[ID] - 6 Ways to be Steps Ahead in The Kitchen

Bekerja di dapur merupakan hal yang cukup berat, baik secara mental maupun secara fisik (ini sebabnya lebih banyak pria di industri ini). Konon bidang kuliner dan pastry menjadi pilihan favorit dibandingkan jurusan lain di SMK. Tentu saja persaingan di dapur merupakan hal yang tidak bisa dihindari lagi. Sebagai seseorang yang pernah menjalaninya dari bawah, Chef Rahmat Kusnedi (CRK), Presiden dari Indonesia Pastry Alliance (IPA), memberikan 6 tips agar Anda bisa memenangkan kompetisi di tempat kerja hingga Anda mencapai posisi tertinggi sebagai Executive Pastry Chef:


1. Pendidikan Formal Bukan Segalanya

Sebagai salah satu praktisi yang juga aktif di dunia pendidikan, CRK sering mendapatkan pertanyaan yang sama berulang kali. “Untuk menjadi seorang chef profesional, apakah saya harus mengambil sekolah kuliner, SMK, perguruan tinggi, atau sekolah di luar negeri? Saya ingin menjadi chef terkenal, sebaiknya saya sekolah di Amerika, Australia atau Swis?”
Jawaban dari CRK sederhana, “apapun profesi atau cita-cita Anda, boleh saja Anda sekolah setinggi mungkin, namun yang menentukan karir Anda bukan sekolah. Apakah SMK cukup? Untuk basic di awal cukup. SMK memiliki pembentukkan karakter untuk menjadi seorang profesional, berbeda dengan SMU.”
Sebagai seorang yang “hanya” lulusan SMK Pertanian di Bogor dan D1 Perhotelan di bidang Food Production, CRK mengaku sempat merasa tertinggal dari koleganya.“Saat awal meniti karir saya mulai berpikir, jika saya hanya diam dan mengandalkan aktivitas sehari-hari saya tidak akan berkembang. Bagaimana saya bisa sukses sebagai lulusan D1? Sementara teman-teman saya merupakan lulusan NHI atau sekolah luar negeri, tentu saya jauh tersingkir.”
Namun pendidikan formal bukanlah hal utama yang dilihat dari seorang Executive Pastry Chef. “Jadi tidak perlu khawatir soal pendidikan (formal). Saya buktinya, saya ini orang kampung yang datang dari desa ke kota untuk mencari peruntungan. Namun saya bisa buktikan kualitas saya, bahkan hingga ke Eropa,” tegas CRK.

2. Berikan Lebih
Sadar akan kekurangannya di latar belakang pendidikan, CRK memutuskan untuk langsung tancap gas dengan bekerja 2 shift sehari, “untuk shift kedua saya rela tidak dibayar. Saya hanya ingin belajar dan mengetahui seperti apa situasi shift sore,” kata CRK.
Patut dicatat bahwa sekarang adalah jaman efisiensi, sehingga baik pemilik maupun karyawan harus menyikapinya secara bijak. Salah satu hal yang sering menjadi objek efisiensi ini adalah jumlah karyawan. Sebagai seseorang yang telah menjalani posisi sebagai staf dan pemilik, CRK memiliki pandangan sendiri
“Owner tidak mungkin menelantarkan stafnya, mungkin dia punya kebijakan lain. Mungkin ini bisa disikapi dengan memberikan gaji lebih, asalkan produktivitasnya meningkat dan pencapaiannya harus tinggi. Di negara maju, satu orang sanggup mengerjakan pekerjaan 5 orang. Saya bisa bilang begitu karena saya pernah mengalami sendiri. Ketika saya kerja di cruise, setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing dan harus diselesaikan tepat waktu,” kata CRK.

3. Hindari Mengeluh, Berikan Masukkan

Menurut CRK, salah satu pola pikir staf yang cukup berbahaya adalah mental mengharapkan kenaikan gaji ketika pekerjaan bertambah. “Di masa junior, justru saya mengharapkan pekerjaan yang banyak karena semakin banyak masalah, semakin banyak terpaan, ilmu saya akan semakin bertambah. Jangan khawatir soal uang, karena uang cenderung mengikuti tingkat kemampuan Anda. Bagaimanapun juga, semua bisnis tidak mungkin berjalan tanpa tekanan, sekarang tinggal bagaimana kita menakar diri agar bisa bersaing di kondisi sebenarnya.”
Contohnya, ketika terjadi keterbatasan budget, ajukan terobosan, mungkin dengan sistem target produksi, apa reward jika target berhasil dicapai, dan bagaimana konsekuensinya jika tidak tercapai. “Itu win win solution. Anda harus memberi masukan dan solusi, jangan hanya mengeluh. Orang seperti itulah yang akan dicari, itu namanya talenta!” tegas CRK.

4. Identifikasi Kapasitas Diri
Mungkin kita melihat profesi dokter sebagai pekerjaan yang bergengsi, namun dibalik jaket putihnya, seorang dokter harus melewati banyak hal tidak menyenangkan. Contohnya adalah merawat orang dengan penyakit menular, hingga otopsi mayat. Profesi chef tidak jauh berbeda. Dibalik topi tingginya, seorang chef telah melewati banyak hal. Mulai dari tugas memecahkan telur hingga berjumlah ribuan, memarut cokelat dalam jumlah besar, mengangkat karung terigu dari ruang penyimpanan, ditambah lagi ketika Anda dibentak para senior.
“Sebelum melakukan sesuatu, saya selalu melakukan analisa SWOT (strength, weakness, opportunity, threat) baik pada kawan maupun lawan saya. Apa yang menjadi titik lemah mereka, itu harus jadi kelebihan saya. Anda harus mampu mengidentifikasi kemampuan dan mental dari awal. Sanggupkah Anda menghadapi semua itu? Memang kita harus memiliki pengetahuan yang luas, namun terkadang pengetahuan datang tidak hanya dari pendidikan (formal), namun juga dari kemauan,” tegas CRK.

5. Miliki Role Model
Memiliki seorang role model membuat Anda bersemangat dalam menjalani pekerjaan, bahkan lebih baik lagi jika Anda mengenal idola Anda tersebut.
“Jaman dulu, melihat chef mengenakan celana hitam, kancing hitam, topi tinggi, itu keren sekali. Awalnya ini seperti mimpi yang mustahil untuk saya yang hanya lulusan D1. Namun lama kelamaan, Chef saya waktu itu, Munawir Arifin melihat semangat saya dan banyak menurunkan ilmunya pada saya,” kenang CRK.

6. Mengetahui Kapan Harus Keluar
Di sisi lain, CRK juga memahami bahwa tidak semua perusahaan layak dipertahankan. Ia memberikan satu sinyal spesifik dimana karyawan memang harus keluar, ”itu adalah ketika solusi atau masukan Anda tidak didengar, namun keputusan penolakan itu tidak berdasarkan alasan logis, namun karena berdasarkan emosi tanpa melibatkan analisa. Namun tentu saja, pada prinsipnya jika Anda masuk dengan baik, maka Anda juga wajib meninggalkan perusahaan secara baik-baik.”

0 0
Feed