[ID] - In Pursue Of (Self) Excellence

Setelah proses belajar dan melakukan selama nyaris dua dekade, Fifi Sovia kini telah berada di jajaran pengusaha kopi terbaik di pulau Bali. Passion Media memiliki kesempatan untuk bersua dan berbincang dengan perempuan luar biasa ini, dimana ia membagikan banyak sudut pandang menarik yang hanya bisa keluar dari seseorang dengan pemikiran brilian yang terus mengejar versi terbaik dari diri sendiri tanpa kenal lelah.

Bisakah anda bagikan sedikit mengenai latar belakang anda di dunia kopi; bagaimana semua bermula dan siapa yang menginspirasi anda untuk memulai bisnis ini?


Saya memulai 18 tahun lalu di bisnis kopi sebagai marketing; menjual mesin kopi dari hotel ke hotel secara door-to-door. Saya juga mengurus perihal perbaikan dan perawatan mesin-mesin tersebut. Setelah berapa lama, saya kemudian coba untuk mempelajari ‘jeroan’ mesin kopi itu, karena saya tidak bisa menjualnya bila tidak memahami apa yang terjadi di dalam mesin. Kemudian, saya belajar bagaimana cara membuat kopi. Pada awalnya, orang-orang berkata bahwa kopi saya tidak enak karena mereka membandingkannya dengan kopi dari Italia. Jadi, saya kemudian belajar proses roasting serta blending untuk bersaing dengan kopi import itu.

Orang yang menginspirasi saya untuk terjun di bisnis kopi adalah seorang kerabat sepuh saya. Beliau adalah pemilik perusahaan Kopi Bali. Dari beliaulah saya belajar bagaimana melakukan bisnis ini dan menjadi orang yang bijak di dalamnya. Beliau selalu berkata; “Lebih baik jadi ikan besar di kolam kecil ketimbang ikan kecil di Samudra”


Dari pengalaman anda, apa karakteristik kopi yang disukai konsumen di Bali? Apa yang membedakannya dengan konsumen dari belahan Indonesia lain? Katakanlah seperti di Jakarta?

Buat saya, secara umum orang Indonesia memiliki karakteristik kegemaran kopi yang sama; dark roast, banyak robusta dan tingkat keasaman lebih sedikit, dan mereka juga suka menambahkan banyak gula ke kopi mereka.


Kebanyakan orang Indonesia suka menaruh banyak gula di kopi ya?


Ya, tapi saya tidak menentang adanya gula di dalam kopi, karena kopi memiliki unsir kimiawi, dan bila anda menambahkan
sedikit gula kadang itu bisa membuat citarasanya lebih baik.


Ceritakan mengenai pencapaian anda sejauh ini. Mana yang paling layak dikenang?

Menjadi seorang peminum kopi (tertawa)


Anda tidak minum kopi sebelum terjun di bisnis ini?

Tidak. Tapi kini saya menjadi seorang Q Grader dan pelatih AST Internasional untuk roasting, brewing dan barista.


Menurut anda, apa hal terbaik yang harus dimiliki seseorang jika mereka ingin menjadi seorang Q Grader yang bagus?

Well, kebanyakan orang masih tidak memahami betul apa arti dari ‘menjadi seorang Q Grader’. Mereka pikir sekalinya mendapatkan gelar itu mereka telah
berada di posisi puncak. Q Grader menjadi penting jika anda mau bekerja di pabrik kopi, contohnya, karena anda harus menangani green beans (varian biji kopi berwarna kehijauan). Tapi jika anda hanya ingin menjadi ‘orang kopi’, Q Grader tidak begitu penting. Melakoni bisnis kopi adalah proses belajar yang tak terus menerus. Pada akhirnya, rasa kopi andalah yang akan dinilai orang lain, bukan gelar di belakangnya.


Bagaimana anda menilai biji kopi yang baik dan yang buruk? Apakah ada metode spesifik untuk menentukan?

