[ID] - Mira Yudhawati - Gaining Knowledge Through Competitions

Selalu ada saja hal yang baru dari industri kopi, terlebih lagi saat ini. Kali ini Passion duduk bersama Mira Yudhawati, salah satu tokoh kopi penting di Indonesia. Ia berbagi ceritanya sebagai juri kompetisi kelas dunia dan sebagai seseorang yang punya harapan tinggi untuk kopi Indonesia.

Bagaimana cerita Anda bersama Caswell’s awalnya?


Saya mulai bekerja bersama Caswell’s di tahun 2008. Saat itu, Caswell’s sudah dikenal sebagai perusahaan specialty coffee pertama di Indonesia. Bahkan di saat kopi belum sepopuler sekarang, Caswell’s sudah mengirimkan orang-orangnya ke simposium dan kompetisi internasional. Selain itu, barista pertama Indonesia yang berangkat untuk kompetisi di WBC juga berasal dari sini, dan begitupun juri-juri untuk kompetisi di luar negeri. Reputasi perusahaan ini menjadi salah satu alasan saya bergabung di sini.


Bagaimana proses transisi ini bagi Anda setelah akuisisi?

Saat ini saya masih dipercaya sebagai General Manager. Sejak diambil alih oleh BonCafe, sebetulnya tidak banyak yang berubah - hanya saja keluarga kami bertambah besar. Selain itu kami juga tidak hanya berfokus pada kopi saja seperti sejak 1998. Sekarang Caswell’s menjadi perusahaan minuman satu perhentian untuk segala kebutuhan.

Jadi, selain mengelola biji kopi, mesin kopi, dan juga kelas-kelasnya; kami juga dipercaya dengan banyak produk lainnya seperti smoothies, jus, teh, dan lain-lain - umumnya untuk penjualan grosir. Saat ini bagi saya masih membiasakan dengan kultur baru perusahaan ini yang menantang tentunya tapi pastinya menyenangkan!


Apakah Anda bisa menjelaskan mengenai sertifikasi Q Grader dan mengapa orang-orang sepertinya selalu mengasosiasikannya dengan Anda?

Sertifikasi Q Grader pertama kali diadakan di sini pada tahun 2009 dan betul, saya adalah di antara beberapa orang Indonesia yang mendapatkan gelar tersebut saat itu. Tapi sebetulnya saya bukan wanita Indonesia pertama yang mendapatkannya. Mungkin banyak yang tertukar dengan saya yang juga menjadi juri wanita pertama dari Indonesia di kompetisi WBC (World Barista Championship).

Sebagai seorang Q Grader, kita memang tersertifikasi untuk melakukan beberapa hal yang spesifik di bisnis kopi. Tapi itu tidak secara otomatis menjadikan kita lulus sebagai juri internasional. Meskipun demikian, seorang Q Grader akan mendapatkan keistimewaan sendiri saat dites menjadi seorang juri internasional. Misalnya, kita tidak perlu menjawab sekian pertanyaan yang ditujukan hanya bagi mereka yang belum mendapatkan gelar Q Grader.


Boleh berbagi cerita-cerita Anda sebagai seorang juri di kompetisi internasional.

Ah, saya baru saja kembali dari sebuah kompetisi di Haikou, Tiongkok. Sebagai seorang juri internasional, biasanya ada saja undangan untuk jadi juri dari waktu ke waktu. Saya bersyukur dengan kesempatan-kesempatan ini.

Hal yang paling menyenangkan dari kompetisi-kompetisi ini menurutku adalah ketika bertemu dengan juri-juri lain dari berbagai penjuru dunia dan berbagi hal-hal baru mengenai kopi. Selain itu, diri saya sebagai juri saja masih belajar banyak dari para barista yang berkompetisi.

Kita bisa belajar banyak dari para mereka tentang kopi apa yang mereka bawa untuk bertanding, bagaimana mereka meraciknya, teknik-teknik baru, dan kemampuan presentasi mereka. Seru sekali rasanya ketika mencicipi kopi yang karakteristiknya sesuai dengan apa yang mereka presentasikan. Biasanya terlihat barista-barista yang serius ingin menjuarai kompetisi internasional. Mereka sudah mempersiapkan diri bahkan berbulan-bulan sebelumnya dan itulah yang menjadikan mereka juara.


Bagaimana dengan kompetisi lokal di Indonesia?

Saya adalah di antara beberapa teman-teman yang mendirikan BGI (Barista Guild of Indonesia). Kami berkolaborasi dengan para trader dan pihak-pihak lain untuk meningkatkan kualitas barista lokal melalui kompetisi. Kami biasanya dipercaya sebagai penyelenggara dan saya biasanya bertindak sebagai kepala juri.

Seru sebetulnya melihat kualitas kompetisi dan barista kita sekarang ini. Dahulunya semua berangkat dari nol dan terus memperbaiki diri agar lebih baik. Saya ingat ketika dulu barista bahkan mempresentasikan kopinya dengan telur mentah, kari, ataupun bunga mawar!

Sekarang standar kompetisi semakin meningkat dan begitupun peserta-pesertanya, bahkan mereka yang datang dari berbagai kota kecil.

Ngomong-ngomong dengan naiknya tren es kopi susu, bahkan saya melihat kalau potensi pasar Indonesia itu justru tetap sangat besar. Semua benar-benar bisa menggeluti dunia kopi. Akan sangat menarik melihat ke depannya apa yang akan terjadi dengan dunia kopi kita.

0 0
Feed