[ID] - Signature Product as Brand’s Identity

CRK menjelaskan pentingnya memiliki produk signature untuk semua brand F&B. Anda datang ke sebuah resto secara acak, setelah melihat banyaknya menu, Anda memesan, dan waiter hanya mencatat pesanan tanpa memberi rekomendasi. Ketika makanannya datang, Anda tidak suka, dan berjanji tidak akan kembali lagi, hingga seorang teman berkata bahwa Anda melewatkan produk signature resto tersebut. Hal ini kerap terjadi, ironisnya, karena ego dari owner yang percaya bahwa semua makanan di restonya enak, semuanya. Namun, menurut Chef Rahmat Kusnedi (CRK), memiliki produk signature lebih dari sekedar menghindari pelanggan memesan menu yang kurang favorit, produk signature berkontribusi pada identitas brand.


Kapan sebaiknya kita membuat produk signature?

Sebelum kita memulai usaha, kita sudah harus memikirkan apa produk signaturenya. Produk ini bisa menjadi sesuai seperti yang kita inginkan di awal, namun bisa juga menyimpang. Misalnya, jika kita mendesain cheese cake sebagai produk signature, bukan tidak mungkin tamu malah akan lebih menikmati chocolate cake.

Yang banyak terjadi adalah, jika kita ke Hotel Sari Pan Pacific, semua orang tahu produk signaturenya adalah Black Forest, kemudian Hotel Mandarin Oriental memiliki American Chocolate Cake, atau Hotel Boroudur dengan Sop Buntutnya.

Yang Anda sebutkan ini adalah hotel-hotel lama, mengapa hotel baru jarang yang membuat produk signature baru?

Menurut saya membuat produk signature adalah keinginan dari chef atau owner, terkadang mungkin mereka entah tidak sempat, belum terpikir, atau memang tidak memiliki tim kreatif.

Tidak hanya hotel, Dapur Cokelat populer dengan pralinenya, Union dengan Red Velvet, kemudian Harvest dengan Chocolate Truffle dan Cheese Cakenya. Sebetulnya, hampir semua hotel juga menyediakan cheese cake, namun tidak ada yang mempromosikannya secara maksimal. Bahkan daerah pun memiliki produk signature. jika Anda ke Bandung, Anda pasti ingat Pisang Molen Kartika Sari. Meski mereka menjual dodol, wajik, dan produk lainnya, ketika mendengar Kartika Sari, mereka ingat Pisang Molen. Bali juga memiliki Pie Susu dan Pia Legong.

Pada dasarnya, setiap brand harus memiliki ciri khasnya sendiri, itu terlihat dari produk signature, ini merupakan identitas brand. Seringkali orang lupa nama tempatnya, namun mereka tetap ingat makanannya.

Masalahnya terkadang owner merasa bahwa semua makanan yang mereka sajikan pasti enak sehingga mereka enggan memilih satu produk sebagai signature.
Intinya adalah, meski Anda memiliki banyak menu, harus ada satu yang istimewa. Anda harus memastikan bahwa para waiter bisa menceritakan keunggulan produk tersebut secara detail. Contohnya, jika Anda memiliki sebuah steak house, tentu Anda memiliki menu tenderloin, sirloin dari USA, Australia, atau Jepang. Namun Anda memiliki T-Bone yang sangat enak karena cara masaknya dengan metode slow roast, dan disajikan dengan saus yang berbeda.

Produk signature selain berperan besar dalam membentuk identitas, juga bertujuan untuk membuat cerita sekaligus mengangkat suasana. Ketika mendengar rekomendasi dari waiter, seseorang memutuskan untuk memesan dan menyukai produk signature, ketika ia kembali lagi dan membawa teman, dia akan merekomendasikannya. Sementara ia sendiri mungkin akan mencoba menu lainnya. Jika Anda tidak memiliki produk signature, perjalanan bisnisnya tidak memiliki fokus, dan biasanya akan menjadi flat, berbeda jika Anda sudah memboosting dari awal.

Siapa yang menentukan sebuah produk akan menjadi signature, owner atau pelanggan?
Owner yang harus mengarahkan mindset ini, bukan tamu. Jika Anda melihat menu, biasanya akan menemukan tanda jempol atau bintang, itulah usaha owner untuk mengarahkan tamu. Selain itu juga waiter juga harus dibriefing untuk mengarahkan tamu pada menu tersebut. Setelah selesai, para waiter juga harus menanyakan respon tamu untuk mendapatkan feedback, apakah mereka menyukainya, apa yang sebaiknya diperbaiki?

Terkadang owner tidak paham bahwa kita membangun suatu image itu bukan karena kehendak sendiri. Yang membentuk mindset dan memilihkan produk signature itu memang dari kita tapi pada akhirnya pelangganlah yang mengukuhkan hal tersebut.

Bagaimana Anda melihatnya dari sisi costing, apakah produk signature harus memiliki margin besar, atau justru kecil?
Ada 2 pandangan soal ini. Yang pertama produk tersebut harus sangat enak dan populer, jika sudah begini, berapapun harganya tetap akan dicari orang. Namun untuk menuju ke sana, biasanya langkah kedua yang dipilih, yaitu mengambil margin yang tidak terlalu besar, bahkan hingga menjual dengan harga modal, namun produk tersebut harus bisa menjadi penarik traffic.

Sebagai contoh, outlet steak house di hotel itu jarang yang mendapatkan profit. Owner hotel berharap ketika pelanggan datang, mereka akan mencoba outlet lain yang marginnya lebih besar, namun steak house berperan sebagai penarik traffic. Produk daging kurang baik kualitasnya jika terlalu lama dibekukan, daging itu perputarannya harus cepat.

Ini menjadi semacam subsidi silang. Margin yang seharusnya didapatkan dari produk signature, dialihkan ke food cost dengan harapan produk ini dapat menarik lebih banyak tamu. Contoh sederhananya adalah Nasi Kucing. Memang harganya hanya Rp 2.000, namun Anda hanya mendapatkan nasi dan sedikit ikan teri. Jika mau enak, Anda harus menambahkan ayam, telur, dan lain-lain. Pada akhirnya, yang Anda keluarkan adalah Rp 25.000, sama saja dengan menu lainnya.

Ada lagi yang perlu kami ketahui mengenai produk signature?
Packagingnya harus menarik, terutama untuk produk signature takeaway. Anda harus tahu cara mengemas dan sekaligus memberikan kebanggaan tersendiri bagi pelanggan. Anak-anak jaman sekarang seperti memiliki kebanggaan tersendiri jika menenteng kotak kue Hotel Mulia, Union, atau Harvest, karena memang tidak semua orang bisa beli. Sama halnya dengan Pia Legong Bali, orang bangga membawanya, apalagi jika dalam jumlah banyak, karena memang cukup sulit mendapatkannya.

Of course owners have to suggest the mindset and select their signature products, but in the end, it is up to the customers to decide.

0 0
Feed