[ID] - In a Class of Its Own

PASSION mengunjungi BLANCO par Mandif di Ubud dan mencicipi usahanya dalam membawa makanan Indonesia ke perbatasan yang baru.


Sejak buka pada tahun 2015 sebagai tujuan destinasi fine dining, BLANCO par Mandif baru saja selesai menambah kapasitas restaurannya. Berlalu sudah masa dimana BLANCO par Mandif adalah sebuah pengalaman intim yang hanya bisa memuat 10 orang di dapur terbukanya yang terkenal. Sebagai gantinya adalah restaurant yang lebih elegan serta dapat mengakomodasi 20 orang. Berlokasi di dalam Blanco Renaissance Museum, saya langsung merasa memasuki dunia yang berbeda saat tiba di area bar sekaligus pintu masuk yang gelap dan dramatis.

Dengan senang saya dapat melaporkan bahwa pelayanan yang sempurna tetap menjadi hati dari restauran ini. Selagi duduk di salah satu sudut terbaik restaurant dan memandangi jembatan Campuhan, saya meresapi ketenangan yang melingkupi saya. Diciptakan oleh sosok chef dan pebisnis restauran ternama Indonesia, Mandif Warokka, restauran ini adalah sebuah penghargaan untuk cita rasa dan warisan Indonesia. Pendekatan perfeksionis khas Warokka serta kecintaannya melahirkan reinterpretasi yang intens terhadap cita rasa Indonesia serta inovasi kreatif yang meski tampak modern, tetap berakar kuat pada cara memasak tradisional.


“Masakan Indonesia sangat kompleks dan kaya rasa. Kami tidak mencoba untuk mem-barat-kan kompleksitas itu namun menerjemahkannya ke dalam degustation menu yang kami ciptakan dengan seksama. Tujuan kami adalah untuk membawa masakan Indonesia ke level gastronomi yang lebih tinggi,” ujar Eko Putro, sebagai general manager restauran. Ia tidak sendiri dalam usahanya karena dapur juga dipimpin oleh tangan handal chef Tan Ali. Sebagai tangan kanan Warokka, ialah yang memastikan bahwa setiap dan seluruh komponen degustation menu tersaji dengan sempurna.


Dengan pilihan 7 atau 9 jenis hidangan beserta opsi cocktail dan wine pairing, degustation menu yang disajikan adalah pengalaman gastronomi yang tidak boleh dilewatkan di Ubud. Amuse-bouche memberikan pengenalan rasa yang kuat serta terdiri dari beragam penganan kecil, dari acar bengkuang hingga bola tahu. Permulaan yang menyenangkan ini berlanjut ke Asinan, presentasi cantik dari hidangan sayuran tradisional Jawa dengan saos kacang mete yang halus dan gurih. Dengan mengganti kacang tanah dengan kacang mete, saos yang dihasilkan langsung mendapat kedalaman dan kekayaan rasa. 


Tabanan Farm Cabbage atau dikenal di Indonesia sebagai lotek adalah hidangan popular dari Jawa Barat yang terdiri dari sayuran yang dikukus dengan saos kacang. Sajian ini terdiri dari ketimun, kol rebus serta lapisan garing kol yang didehidrasi. Aroma kencur yang aromatik menjadikan saos kacangnya bercita rasa Indonesia. Lalu, ada juga Yellow Fin Tuna Toro sebagai penghargaan untuk masakan khas Sumatra Barat. Rasanya sungguh khas, terlebih lagi dengan penggunaan asam cikala dan andaliman. Hidangan ini menggunakan irisan perut ikan yang merupakan bagian yang terenak sementara kuah panas yang wangi dituangkan di atas potongan ikannya. Tidak ada sedikit pun sisa kuah yang tertinggal saat saya selesai menikmatinya.


Mie Cakalang juga salah satu hidangan tak terlupakan, pesta rasa daging ikan tuna yang disisit dengan pedas yang pas untuk Anda menginginkan lebih lagi. Grilled Aged Wagyu Beef dengan sambal hijau dan ubi manis juga menjadi sajian spektakular sebelum malam ditutup dengan akhir yang manis dari sebuah versi Getuk. Makanan penutup sederhana dari Jawa ini diciptakan ulang ke dalam wujud seni yang menyenangkan mata sekaligus pengecap rasa, dengan teksturnya yang sungguh lembut serta rasa kecut dari raspberry cream dan lemou cui sorbet. Satu sajian cocktail yang terbuat dari whiskey, Jack and the Beanstalk, menutup pengalaman ini dengan rempah dan nada yang hangat. Bila BLANCO par Mandif memiliki tujuan untuk menyenangkan dan membawa masakan Indonesia ke level gastronomi yang lebih tinggi, maka mereka telah berhasil.

0 0
Feed