[ID] - Competition, The Double-Edged Sword

Selalu menyenangkan untuk melinat kompetisi masak atau pastry di berbagai pameran, namun selalu ada konsekuensi dibalik kompetisi yang prestijius. Selain sebagai ajang pembuktian kemampuan, kompetisi bisa dianggap sebagai batu loncatan dalam karir seseorang. Namun, kemenangan dalam sebuah kompetisi sering disertai dengan sebuah konsekuensi logis bagi perusahaan, pembajakan karyawan. Untuk menyikapinya, kami berdiskusi dengan Chef Rahmat Kusnedi, seorang mantan kompetitor pastry yang sekarang menjadi pemilik bisnis Physalis’s, pelaku sekaligus korban dari pembajakan karyawan.


Bagaimana pandangan Anda terhadap kompetisi kuliner?

Ada 2 sisi kompetisi, mirip seperti 2 mata pisau yang bisa tajam ke atas dan ke bawah. Jika suatu hotel bintang 5 dikepalai oleh seorang chef yang terbiasa ikut kompetisi atau asosiasi, biasanya ia juga mengijinkan stafnya melakukan hal serupa. Lain halnya dengan chef model pebisnis yang berorientasi pada pekerjaan, biasanya mereka jarang mengijinkan. Jika diijinkan dan kompetisinya sukses, tentu ada imbas baik bagi perusahaan, secara institusi pasti citranya akan terangkat. Contohnya ketika
saya dulu bekerja di Sari Pan Pacific, Executive Chef saya adalah Katsuya Ono yang memiliki 22 medali emas, bukan perak atau perunggu. Saya belajar berkompetisi dari beliau.



Bisa diceritakan awal Anda berkompetisi?

Saat itu saya mengikuti Salon Culinaire 2003 di Jakarta, saat itu saya masih menjabat sebagai Sous Chef. Saya didorong Ono-sam (Katsuya) untuk ikut karena menurutnya, seseorang yang memiliki kemampuan harus ditunjukkan. Yang ikut kompetisi bukan hanya saya, hampir semua divisi di Sari Pan Pacific difokuskan untuk kompetisi dibawah arahan Ono-san. Saat itu kami berhasil menjadi juara umum, kami membawa pulang banyak sekali medali, saya sendiri berhasil meraih 2 medali emas berkat arahan Ono-san.



Lalu bagaimana pengaruh kompetisi pada sisi bisnis perusahaan?

Tentu saja secara bisnis nama hotel pasti terangkat. Meski ia adalah seorang chef, pola pikir Ono-san luar biasa. Ia mampu meyakinkan atasan, bahwa kompetisi merupakan bagian dari CSR (Corporate Social Responsibility), yang juga merupakan programnya divisi Marketing. Kegiatan marketing seperti menyebar flyer, memasang banner dan baliho tentu butuh biaya, sama halnya kompetisi. Namun, pada ajang Salon Culinaire, semua orang di industri horeca akan fokus ke sana, inilah parameter industri

Setelah kompetisi, pekerjaan promosi ini diambil alih divisi PR. Saat itu yang mengepalai PR adalah (almarhum) Fika Kansil yang memang sangat aktif. Kami membuat banyak sekali promosi, foto aktivitas kami disebar kemana-mana. Ini cukup mendongkrak penjualan kami, namun di sisi lain ada masalah baru, yaitu soal pembajakan chef, salah satunya saya yang akhirnya pindah ke JW Marriott. Pada saat lomba saja, Executive Chef JW Marriott memberikan kartu nama, ia meminta saya untuk menghubunginya seusasi kompetisi. Hampir semua Executive Chef melakukan hal yang sama jika mereka tertarik pada peserta kompetisi.


Ini bagai simalakama bagi suatu hotel. Inilah sebabnya mengapa ada beberapa hotel yang tidak mengijinkan stafnya ikut kompetisi. Ada berbagai macam chef, ada yang tidak mau ambil pusing, ada yang mau kerja lebih keras, seperti Ono-san. Ia malah menyarankan stafnya untuk pindah agar karir kami lebih bisa berkembang di tempat lain. Ia tidak keberatan mendidik orang baru, namun tentu saja succession plan yang pernah kita bahas di edisi sebelumnya, sudah harus berjalan baik.




Anda sekarang adalah seorang owner. Bagaimana cara Anda mencegah pembajakan ini?

Saya juga mengalaminya. Chef saya yang juara pada kompetisi lalu dibajak oleh salah satu hotel bintang 5. Namun saya paham bahwa saya pun dulu mengalaminya, jadi saya harus legowo. Saya tidak masalah, karena pada intinya, jika saya bisa membantu seseorang untuk sukses, tentu ia akan mengenang jasa saya yang pernah mendidiknya.



Apakah pembajakan bisa dicegah melalui kontrak?

Bisa, hal itu sudah dilakukan di hotel manapun. Tentu hotel selau mengapresiasi jika Anda memiliki kemampuan dan prestasi di tempat kerja, selalu ada bargaining power. Promosi jabatan bisa diberikan pada tahun yang sama, atau pada awal tahun depan, itu sudah pasti. Tentu ada ikatan kontrak, namun itu sulit mencegah perpindahan seseorang. Ada tipikal orang yang tidak terlalu suka perubahan, lebih suka di zona nyaman, ada juga yang lebih suka tantangan di tempat baru, setiap orang memiliki pemikiran sendiri.



Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini?

Kembali ke succession plan, semua ini berhubungan. Jika succession plannya bagus, maka ketika chef juaranya sudah tidak ada, kualitas perusahaan harus tetap baik. Namun pada akhirnya, pendekatan saya bukan soal uang, namun bagaimana memanusiakan karyawan dan menganggapnya sebagai keluarga. Sama halnya ketika kita memulai sebuah keluarga, hanya ada 2 orang, suami dan istri. Kemudian kita akan punya anak, namun suatu saat, anak akan meninggalkan kita dan kita akan kembali menjadi 2. Tidak mungkin kita melarang anak untuk tetap tinggal, itu kan hak prerogatifnya. Sama halnya dengan di perusahaan, silahkan saja Anda ikut lomba dan asosiasi, jika memang nanti ia harus pergi, ia tetap bagian dari keluarga.

Pada akhirnya, kesuksesan seseorang itu diukur tidak dari kehebatan individu, namun dari bagaimana ia bisa memberikan ilmu yang bermanfaat untuk kesuksesan orang lain. Ketika saya mendengar mantan staf saya sukses di tempat lain, itulah kebanggan saya. Dalam hal ini, chef yang paling hebat itu Jean Francois Arnaud (JFA). Chef-chef Asia bisa maju seperti sekarang ini berkat JFA. Di Indonesia sendiri, chef mana yang belum pernah berguru pada JFA?

0 0
Feed