[ID] - Cultivating the Coffee Culture

Akui saja, beberapa dari kita pernah mengalaminya. Ketika tren kopi 3rd wave datang seketika itu kita akan terlihat lebih keren jika kita “membenci” Starbucks, kita ingin dianggap anti-mainstream. Bahkan hingga kini, banyak komunitas kopi yang masih mempercayainya. Namun ketika Anda cukup lama di komunitas ini, kemudian Anda akan sadar betapa bodohnya pemikiran tersebut. Karena seperti yang dibilang banyak ahli kopi, ujung-ujungnya kopi ini adalah bisnis, tujuannya tentu profit. Harus diakui, hingga saat ini, Starbucks masih menjadi raja di bisnis coffee shop, baik dari sisi profit, maupun manajemen. 


Tidak percaya? Coba sebutkan satu coffee shop 3rd wave terbaik versi Anda, bayangkan jika mereka memiliki 328 outlet di berbagai kota di Indonesia dengan jumlah karyawan lebih dari 3.000 orang. Menurut Anda, apakah coffee shop tersebut bisa menjaga kualitas (dan tentu saja, gengsi) sebaik Starbucks? Kali ini, kami sengaja menemui orang yang bertanggungjawab menjaga konsistensi kualitas pelayanan dan budaya, seseorang yang mempertahankan “Starbucks Experience”, Mirza Luqman Effendy

Bisa jelaskan aktivitas sehari-hari Anda?


Sebetulnya saya ada di divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Kultur. Jadi saya lebih fokus di bagian pelatihan, menjaga budaya Starbucks. Kami ingin
pelanggan datang dan menganggap Starbucks sebagai rumah ketiga mereka dan memastikan pelanggan mendapatkan Starbucks Experience.

Proses untuk membangun budaya tersebut dimulai ketika karyawan baru yang dipekerjakan oleh divisi HRD melakukan proses training selama 2 hari untuk pengenalan apa itu Starbucks, sedikit pengenalan praktek membuat kopi, lebih ke soft skills, sementara untuk 19 hari ke depan, mereka akan training di outlet Starbucks untuk mempelajari hard skillnya dari Barista Trainer kami.

Kami memang sengaja mengutamakan soft skill dahulu, karena kami tahu mempelajari hard skill butuh waktu lebih lama. Kami tidak butuh barista yang sangat ahli tapi tidak punya senyum, kami lebih butuh orang yang bisa melayani kopi, dan juga mampu membuat kopi. Membuat kopi itu jika dipelajari, semua orang pasti bisa, namun yang menantang adalah bagaimana caranya membuat kopi sesuai isi hati barista.


Apa yang Anda maksud dengan Starbucks Experience?

Kami menyebut karyawan Starbucks sebagai partner, karena merekalah salah satu ujung tombak Starbucks Experience. Seorang barista harus memiliki pengetahuan, ramah, sering tersenyum, suka membantu, dan rapi. Selain itu, ada juga environment, yang harus bersih, dan sangat welcome. Setelah itu baru kita bicara produk. Setiap perusahaan tentu memiliki standar masing-masing, begitu juga kami. Ada standar yang harus dicapai seorang barista sehingga siapapun yang membuat kopi itu, rasanya konsisten. Tanpa salah satu dari ketiga hal tersebut, Starbucks Experience tidak akan lengkap.


Berapa jumlah outlet dan karyawan Starbucks hingga saat ini?

Kami memiliki 328 outlet, dan karyawannya lebih dari 3000.


Bagaimana Anda mengaturnya? Setahu saya mengolah satu coffee shop saja sudah sulit bagi beberapa owner.

Sebetulnya yang kita butuhkan adalah membuat learning culture, sebuah budaya dimana orang itu semuanya merasa harus belajar dan senang belajar. Tim saya hanya ada 9 orang, tentu kami tidak bisa mencakup 3.000 sekian orang, kita hanya bisa melakukan assessment dan audit. Yang harus kami pastikan berjalan dengan benar adalah di Barista Trainer, Coffee Master dan Store Manager dari setiap outlet.

