[ID] - Reintroducing Italy

Alessandro Liberatori mendiskusikan hubungan ekonomi Indonesia dan Italia, rencana untuk memperkenalkan kembali citra Italia, dan bahasan favoritnya, makanan! Ketika Anda mendengar nama “Italia”, ada beberapa hal yang terbayang, seperti: fashion, produk kulit, sepakbola, dan tentu saja, makanan, terutama pizza dan pasta. Namun, setelah berbincang dengan Alessandro Liberatori, Komisioner Italian Trade Agency’s (ITA), kami sadar bahwa kita baru saja mengenal permukaan luar Italia. Kami bahkan melihatnya sebagai pencerahan, sebagaimana Indonesia yang tidak hanya sebatas batik, Rendang, Nasi Goreng dan Bali.


Sudah berapa lama Anda berada di Indonesia?

Sedikit lebih lama dari 2 tahun. Saya menerima mandat ini pada 9 November 2015, sebetulnya saya datang bersamaan dengan hari kedatangan Presiden Republik Italia, Sergio Matarella ke Indonesia. Itu adalah kunjungan kepala negara kami yang pertama ke Indonesia, jadi masa awal kerja saya cukup memuaskan dan menjanjikan, mengingat Indonesia semakin penting sebagai negara fokus jika dibandingkan dengan masa lalu, karena perekonomian kita saling melengkapi.

Boleh Anda jelaskan sedikit mengenai ITA dan perannya?

ITA adalah agensi pemerintahan Italia yang bertugas mendukung perusahaan-perusahaan Italia, kebanyakan perusahaan kecil dan menengah, yang ingin membuat hubungan bisnis dengan negara lain dan perusahaan di luar negeri. Kami terbuka untuk siapa saja yang meminta kami untuk membantu mereka di pasar luar negeri, mulai dari: mencarikan partner bisnis, agen, distributor, menjalin joint venture, hingga mencari informasi di pasar mengenai peraturan dan situasi bisnis.

Tentunya kami juga bertugas mempromosikan investasi Italia dan menarik investasi dari luar menuju Italia melalui berbagai kegiatan. Kami memiliki lebih dari 70 kantor di seluruh dunia, jadi ini adalah jaringan internasional. Kami memiliki kantor pusat di Roma, Italia, kami juga memiliki kantor di Milan. Kami telah membuka kantor di Jakarta sejak 1979, dalam 2 tahun kami akan merayakan ulang tahun kami ke-40.

Tahun lalu, kami membantu lebih dari 300 perusahaan Italia secara langsung yang melihat Indonesia sebagai pasar potensial. Italia dikenal dengan fashion dan makanannya, yang tentu saja, sangat penting, namun sebetulnya, kontributor terbesar dari pendapatan negara kami datang dari teknologi: perlengkapan dan mesin, di semua sektor. Kira-kira begitu gambarannya. Begitu juga di Indonesia, kebanyakan ekspor kami berasal dari teknologi dan mesin. Terlebih lagi, Indonesia menjadi salah satu negara prioritas untuk strategi dan kegiatan promosi pemerintahan kami. Mungkin ini terjadi pertama kali dalam sejarah hubungan bilateral kita selama lebih dari 80 tahun.

Apa yang terjadi belakangan yang menjadikan Indonesia sebagai prioritas utama untuk Italia?

Negara ini memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi. Salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. GDP Indonesia terus tumbuh sekitar 5% per tahun selama decade terakhir, meski di tengah kesulitan selama resesi global. Dan pertumbuhannya lebih tinggi dari performa ekonomi kebanyakan negara Eropa.

Senang mendengarnya!

