It’s a pity that most Indonesians never know the taste of natural, fresh milk, but Hometown is about to change that.

[ID] - Redefining Fresh Milk

Jika Anda mengenal orang kopi, mungkin Anda akan heran melihat kecerewetan mereka untuk hal apa pun soal kopi, mulai dari asal biji kopi, ukuran gilingan, temperatur air, durasi penyeduhan, hingga jumlah partikel dalam air. Pada produk milk based coffee seperti cappuccino dan café latte, kandungan susu malah lebih banyak dari kopi. Fenomena unik terjadi pada tahun lalu dimana mulai banyak coffee shop premium yang beralih menggunakan susu lokal baru yang bernama Hometown. Fakta ini merupakan pembuktian tersendiri untuk Hometown.


Tentu produk ini bukan untuk semua coffee shop. beberapa coffee shop kelas menengah enggan menggunakannya karena 2 hal: harganya yang relatif lebih tinggi, dan shelf life yang singkat, hanya 2 minggu. Dari shelf-life yang singkat ini, kami yakin bahwa Hometown merupakan produk susu pasteurisasi, definisi dari susu segar yang sering dilupakan orang. Kami memutuskan untuk menemui Dayu Ariasintawati, Managing Director Great Giant Livestock untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisi pasar susu dalam negeri, definisi susu segar, dan cerita unik soal penetrasi Hometown ke coffee shop.


Sebelum membahas Hometown, bisa jelaskan sedikit tentang induk perusahaan Anda?

Kami adalah group agrikultur yang berada di bawah naungan Gunung Sewu. Gunung Sewu sendiri memiliki beberapa bisnis mulai dari asuransi, property, untuk sektor agri sendiri, kami bergerak dengan nama Great Giant Foods (GGF). Di bawah GGF, kami miliki Great Giant Pineapple (GGP). Di Indonesia mungkin namanya kurang dikenal karena 99% produk nanas kami diekspor ke 60 negara, namun kami merupakan produsen nanas terbesar ketiga di dunia setelah Del Monte dan Dole. Keduanya memiliki berbagai lokasi perkebunan terpisah, namun untuk produsen yang terintegrasi di 1 lokasi, kami merupakan yang terbesar di dunia dengan lahan 32.000 hektar di Lampung dengan kapasitas produksi 2.000 ton per hari. Selain GGP, mungkin Indonesia mengenal kami melalui produk pisang Cavendish Sunpride.

Kami selalu memikirkan ekosistem, sehingga, ketika kami memproduksi limbah berupa kulit nanas sebanyak 250 metrik ton kami harus memikirkan cara untuk mengolahnya. Akhirnya kami membuat bisnis baru bernama Great Giant Livestock (GGL), sebuah perusahaan agri berbasis sapi yang juga memproduksi daging dengan brand Bonanza. Sapi-sapi GGF selain mengkonsumsi limbah dari perkebunan nanas, juga memproduksi pupuk alami yang kemudian akan dikembalikan ke kebun nanas. World Wildlife Fund (WWF) menyebutnya sebagai blue economy.

Jika green economy lebih kepada pemeliharan lingkungan, konsep blue economy berusaha mempertahankan sustainability dengan menggunakan byproduct dari suatu bisnis menjadi input bisnis lain. Dengan banyaknya perusahaan, akhirnya tahun lalu kami menggunakan nama GGF sebagai nama grup agri kami, di dalamnya termasuk Sunpride, Bonanza, dan Hometown. Tujuan kami adalah ingin berkontribusi ke produksi lokal dimana Indonesia itu sangat mengkhawatirkan soal pangan.



Dalam hal apa?

Sustainability, maksudnya lebih ke ketahanan pangan. Contohnya saja susu, sekitar 75-80% susu di Indonesia merupakan produk impor.



Dari data yang terakhir saya dapatkan, produksi lokal malah cuma 13%...

Jumlah populasi manusia sekarang adalah 7,5 milyar jiwa, dan diprediksi akan menjadi 9 milyar di 2050. Dengan pertumbuhan seperti ini, kita akan fighting for food. Jika kita tidak memperhatikan ketahanan pangan, kita cuma akan menjadi market untuk produk berkualitas rendah, dan harganya mahal.

Harus diakui budaya minum susu kita tidak terlalu tinggi, mungkin karena iklimnya kurang mendukung untuk ternak sapi perah. Namun bukan hanya susu, bahkan beras dan produk lain pun kita masih impor. Industri ini tidak didukung oleh kebijakan yang memuat kita harus meningkatkan produktivitas, akibatnya, harga melambung tinggi, tidak ada subsidi. Padahal hampir semua negara besar itu sektor agrinya luar biasa, seperti Amerika, Australia, dan negara-negara Eropa. Kita seolah bingung antara agrikultur dan industrialisasi. Padahal jika bicara kebiasaan, anak muda kita minum susu kan?