Merekalah yang kami jaga, karena budaya tersebut berasal dari ketiga orang ini. Jika salah satunya saja tidak passionate, tentu akan berpengaruh ke bawah, jadi kami jaga kepalanya. Kami sering mengumpulkan ketiganya dari seluruh Indonesia, tidak hanya untuk memberikan nasehat, tapi juga memberitahu apa visi dan misi Starbucks ke depan, menjaga semangat mereka, memberikan bonus, sekaligus menjaga persaingan demi mencapai target masing-masing.


Anda pernah bilang bahwa kopi hanya media untuk hubungan antar manusia, saya tertarik dengan pernyataan Anda.

Saya sudah 16 tahun di industri ini, namun saya sudah mulai minum kopi sejak kuliah. Starbucks masuk ke Indonesia pada 2002, saya masuk pada 2003. Awal saya tertarik akan kopi dari ayah saya yang gemar ngopi. Saat itu saya penasaran mengapa ayah saya harus minum kopi setiap hari, walaupun sebenarnya ibu saya melarang karena ia anggap tidak sehat.

Ketika kuliah, karena banyak tugas, saya minum kopi intinya untuk menahan kantuk. Pada saat saya bertemu teman, orang dari Toraja, ia memperlihatkan ke saya bahwa kopi itu sesuatu yang menarik. Ia memberikan saya buku yang berjudul “The Joy of Coffee”, setelah saya baca, ternyata kopi itu tidak hanya seperti yang saya dan ayah saya minum, ada Arabica, Robusta, ada prosesnya. Mulai ada keinginan untuk mencoba sesuatu yang beda. Saya beli berbagai macam kopi sachet untuk mencicipi perbedaannya.


Akhirnya Anda bekerja di Starbucks.

Awal saya lulus kuliah, sebetulnya saya bekerja sebagai bartender. Namun setelah setahun, saya merasa lelah karena jam kerjanya malam, saya juga tidak menikmati lingkungannya. Ketika seorang teman menawarkan lowongan Starbucks, saya coba melamar, meski saya tidak tahu apa itu Starbucks. Pada awal, saya tidak ada passion di sini, sekedar kerja saja. Setelah sekitar 6 bulan, saya mulai mengetahui ada program Coffee Master dan banyak hal lain.

Perusahaan ini berbeda, mereka mengajarkan kita untuk belajar lagi. Starbucks membuat satu individu yang tidak tertarik menjadi tertarik. Jadi menurut saya kopi itu hanya media saja, bagaimana kita bisa menjadi lebih baik dari sekarang, hingga cita-cita kita tercapai. Saya tidak bilang kopi itu tidak penting, namun jika bukan karena kopi, mungkin kita tidak saling mengenal, contohnya saya dengan Anda. Saya memiliki banyak sekali teman yang tadinya tidak kenal, sekarang jadi dekat sekali berkat kopi. Saya bisa berkeliling Indonesia dan negara lain karena kopi.


Saya dengar sebetulnya Starbucks utamanya tidak jualan kopi.

Filosofi kami memang bukan coffee company serving people, kami adalah people business serving coffee. Artinya, kita berpikir bahwa ketika kita menyajikan kopi, yang paling penting adalah orangnya, apakah kami siap dan ramah ketika menyediakan kopi? Jika di luar sana ada kopi yang lebih enak dari Starbucks, ya mungkin saja. Tapi kita memastikan, yang membedakan adalah barista kita harus lebih baik. 



Dari 2003 hingga saat ini, bagaimana Anda melihat perkembangan dunia kopi?

Saya selalu optimis, saya pikir perubahan pasti akan ke arah yang lebih baik. Jika dulu kita mau cari tahu tentang kopi, mungkin harus tanya sana sini, internet belum menjadi konsumsi sehari-hari, tutorial di Youtube masih sedikit sekali. Namun karena saya di Starbucks, untungnya saya dapat bertanya ke partner lain di luar Indonesia, atau bahkan ke principal di Seattle.

