[ID] - Sweet Troops

Akui saja, style dekorasi cake kadang bisa menjadi sesuatu yang sangat personal, sehingga, cukup sulit untuk menemukan baking studio yang sesuai selera Anda. Namun, itu dulu, berkat Internet (spesifiknya, Instagram) menemukan baking studio yang cocok tidak pernah lebih mudah. Ketika kami menemukan baking studio yang kami suka, seperti Sweet Troops, fakta bahwa bisnis ini dijalankan oleh 2 gadis cantik tentu saja merupakan bonus yang menyenangkan. Nina Bertha dan Livianca Venaessa bercerita tentang bagaimana kisah pertemuan mereka, menjalankan bisnis baking studio, dan visi mereka di industri baking dan dekorasi.


Nina, sebelum bicara soal Sweet Troops, saya dengar Anda sebelumnya adalah seorang model?


Nina Bertha (NB): Ya, terlihat tidak? Ceritanya dulu saya anak bandel yang tidak mau kuliah, jadi saya melarikan diri dengan ingin sekolah modeling agar diijinkan orang tua. Setelah 3 tahun, saya merasa ingin sesuatu yang lebih stabil untuk masa depan, akhirnya saya mengambil kuliah jurusan Bahasa Inggris dan lulus sebagai Sarjana Pendidikan. Setelah itu saya juga sempat ikut Master Chef (Season 2) karena dorongan teman-teman yang tahu saya suka membuat kue. Saya tidak menang sih, tapi saya berhasil masuk 30 besar dari 5 kota besar, ya lumayan oke lah.


Lalu bagaimana Anda berdua bisa bertemu?

NB: Kami bertemu di salah satu kompetisi membuat kue ulang tahun yang diadakan untuk menyambut ulang tahun satu majalah ke-42 pada 2014. Pertama kali melihat Via (Livianca) saya malah tidak suka karena saya pikir, “ini perempuan mau lomba tapi dandannya aneh sekali!” Ternyata setelah saya didandani oleh make up artist, saya juga jadi jelek hahaha.


Bagaimana dengan latar belakang Anda, Livianca?


Livianca Venaessa (LV): Dulu saya mengambil kuliah S1 Hukum di Universitas Pelita Harapan, namun setelah magang di sebuah law firm, saya merasa tidak cocok. Akhirnya saya mengambil kelas Pastry di TAFE Perth, Australia. Setelah kembali ke Indonesia, saya bingung mau berbuat apa. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka baking studio, karena kebetulan ada kenalan saya yang buka bisnis sejenis, kurang lebih saya tahu seluk beluknya. Namun jika harus buka sendiri, saya sungkan, akhirnya setelah melihat profil Nina di Instagram, kami melakukan kontak, ketemu untuk ngobrol.


NB: Setelah kompetisi kue ulang tahun itu, kami tidak berhubungan lagi, hanya sekedar berteman di Facebook. Namun ketika jaman Instagram, kami mulai saling melihat dan memberikan “like” satu sama lain. Bahkan pertemuan kami sudah seperti tunangan, kami membawa orang tua masing-masing. Perkenalan kami lebih jauh malah terjadi seiring berjalannya bisnis, kami mengadakan kelas pertama Sweet Troops pada Februari 2017.


Mengapa memilih bisnis baking studio?

NB:Awalnya kami sempat terpikir untuk membuat produk pastry dan supply ke café, tapi saya bilang ke Livia, bahwa bisnis semacam itu tidak enak untuk dijalani, rumit dan lebih mengarah ke nightmare. Misalkan kami menjadi supplier pastry, kami butuh banyak sumber daya manusia, di semua bisnis, itu masalah utamanya. Belum lagi kita bicara soal menjaga standar kualitas, masalah delivery, lalu soa pengembangan produk. Biasa café tidak ingin memiliki produk yang sama dengan café lain, misalkan kami punya 10 klien dan masing-masing minta dibuatkan 3 produk, kami harus membuat 30 produk. Variasi ini akan melibatkan banyak alat, belum lagi jika kita bicara packaging. Saya pernah kerja di perusahaan semacam itu, begitu masuk dapur itu seperti…..pecah! Banyak sekali barangnya. Akhirnya saya menyarankan untuk membuka kursus, karena maintenancenya tidak serumit dapur produksi.


Bagaimana pembagian tugas diantara kalian berdua?

LV: Nina lebih ke mengajar kelas baking, sementara saya lebih ke cake decorating, kami saling mengcover satu sama lain. Di Sweet Troops, kedua bidang ini kami pisahkan. Di kelas baking, kita akan membuat cake from scratch, sementara di kelas decorating, sama sekali tidak melibatkan baking.


Bisa jelaskan sedikit tentang produk yang Anda buat ini?

NB: Ini merupakan Geode Cake. Mungkin di luar negeri cake semacam ini sudah banyak, namun di Indonesia, menurut saya Sweet Troops adalah yang pertama kali mempopulerkan konsep ini. Jika ada pihak lain yang mau mengklaim hal ini, silahkan saja, kami tidak masalah. Setelah kami mengajarkan, mungkin ada murid kami yang membuatnya untuk jualan dan mereka mempostingnya di media sosial, lalu mulai banyak yang mengikuti.


LV: Kami tidak memungkiri bahwa kami juga melihat tren ini dari Internet, namun kami tidak begitu yakin soal siapa yang memperkenalkannya, infonya tidak begitu jelas, kemungkinan besar Geode Cake berasal dari Australia atau Amerika. Sebetulnya proses pembuatan dekorasi yang terbuat dari gula batu ini lumayan sederhana, namun memang butuh waktu lama. Geode Cake sering dijadikan kue ulang tahun, namun sebetulnya cocok juga untuk pernikahan karena mewah.