Pertama-tama, saat anda menerima sampel, anda harus membukanya, memasaknya (roast), dan mencicipinya sendiri. Ada banyak sekali biji kopi yang kelihatannya bagus tapi rasanya tidak. Untuk saya, itu selalu soal rasa, bukan bentuknya.


Apakah miskonsepsi umum tentang kopi yang anda selalu ingin luruskan kepada orang-orang selama ini?

Bahwa minum kopi akan menyebabkan maag. Orang-orang berpikir itu merupakan salah si kopi sendiri, tapi buat saya tidak selalu demikian. Kadangkala, hal itu disebabkan dari kesalahan pada proses pembuatan, baik roasting maupun brewing. Contohnya, ketika saya mengidap maag, saya tidak akan mendapat masalah meminum 20 gelas kopi sekalipun sebelum perut saya diisi makanan lain. Tapi saat saya minum kopi yang sudah terendam air selama 6-8 menit, maka tidak peduli seberapa bagus biji atau merek kopi tersebut, saya akan langsung terserang maag. Jadi masalahnya bukanlah di kopi, tapi bagaimana orang-orang melakukan pendekatan terhadap kopi tersebut, baik dari proses pembuatan maupun cara meminumnya.


Apa pemikiran anda mengenai pertumbuhan generasi kopi ‘Gelombang Ketiga / Third Wave’? Akankah itu hanya menjadi trend sementara?

Bukan trend sementara, tapi begitu banyak generasi ‘Third Wave’ yang tidak mempelajari kopi dengan baik. Saya melihat mereka seperti ‘Monkey see Monkey do’ (melihat dan langsung melakukan tanpa pemahaman). Contohnya, jika kamu melihat seseorang dari negara lain yang lebih ahli dalam hal kopi, orang-orang hanya melihat hasil akhir yang mereka buat tapi kadang melupakan tentang ‘Kenapa’. Katakanlah, jika seseorang membuat kopi dengan cara ini, anda harus paham bahwa kopi berkaitan dengan air, temperatur, mungkin dia menggunakan jenis air tertentu, kenapa ia menggunakan metode tersebut. Sesungguhnya, belum semua orang di dunia ini siap dengan kopi ‘Third Wave’. Anda harus perlahan-lahan memberi pengetahuan mengenai ‘Kenapa’ sebelum menyajikan kopi ‘Third Wave’ pada mereka, jika tidak, anda hanya akan membuat mereka takut.


 Apa kutipan tentang kopi yang paling anda sukai?

Kopi, bikin hidup lebih hidup



Jika anda bisa menguasai satu keahlian yang tidak anda miliki saat ini, apa yang ingin anda kuasai?

Baker, gairah saya sebenarnya adalah menjadi seorang pembuat roti, bukan peracik kopi.


Wow! Kenapa anda tidak menjadi koki pastry saja dan membuka sebuah toko roti?

Saya selalu ingin melakukan sesuatu dan menjadi yang terbaik. Saat saya mulai mengerjakan kopi, saya juga memberitahu diri saya bahwa saya harus melakukannya dengan baik dan menjadi master di bidang ini, dan kemudian, anda juga harus terus belajar. Hingga saat ini, saya pun masih belajar dan tidak pernah menganggap diri saya sebagai master. Setelah saya merasa cukup dan mengetahui segalanya tentang kopi, barulah saya akan pergi dan menjadi seorang baker. Delapan belas tahun dan saya belum merasa cukup! (tertawa)


Jadi saat suatu hari kelak anda memutuskan untuk menjadi seorang baker, apa anda pikir anda akan bisa sesukses sekarang ini?

Saya pikir ya. Saya selalu katakan pada putra saya; jika kamu membuat saya menjadi petani, saya akan menjadi petani terbaik sepanjang masa. Jika kamu
meletakkan saya di bidang bisnis lain, saya juga akan menjadi yang terbaik di sana. Apapun yang kamu lakukan, jika kamu ingin melakukannya dengan baik, maka itu akan menjadi semangat (passion) bagi anda.

0 0
Feed