Itu benar. Ini adalah masa sulit untuk Eropa, dan juga di Italia. Kami mengalaminya selama hampir 1 dekade, resesi, stagnasi, masalah finansial, output industri yang terus menurun, peningkatan angka pengangguran. Untungnya beberapa tahun belakangan ini, Italia mulai pulih. Tahun ini pertumbuhan ekonomi kami mendekati 2%.
Asia Tenggara dan Cina adalah wilayah di dunia yang pertumbuhannya lebih cepat. Kami telah melakukan beberapa survei dan analisa bahwa masih ada peluang antara volume perdagangan sekarang dan investasi antara Italia dan Indonesia dan potensi di masa depan yang 10 kali lebih besar. Jadi ada banyak sekali bidang yang bisa ditingkatkan dan kita tidak perlu kehilangan momentum.
Saya ulangi, Indonesia dan Italia memiliki pereknomian yang saling melengkapi, bukan bersaing. Anda sangat kaya akan bahan mentah dan komoditas, kekayaan alam dan fosil (minyak sawit, karet, gas, minyak, tembaga, timah, dsb). Di sisi lain, Italia tidak memiliki bahan mentah. Kami adalah negara transforming. Jadi kami mengolah bahan mentah yang kami impor dari negara lain untuk menciptakan barang-barang berkualitas tinggi. Kemampuan teknologi dan industrial kami telah ditempa selama berabad-abad, mulai dari era Renaissance lebihd ari 500 tahun lalu, yang diupdate oleh revolusi industri. Hasilnya, kami dapat memberikan kualitas yang sangat tinggi dengan harga yang terjangkau, dan juga kustomisasi berdasarkan permintaan pelanggan, fleksibilitas, keberlanjutan, dsb. Kami adalah kekuatan industrial terbesar ke-8 dunia.
Italian Trade Agency pada dasarnya adalah pilar promosi perekonomian Italia di luar negeri. Kami juga berperan sebagai Kantor Promosi Perdagangan bagi Kedutaan Italia di Jakarta.

Apa yang Anda anggap sebagai tantangan terbesar ITA?

Sebetulnya ada banyak, namun secara garis besar, kami harus berkomunikasi lebih banyak kepada kepada komunitas bisnis dan masyarakat awam Indonesia mengenai Italia: negara modern dengan teknologi canggih. Kita tidak terlalu mengenal satu sama lain, Anda bisa mengetahuinya dari stereotip. Sebagai gambaran, ketika berbicara tentang teknologi, yang muncul adalah Jerman. Tetapi kami adalah kekuatan industri dan eskportir terbesar kedua di Eropa. Tahun ini kami akan memecahkan rekor ekspor sebesar 350 Milyar Euro ke seluruh dunia. Anda berpikir Italia adalah negara kunjungan wisata, monumen, liburan, fashion, belanja, dan kuliner. Tentu itu bagian dari cerita, namun tidak bukan keseluruhannya. Kami harus memberikan citra baru negara kami, yang tidak hanya diketahui orang awam, bahkan masyarakat kelas atas pun banyak yang tidak tahu. Ini merupakan tantangan terbesar kami.

Bagaimana dengan pembatasan perdagangan?

Tentu, kami memiliki beberapa kesulitan soal pajak, hambatan administrative, pendaftaran produk, sertifikat, standar, dsb. di beberapa sektor terutama makanan dan produk konsumen. Namun tidak hanya Italia, namun juga untuk negara Eropa lainnya. Namun saya yakin kita dapat mengatasinya ketika Uni Eropa dan Indonesia menyelesaikan negosiasi EU-Indonesia Comprehensive Economic Partnership, yang akan memudahkan untuk saling memasuki pasar satu sama lain.

Indonesia kaya akan bahan mentah, memiliki pasar tenaga kerja besar, dan pertumbuhan pesat kelas menengah dan infrastruktur yang semakin baik; Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin wilayah ini. Saya bisa bilang salah satu perekonomian terbesar di dunia. Saya tidak melihat ada hambatan bagi Indonesia untuk menjadi 5-6 negara terbesar dunia dalam 15 tahun ke depan.

Oke, sekarang kita bicara soal makanan. Saya dengar Anda menjalani diet Mediterania?

Ya, sejak lahir bahkan. Sebetulnya diet Mediterania adalah diet Italia. Diet ini sangat populer karena makanan Italia, yang terkenal ke seluruh dunia sebagai diet yang sehat menggunakan bahan segar, rendah kalori, dsb. Belakangan ini Bloomberg melakukan survei dan terbukti bahwa, berkat diet Mediterania, Italia adalah negara yang paling sehat di dunia, dalam hal harapan hidup dan kualitas hidup.

Ketika kita bicara diet Mediterania, kita berbicara mengenai produk makanan yang sangat luas. Di Italia, ada 20 wilayah dan akan menjadi sangat bagus jika kami bisa mempromosikan bahwa setiap wilayah, tidak, bahkan setiap desa memiliki tradisi kulinernya sendiri. Jika Anda berpindah dari satu desa ke desa lain yang berjarak 10 km, Anda akan menemukan resep, bahan baku, dan cara memadukan bahan-bahan yang sangat berbeda. Kekayaan kuliner Italia sangat luas. Ketika saya bepergian ke Italia, saya selalu menemukan hal baru yang belum pernah saya temui, dan tentu saja semuanya sangat indah, dan enak.