Sejak awal buka hingga sekarang, bisa ceritakan mengenai perubahan tren yang Anda amati?

NB: Pastinya banyak perubahan, untuk baking, kita kembali lagi ke tren roti jadul…

LV: …seperti bola meses, bolu nougat. Dulu kan sempat tren cake seperti Red Velvet, Nutella Cake, namun sekarang kita kembali lagi ke konsep tradisional.

NB: Namun untuk produk-produk hotel seperti glazing, entremets, praline, dan mouse cake bukanlah ranah Sweet Troops, kami lebih ke sesuatu yang artisan.

LV: Target audience kami lebih ke home dan dekorator profesional, mereka ke sini lebih untuk mencari inspirasi dekorasi yang unik.


Apa tantangan terbesar yang dihadapi Sweet Troops?

LV: Setiap orang memiliki ekspektasi dan level kemampuan yang berbeda-beda, kami mencoba untuk memenuhi harapan dan tuntutan mereka.

NB: Tidak mungkin untuk membuat semuanya happy, tapi kami selalu berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik. Kami ingin pelanggan kami memiliki pengalaman belajar terbaik dan suasana yang nyaman. Tantangan lain adalah soal mencari tutor yang “bagus”…

LV:…secara teknis mungkin produk mereka bagus, namun tidak semua orang memiliki passion untuk mengajar. Beberapa tutor malah asyik sendiri, orang hebat belum tentu bisa mengajar, secara verbal apa yang mereka sampaikan kurang bisa menjangkau para murid.

NB: Tantangan terakhir adalah menciptakan materi dan kelas baru yang tidak membosankan dan bisa menjadi tren, soal kreativitas.


Apa kelas paling populer di Sweet Troops?


LV: Tergantung trend, sekarang orang menyukai kelas baking yang sederhana…

NB: …yang cocok untuk UKM, tidak terlalu intimidating, tidak terlalu sophisticated, menggunakan bahan yang bisa didapat dimana saja, tanpa membutuhkan peralatan mahal seperti dough sheeter. Contohnya seperti bolu, produk ini bisa langsung dijual untuk usaha mereka. Bisa dibilang beberapa waktu belakangan ini jiwa nasionalisme orang Indonesia itu sedang membara. Jangan heran jika kue jaman dulu banyak diinterpretasikan kembali ke bentuk modern, seperti Klepon Cake, Es Teler Cake, dan ini (menunjuk majalah Passion Edisi Juli 2018), Cendol Cake. Salah satu pencetus tren ini adalah Karen Carlotta, siapa yang tidak mengenalnya? Sangat mudah untuk mentransfer sesuatu menjadi pastry, namun ia berhasil membuat orang penasaran. Di sini kami tidak mau ketinggalan tren dan kami juga membuat kelas produk semacam ini.


Apakah bahan seperti fondant dan buttercream masih trending?

NB: Lumayan, meski sudah kerap tergantikan dengan tren lain.

LV: Tapi bagaimanapun juga, untuk kue ulang tahun anak, fondant masih tetap menjadi pilihan utama karena konstruksinya lebih kokoh dan bisa dibuat berbagai macam bentuk. Untuk rentang usia tertentu yang lebih ke dewasa, mereka lebih menyukai buttercream, contohnya untuk Hari Ibu.

NB: Tingkat kesulitan dekorasi tentu berbeda-beda, tergantung budget..

LV: …tergantung karakternya mau dibuat semirip mungkin atau seasal mungkin hahaha! Kalo mau bagus sekali ya tentu butuh waktu lebih lama


Anda juga menjual produk bolu gulung dengan nama Gulung-Gulung, bagaimana ceritanya?

NB: Jadi awalnya saya membuat bolu gulung untuk materi kelas, kemudian Livia mencicipi, dia kan suka sekali semua produk pastry, kue, dan gula, lalu dia bilang lebih baik kita jual saja karena rasanya enak sekali. Akhirnya kami memutuskan untuk jualan lewat Instagram dahulu, karena membuka sebuah outlet itu tidak mudah, itu tantangan yang berbeda. Kami ingin berbisnis di bidang pastry, kami mau memaksimalkan saat studio Sweet Troops ini sedang tidak ada kegiatan. Lebih ke optimalisasi bisnis yang kita miliki sekarang.


Ada bayangan seperti apa Sweet Troops dalam 3 tahun ke depan?

LV: Secara internal, kami ingin berkembang sebagai tim. Sekarang ini kami hanya berdua, jadi kami ingin memiliki sistem sehingga jika ada kelas, kami tidak perlu terlibat dari pagi hingga selesai. Kami ingin memiliki waktu luang lebih banyak untuk memikirkan cara untuk lebih mengembangkan bisnis.

NB: Kami juga ingin go retail. Jika Sweet Troops di sini sudah bisa jalan sendiri, mengapa kami tidak hadir di mal sekalian? Sweet Troops dan Gulung-Gulung memiliki outlet sendiri di satu lokasi. Tapi kembali lagi, kami ingin punya tim, tidak mudah untuk bisnis start up untuk membangun tim, jadi kami harus memulainya dari langkah-langkah kecil.




Sweet Troops Artisan Baking Studio

Jl. Teuku Nyak Arief No.3, Grogol Sel., Kby. Lama, Jakarta 12220 

Phone: +62 859 4591 2722, sweettroops.com

0 0
Feed