[ID] - Contemporary Coffee Shop

Belakangan ini, sulit rasanya menentukan batasan yang jelas antara coffee shop tradisional dan restoran. Untungnya, ini bukan berarti hal buruk. Di tengah British Invasion pada tahun 1960an, musisi blues Inggris dapat dibagi menjadi 2 kategori. Eric Clapton mengaku sebagai blues purist, sementara orang seperti Jeff Beck dan Jimmy Page (Led Zeppelin) lebih suka menembus batasan blues tradisional dan membuat sesuatu yang kontemporer, sesuatu yang progresif. Tampaknya sejarah kembali terulang, kali ini di industri kopi.


Pada awal kehadiran coffee shop third wave di Indonesia, beberapa purist percaya bahwa coffee shop hanya menyajikan kopi, mungkin beberapa produk pastry, tanpa kehadiran main course. Namun, sudah menjadi rahasia umum di komunitas kopi bahwa pendapatan terbesar justru datang dari makanan. Ketika mulai hadir coffee shop baru dengan menu makanan yang menarik, mungkin ini saatnya meninggalkan para purist tersebut untuk berdebat sendiri dan menikmati konsep yang ditawarkan coffee shop seperti Atlast Kahve. Meski namanya terdengar asing, namun kahve merupakan asal dari kata kopi yang kita kenal dan cintai.


Terletak di perbatasan dua perumahan di BSD, Tangerang yang sedang naik daun: Gading Serpong dan Paramount Serpong, coffee shop ini terletak secara strategis di dekat sekolah Penabur. Sangatlah logis bagi Atlast Kahve, yang baru saja melakukan soft opening pada 11 Desember 2017, untuk menyasar kalangan keluarga, terutama mama-mama cantik anter anak, atau populer dengan nama “Macan Ternak”.

Venue Atlast Kahve terbagi menjadi 2 bagian: indoor ditujukan untuk keluarga yang menyukai ruangan berAC, sementara outdoor lebih cocok untuk perokok atau mereka yang suka hangout bersama teman berkaki empat. Dengan pengaruh interior Skandinavia dan unsur-unsur eklektik, coffee shop ini memberikan pencahayaan alami sehingga sangat layak dikunjungi pada sore hari.

Menu Fusion
Agak sulit untuk mengkategorikan konsep makanan Atlast Kahve, karena memang sengaja didesain untuk memberikan comfort food terfavorit dari seluruh dunia. Oleh sebab itu, jangan heran jika Anda melihat menu Mexico seperti Enchiladas (homemade black bean beef wrapped with tortilla flour, served with spicy tomato, topped with wild rockets and three dipping sauces, guacamole, sour cream and tomato salsa), menu anak-anak dari Jepang seperti Tori Karaage, Chicken Katsu Curry, hingga makanan lokal favorit seperti Sop Buntut dan Sop Buntut Bakar.

Diantara sekian banyak menu makanan, Atlast Kahve memiliki 3 menu andalan. Meski namanya agak membingungkan, Brodate (grilled chicken with creamy spinach served with asparagus, heirloom tomato and homemade gravy sauce) disajikan dengan porsi besar dan tanpa tekstur kering dan stringy yang biasa dijumpai pada daging ayam yang terlalu matang. Roast Quail, dading burung puyuh yang dibuang tulangnya dan disajikan dengan saus gravy homemade, juga menjadi favorit pelanggan. Lumayan sulit untuk menemukan daging burung puyuh, bahkan di banyak resto western sekalipun. Yang terakhir mungkin merupakan menu yang paling Instagrammable: April in Bali, grilled Norwegian salmon, yang disajikan dengan sayuran, asparagus, mashed potato, saus Quattro formagi homemade, dan sprinkle buah bit homemade yang memberikan warna pink cerah.

Salah satu misi Atlast Kahve adalah untuk meningkatkan standar makanan dengan menggunakan banyak bahan homemade seperti pada gravy, potato wedges, keripik kentang, dan saus lainnya. Tentu saja, menggunakan bahan-bahan premix instan terlihat seperti solusi untuk efisiensi yang lebih baik, namun begitu Anda terbiasa dengan kualitas bahan homemade, sulit rasanya untuk kembali. Ide ini mungkin terdengar ambisius, terutama setelah mengetahuinya datang dari sebuah coffee shop. Ditambah lagi dengan presentasi makanan yang cantik. Upload fotonya ke media sosila, dan bersiaplah untuk diinterogasi teman-teman Anda.

Minuman Signature

Tentu saja kita tidak bisa menyebutnya coffee shop hingga tempat tersebut memiliki mesin espresso. Namun ternyata cukup mengejutkan untuk mengetahui bahwa jumlah penggemar kopi manual brew berimbang dengan pecinta kopi espresso-based. Di sini, Anda bisa memilih berbagai metode brewing, dari Kalita Wave, V60, Kopi Tubruk, hingga Vietnamese Drip.

“Kami tidak pernah menyangka minat pelanggan akan manual brew sedemikian besar. Kami menyajikan kopi dari beberapa roaster luar terkemuka seperti Intelligentsia, Blue Bottle, roaster lokal seperti Kopi Pak Wawan, dan selanjutnya kami akan menghadirkan Common Man dan Papa Palheta. Biasanya kami menyajikan 3 pilihan kopi, terkadang kami melihat seorang pelanggan yang memesan ketiganya untuk tasting sendirian,” kata Henny Taher, salah satu pemilik Atlast Kahve.

Di samping banyaknya pilihan teh dari Kaya yang populer di kalangan ibu-ibu, signature drink Atlast Kahve sebenarnya adalah cold press juice yang menggunakan nama-nama menarik seperti Energy Booster, Flat Belly, Tummy Tonic, dan Puff the Magic Dragon. Awalnya, angkanya terlihat mahal, namun setelah mengetahui bahwa produk ini terbuat dari buah asli, tanpa campuran air, maka harganya menjadi masuk akal, terutama di kalangan pecinta hidup sehat. Ini untuk Anda, wahai para penghitung kalori!

Faktanya, konsep coffee shop dan restoran memang semakin terintegrasi, namun kami tidak terlalu peduli dengan kategorisasi. Patut dicatat, meski Anda di tim purist Clapton atau tim progresif Beck/Page, keduanya memiliki fans setia. Kami lebih memperhatikan soal kualitas makanan, minuman, harga yang reasonable, dan akui sajalah, eksistensi Anda di dunia digital melalui menu-menu yang Instagrammable. Anda dapat mengisi semua checklist tersebut di Atlast Kahve.

0 0
Feed