Saya melihat kopi sekarang ini adalah cikal bakal industri maju. Kopi sudah jadi bagian gaya hidup setiap orang di kota-kota besar, mungkin tidak seluruh kota di Indonesia. Di kebunnya pun mengembangkan produk melalui berbagai proses pasca panen, jadi dinamis sekali, di hulu dan hilir sama-sama mengembangkan produk. Kopi yang dulu saya lihat hanya sebagai minuman, sekarang diperbincangkan, direview, ini jadi sesuatu yg wow banget. Jika ada orang yang percaya industri ini tidak menyenangkan, mungkin ia harus berpikir ulang.


Anda juga terkenal di komunitas 3rd wave, ada perbedaan dengan Starbucks yang dianggap sebagai 2nd?

Tidak, menurut saya 1st, 2nd, 3rd wave lebih ke blocking untuk taktik marketing saja, sementara kopi itu sebetulnya tidak ada yang seperti itu. Apapun wavenya yang dijual tetap kopi. Cara seduh di setiap tempat tentu akan beda. Mengapa kita memilih bean dan cara seduh tertentu, karena memang existing Starbucks sudah 45 tahun. Tidak mudah bagi sebuah perusahaan yang sudah established untuk mengubah semuanya dengan cepat.

Memang ada yang menganggap Starbucks ketinggalan jaman, namun yang saya lihat, pelanggan kami sangat happy. Orang datang karena konsistensi kami, kami konsisten dari awal berdiri pada 1971 hingga saat ini, roast profile kami tidak pernah diubah, rasanya juga tidak berubah, sangat konsisten.

Di sisi lain, kami tidak menutup mata akan hingar bingar kopi di luar sana, kami membuat Starbucks Reserve dan Reserve Roastery, tapi corenya masih ada. Bukannya saya membanggakan, tapi Starbucks adalah contoh yang sangat baik untuk industri kopi di Indonesia. Kita harus punya jiwa, tidak melakukan sesuatu, lalu ketika besok ada yang bilang sudah ketinggalan jaman lalu langsung berubah. Perusahaan tidak bisa seperti itu kan?



Beberapa orang yang baru berkecimpung di kopi, sepertinya agak anti Starbucks, tanggapan Anda?

Itu tergantung dari kedewasaan individu. Masalah anti atau apa pun itu soal kedewasaan. Saya bergabung di komunitas kopi sejak 2008, hingga saat ini kami saling mendukung, contohnya, untuk membuat event bersama. Komunitas kopi harus berangkulan, tidak bisa masing-masing, tentu pasti ada saja yang iri, merasa saingan, tapi selama saya di komunitas kopi, saya tidak merasakan itu.

Terlebih lagi, kopi dan rasa itu soal persepsi. Saya suka kopi yang lebih acid, sementara ayah saya mengutamakan body, jika ia diberi kopi acid seenak apa pun pasti ia tidak suka, sesimpel itu. Baik di 3rd wave, bahkan 4th wave, pasti ada kopi yang membuat kita kurang nyaman, bukan masalah benar atau salah, ini masalah preferensi. Jika bicara objektivitas, sebagai seorang Q-Grader, saya melihat cupping score itu adanya hanya di cupping table, masih berupa biji mentah, yang artinya belum masuk production line.


Apakah booming kopi ini adalah tren sesaat saja?

Tergantung bagaimana kita melihatnya, apakah Anda melihat bisnis ini seperti mengikuti arus saja, atau ingin menyalurkan passion kita menjadi suatu produk? Bisnis coffee shop tidak semudah ketika hari ini Anda bisa menyeduh kopi, besoknya Anda langsung buka coffee shop, harus ada persiapan yang baik.

Anda juga harus tahu, apa yang membedakan kopi Anda dengan kopi lain. Kita semua menjual barang yang sama, kopi. Jika bicara latte, kita semua pasti menggunakan susu. Yang membedakan adalah individu yang menyajikan kopinya. Jadi buat saya, ini bukan perkara kopi apa yang kita seduh, tapi soal hubungan antar manusia. Coffee shop membutuhkan pelanggan yang kembali setiap hari untuk mendapatkan profit di bisnis ini, kita harus menjaga relasi.

