[ID] - MATTEO MEACCI: BACK TO THE ROOTS

Mengembalikan kejayaan restoran Ambiente yang legendaris bukanlah sebuah tugas yang mudah. Sebagai sang executive chef, Matteo Meacci berbagi pendapatnya mengenai dunia F&B yang semakin kompetitif serta kecintaannya terhadap masakan negerinya Italia.


Bisa ceritakan sedikit mengenai pengalaman bekerja Anda selama di Indonesia?

Hampir seumur hidup saya habiskan tinggal di Eropa dan sebetulnya saya selalu tertarik dengan benua Asia dan khususnya Indonesia. Saya sangat beruntung ketika mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sini. Yang pertama adalah bersama Ocha & Bella selama dua tahun dan kemudian di Singapura untuk beberapa bulan saja sebelum kembali ke sini.


Kemudian saya bekerja sebagai executive chef di De Luca, di sebuah hotel di Jakarta serta sebuah resort di Lombok. Akhirnya saya menemukan jalan saya kembali ke Jakarta dan bekerja untuk Aryaduta sebagai executive chef untuk Ambiente. Restoran ini akan menjadi awal dari beberapa proyek restoran lainnya yang akan dibuka di berbagai properti milik grup ini.

Apakah sumber inspirasi Anda dalam memasak?
Setiap chef Italia di seluruh dunia memulai segala sesuatunya dari rumah mereka. Mereka belajar resep masakan dari sang ibu atau sang nenek. Mereka mulai dari membantu di dapur dan semakin tertarik dengan segala sesuatunya. Mungkin tidak untuk semua, namun setidaknya 90% ahli masak dari Italia memulai karirnya dengan jalur ini. Untuk saya pribadi, saya mendapatkan inspirasi khususnya dari sang nenek.

Inilah budaya yang kami bawa ke seluruh penjuru dunia - yaitu sesuatu yang saya jalani ketika masih kecil, sesuatu yang nenek saya ajarkan kepada saya, dan sesuatu yang saya ingin bagi untuk semua orang.

Apakah ekspektasi publik dari Ambiente yang baru?
Kami ingin membuat masakan rumah khas Italia yang klasik sekaligus kasual. Intinya adalah membuat segala sesuatu yang simpel namun tetap berkualitas. Konsep kami adalah untuk menampilkan berbagai hidangan yang cocok untuk berbagi, misalnya untuk cold cuts dan keju bahkan hingga makanan utama.
Konsep inilah yang akan membuat orang tertarik untuk menikmatinya bersama. Baik di restoran maupun di rumah, ketika kita bisa bersantap bersama-sama, itulah yang menjadikannya seru. Tidak hanya kita dapat menikmati makanan enak, namun kita juga akan menikmati percakapannya, saling berbagi makanan, serta faktor kebersamaannya. Itulah yang ingin kami kenalkan di Ambiente.

Apakah ciri khas dari Anda yang ingin tertanam di karakter Ambiente?
Saya datang dari kota kecil bernama Lucca di daerah Tuscany, dekat dengan kota Pisa dan Florence. Lucca adalah kota yang sangat indah dan terletak di wilayah pegunungan, namun tidak jauh juga dari laut. Di sana kita terbiasa memasak seafood, daging pada umumnya, serta daging buruan seperti babi hutan atau rusa.
Ketika saya kembali ke rumah untuk berlibur, biasanya saya senang menikmati cold cuts serta steak T-bone yang dipanggang rare dengan hanya garam, merica, dan minyak zaitun. Di Italia, kita memiliki banyak jenis cold cuts namun sangat sedikit di sini yang bisa ditemukan. Maka saya ingin menyediakan bresaola maupun salami yang kami buat sendiri di Ambiente.

Saya juga mengerti bahwa ini adalah masa-masa sulit untuk bisnis restoran, khususnya bila membutuhkan produk impor. Inilah sebabnya kita harus mengusahakan sendiri dengan bahan-bahan lokal yang tersedia. Di sini kami membumbui daging kami seperti layaknya di Italia dan berusaha agar rasanya tetap otentik. Tentunya ini adalah proses yang menantang terlebih karena faktor udara maupun kelembaban. Namun sejauh ini hasil awal yang kami capai ternyata memuaskan dan kami ingin melanjutkannya.

Apakah masakan Indonesia favorit Anda?
Tentunya sesuatu yang banyak orang bule sukai - sate ayam! Di dalamnya terdapat bumbu kacang yang enak, tidak terlalu pedas, dan rasa panggangan dagingnya yang khas. Selain itu saya juga suka rendang dan mie goreng. Ketiganya adalah masakan Indonesia favorit saya!

Apakah rencana karir Anda di masa mendatang?
Saya sangat terkesan dengan Jepang ketika saya sempat berkunjung ke sana selama seminggu untuk pertama kalinya. Jepang memiliki masakan yang enak, orang-orang hebat, dan budaya yang kuat. Meskipun banyak ekspatriat yang bekerja di sana, saya pikir Jepang masih merupakan negara yang tertutup. Meskipun demikian, saya ingin satu waktu nanti dapat berkesempatan bekerja di sana.

Mimpi terbesar saya adalah untuk pensiun di usia 50 dan membuka sebuah restoran Italia kecil di New Zealand!
New Zealand adalah negara layaknya sebuah lahan pertanian besar yang memiliki banyak produk, daging, air, dan cuaca yang baik. Saya membayangkan membuka sebuah restoran di sana yang menyajikan makanan dengan bahan-bahan terbaik dan menu-menu musiman untuk tamu saya. Tentunya akan sangat menyenangkan!

0 0
Feed