[ID] - A Perfect Symmetry

Passion berbincang dengan Yusuke Aoki, executive pastry chef dari Four Seasons Resorts Bali yang kerap meraih penghargaan, tentang kecintaannya terhadap cokelat dan kesempurnaan. 


Satu tahun setelah kedatangannya di Bali, Yusuke Aoki mengaku masih selalu terinspirasi oleh pulau yang ia huni. “Bahkan gunungnya pun sungguh menginspirasi! Ada sebuah penghormatan untuk Gunung Agung di menu makan malam kami, sebuah kue cokelat dari valrhona caraibe chilli lava dengan saus caramel strawberry dan eskrim vanilla,” jelas Aoki dengan riang. Ia bertanggung jawab terhadap kreasi-kreasi pastry di kedua properti Four Seasons Resorts Bali sekaligus juga katering untuk acara-acara khusus, banquet serta pesanan cakes di Sundara yang semakin dikenal.


Chef berusia 35 tahun ini memulai karirnya 13 belas tahun yang lalu di kota asalnya, Kyoto. Setelah lulus dari Kyoto Pastry Art College, ia hijrah ke Perancis untuk mempelajari segala macam yang bisa dipelajari tentang pastry dari chef ahli. Saat Aoki kembali ke Jepang, ia memulai karirnya dengan bekerja di hotel bintang lima di sana hingga memulai pengalaman internasionalnya bekerja di hotel-hotel bintang lima di Toronto, Paris, Doha, hingga akhirnya tiba di Bali. Aoki juga telah memenangkan beberapa penghargaan seperti Global Pastry Chef Challenge Competition di Qatar tahun 2015 - Gold Medal dan Global Pastry Chef Challenge International di Yunani tahun 2016 untuk The Best Use of Dilmah Tea.


Bagaimana Anda menggabungkan budaya Jepang dengan pengaruh Perancis di bidang kerja Anda sebagai pastry chef?

Saya menemukan kecintaan saya di pastry saat saya mengikuti kelas memasak setelah lulus SMA. Saat itu, saya belajar bahwa pastry lebih dari sekedar memasak. Ada kesempurnaan, ketepatan, dan seni di dalamnya. Presentasinya harus tidak bercela dan saya rasa itu sesuai untuk karakter budaya Jepang di diri saya. Kami adalah orang-orang perfeksionis! Di Jepang, kami mengikuti dan terpengaruh oleh tradisi pastry Perancis. Maka secara alami, begitu saya memutuskan untuk menjadi pastry chef, saya pun pergi ke Perancis dan belajar di sana. 


Bagaimana Anda mendefinisikan gaya Anda dalam berkreasi?
Kreasi saya harus memiliki dua kualitas ini: enak dan cantik. Saya menganggap kreasi saya berhasil saat saya mendengar tamu berujar ‘saya tidak ingin memakan dessert ini karena terlalu cantik’! Desserts harus memberi faktor yang membuat ‘wow’ pada pengalaman bersantap tamu tersebut. Saya senang menciptakan berbagai elemen yang berbeda, merangkainya dan membuatnya berhasil. Penting untuk menunjukkan bagaimana kejujuran suatu bahan dengan cara yang terbaik. Bila bahan itu cokelat, misalnya, maka tunjukkanlah bahwa itu cokelat, lewat warna dan teksturnya. Kadang, saya melihat ada chef yang menggunakan terlalu banyak elemen dan pewarna makanan. Bila saya mempunyai anak, saya tidak akan mengizinkan mereka makan itu!


Berbicara tentang cokelat, saya perhastikan bahwa Anda banyak bekerja dengan cokelat. Apa yang Anda suka tentang berkarya dengan cokelat?
Bekerja dengan cokelat sungguh berbeda dengan bekerja dengan jenis pastry yang lain. Anda harus mengerti karakteristik cokelat untuk bisa berhasil. Cukup rumit, terlebih lagi di sini, dengan kelembaban dan suhu yang tinggi, dua musuh terbesar cokelat. Saya harus mengubah resep saya dan berhati-hati dengan transportasinya. Namun, bila Anda susah memahami hal-hal itu, tidak ada batasan dalam kreasi Anda. 


Jenis cokelat apa yang Anda gunakan di sini?
Valrhona. Kami menggunakan dark chocolates dan milk chocolate. Selain kualitasnya yang sangat baik, perusahaannya juga sangat mendukung dan terbuka untuk kolaborasi. Saya meminta mereka untuk membawa lebih banyak produk ke Indonesia, Saya mengajarkan tim saya di sini tentang bagaimana menggunakan produk mereka secara tepat. Apresiasi terhadap pastry di sini masih kurang tapi itu memang tugas kita sebagai pastry chef untuk mengedukasi tamu serta menunjukkan kepada mereka bahwa ada banyak sekali dessert cokelat yang bisa tercipta selain brownie atau chocolate fudge cake!

0 0
Feed