organik’, karena ada perbedaan standar terhadap istilah tersebut dimanapun, tergantung pada negara dan kondisi setempat.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka yang bergaya hidup super-sehat, kami juga mulai membuat beberapa produk vegan non-dairy, termasuk juga keju, dan sejauh ini sukses besar. Tapi secara umum, kami adalah perusahaan produk dairy, jadi kami ingin tetap berada di jalur tersebut dan tidak mau berkompromi dengan bahan serta metode kimia apapun untuk membuat produk yang sejak awal kami ingin persembahkan kepada khayalak.



Apa rencana terdekat anda untuk Bali-Alm di masa depan?

Seringkali, saya merasa takut karena saya memiliki terlalu banyak ide (tertawa). Tapi tahun ini kami akan melempar produk baru ke pasaran, sebuah minuman kesehatan. Kemudian, saya juga mengkreasi sebuah keju baru; yang saya namai ‘St. Jaime’, seperti nama putri saya. Ini adalah tipe keju Bucheron asal Swiss, tapi karena iklimnya di sini sangat berbeda, kami buat dengan menggunakan kultur aslinya, dan berharap bisa mempertahankan struktur serta rasa orisinil keju Bucheron pada produk akhirnya. Kami berencana menjual keju ini kepada pasar mewah (high-end), dan dikemas di dalam kotak kayu tersendiri.




BALI-ALM COMPANY
Jl. Bukit Bintang 18a, Ungasan, Kuta Sel., Jimbaran, Bali 80361 

Phone : +62 812 3790 3290

0 0
Feed