Seingat saya ada data yang bilang kita ini baru menjelajahi 1% dari 10% peluang bisnis kopi specialty. Berarti ada 9% ruang terbuka untuk siapa pun itu. Banyaknya coffee shop justru akan membantu meningkatkan konsumsi kopi.

5-10 tahun lalu jika saya ke sebuah coffee shop, saya merasa pelayanannya dingin, sekedar menyajikan kopi. Sekarang beda sekali, semuanya ramah, pelayanannya lebih hangat, itu yang dibutuhkan industri ini.


Bagaimana posisi kopi Indonesia di mata dunia?

Kopi Indonesia merupakan salah satu kopi terbaik di dunia, keunikannya kita tidak bisa ditemukan di kopi Etiopia atau Brazil, notesnya beda sekali. Eropa dan Amerika merupakan importir kopi Indonesia terbesar, mereka menyukai notes spicy dan full body. Saya sendiri suka sekali kopi Indonesia dari Aceh hingga Papua. Starbucks juga banyak mengeluarkan varian kopi Reserve, dari daerah seperti Danau Toba. Semua kopi Indonesia di Starbucks laku keras, kopi Sumatera bahkan menjadi salah satu best-seller kami.


Dengan banyaknya jumlah kedai kopi modern baru, apakah mereka mengganggu bisnis Starbucks?


Begini, dulu ketika kami mau penetrasi ke kota kecil seperti Samarinda, Jambi Pekanbaru, komunitas di sana, yang kebetulan saya kenal, bertanya, “untuk apa Starbucks buka di sini?” Kami ingin membangun budaya kopi dan meningkatkan konsumsi kopi, karena pada saat kami penetrasi ke suatu daerah, orang jadi mengenal kopi. Toh pelanggan saya hari ini, besok bisa jadi pelanggan kalian, tidak ada larangan kan? Setelah 3 bulan saya ke sana, mereka malah berterima kasih, karena budaya kopinya sudah jauh lebih baik. Kita butuh semacam jangkar untuk budaya ini.

Yang kita perjuangkan adalah bagaimana membuat orang yang tadinya tidak ngopi menjadi peminum kopi, namun jangan menghalangi orang dengan bersikeras bahwa ngopi yang benar itu begini, tidak boleh begitu. Biarkan mereka bebas bereksplorasi, oleh sebab itu Starbucks juga memiliki customization, Anda bebas melakukan personalisasi, karena your drink is yours. Menurut saya memang kopi itu sesuatu yang yang sangat personalized.


Buat Anda, apa yang paling menarik dari industri kopi?

Teman. Kopi itu udah pertemanan sekai.  Kemanapun saya pergi, meski ke satu festival kopi yang kita tidak ketahui, dalam beberapa menit, saya bisa berteman dengan orang yang tadinya tidak saya kenal karena membicarakan kopi. Kopi itu connecting people sekali, seperti moto Nokia. Saya sering berkomunikasi lewat email dengan petani kopi di Kolombia. Meski kami tidak pernah kenal atau bertemu sebelumnya, karena bicaranya soal kopi, kami nyambung-nyambung saja.


Apa pengalaman ngopi yang tidak bisa Anda lupakan?

Pada waktu 2012 ketika saya mengunjungi PTPN XXII di Pegunungan Ijen. Ada satu warung kopi sederhana, bahkan seingat saya tidak ada namanya. Kedai tersebut tidak besar, paling hanya 4x4m, bahkan tempat tersebut tidak menggunakan kaca, hanya sekat kawat, makanannya pun sederhana seperti pisang goreng. Ketika akan minum kopi yang dibuat dari biji lokal, ia menyajikan gula jawa yang sudah dicacah, ia mengajarkan bahwa sebelum minum kopi, gigit dulu gula jawanya. Saya terkesan, orang di daerah pegunungan saja bisa begitu humble dan mengajarkan suatu budaya yang berbeda, yang tidak bisa ditemukan bahkan di kota.


PT. SARI COFEE INDONESIA (STARBUCK INDONESIA)

Sahid Sudirman Center , 27th Floor, Jl.Jend. Sudirman Kav. 86, Jakarta 10220-Indonesia, 

Phone : +6221 574 6501, www. Starbucks.co.id

0 0
Feed