[ID] - Conquering Boundaries

Ada pepatah lama yang mengatakan ‘mimpilah yang besar, atau pulang’. Mimin Mintarsih sesungguhnya melakukan itu dengan sedikit berbeda, dengan menggunakan kata ‘dan’ alih-alih ‘atau’. Ribuan mil berkeliling dunia dan sederet pencapaian prestisius kemudian, Head Pastry Chef baru The Westin Resort Nusa Dua, Bali ini kembali ke negara asalnya sebagai seorang wanita pemimpin hebat di balik beberapa dapur internasional di luar negeri.


Di dunia yang (saat ini) didominasi oleh pria, bukanlah tugas yang mudah untuk bekerja di dapur restoran hotel, alih-alih memimpinnya, tapi Mimin Mintarsih berhasil mendobrak halangan tersebut; lebih lagi, wanita asal Sukabumi, Jawa Barat itu mampu melakukannya di luar negaranya sendiri. Ahli pastry berpostur mungil ini menunjukkan pada kita bahwa tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk ditaklukkan jika kita terus berusaha memberikan yang terbaik dan membuktikan para pengkritik kita salah. Kami duduk bersama Chef Mimin di sela kesibukannya sebagai Head Pastry Chef anyar The Westin Resort Nusa Dua, Bali untuk menggali lebih dalam kisah-kisah menarik seputar pencapaiannya dalam kesetaraan gender (sembari mencicipi beberapa kue lezat kreasinya)


Jadi, bisa anda ceritakan pada kami siapa yang menginspirasi anda untuk berkarir di bidang ini?

Sebelum saya terjun ke dunia (kuliner) hotel, saya mengambil kuliah di Telkom University (Tell-U) Bandung untuk gelar diploma, dan salah satu dosen saya, Pak Charli, menginspirasi saya untuk menjadi seorang Chef. Beliau sebelumnya pernah bekerja di Kapal Pesiar dan berkeliling dunia; Swiss, Eropa, Amerika, dan saat itu saya pikir itu sangat menarik, jadi saya mulai berpikir untuk menjadi juru masak. Saya mengawali karir sebagai pembantu koki di beberapa restoran di Jakarta, tapi karena tempat kerjanya sangat panas (sebagai koki / juru masak), jadi saya memutuskan untuk pindah ke divisi pastry dan mulai jatuh cinta dengan profesi sebagai koki pastry pada tahun 2001, itu adalah tahun yang sama dimana saya mulai bekerja diluar negeri ke Abu Dhabi,



Apa keahlian khusus anda dalam mengkreasi pastry?

Sebenarnya, sebagai koki pastry, kita harus mampu memahami bagaimana cara membuat berbagai macam kue, tapi untuk saya secara pribadi, saya cinta segala hal tentang coklat. Saat saya membuat sesuatu dari coklat, itu membuat saya bahagia, dan (secara ilmiah) coklat memang mampu membuat orang bahagia. Itu juga baik untuk kesehatan; terutama jika menggunakan bahan baku coklat berkadar 78-80%; itu bisa menjadi obat untuk mencegah penyakit seperti sakit jantung. Saya punya banyak kreasi yang melibatkan coklat, dan salah satu yang terbaik adalah praline, yang saya pelajari resepnya kala bekerja di Miami. Di sana, kami memiliki program buffet ‘magnifico’ dimana kami harus membuat beragam jenis praline yang berbeda setiap minggunya, dan juga hidangan lainnya, ini membuat saya menjadi lebih kreatif lagi.



Apa hal yang paling kamu nikmati sebagai chef pastry?

Saya cinta travelling. Sejak meninggalkan Indonesia di tahun 2001, saya pergi ke Abu Dhabi dan bekerja di Rotana Hotel sebagai second-commie (asisten koki), yang mana merupakan peluang yang baik. Pertama kali saya mendarat di Abu Dhabi, saya merasa sangat bahagia sampai-sampai saya gigit salah satu jari saya untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi belaka! Saya juga berasal dari keluarga miskin di Sukabumi, jadi tidak pernah terlintas di pikiran bahwa suatu hari saya akan bisa bepergian ke lebih dari 50 negara. Saya juga suka fakta bahwa ketika saya bekerja, saya berjumpa banyak sekali orang-orang menarik dari berbagai negara yang membawa karakteristik mereka masing-masing. Orang lain harus mengeluarkan uang untuk travelling, tapi saya dibayar untuk melakukan hal yang sama, jadi itu merupakan hal yang paling saya nikmati sebagai seorang chef pastry.



Ada sebelumnya sempat bekerja di Dubai. Apa pencapaian terbesar anda selama di sana? Dan apa tantangan terbesar yang pernah anda atasi selama bekerja di luar negeri?

Selama periode 6 tahun saya d Dubai, saya pernah bekerja di brand hotel besar seperti Royal Mirage, melayani klien-klien prestisius. Saat saya di Capital Club Dubai, saya juga pernah dipercaya untuk memegang posisi Pastry Chef. Menariknya, ini terjadi setelah saya memutuskan untuk mengambil posisi yang lebih rendah dari yang saya emban sebelumnya di Pesiar sebagai asisten Chef, hanya setahun sebelumnya. Kemudian di tahun 2012, ketika saya masih bekerja di Dubai, saya berhasil membuka toko roti saya sendiri di kampung halaman saya, Sukabumi. Saya menganggap hal ini sebagai pencapaian terbesar saya hingga saat ini.