Ya, tapi kita bicara susu jenis apa dulu?

Mulai dari condensed milk yang pada dasarnya adalah gula, lalu susu bubuk yang merupakan byproduct dari negara lain. Susu full cream disebut whole milk, negara lain mengambil bagian paling mahalnya untuk diolah sebagai butter, kemudian jika masih ada sisa lemak sedikit, kita menyebutnya sebagai susu low fat, jika tidak ada lemak sekali dinamakan skim milk. Lihat saja kandungan di kemasannya, ada maltodextrin, vegetable oil, semuanya bukan merupakan kandungan alami susu.

Inilah pintarnya orang marketing. Mereka selalu bilang susu membuat gemuk. Ini tantangan buat kami, terutama untuk para pelanggan wanita yang menganggap susu sebagai penyebab kegemukan. Saya komunikasikan bahwa lemak susu full cream hanya 3,4-4%, sementara jika Anda makan gorengan, berapa kandungan lemaknya? Makanya saya bilang, it’s a very good marketing! Sekarang mulai banyak muncul gerakan kembali ke whole food. Produk kami adalah whole milk yang alami, didesain secara sempurna oleh alam. Orang mulai sadar bahwa yang membuat gemuk itu sebetulnya adalah gula.



Siapa kompetitor langsung Hometown?

Perusahaan dairy yang memiliki peternakan sendiri di Indonesia hanya 2 perusahaan. Ada produsen lain yang mengumpulkan dari peternakan swasta. Kami memahami bahwa sulit sekali berbisnis agri di Indonesia, namun pada dasarnya GGF adalah petani, sehingga kami sangat peduli soal ketahanan pangan, Kami telah mencoba beternak sapi perah sejak 2015 di dataran rendah, sehingga kami coba kendalikan suhunya di tempat sejenis green house tertutup yang memiliki exhaust.

Saya memahami betapa sulitnya merawat sapi-sapi ini, sehingga kualitas susu ini seharusnya dipertahankan kesegarannya, bukan malah dirusak, proses produksi kebanyakan malah merusak. Orang kebanyakan menganggap susu segar itu amis, padahal bau amis terjadi karena kesalahan penanganan. Selain mempertahankan kesegaran, saya juga mau semua orang tahu bahwa susu segar itu rasanya enak, sehingga tidak perlu modifikasi lain seperti penambahan gula. Gula membuat ketagihan, itu sebabnya orang Indonesia sangat suka manis.

Yang kami lakukan hanyalah proses pasteurisasi, jadi di susu Hometown hanya ada 1 jenis bahan, susu itu sendiri. Jika ada yang menyebut fresh milk, maka yang dimaksud adalah susu pasteurisasi. Ada konsekuensi untuk kesegaran ini, shelf life yang relatif singkat. Namun kami sengaja memberikan alternatif di pasar yang sudah sangat saturated dengan susu berkualitas rendah, terutama yang berbahan dasar bubuk dan pemanis.



Tolong jelaskan positioning Hometown.

Kami memproduksi 1 susu untuk seluruh keluarga. Jika dulu anak-anak, bapak, ibu, hingga kakek nenek memiliki susunya sendiri-sendiri, sekarang semuanya bisa kembali ke produk alami dengan susu Hometown. Saya percaya semua yang didesain alam itu baik. Pada susu berkalsium contohnya, kita harus bertanya, apakah itu kalsium alami atau buatan?



Bagaimana tanggapan masyarakat dengan produk susu segar ini?

Justru market yang pertama suka adalah orang asing, atau mereka yang pernah kuliah di luar negeri. Rata-rata komentar mereka sama, “rasa susunya mirip dengan susu daerah asal saya”. Jadi rasa susu memang harusnya seperti itu. Pasar terbesar kami adalah retail, korporasi, kemudian coffee shop.



Saya mengenal Hometown malah dari komunitas coffee shop.

Untuk pasar coffee shop memang unik, ada tantangan sendiri. Jumlah produksi kami belum besar, namun uniknya susu kami diterima di coffee shop yang market segmennya high, bagi mereka yang ingin rasa kopinya lebih dominan dibanding rasa susu. Selain itu, penggemar kopi terkenal sangat menghargai proses dibalik produksi, bisa dibilang kami sepemahamanan. Awalnya sulit sekali penetrasi ke coffee shop, karena susu segar lokal sudah mendapat stigma negatif soal stabilitas produk. Yang pertama percaya pada Hometown justru kalangan roaster dari luar negeri, setelah itu mereka memperkenalkannya pada coffee shop Indonesia yang mereka tahu. 



