[ID] - Between Talent and Open Mind

Dalam menilai kesuksesan S.K.A.I Beach Club saat ini, kita tidak bisa melewatkan sosok di balik dapurnya, Theodorus Immanuel Setyo, yang biasa juga dikenal sebagai Chef Theo. Pribadi yang easy-going, brilian dan bersemangat ini sebetulnya sudah cukup lama malang melintang, hingga ke industry televisi dengan ikut membidani seri Master Chef Indonesia untuk season 3 dan 4, serta sendirinya berpartisipasi dalam program Iro Chef. Kini, ia telah kembali focus untuk mengembangkan menu-menu di S.K.A.I Beach Club. Passion memiliki kesempatan untuk bersua dan berbincang dengan pria luar biasa ini di tengah kesibukannya. Berikut beberapa hal menarik yang mampu kami ‘peras’ darinya.



Jadi bagaimana semua ini bermula? Siapa / apa yang mendorong anda untuk mengejar karir di bidang ini?

Semua bermula dari diri saya sendiri. Ibu dan nenek saya adalah juru masakan rumah yang hebat, jadi saya rasa bakat itu mengalir dalam darah saya. Sejak kelas 3 SD, saya sudah mulai coba untuk membuat masakan saya sendiri.

Terdapat dua sosok yang sangat mempengaruhi saya untuk mengejar karir ini, yakni Chen Degan dan Chef Vindex (Tengker), yang saya anggap sebagai mentor dan sahabat baik. Terima kasih pada mereka karena telah membentuk saya hingga menjadi seperti sekarang ini.




Mari bicara sedikit mengenai hidangan Indonesia. Hidangan tradisional mana yang menurut anda paling kurang dilirik dari seluruh nusantara?


Saya pernah mencoba memasak Bebek Bumbu Putih, sebuah sajian tradisional Aceh. Secara umum, itu kurang lebih sama dengan Opor, namun dengan lebih banyak rempah. Saya membuat hidangan satu ini untuk seri UnOaked dari S.K.A.I Beach Club dan memadukannya dengan presentasi modern menggunakan (pasta) tortellini dan dada bebek cabik, tapi saya tetap mempertahankan rasa otentik tradisionalnya, dan ternyata cukup sukses.




Apa masakan Indonesia tersulit yang pernah anda buat? Dan bagaimana anda mengatasi tantangan terhadapnya?

Saya pernah memasak rendang, sebenarnya bukannya sulit, tapi memang banyak langkah-langkah yang harus ditempuh untuk memasaknya hingga jadi. Tantangan utama di sini (S.K.A.I) bagi saya adalah karena tamu kami kebanyakan berasal dari luar negeri, maka sedikit banyak kami harus menyesuaikan lagi citarasanya. Jadi saya gunakan daging wagyu dan membungkusnya dengan bumbu rendang, lalu kita letakkan di dalam vacuum pack untuk semalam. Keesokan harinya kami masak dengan suhu rendang dan kami sajikan saus rendangnya secara terpisah. Pada akhirnya, nama menu berubah menjadi pan-seared beef bumbu rendang, namun tetap mempertahankan rasa orisinil rendang tradisional.




Beritahu kami apa yang telah anda lakukan sejauh ini untuk S.K.A.I Beach Club? Apa ada inovasi baru yang harus kami nantikan?

Saya membantu merancang semua menu dan selalu ingin berinovasi di masa depan. Untuk rencana selanjutnya, S.K.A.I akan mengubah konsep menu menjadi gaya Mediterania/ Ada juga satu project lagi selain tempat ini, tapi saya akan memberi anda detail mengenai hal tersebut nanti. Coming soon!




Sebagai chef, bagaimana cara anda mempertahankan kreativitas? Dan apa yang biasanya anda lakukan untuk menemukan inspirasi?


Pertama-tama harus memiliki pikiran terbuka, keyakinan dan semangat tidak pernah berhenti belajar. Harus selalu tangap terhadap ekspektasi klien tentang makanan masa kini. Saya rasa hal-hal itu cukup untuk mempertahankan kreativitas secara konstan.

Untuk inspirasi, biasanya hal itu datang secara tiba-tiba di situasi apa pun, bahkan ketika saya tengah berada di kamar mandi. Tapi untuk mempertahankan inovasi terhadap metode, saya cukup sering membaca buku. Itu adalah faktor pendukung untuk membiarkan inspirasi anda tetap mengalir, kapan saja dimana saja.




Untuk sebuah Negara yang besar, apa menurut anda yang menghalangi Indonesia untuk membuat dampak yang lebih besar di skena makanan global? Dan apa kiat untuk melakukan hal tersebut?

Ini sebenarnya merupakan tanggung jawab utama kami sebagai chef Indonesia, dan kami juga butuh dukungan dari pemerintah dan juga pemilik hotel untuk mendukung promosi makanan Indonesia ke luar negeri. Apa yang saya telah lakukan secara pribadi bersama Chef Degan adalah melalui kampany Indonesian Food Promo di Eropa, yang telah kami lakukan beberapa kali sebelumnya, yakni ke Prancis dan Jerman. Hal ini kami lakukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat luar menu-menu hidangan Indonesia selain nasi goreng dan juga rendang. Belakangan, saya juga mengamati banyak chef muda yang telah mulai berani untuk mengusung kreasi masakan Indonesia. Mereka harus terus melakukan hal ini! Bahkan beberapa rekan chef Indonesia yang bekerja di luar negeri telah mulai meminta saran tentang bagaimana membuat masakan Indonesia yang baik, jadi di level dasar sudah dimulai, dan saat ini kita hanya harus terus mempromosikan agar dunia semakin melihat. Hidup masakan Indonesia!




Kami dengar anda merupakan penggemar jajanan. Mohon bagikan empat jajan khas Indonesia terfavorit anda beserta penjelasan singkat masing-masing alasannya!

a. Bakso

Ayolah! Siapa yang nggak suka bakso?

b. Mie Ayam

Salah satu mi ayam ter-enak di Bali menurut saya ada di daerah (Jl. Gunung) Soputan. Namanya Mie Ayam Wonogiri

c. Tongseng (Kambing)


Sejak SMP, saya sering diajak ayah saya berkeliling untuk ‘memburu’ tongseng lezat di daerah kelahiran saya (Wonosobo), hal inilah yang membuat saya akhirnya menjadi penggemar tongseng. Sayangnya di Bali saya belum menemukan tongseng yang cocok di lidah, jadi biasanya saya bikin sendiri (tertawa)

d. Ketoprak

Saya sempat tinggal di Jakarta, tepatnya di daerah Gandul, Cinere. Di dekat sana ada satu tukang ketoprak yang menurut saya paling enak. Karena dia saya jadi gemar ketoprak hingga sekarang



 
Ada saran atau nasihat untuk para koki muda yang masih bermimpi untuk menjadi seorang chef sukses kelak?

Jangan cepat merasa puas, terus belajar, berpikiran terbuka, jangan terlalu idealis dengan masakanmu sendiri, karena pada akhirnya yang akan menikmati mereka adalah orang lain (tamu), jadi kita harus melihat juga dari sudut pandang berbeda. Oh ya, dua hal terakhir : selalu bersyukur dan jangan lupa berdoa!




PADMA RESORT LEGIAN
Jl. Padma No. 1 Legian,
Phone: +62 361 752 111, www.padmaresortlegian.com/dining/skai-beach-club.p...

0 0
Feed