Tantangan terbesar saat berkarir di Dubai adalah keberagamannya. Disana ada orang India, Sri Lanka, Eropa, jadi ketika saya menjabat sebagai Head Pastry Chef, sebagai seorang wanita, kadangkala tidaklah mudah untuk menangani staf pria dari kewarganegaraan yang berbeda. Terutama saat anda bekerja di Timur Tengah, dimana paradigm terhadap wanita adalah hanya tinggal di rumah dan mengurus bayi. Baru-baru ini saja negara-negara di sana bisa lebih terbuka dan mempekerjakan lebih banyak wanita.



Bisakah anda berikan tips penggunaan produk dairy (krim, keju atau susu) dalam membuat pastry yang baik? Dan dengan semakin meningkatnya kewaspadaan tentang gaya hidup sehat, bagaimana kiat anda untuk mengantisipasi tren tersebut?

Di pastry, salah satu bahan yang sering kami buat adalah krim mousse, jadi ini ada tips sederhana untuk membuatnya lebih baik; jangan terlalu keras ‘menghantam’ krim kocoknya, sehingga hasil akhirnya memiliki tekstur yang bagus. Untuk menu yang lebih sehat,alih-alih susu full-krim, kami menggantinya dengan bahan lain seperti susu almond, misalnya. Kami juga tidak menaruh susu jauh-jauh dari lemari pendingin, jadi itu selalu tersedia segar dan siap digunakan. Jika mereka tidak mengkonsumsi gluten, kami bisa membuat menu hanya dengan krim kocok (whipped cream) dan coklat.


Apakah pergantian substansi dengan bahan yang lebih sehat itu mempengaruhi rasa secara signifikan?

Tentu saja; ketika anda memakai banyak lemak dalam masakan, rasanya akan jauh lebih enak. Tapi saat ini di seluruh penjuru dunia, orang-orang telah mulai terbiasa untuk mengkonsumsi makanan dari bahan-bahan yang lebih sehat, yang menggunakan bahan kimia sesedikit mungkin.



Apa alat dapur favorit anda?

Spatula. Terutama dalam pastry, Spatula adalah alat yang penting. Anda tidak bisa melakukan banyak hal tanpanya. Saya masih memiliki spatula yang pertama kali saya pakai di tahun 2001. Saat ini, spatula tersebut sudah sedikit rusak, tapi saya selalu membawanya kemanapun saya bekerja.



Menurut anda, apa skill terpenting yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi chef pastry profesional?

Anda harus mencintai apa yang anda lakukan terlebih dahulu. Jika anda tidak merasa dipaksa oleh orang lain, anda bisa bekerja 14-15 jam sehari dan tidak merasa lelah, karena anda melakukan hal yang anda suka, dan juga gairah (passion). Saya percaya jika saya tidak memiliki gairah, saya tidak akan bisa bertahan di industry ini selama 17 tahun lebih. Hal lainnya bisa dipelajari baik dari akademi resmi maupun orang lain, tapi gairahlah yang terpenting, karena dari sana, anda bisa menggunakan skill anda untuk mencari nafkah.



Apa kombinasi rasa favorit anda?

Coklat dan pisang! Saat anda memadukan susu coklat dengan caramel pisang, itu menciptakan rasa yang sangat lezat, terutama dalam kreasi kue-kue / pastry.




Bisakah anda sebutkan tiga jajanan tradisional Indonesia favorit anda?

a.) Martabak Manis (Terang Bulan)

Sejak saya lahir, ayah saya mencari nafkah untuk keluarga dengan berjualan martabak. Suatu hari, saat saya tengah berlibur dari pekerjaan di Kapal Pesiar, seorang dokter menyarankan pada saya untuk membelikan bapak sebuah tempat untuk berjualan martabak, agar ia tak lagi harus berkeliling dengan gerobak di usianya yang sudah renta. Saya pun melakukannya, dan saat ini kami memiliki dua toko martabak di Sukabumi, yang dijalankan oleh saudara-saudara saya. Saya berniat untuk membuka toko tersebut di Bali.

b.) Sarang Semut

Ini jenis kue pertama yang bisa saya buat. Ibu saya juga banyak mengajarkan saya cara membuat kue ini. Satrang Semut adalah kue yang sangat fleksibel, dan bisa dikombinasikan dengan beragam rasa.

c.) Cendol

Semasa saya SD, ibu saya kerap membelikan es cendol. Jadi ketika saya baru tiba di sini (di Westin Resort Nusa Dua, Bali), kebetulan tengah berlangsung kompetisi memasak internal untuk seluruh chef hotel, dan salah satu kreasi dari chef pastry kami adalah Cendol Pannacotta. Inilah yang hendak saya lihat di sisni; kelezatan tradisional Indonesia yang disajikan dengan presentasi modern internasional.



Apa project anda berikutnya untuk The Westin Resort Nusa Dua, Bali? Adakah yang perlu kami nantikan?

Pertama kali saya datang, pihak hotel meminta saya untuk merubah menu pastry di lobi, jadi kami lakukan dan para tamu menyukainya. Untuk proyek berikutnya, saya harus membuat-ulang menu pastry di semua fasilitas kuliner hotel; mulai dari Velada, Ikan, Prego, dan lainnya. Pastinya hal ini akan membutuhkan banyak penyesuaian karena saya baru ditunjuk (sebagai Head Pastry Chef) disini. Saya memiliki banyak tenggat untuk diselesaikan, dan saya pikir saya harus sedikit lebih santai (tertawa)



THE WESTIN RESORT NUSA DUA, BALI
Kawasan Pariwisata, BTDC, Jl. Nusa Dua, Bali 80363

Phone: +62 361 771 906, www.westinnusaduabali.com

0 0
Feed