Produk Anda adalah susu murni, sehingga asumsi saya rasanya lebih pekat, namun mengapa banyak orang kopi yang bilang bahwa rasa susu Hometown justru tidak mendominasi kopi?

Kami tidak tahu science di belakangnya. Tapi menurut pengakuan mereka, susu kami bisa bisa membuat rasa kopi lebih smooth, namun tidak menjadikannya terlalu milky. Jika Anda minum langsung, banyak yang bilang bahwa rasa susu kami sangat segar, aftertastenya clean, sehingga Anda tidak perlu minum air putih lagi setelahnya. Ternyata, Hometown juga disukai oleh anak-anak, mereka bisa minum 2 liter susu karena menurut mereka rasanya tidak membuat mual dan ada hint vanilla, padahal kami tidak menambahkan apa-apa.


Coffee shop pertama yang menggunakan Hometown adalah One Fifteenth dan Ombe. Untuk kasus Ombe memang agak unik, Om Jason (pemilik Ombe) sendiri merupakan sosok yang disegani di komunitas kopi. Dia selalu bilang bahwa stabilitas itu tidak masalah, mereka bisa mengakalinya, yang terpenting adalah kualitas susunya. Begitu pemilik sudah berkata demikian, tentu barista tentu akan mengikuti. Mungkin karena kami adalah perusahaan kecil, kami lebih mau mendengarkan dan fleksibel mulai dari soal pengiriman, dan sebagainya. Kami ingin selalu menjual susu dengan hati.



Ironisnya, yang dianjurkan untuk anak-anak adalah susu formula…

Ya, tapi sekarang kebiasaan ini mulai berubah. Ketika launching produk, saya berasumsi anak-anak akan tidak suka produk kami, karena kami hanya meluncurkan 1 jenis produk, sementara perusahaan lain menawarkan berbagai varian rasa. 


Saya sangat passionate untuk memperkenalkan akses ke gizi baik untuk anak-anak dan keluarga, the truth of milk. Saya memang agak sedikit memberontak, karena menurut saya ketika orang memproduksi susu dengan tambahan rasa, berarti kualitas susunya tidak begitu bagus karena harus ditutupi dengan rasa lain. Ke depan mungkin kami akan mengeluarkan varian produk lain, namun semuanya akan berbasis pada susu segar berkualitas tinggi.



Mengapa shelf life produknya sangat singkat?

Karena memang susu pasteurisasi memang hanya bisa bertahan 2 minggu, dimana-mana selalu begitu. Setelah proses produksi dan transportasi, kami mengusahakan shelf life di toko 7 hari. Jika ada “fresh milk” yang bisa bertahan hingga 1-2 bulan, itu namanya Extended Shelf Life (ESL). Kualitas ESL ini sebetulnya lebih mendekati UHT. Pasteurisasi dilakukan pada suhu 75o C sehingga mampu membunuh mikroba jahat namun tetaep menjaga probiotik tetap hidup. Pada proses UHT dan powder, probiotik ini sepenuhnya hilang.



Apa yang terjadi ketika Anda minum susu yang masa kadaluarsanya lewat?

Saya sering minum susu hingga 21 hari. Sebetulnya kualitas susu tidak akan bermasalah selama rasanya belum berubah. Di sisi lain, jika sebelum 7 hari namun rasanya sudah berubah, sebaiknya jangan diminum. Mungkin terjadi kegagalan transportasi atau chiller di store yang kurang optimal, namun kami berkomitmen bahwa jika ada yang komplain, kami akan ganti susunya. Kami malah senang jika pelanggan sadar dan bicara pada kami. Banyak pelanggan yang tidak mempermasalahkan shelf life, selama produknya tidak menggunakan pengawet, mereka mau repot sedikit dan mengambil resiko tersebut demi kualitas.



Perusahaan dairy lain biasanya membuat produk lain seperti yoghurt untuk menghindari waste dari shelf life yang singkat. Bagaimana dengan Hometown?

Jika susunya basi ya tentu akan menjadi retur. Pada awalnya produk retur ini cukup banyak, namun semakin lama semakin berkurang. Selain karena perbaikan manajemen, pelanggan semakin mengerti bahwa susu segar memang shelf lifenya pendek, jadi mereka cepat-cepat menghabiskan, akibatnya turnover di store malah meningkat.



Apa rencana Hometown ke depan?

Kami akan berekspansi secara perlahan sambil melihat situasi pasar. Sekarang kami sudah hadir di Jakarta, Bandung, Surabaya, Malang, dan Bali. Ke depan kami berencana untuk fokus di Jawa Tengah dan Palembang.

0 0
Feed