Sebagai informasi, kami memiliki lebih dari 200 jenis pasta, belum lagi tipe keju, kami punya lebih dari 400 jenis keju, tidak hanya Parmigiano Reggiano, Grana Padana, atay Gorgonzola yang populer, bisa Anda bayangkan? Itulah alasan mengapa diet kami sangat terkenal: pada dasarnya Italia memiliki wilayah utara, selatan dan tengah, kami memiliki variasi produk yang kami campurkan bersama, jadi itu seperti hidup di 3 belahan bumi.

Saya dengar kualitas sayur dan buah Italia luar biasa.

Sekali lagi, kami memiliki keragaman buah yang luar biasa berkat lokasi kami di wilayah utara, tengah dan selatan dengan ketinggian yang berbeda. Kami penghasil apel, jeruk, lemon, plum, pir, peach, apricot, stroberi, anggur, semangka, melon, dan kiwi yang besar. Banyak yang tidak sadar bahwa Italia adalah penghasil kiwi terbesar dunia, bukan New Zealand, mereka kedua. Di Indonesia Anda dapat menemukan kiwi Italia di semua supermarket. Alasan mengapa Italia dan New Zealand mampu menghasilkan kiwi adalah karena iklim kami yang mirip. Belum lagi, jeruk dari Sicilia dan Italia Selatan. Jeruk kami, terutama “Tarocco” dari Sicilia rasanya sangat enak, juicy, dan manis. Anda bisa memakannya langsung, dijadikan jus, bahkan bisa juga untuk masak. Untuk sayuran, kami memiliki banyak varian: tomat, selada, brokolo, terong, timun, bayam, dsb.

Kampanye apa saja yang pernah Anda buat untuk memperkenalkan produk Italia?

Kami memiliki promosi makanan Italia yang bekerja sama dengan Ranch Market. Ini adalah program promosi terbesar yang pernah kami lakukan. Kampanye dimulai pada 17 November 2017 dan berlangsung hingga akhir tahun di 23 outlet Ranch Market dan Farmers Market, dan kami mendapatkan respon yang sangat positif.

Pada dasarnya kami punya 2 tujuan: yang pertama adalah untuk menjual lebih banyak produk Italia dan membuat konsumen Indonesia lebih sadar akan keberadaan kami, kemudian yang kedua adalah untuk memerangi produk palsu yang telah melakukan kerusakan cukup besar pada industri kami. Mereka menggunakan nama, bendera, logo, bunyi Italia. Pelanggan bersedia membayar lebih untuk produk Italia karena mereka tahu kualitas yang kami wakili, namun tentu saja Anda harus membayar lebih banyak. Yang terjadi adalah ada beberapa perusahaan di luar Italia yang menjual produk berkualitas rendah, namun mereka bisa menjualnya dengan harga tinggi karena mereka menggunakan nama yang terdengar Italia. Kami perlu melindungi konsumen dari fenomena negatif ini.

Salah satu yang saya kagumi dari masakan Italia adalah kesederhanannya.

Kami tidak menggunakan saus. Tentu saja kami punya saus, namun hanya terbuat dari satu bahan utama, kami tidak menggunakan saus untuk menutupi atau memberikan rasa pada bahan makanan. Bahan makananlah yang memberikan rasa. Saya menyadari bahwa orang Indonesia berpikir makanan Italia tidak cukup tasty, jadi mereka merasa harus menambahkan sesuatu. Bagi kami, yang terjadi adalah sebaliknya. Ini adalah pendekatan yang berbeda. Namun seperti yang Anda katakan, Anda mengerti poinnya: kesederhanaan. Saya suka makanan sederhana, sangat sederhana , begitu juga restoran. Saya tidak suka makanan yang canggih, saya lebih suka yang tradisional. Ketika saya makan di luar, saya mencari tipe makanan dengan kualitas, otentisitas dan makanan sehat seperti yang biasa saya makan di rumah, yang dilengkapi dengan kombinasi bahan dan rasa baru.

“I can’t see any obstacles for Indonesia to be among the biggest 5-6 countries in the world in the next maybe fifteen years”

0 0
Feed